
DSL 06 - Abigail Batari Hanum
Seorang wanita memasuki ruang kelas. Di tangannya sudah ada beberapa buku yang di dekap nya.
"Good morning, Anak-anak." sapanya. Dengan wajahnya yang ceria, ia menyapa anak-anak calon anak didiknya.
"Good morning," balas anak-anak semua bersamaan. Wanita itu bisa melihat wajah berbinar dari seluruh peserta didik baru tahun ini. Pandangan matanya menatap satu persatu wajah anak-anak, hingga tatapannya berakhir pada salah satu dari semua yang ada.
'Anak itu?' batinnya. Ia cukup terkejut melihat anak kecil yang pernah ditemuinya itu kini berada di hadapannya dan akan menjadi salah satu dari anak didiknya nanti.
"Di-dia? Sus, Suster. Alice pernah bertemu dengannya," ucap Alice seraya menunjuk ke arah wanita yang tengah berdiri di depan. Suster Lani tentu terkejut mendengar ucapan dari anak asuhnya tersebut.
"Siapa, Non? Itu Miss yang akan mengajar Non Alice. Memangnya ketemu dimana, Non?" Tanya Suster.
"Kemarin, Sus. Waktu Alice sama Papa di restoran kuning." Jawab Alice. Ia sangat terkejut sekaligus bahagia melihat wanita cantik itu lagi. Ditambah lagi dia akan menjadi gurunya nanti.
"Bagaimana kabarnya hari ini, Anak-anak? Kita kenalan dulu, ya? Sudah ada yang kenal sama Miss?" Tanya wanita itu kepada seluruh anak-anak.
"Belum," jawab mereka serempak.
"Baiklah, kita kenalan dulu. Pertama dari Miss dulu. kenalkan, nama saya Abigail Batari. Kalian bisa panggil Miss Abigail." Ucap wanita bernama Abigail tersebut.
"Hallo Miss Abigail," ucap semua anak memanggil namanya. Abigail tersenyum dan melambaikan tangannya kepada semua.
"Baiklah, kini giliran kalian maju satu-satu ya." Ucap Abigail. Kemudian satu persatu anak didik baru maju ke depan untuk memperkenalkan diri mereka. Suasana begitu sangat ramai dan juga asyik. Sebagai guru yang sudah berpengalaman, Abigail tentu sangat pintar dan profesional.
Abigail Batari Hanum. Sosok tenaga ajar di Brilliance School yang begitu disukai. Wanita yang masih muda, cantik, ramah, dan juga sabar dalam menghadapi setiap anak kecil. Hari pertama masuk belum ada pelajaran untuk Alice dan juga teman-temannya. Yang ada hanya bernyanyi bersama dan juga melakukan beberapa games kecil untuk mereka.
Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa sudah pukul sepuluh dan itu artinya hari pertama telah berakhir. Abigail tersenyum melihat anak didiknya sudah mulai saling berbicara dan bermain.
"Baiklah, anak-anak. Sekarang sudah waktunya untuk pulang. Ayo, kita segera berkemas dan berdoa sama-sama." Ucap Abigail.
"Baik, Miss." Jawab mereka serempak. Semua anak mulai membereskan semua peralatan mereka dan memakai tas. Mereka menundukkan kepala saat berdoa mulai dipanjatkan. Setelah itu satu persatu anak mulai bersalaman dengan Abigail seraya mengucapkan terimakasih kepadanya untuk hari ini.
"Sampai jumpa besok, Anak-anak." Ucap Abigail seraya melambai kepada semua anak didiknya.
"Sampai jumpa, Miss Abigail." Balas mereka serempak. Setelah itu, Abigail tersenyum lalu berjalan menuju pintu kelas. Namun langkahnya terhenti saat mendengar suara anak kecil memanggilnya.
"Miss Abigail?"
Abigail menoleh. Ia tersenyum melihat Alice lah yang ternyata memanggilnya. Wanita itu berbalik lalu berjongkok ketika Alice sudah ada di depannya.
"Iya, Sayang?" Ucap Abigail. Alice begitu malu-malu saat ia sudah di depan Alice. Sedangkan Suster Lani hanya berdiri di belakang tubuh Alice seraya membawakan tas sekolah nya.
"Em, Miss. A-apa Alice boleh minta foto dengan Miss?" Tanya Alice malu-malu. Ia menundukkan kepala karena malu dengan Abigail. Sedangkan Abigail tersenyum tipis lalu mengelus kepala Alice.
"Tentu, Sayang. Boleh kok, ayo kita foto." Jawab Abigail tersenyum. Alice mendongak lalu bersorak-sorai karena permintaannya dikabulkan oleh Abigail. Gadis kecil itu pun langsung memanggil suster nya.
"Sus, ayo fotoin Alice sama Miss Abigail. Cepetan Sus," ucap Alice seraya melambai ke arah pengasuhnya itu. Abigail geleng-geleng kepala melihat tingkah laku anak didiknya itu.
"Ih, Suster Lani. Jangan tertawa," sentak Alice pada Suster Lani dengan wajahnya yang cemberut. Tapi percayalah, meski gadis kecil itu cemberut, nyatanya semakin membuat wajahnya terlihat sangat imut.
"Maafkan saya, Non." Ujar Suster Lani seraya berusaha menghentikan tawanya.
"Jangan seperti itu, Alice. Nggak boleh kasar sama orang yang lebih tua, Oke?" Ucap Abigail menegur Alice. Alice menoleh, ia seakan tak mau mendengarkan nasehat Abigail. Sedangkan Abigail sama seperti Suster Lani yang berusaha menahan tawa saat melihat wajah imut Alice.
'Tahan, Abi. Jangan sampai kau tertawa saat ini. Tapi bagaimana aku tidak tertawa, Ya Tuhan. Wajahnya sangat lucu, membuatku ingin mencubit pipinya,' batin Abigail.
"Tapi, Miss.." ucapan Alice terhenti saat melihat Abigail yang menggelengkan kepala padanya. Akhirnya gadis kecil itu menghela napas, mau tak mau ia harus menurut kepada Abigail. Ia pun berbalik menatap Suster Lani.
"Maaf, Suster." Ucap Alice dengan menundukkan kepala. Kedua matanya berkaca-kaca, rasanya ingin menumpahkan air matanya.
"Eh, ti-tidak apa-apa, Non." Kini giliran Suster Lani yang gugup. Ia tahu jika sang majikan sudah menundukkan kepala sambil meminta maaf, itu artinya ia akan menangis. Begitulah Alice, dan tidak ada yang bisa membuatnya seperti itu selain papanya sendiri.
Abigail tersenyum melihat Alice yang menurut, tapi senyum itu tak bertahan lama saat mengetahui Suster Lani justru terlihat khawatir. Buru-buru Abigail berjongkok di depan Alice yang masih menunduk. Betapa terkejutnya saat Abigail melihat Alice yang sudah berlinangan air mata.
"Eh, Alice. Kenapa menangis, hm? Tanya Abigail bingung.
"Non Alice memang begitu, Miss. Kalau sudah begini, dia akan susah untuk berhenti menangis. Grandma, Grandpa, sama Papanya juga heran. Makanya senakal apapun, hanya di diamkan saja. Soalnya bisa berhenti kalau sudah kelelahan dan tertidur." Bisik Suster Lani pada Abigail. Akhirnya Abigail paham, lalu ia mengelus rambut lebat Alice.
Huaa
Bukannya berhenti, justru tangis Alice semakin kencang. Abigail dan Suster Lani sampai terkejut mendengarnya. Tanpa ba-bi-bu, Abigail langsung memeluk dan menggendong tubuh Alice.
Ssstt
Dengan lembut Abigail berusaha untuk menenangkan Alice. Pengalaman serta ketelatenan Abigail membuatnya bisa menangani Alice yang menangis. Berbagai kalimat random dikatakan oleh Abigail guna berharap bisa menghentikan tangis Alice. Perlahan tapi pasti tangis Alice mulai mereda hingga pada akhirnya malah tertidur di gendongan Abigail.
"Aduh, Miss. Non Alice malah tidur," ucap Suster Lani kepada Abigail. Ia merasa tak enak karena sudah membuat guru disana malah mengambil alih tugasnya.
"Benarkah, Sus? Pantas saja aku merasa sedikit berat. Hehe, kalau begitu ayo aku antar ke mobil, Sus. O ya, sudah di jemput kan?" Tanya Abigail.
"Em, sedang dalam perjalanan, Miss." Jawab Suster Lani. Abigail menganggukkan kepala.
"Kalau begitu ayo kita ke depan sana, Sus." Ajak Abigail. Lalu mereka pun segera menuju gerbang tempat dimana menunggu jemputan mobil.
Seperti yang dikatakan oleh Suster Lani, sebuah mobil hitam mengkilap besar datang dan berhenti di depan keduanya. Perlahan Abigail meraih tubuh Alice dan meletakkannya di pangkuan Suster Lani yang sudah lebih dulu duduk di dalam mobil.
"Kalau begitu, saya permisi dulu, Miss Abigail. Saya mengucapkan terimakasih kepada Miss karena sudah membantu tadi," ucap Suster Lani tulus. Abigail tersenyum tipis sambil menganggukkan kepala.
"Sama-sama, Suster Lani. Baiklah, lekas pulang. Hati-hati di jalan," setelah mengatakan itu, Abigail menutup pintu mobil tersebut dan mundur beberapa langkah. Setelah mobil itu telah pergi, barulah wanita itu pergi dari sana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Visual Abigail Batari Hanum