
DSL 11 - Karmakah?
Saat ini Alvin beserta seluruh keluarganya sudah berada di ruang keluarga. Terlihat Alice tengah sibuk bermain dengan susternya, sedangkan kedua kakek dan neneknya tengah duduk berbincang bersama sang papa.
"Jadi, apa yang ingin Mama katakan?" Tanya Alvin.
"Apa hubunganmu dengan guru Alice? Apa karena dia, makanya kau menyekolahkan Alice disana?" Tanya Stella penasaran. Sedangkan Alvin menoleh. Ia mengeryitkan dahi mendengar nama asing tersebut.
"Guru Alice? Maksud Mama apa? Alvin tidak mengerti sama sekali," sahut Alvin. Pasalnya ia sendiri belum pernah bertemu dengan guru Alice, bagaimana mungkin ia memiliki hubungan dengannya. Siang tadi Alvin langsung pergi ke kantor setelah rapat di sekolah Alice selesai. Bahkan ia tidak bisa menemui sang buah hati karena pekerjaannya yang mendadak, membuatnya hanya bisa menelepon sang suster.
Stella yang mendengar ucapan Alvin tentu ikut terkejut. Ia tidak menyangka jika seperti itu lah tanggapan Alvin mengenai pertanyaannya.
"Loh, bukannya kau sudah ketemu dengan gurunya Alice? Miss Abigail namanya. Dialah wanita yang kemarin makan semeja dengan kalian saat di restoran. Apa kau lupa?" Tanya Stella.
Alvin menghentikan jarinya mengetuk di ponselnya. Ia mengingat kembali kejadian itu, kemudian ia menghela napas.
"Memangnya wanita itu gurunya Alice? Alvin tidak tahu, Ma. Tadi siang aku langsung pergi ke kantor tanpa berpamitan kepada Alice. Ada beberapa clien penting yang mendatangi kantor, jadi aku harus cepat-cepat ke sana." Ujar Alvin.
Stella yang mendengar itu seketika lemas. Ia menghempaskan tubuhnya di sofa, seraya memijat pelipisnya sendiri.
"Haih, ternyata aku yang salah sangka. Mama kira kamu ada hubungan dengan wanita itu. Padahal Mama sudah penasaran dengan guru Alice itu, soalnya bisa menarik perhatianmu." Sahut Stella lirih. Rasanya seperti terhempaskan oleh angan dari ketinggian langit, kecewa. Ia sudah mengimpikan Alvin merajut cinta dengan wanita lain seperti yang diharapkan oleh mendiang istrinya. Namun sekeras apapun Stella berusaha mengenalkan Alvin dengan banyaknya wanita, nyatanya tak ada satupun yang berhasil menarik perhatian Alvin. Jangankan melirik, menganggap ada pun, tidak. Setiap Alvin diharuskan menemui seorang wanita, laki-laki itu selalu tak menganggapnya ada. Pada akhirnya membuat para wanita itu menangis di pertemuan pertama mereka. Stella sampai malu karena terus menerus meminta maaf atas perlakuan Alvin kepada mereka.
"Mama saja yang hanya terlalu banyak pikiran. Daripada memikirkan aku, lebih baik Mama dan Papa pergi berlibur. Sepertinya Mama butuh healing," ujar Alvin yang seketika membuat Adam berbinar.
"Ide bagus itu, Alvin. Iya, kan, Ma?" Tanya Adam pada Stella. Namun wajah laki-laki itu seketika ditekuk ketika mendapatkan tatapan maut dari sang istri.
"Bagus? Bagus dari Hongkong, hah? Siapa yang mengurus yayasan kalau kita liburan? Bagaimana dengan Alice? Lalu, rumah sakit?" Pertanyaan bertubi-tubi dari Stella langsung membuat Adam menghela napas panjang. Ia tidak berpikir sampai ke arah situ. Sedangkan Alvin hanya menggeleng pelan, nampaknya kedua orang tuanya terlalu memandang sebelah mata atas dirinya.
"Kalian meremehkanku? Kalian berpikir aku tidak bisa mengambil alih pekerjaan kalian? Aku Alvin, Pa, Ma. Tidak ada yang tak bisa aku taklukkan meski itu musuh terberat perusahaanku sekalipun." Ucap Alvin dengan sombongnya. Ia tidak menyukai jika dirinya dianggap remeh meski itu dari keluarganya sendiri. Memang benar, Alvin adalah laki-laki jenius yang bisa mengambil alih perusahaan milik Papanya di usianya yang masih cukup muda.
"Apa, Ma?" Tanya Alvin bingung.
"Dirimu sendiri," jawab Stella. Alvin terdiam, ia tentu tahu apa yang dimaksud oleh ibunya itu. Dia menghela napas, lalu mulai beranjak dari tempat duduknya.
"Mau kemana kamu?" tanya Stella.
"Aku masih ada kerjaan, Ma," jawab Alvin. Lalu laki-laki itu berjalan meninggalkan ruang keluarga setelah memberikan sebuah kecupan hangat di dahi sang anak.
"Sampai kapanpun kamu tidak akan bisa membuka pintu hatimu untuk orang lain jika kau masih belum selesai dengan masalalu mu, Alvin. Atau kamu mau nunggu Papa dan Mama mati dulu, hah?" teriak Stella yang sudah tidak bisa menahan dirinya lagi. Ia sangat frustasi melihat keadaan sang anak tercinta.
"Sudah, Ma. Sudah," pinta Adam seraya memegang pundak sang istri. Stella menoleh, setetes air mata mengalir dari sudut matanya.
"Sampai kapan, Pa? Mama tidak ingin Alvin menghabiskan waktunya dengan kesendiriannya seperti itu. Hati Mama sakit, Pa. Mama merasa gagal karena tidak bisa berbuat apa-apa," ujar Stella sambil menjatuhkan dirinya dalam pelukan sang suami. Ia menangis tersedu mengingat semua yang telah terjadi selama lima tahun terakhir. Kematian Olivia menjadi pukulan yang keras bagi seluruh keluarga, terutama Alvin.
"Ssttt, kita serahkan semuanya kepada Tuhan, Ma. Hanya Dia-lah yang mampu membolak-balikkan hati manusia. Kita harus yakin jika takdir Alvin tidak sampai di Oliv saja. Akan ada seseorang yang mampu menggerakkan hatinya lagi seperti semula. Sudah, hm? Jangan menangis lagi. Lihatlah, kau membuat Alice ketakutan," bisik Adam di telinga Stella. Wanita itu mengangkat kepalanya, lalu mengalihkan pandangannya pada sang cucu. Benar kata Adam, Alice terlihat duduk di pangkuan sang suster seraya memeluk tubuhnya. Gadis kecil itu mengintip ke arah Stella dan Adam.
"Maaf, Pa. Mama lupa kalau masih ada Alice di sini." Setelah mengatakan itu, Stella segera menghapus jejak air matanya dan melepaskan diri dari pelukan Adam. Ia tersenyum, memperlihatkan senyum manisnya dan menghampiri Alice.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang menyaksikan mereka dari balik dinding. Dia adalah Alvin. Laki-laki itu hanya beralasan pekerjaan demi bisa menghindari pembicaraannya dengan sang Mama. Ia menghela napas, menyenderkan tubuhnya pada dinding nan dingin itu. Merasakan dinding yang sama dinginnya dengan hati dan jiwanya.
"Andai aku bisa, Ma. Tapi apa dayaku jika hati ini tak lagi bisa merasakan getaran seperti saat aku masih memiliki Oliv di hidupku. Kepergiannya membawa hati dan perasaanku, rasanya tak ada lagi gairah dalam hidup ini, Ma. Rasanya seperti berdiri di atas tanah lapang tanpa ada kehidupan yang mampu menggerakkan hatiku." lirih Alvin.
Lima tahun. Selama itu laki-laki tersebut hidup dalam hati yang mati. Dingin, layaknya gurun es yang tak pernah sekalipun terkena sengatan matahari. Sedingin itulah jiwa laki-laki tampan nan gagah itu. Meski dari luar ia mampu membuat semua kaum hawa terpikat, nyatanya dalam hatinya sunyi. Tak ada satupun wanita yang mampu menarik perhatian dan pandangannya.
"Apakah ini semua karmaku, Tuhan? Kenakalanku di masa muda kau balas dengan kepergian wanita yang paling aku cintai? Aku sudah lelah, Tuhan. Aku rela menjalani semua karma yang Engkau berikan, tapi tidak dengan melihat air mata Mama dan Papa. Aku mohon, Tuhan. Jangan biarkan kesedihan menghampiri mereka," batin Alvin. Tak mau sampai ada orang yang mengetahui keberadaannya, Alvin bergegas meninggalkan tempat itu menuju kamar pribadinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...