
DSL 14-
Sesampainya di dalam toilet, Abigail meluapkan segala kesedihannya. Ia tergugu di dalam salah satu bilik dengan sambil membungkam mulut dengan kedua tangannya. Ia takut jika ia bersuara, akan terdengar oleh pengunjung yang lainnya. Apalagi tidak ada hanya dirinya yang berada di dalam toilet itu.
"Kenapa, Tuhan? Apa salahku hingga dipermalukan oleh perempuan itu di depan banyak orang? Aku malu, Tuhan. Rasanya aku tak memiliki harga diri lagi saat ini. Bagaimana aku bisa menatap dunia lagi jika kini sudah banyak orang yang mengetahui keberadaannya? Tolong hambamu ini, Tuhan. Aku tidak sanggup lagi," batin Abigail yang berteriak kepada Tuhan semesta alam yang telah memberinya cobaan tiada akhir. Terlalu berat jika Abigail harus berhadapan dengan mereka semua sendirian.
"Tak cukupkah kau mengambil ibuku, Tuhan? Hidupku ku habiskan dengan bekerja dan sekolah. Kini tiba saatnya aku menikmati hasil dari semua jerih payahku selama ini, tapi kenapa justru mereka kembali, Tuhan. Kenapa? Kenapa dia kembali muncul dan mengusik hidupku lagi? KENAPA?" Dengan menepuk-nepuk dadanya, Abigail meluapkan emosi yang selama ini di pendam nya. Andaikan ia bisa memilih, ia ingin dijauhkan dari semua orang yang kenal dengannya agar dirinya menikmati hidup seperti manusia pada dasarnya.
Dada Abigail terasa sangat sesak, hingga bernapas pun seakan tak sanggup. Semenjak kepergian ayah dan ibunya, semua jalan yang Abigail tempuh rasanya seperti berjalan di atas bara api. Begitu sakit dan sangat berat. Keluarga dari pihak ayahnya tidak sekalipun membiarkan abigail hidup bahagia. Mereka selalu saja datang bergantian untuk menganggu dan mencari celah untuk menghancurkan dirinya.
Setelah hampir tiga puluh menit berada di dalam bilik sempit itu, Abigail akhirnya bisa lebih tenang. Ia menarik nafas panjang berulangkali, tak ingin berada di dalam sana lebih lama lagi. Ia juga mencoba mendengarkan di luar sana, apakah masih ada orang apa tidak. Begitu yakin tidak ada orang, Abigail bergegas merapikan pakaiannya.
'Aku harus segera pulang. Aku tidak ingin dia sampai melihatku lagi,' batin Abigail seraya mengambil semua belanjaan nya yang tadinya ia letakkan di lantai sana. Berulang kali menghela napas, lalu Abigail membuka pintu bilik itu secara perlahan.
"Untung tidak ada orang," gumam Abigail seraya berjalan menuju wastafel yang berada di sebelah kiri bilik toilet. Disana Abigail mencuci muka dan merapikan kembali penampilan serta riasan tipisnya. Setelah hampir lima belas menit, Abigail pun bergegas keluar dari toilet tersebut. Ia ingin segera pergi secepat mungkin sebelum Pamela kembali menemukannya.
Cklek
Betapa terkejutnya saat Abigail melihat sosok Pamela yang ternyata sudah berdiri di depan pintu toilet dengan wajah garang serta kedua tangannya yang bersedekap. Salah satu sudut bibirnya terangkat, ditambah lagi pandangan matanya yang seakan jijik menatap kearah Abigail.
Abigail ingin lari, tapi kedua teman Pamela, Vena dan Laura ikut berdiri di belakang tubuh Pamela. Tubuh Abigail bergetar, ia mulai merasakan ketakutan yang kembali menghampiri nya. Sekelebat bayangan masalalu yang pernah Abigail alami kbali terlintas di benaknya. Masalalu dimana Pamela mendatangi sekolahnya saat ia duduk di bangku sekolah menengah atas. Dengan tega Pamela membully Abigail sampai membuat gadis cantik itu mempunyai rasa trauma jika melihat wajah Pamela. Tanpa sadar kaki Abigail mundur, itu mampu membuat Pamela yang melihatnya tersenyum tipis. Ia tentu tahu jika Abigail masih sama seperti dulu, mudah ia bully dan rendahkan.
"Lo kenapa, hah? Lo takut sama gue? Kenapa takut, hm? Gue kan saudara tiri Lo," ucap Pamela seraya melangkah maju mendekati Abigail yang terus mundur hingga tanpa sadar membuat keduanya masuk ke dalam toilet.
Prok
Vena dan Laura saling bertos ria karena rencana mereka berjalan lancar. Sejak pertama Abigail masuk ke dalam toilet, selama itu pula ketiga wanita itu menunggu di luar sana.
"Cepet ambil itu, lalu kita masuk ke dalam," bisik Vena pada Laura. Meski enggan, tapi ia tidak punya pilihan lain selain menuruti ucapan Vena.
Vena mengambil papan pemberitahuan jika toilet itu sedang rusak agar para pengunjung tidak masuk ke dalam toilet itu. Setelah itu, keduanya menyusul Pamela dan Abigail yang sudah berada di dalam sana.
Saai ini Abigail berdiri di depan wastafel, sedangkan Pamela hanya berjarak satu setengah meter darinya. Keduanya saling bertukar pandang, namun beda arti. Abigail dengan pandangan takutnya, sedangkan Pamela dengan angkuh dan dendamnya.
"Puas, katamu? Ha ha ha," Pamela tergelak mendengar pertanyaan dari Abigail. Mana mungkin seorang Pamela puas hanya dengan mempermalukan Abigail seperti tadi. Bagi Pamela, sebelum Abigail lenyap dari muka bumi ini, dirinya belum merasa puas. Namun, sebelum lenyap tentunya Pamela harus menyiksa Abigail hingga membuat gadis itu enggan melanjutkan hidupnya dan menginginkan kematiannya sendiri. Mendengar tawa dari Pamela semakin membuat Abigail dirundung rasa takut. Apalagi keadaannya benar-benar tidak menguntungkan. Berada di dalam toilet bersama ketiga wanita yang sangat membencinya sejak dulu. Pamela kembali mendekat kepada Abigail hingga membuat gadis itu merasa sangat ketakutan sampai jantungnya seakan ingin keluar dari tempatnya.
"Tidak akan pernah puas, JA LANG. Tidak akan sebelum aku benar-benar menghancurkan semua yang kau miliki, bahkan nyawamu sekalipun," desis Pamela tepat di depan wajah Abigail. Meski berusaha tegar, tapi Abigail tidak bisa menghentikan laju air matanya yang terus keluar.
"Apa salahku? Mengapa kalian terus saja mengangguk setelah mereka pergi, hah? Mereka yang salah kenapa aku yang jadi korban? Aku..."
Plak
Ucapan Abigail terhenti saat dirinya mendapatkan sebuah tam Paran keras di pipi kirinya. Saking kerasnya Pamela menampar, hingga membuat sudut bibir kiri Abigail menimbulkan bercak darah. Abigail terdiam, ia membeku di tempatnya. Ia sampai tidak mampu berbuat apa-apa. Sedangkan Pamela sendiri tampak biasa saja meski dalam hati merasakan sakit pada telapak tangannya.
'Si alan. Panas sekali tanganku,' gerutu Pamela dalam hati. Telapak tangannya sampai meninggalkan bekas kemerahan disana. Tak mau kehilangan kesempatan, Pamela kembali fokus pada yang ada di depannya itu.
"Lo mau tahu salah Lo dimana, hah? Salah Lo adalah terlahir dari rahim Pela cur itu, paham? Karena dia sudah mati, maka Lo yang menanggung semua akibat dari perlakuan ibumu," ujar Pamela dengan tatapan membunuhnya.
"Ven, Ra, pegangi dia," titah Pamela yang langsung diangguki oleh kedua sahabatnya. Tanpa pikir panjang Vena dan Laura memegangi tangan Abigail hingga membuat gadis itu tidak bisa melawan meski telah berusaha sekeras mungkin.
"Lepas! Lepaskan aku," teriak Abigail sambil berusaha melepaskan diri dari cengkeraman mereka berdua.
Plak
Satu tam Paran keras kembali dilayangkan Pamela pada pipi satunya Abigail. Sekeras apapun Abigail berontak dan memohon, tidak membuat Pamela kasihan. Justru itu membangkitkan gairah dendam Pamela pada ibu Abigail. Itu karena paras cantik Abigail terlihat persis seperti wajah mendiang ibunya.
Karena toilet itu berada di pojok mall, membuat tidak ada satupun yang mengetahui atau menyadari jika di dalam sana tengah berlangsung sebuah penyiksaan yang dilakukan oleh tiga wanita pada seorang wanita lemah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...