
DSL 03 - Lima tahun kemudian
Seorang gadis manis berambut panjang tengah berlarian di tepian pantai. Raut wajahnya tampak sangat bahagia ketika kakinya menyentuh ombak laut yang datang menerpa. Surai nya yang panjang berkibar kemana-mana mengikuti arah angin yang berhembus kencang. Gelak tawanya pun terdengar nyaring bagi siapa saja yang ada disekitarnya.
"Alice," gadis manis itu berhenti. Ia memutar tubuhnya, sekejap matanya menatap berbinar saat melihat sosok laki-laki yang datang menghampirinya.
"Papa," pekik gadis cantik itu seraya berlarian kepada sang papa dengan kedua tangannya direntangkan. Laki-laki itu yang melihat tingkah sang putri langsung tersenyum lalu berjongkok. Ia menyambut tubuh mungil sang putri dan langsung mengangkatnya ketika sudah sampai pada pelukan. Ia membawa tubuh kecil itu berputar-putar hingga membuat gadis kecil itu berteriak minta turun.
"Stop, Pa. Stop it, aku pusing sekali." Pekik gadis itu seraya memukul-mukul dada bidang sang ayah. Laki-laki itu terkekeh lalu menghujani wajah sang putri dengan ciumannya.
"Kau sangat menggemaskan, baby. Papa sangat mencintaimu," ucap laki-laki itu sambil terus menciumi wajah sang anak. Anak kecil itu sampai merengek karena malu dan juga mereka jadi pusat perhatian seluruh orang yang ada di sana.
Karena hari ini adalah hari Minggu, Alvin mengajak sang putri menghabiskan waktu bersama. Keduanya mengitari kota jakarta seharian hingga kini berakhir di pantai Ancol saat hari mulai sore.
Dalam kesempatan ini, Alvin benar-benar menjauhkan diri dari ponselnya dan hanya fokus pada sang putri. Apalagi mengingat besok Alice sudah mulai masuk sekolah di salah satu sekolah elit Indonesia.
"Oh ya, Sayang. Besok sudah mulai masuk sekolah, ya. Jangan nakal, ikuti perkataan Bu guru." Ucap Alvin pada Alice. Saat ini keduanya tengah berjalan sambil bergandengan tangan. Meski ada Suster Lani yang selalu merawat Alice, tapi Alvin tidak mengajaknya hari ini. Laki-laki itu benar-benar ingin mempunyai quality time bersama sang anak.
"Siap, Bos. Besok Papa yang akan mengantar Alice, kan? Kan, kan, kan?" Tanya Alice dengan wajahnya yang berbinar. Alvin yang gemas langsung menarik pipi gembul Alice sambil tertawa renyah.
"Iya, Sayang. Papa yang akan mengantarmu dan juga Suster Lani. Ingat, jangan menyusahkan Suster. Oke?" Tanya Alvin seraya memberikan telapak tangannya kepada Alice.
TOS
"Oke," pekik Alice seraya menyatukan telapak tangannya sendiri dengan telapak tangan sang papa. Kedua begitu kompak disetiap kebersamaan mereka. Meski menjadi orang tua tunggal, tapi Alvin berusaha sebaik mungkin agar anaknya tidak kekurangan kasih sayang. Oleh karena itu ia masih tetap berada di rumah orang tuanya agar sang anak tidak merasa kesepian jika ditinggal olehnya saat bekerja.
Krukkk
Suara cacing mulai terdengar dari dalam perut kecil Alice. Alvin langsung menghentikan langkahnya dan berjongkok di depan sang putri.
"I'am hungry, Pa." Rengek Alice dengan wajahnya yang sangat menggemaskan. Kedua pipinya bersemu merah karena malu 3suara perutnya yang terdengar nyali disaat mereka tengah berada di hadapan publik. Alvin terkekeh lalu ia segera mengangkat tubuh Alice dan menggendongnya.
"You're so cute, Baby. Let's go, kita makan dulu sebelum pulang. Oke? Alice mau makan apa?" Tanya Alvin seraya mulai berjalan meninggalkan pantai.
"Hm, mau steak, Dad. Ayo kita makan steak daging yang ada di resto kuning," ujar Alice kepada Alvin.
Alvin dan Alice pun masuk ke dalam mobil setelah mereka memakai kembali sepatu setelah membersihkan kaki dari pasir pantai. Keduanya bernyanyi bersama sepanjang perjalanan menuju restoran kuning. Alice yang tidak mempunyai kesempatan banyak, sebisa mungkin ia menghabiskan waktu dengan Alvin sepuasnya. Setelah mengendarai sekitar empat puluh menit, akhirnya mobil mereka tiba di area parkir resto terkenal tersebut.
"Ayo, Sayang. Kita turun," ujar Alvin kepada Alice. Alice menurut, keduanya pun mulai berjalan masuk ke dal resto.
Penuh. Resto terkenal itu tak pernah sekalipun tidak ramai pengunjung. Hampir semua orang menyukai makanan disana. Selain enak, tempatnya sangat cozy dan nyaman. Serta terdapat pula area bermain untuk anak kecil yang datang bersama keluarganya.
"Ramai banget, Alice. Masih mau makan di sini?" Tanya Alvin. Sebenarnya ia juga sangat lapar, tapi melihat begitu ramainya membuatnya sedikit risih dan tidak ingin berada disana lebih lama lagi.
"Tapi Alice mau makan steak di sini, Dad." Rengek Alice. Alvin hanya bisa menghela napas, ia akan melakukan apa saja demi bisa mewujudkan keinginan sang anak.
"Baiklah. Come on, kita cari tempat duduk dulu." Ajak Alvin. Keduanya berjalan hati-hati, melihat sekeliling Resti mencari keberadaan kursi yang kosong untuk keduanya.
"Itu, Pa. Disana," tunjuk Alice seraya menuding ke arah sebuah meja yang ada seorang wanita duduk di salah satu kursinya.
"Alice sudah lapar, Pa." Sahut Alice.
"Ya sudah. Ayo, kita tanya dulu." Ujar Alvin. Keduanya pun berjalan menghampiri sebuah meja yang ada di pojok kanan restoran.
"Permisi," ujar Alvin setibanya di meja itu. Perlahan gadis yang tengah menunduk menikmati makanannya itu mendongak. Tanpa keduanya sadari pandangan mereka saling terkunci.
"I-iya," sahut gadis itu kikuk. Ia langsung mengalihkan pandangannya dari laki-laki tegap di depannya itu.
"Em, maaf apa kamu boleh duduk di sini. Sudah tidak ada tempat kosong lain lagi, dan kami juga sudah lapar." Ujar Alvin jujur. Ia tidak mungkin berbohong pada kenyataan ia dan sang anak memang sudah kelaparan sejak tadi. Gadis itu mengangguk kecil mengiyakan.
"Oh, silakan. Kebetulan saya juga sendirian. Mari, dik. Duduklah," ujar gadis itu dengan senyum manisnya. Tanpa sadar Alice ikut tersenyum saat melihatnya.
"Terimakasih. Ayo, duduk yang baik Alice." Ujar Alvin lalu mengajak sang anak duduk di kursi yang berhadapan dengan gadis itu.
Tak lama kemudian Alvin memanggil pelayan dan mulai mengatakan pesanan mereka. Sambil menunggu makanan datang, Alvin memberikan ponsel miliknya kepada Alice. Ia memberikannya sebagai pembunuh rasa bosan Alice.
Gadis itu perlahan mengusap bibirnya setelah menyelesaikan makanannya. Ia memperhatikan anak kecil yang ada di hadapannya itu dengan senyuman kecil. Sedangkan Alvin sendiri tengah sibuk dengan tabletnya.
"Maaf, Pak. Boleh saya bicara sesuatu," ucap gadis itu tiba-tiba. Alvin yang tengah fokus dengan grafik sahamnya seketika buyar dan memandang kearahnya.
"Ya?" sahut Alvin.
"Tolong, Pak. Kalau bisa jangan dibiasakan anak Bapak bermain ponsel terlalu dekat dengan mata. Itu nanti bisa berakibat fatal nantinya," ujar Gadis itu dengan lembut. Ia mengalihkan pandangannya pada Alice yang sibuk dengan permainan kebunnya. Alvin pun mengikuti arah pandang gadis itu, ia baru tersadar jika putrinya terlalu dekat menatap layar ponselnya.
"Alice, jangan terlalu dekat, Sayang. Nanti matanya sakit," ujar Alvin padanya seraya menjauhkan ponsel itu dari wajah sang anak. Alice meringis sambil menatap sang papa.
"Sorry, Pa. Hihihi,"
Tak lama kemudian makanan mereka datang. Bertepatan dengan itu, Gadis itu sudah selesai dan ingin pergi dari sana.
"Kalau begitu, saya permisi dulu. Mari Pak, Dik." Setelah mengatakan itu, gadis itu pergi meninggalkan tempat yang merupakan langganan ia makan. Alvin terlihat menatap kepergian gadis itu.
"Cantik ya, Pa. Hihihi," bisik Alice dengan senyum cekikikan. Alvin memicing ke arah sang putri.
"Sstt .... Ayo kita makan. Jangan bicara lagi,"
"Oke, Pa."
Keduanya pun menikmati makanan dengan tenang. Sesekali Alice melemparkan berbagai pertanyaan kepada Alvin. Alvin sendiri dengan sabar menjawab semua pertanyaan dari sang anak. Mereka benar-benar menikmati hari ini dengan suka cita.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Visual Alice Eleanor Leonardo 👇