Doctor's Second Love

Doctor's Second Love
DSL 08 - Kematian Sepasang Sejoli



DSL 08 - Kematian Sepasang Sejoli


Siti dan Abigail tiba di rumah sakit dengan mengendarai bajai. Keduanya langsung menuju ke ruang gawat darurat yang ada di sana. Keduanya disambut oleh seluruh keluarga dari pihak Robert yang tengah menangis histeris di sana.


Dengan menggenggam tangan Abigail, Siti masuk dan menemui dokter yang ada di sana.


"Permisi, dok. Kami dari keluarga Rini," ucap Siti.


"Kami mohon maaf, Bu. Bu Rini telah meninggal dunia saat di bawa kesini. Kecelakaan yang terjadi membuat Ibu Rini kehilangan banyak darah serta pendarahan dalam otaknya sehingga kami tim medis tidak bisa menyelamatkan beliau. Maafkan kami," jelas dokter itu. Siti menutup mulutnya lalu segera memeluk tubuh Abigail. Ia menangis sembari memeluk erat anak sahabatnya yang kini telah tiada.


"Bu? A-apa yang dikatakan oleh Pak dokter tadi? I-ibu kenapa? I-itu pasti bohong, kan?" Tanya Abigail dengan tatapan matanya yang kosong. Telinganya seakan tuli, tubuhnya membeku tanpa bisa ia gerakkan sama sekali.


"Yang sabar, Abi. Ingat, Masih ada Tuhan Yesus yang selalu ada bersama kita. Ibumu sudah tenang di sana," bisik Siti seraya terus memeluk tubuh Abigail. Seakan tersadar dari lamunan, Abigail berteriak histeris layaknya seperti orang gila disana.


"TIDAK! TIDAK! IBU! JANGAN TINGGALKAN ABI, BU. IBU! IBU! TIDAK, TUHAN. JANGAN AMBIL IBUKU. JANGAN, TUHAN. HUKUM ABI SAJA, TAPI JANGAN AMBIL IBU ABI. TIDAK. IBU! IBU!"


Abigail kecil meraung, menangis histeris tidak mau terima kenyataan bahwa sang ibu telah pergi meninggalkan dirinya. Sekuat tenaga Abigail berusaha melepaskan diri dari pelukan Siti dan ingin berlari pada ibunya. Tapi apa daya, tenaganya tak sebanding Siti yang lebih tua dan dewasa darinya.


"Stop, Abi. Jangan begini, kasihan ibumu. Dia akan sedih melihatmu seperti ini," ucap Siti seraya terus menangis. Ia juga merasa kehilangan karena Rini merupakan sahabatnya yang datang dari desa ke kota dan akhirnya bisa bersekolah dan bekerja di tempat yang sama. Ia pun tahu bagaimana kisah cinta sahabatnya itu dan ia juga yang menceritakan semuanya kepada Abigail.


"Tidak, Bu Siti. Ibuku belum meninggal. Tidak, masih hidup. IBU! IBU!" Pekik Abigail seraya melihat ruang UGD yang tertutup rapat. Tubuh Rini dan juga Robert masih berada di dalam sana untuk dilakukan tindakan lanjut seperti pemakaian atribut pemakaman dan juga yang lainnya.


Sekuat tenaga Siti memegangi tubuh Abigail dengan cara memeluknya dari belakang. Namun suara keras membuat Abigail terdiam seketika. Wajah Abigail sampai tertoleh ke samping akibat tamparan keras itu.


Plak


Sebuah tamparan keras diterima Abigail di pipi kirinya. Saking kerasnya meninggalkan jejak kemerahan serta setitik darah yang mengalir dari sudut bibirnya. Siti terkejut, lalu ia melihat ke depan. Betapa terkejutnya saat ia melihat seorang wanita yang tengah menatap tajam kearah Abigail dengan tatapan mata penuh api yang membara.


"Be-belinda?" Lirih Siti saat menyadari jika istri dari Robert lah yang telah memberikan tamparan pada Abigail. Dengan cepat ia bangkit dan menyembunyikan tubuh Abigail di belakangnya.


"A-apa yang anda lakukan? Dia masih kecil, tidak tahu apa-apa." Ucap Siti padanya. Siti bisa merasakan jika Abigail ketakutan dari tubuhnya yang bergetar hebat saat ini. Di belakang tubuh Siti, Abigail mulai menangis. Ia takut dengan wanita itu. Baginya Belinda adalah perwujudan monster yang nyata di dunia nyata.


Belinda Carlisle. Istri dari Robert yang juga merupakan putri dari pemilik restoran terbesar se-Jakarta yang bernama Carlisle Kitchen. Ia sayang bersama kedua anak dan juga orang tuanya. Ia begitu terkejut mendengar kabar kecelakaan yang melibatkan suaminya. Lebih menyakitkan lagi ketika Belinda tahu kalau suaminya Kecelakaan bersama madunya. Oleh karena 6, ia melampiaskan kekesalannya kepada Abigail. Anak kecil yang tidak tahu apa-apa tentang dunia orang dewasa.


"Shut up. Jangan ikut campur dalam urusanku. Kemari kau, setan kecil." Ancam Belinda lalu ia berusaha menarik Abigail agar berdiri di depannya. Meski sulit, tapi akhirnya Belinda bisa menarik tangan kiri Abigail. Namun nyatanya di tahan oleh wanita yang datang bersamanya.


"Stop. Jangan lakukan ini, Abigail tidak salah apa-apa. Kedua orang tuanya lah yang bersalah. Jangan lampiaskan amarahmu kepada anak kecil," sahut Siti seraya menarik tangan kanan Abigail. Sedangkan Belinda menarik tangan kiri Abigail. Saat ini Abigail berada di tengah-tengah keduanya, menjadi bahan tarik-menarik seakan tengah bermain tarik tambang. Abigail menangis, ia merasakan sakit di kedua tangannya. Rasanya seakan akan tengah dilepas secara paksa dari tubuhnya.


"Sa-sakit," lirih Abigail seraya menangis histeris. Baik perawat, dokter, maupun penjaga disana tidak bisa membantu karena keluarga Belinda yang mengancam mereka semua.


Bugh


Belinda menendang tubuh Siti hingga wanita itu terjungkal ke belakang dan menabrak meja. Pinggangnya terasa sangat sakit akibat benturan keras itu.


Plak


Plak


Plak


Plak


Tamparan keras berulangkali Belinda layangkan pada pipi mulus Abigail. Ia memukuli anak kecil itu membabi buta karena kedua matanya yang telah tertutupi oleh pekatnya kebencian yang mendalam kepada ibu Abigail. Karena Rini lah keluarganya hancur dan berantakan.


"Gara-gara ibumu, suamiku menghianatiku." Desis Belinda.


Plak


"Gara-gara ibumu, suamiku tak lagi menatapku sebagai istrinya."


Plak


"Gara-gara ibumu, rumah tanggaku hancur berantakan setelah apa yang sudah kuperjuangkan untuk bisa bersamanya. Dasar, anak haram." Desis Belinda. Berulangkali ia menampar Abigail. Sedangkan Siti, dirinya dipegangi oleh kedua orang tua Belinda agar tidak menganggu sang putri melampiaskan amarahnya.


Plak


Plak


"Dan kini, gara-gara ibumu juga aku kehilangan suamiku. Anak-anakku kehilangan papanya. Harusnya kau juga ikut mati saja." Pekik Belinda kepada Abigail yang kini sudah kehilangan keseimbangannya. Hingga beberapa saat kemudian tubuh kecilnya terjatuh dan tak sadarkan diri. Ia kehilangan kesadarannya setelah mendapatkan pukulan bertubi-tubi dari Belinda.


"ABIGAIL!" Teriak Siti. Lalu ia segera menghampiri tubuh lemas Abigail dan memeluknya. Hatinya begitu terluka menyaksikan bagaimana kejamnya istri dari Robert itu memukuli Abigail yang tidak bersalah.


Cuih,


"Ingat perkataanku ini. Aku tidak akan pernah membiarkan anak ini bahagia selama dia masih hidup. Dengan tanganku sendiri, aku pastikan anak haram ini akan menderita dan memohon menginginkan kematiannya sendiri padaku." Setelah mengatakan itu, Belinda pergi diikuti oleh seluruh keluarganya.


Setelah mereka semua pergi, barulah Siti bisa mengangkat tubuh Abigail dan meminta dokter untuk memeriksanya.


"Betapa kejamnya dunia kepadamu, Nak. Kau hanya korban tapi seolah kau adalah pelaku utamanya. Aku hanya bisa berdoa agar kamu bisa kuat bertahan di dunia yang tak adil ini. Aku percaya, Tuhan tidak tidur. Dia akan mengirimkan malaikat penjaga untuk dirimu. Aku yakin itu," gumam Siti seraya mencium punggung tangan Abigail yang kini telah terpasang selang infus. Abigail mendapatkan perawatan selama dua hari di rumah sakit. Sedangkan Rini sudah dikebumikan hari itu juga dan semua keperluan sudah diurus oleh Siti, mengingat Rini seorang yatim-piatu yang tidak ada sanak saudara sama sekali di kota itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...