
DSL 05 - Hari Pertama Sekolah
Keesokan harinya,
Suasana riuh sangat terlihat jelas di keluarga besar Alvin. Sang putri tercinta hari ini sudah bisa mulai bersekolah di sekolah nasional. Gadis kecil itu sangat bahagia akhirnya bisa memakai seragam sekolah seperti anak seusianya. Sejak tadi Alice berlarian kesana-kemari mengekspresikan rasa bahagianya. Namun hal itu membuat pusing Suster Lani. Pasalnya rambut panjang Alice masih belum tertata rapi.
"Aduh, Non. Jangan lari-lari atuh, Suster capek ngejarnya." Keluh Suster Lani seraya menarik napasnya dalam-dalam karena merasa ia kesulitan untuk bernapas. Sedangkan Alice tertawa terbahak-bahak karena melihat susternya kecapekan. Tak jarang gadis kecil itu menjulurkan lidahnya untuk menggoda.
"Alice, duduk yang baik. Kasihan Suster Lani itu loh." Titah Alvin. Alice langsung kicep dan berhenti . Meski cemberut namun perlahan ia tetap menghentikan langkahnya dan menghampiri sang Suster. Suster Lani langsung sigap menyelesaikan merapikan rambut Alice agar terlihat lebih cantik.
"Apa kau yakin akan mengantar Alice, Vin? Soalnya kau harus mengurus semua data diri Alice juga." Tanya Stella kepada Alvin. Saat ini keluarganya tengah menikmati sarapan mereka bersama-sama.
"Tentu, Ma. Jangan khawatir, aku akan mengurus semuanya." Jawab Alvin.
"Baiklah, kalau begitu. Mama serahkan semuanya padamu." Sahut Stella. Tak lama kemudian si kecil Alice datang menghampiri sang nenek. Entah kenapa setelah bersuka cita sejak tadi, kini wajahnya berubah seakan ada perasaan tertekan.
"Grandma?" Panggil Alice dengan wajahnya sedikit menunduk. Ketiga orang yang ada di meja makan itu seketika menoleh, mereka terkejut melihat wajah kecut Alice.
"Ya, Sayang? Ada apa? Kenapa wajahmu berubah sedih?" Tanya Stella penasaran. Soalnya dari semalam Alice begitu antusias menantikan hari ini datang.
"Em, Grandma. Apa nanti akan ada yang mau berteman denganku di sekolah nanti?" Tanya Alice lirih. Ia merasa insecure dengan dirinya sendiri karena ia tidak pernah berinteraksi dengan anak-anak lain selain anak dari teman Alvin.
Adam, Stella, dan Alvin mengeryitkan dahi lalu ikut menghentikan makan mereka. Ketiganya ingin mendengar Alice mengungkapkan segalanya.
"Eh, kenapa cucu Grandma sedih, hm? Lagipula kenapa mereka tidak mau berteman dengan Alice? Alice kan anak yang baik, pinter, dan cantik pula. Pasti banyak yang ingin berteman dengan Alice. Iya kan, Grandpa, Papa?" Ujar Stella disertai menyenggol kedua laki-laki yang ada di sana. Adam dan Alvin seketika mengangguk dan membenarkan.
"Itu benar, Nak. Alice pasti akan punya banyak teman nanti di sekolah." Ucap Grandpa Adam.
"Iya, Sayang. Jika nanti ada yang nakal kepadamu, segera hubungi Papa. Papa akan datang saat itu juga." Tambah Alvin. Tentu ia akan berada di garda terdepan sang anak jika ada yang berani mengusiknya.
"Sudah, sini. Jangan cemberut lagi, ayo kita sarapan. Setelah itu, kita berangkat bersama-sama," ujar Alvin seraya mengangkat tubuh Alice dan mendudukkan nya di kursi sebelahnya. Mereka menikmati sarapan pagi mereka dengan canda dan tawa. Alice pun kini sudah bisa kembali ceria setelah papa dan Grandma nya berusaha membuatnya tertawa.
"Hati-hati di jalan ya, Sayang. Apa Grandma ikut kalian saja, ya? Biar Grandma bisa membantu Papa mengurus surat-surat mu nanti." Ucap Stella kepada Alvin and Alice. Ayah dan anak itu saling pandang, lalu keduanya sama-sama menggelengkan kepala.
"No, Grandma." Secara bersamaan, Alvin and Alice menolak keinginan Stella. Keduanya sudah hapal dengan tingkah laku Stella yang miliki tingkat kekhawatiran lebih tinggi. Apalagi menyangkut Alice, Stella bisa lebih garang dari Alvin.
"CK, kalian ini. Grandma sedih berada sendirian di rumah sebesar ini," ucap Stella dengan nadanya yang memelas.
"Sudahlah, Grandma. Kami harus pergi sekarang sebelum si cantik ini terlambat masuk di hari pertamanya," sahut Alvin seraya mengambil jas dan memakainya. Stella mengangguk, lalu memberikan beberapa kecupan di wajah menggemaskan Alice.
"Rasanya tidak akan lengkap sebelum kau menikah lagi, Alvin. Meski kau tersenyum selepas apapun, tak bisa menutupi jika kau merasa kesepian sepeninggal Olivia." Gumam Stella. Ia merasa sedih dengan keadaan sang anak. Apalagi ia sempat beberapa kali memergoki sang anak meneteskan air mata saat Alvin tengah berada di ruang kerjanya.
Mobil Alvin melaju dengan kecepatan sedang. Alice yang duduk di sebelah kemudi terlihat sangat antusias seraya bernyanyi. Di kursi belakang sudah ada Suster Lani yang akan selalu menemani Alice selama di sekolah.
"Sus, jangan lupa nanti waktu istirahat Oliv harus minum vitamin ya. Jangan biarkan dia makan sembarang jajan diluar sekolah." Ucap Alvin. Ia sangat protektif terhadap sang putri tercinta. Selain itu, ia tidak ingin kesehatan Alice terganggu hanya karena makan makanan yang diperjualbelikan di pinggir jalan.
"Baik, Tuan."
Tak lama kemudian mobil itu pun berhenti di depan pintu masuk sekolah elit di Jakarta. BRILLIANCE SCHOOL. Sebuah sekolah yang menerapkan kurikulum University of Cambridge International Examinations. Fasilitas sekolah berstandar internasional meliputi auditorium, laboratorium, pusat teknologi serta athletic track. Sekolah ini bertempat di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, sekolah ini merupakan milik Academic Colleges Group yang berbasis di New Zealand. Kurikulum dan fasilitas yang disediakan disana bertaraf internasional. Tak heran untuk bisa bersekolah disana membutuhkan biaya yang fantastis. Biasanya hanya anak-anak konglomerat saja yang mampu masuk ke sekolah tersebut.
"Ayo, turun." Titah Alvin. Dengan menggandeng tangan sang papa, Alice melangkahkan kakinya memasuki area sekolah. Mewah. Kesan pertama yang ditunjukkan oleh tempat itu. Tak hanya Alice, ada banyak sekali anak-anak yang datang bersama orang tua mereka. Sebagian besar dari mereka yang datang adalah para ibu. Mereka saling berbisik melihat ketampanan Alvin yang menggandeng tangan anaknya.
"Mohon perhatian, bagi para anak-anak baru mohon masuk ke kelas yang ada di bagian kiri. Untuk para suster bisa menemani jika memang diperlukan. Untuk para orang tua, silakan ikut saya untuk menyelesaikan data diri dan administrasi para putra-putri." Seorang wanita berbicara dengan menggunakan pengeras suara di halaman sekolah. Anak-anak mulai berjalan menuju ke ruang kelas. Sedangkan para orang tua juga mengikuti langkah wanita tadi memasuki ruangan besar.
"Alice masuk ke sana sama Suster ya, Papa mau urus semuanya." Ucap Alvin. Alice menurut, gadis kecil itu mengangguk lalu berjalan menuju ruang kelas bersama sang suster. Sedangkan Alvin masuk bersama para ibu-ibu itu.
Didalam kelas Alice duduk di bangku nomor dua dari depan. Ia melihat-lihat teman barunya di sana. Ada banyak sekali hingga membuat Alice tersenyum bahagia.
"Sus, Suster. Lihatlah, teman-teman Alice banyak sekali." bisik Alice pada suster Lani.
"Iya, Non. Nanti kita kenalan sama mereka. Sekarang, diam dulu. Nanti akan ada guru yang masuk," balas Suster Lani dengan berbisik juga. Tak lama kemudian terdengar suara hentak kaki yang berjalan menuju ruang kelas itu. Semua mata menatap ke arah pintu, beberapa saat kemudian muncullah seorang wanita dengan membawa buku di tangannya.
"Good morning, Anak-anak." sapanya.
"Good morning," balas anak-anak semua bersamaan.
Alice yang melihat wanita itu langsung terbelalak sambil menunjuk ke arahnya.
"Di-dia? Sus, Suster. Alice pernah bertemu dengannya,"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Visual ALVIN LEONARDO