Doctor's Second Love

Doctor's Second Love
DSL - Rahim Simpanan



DSL 15 - Rahim Simpanan


Seorang wanita berjalan terseok-seok di lorong gang sempit. Di kedua tangannya membawa beberapa paperbag yang terlihat kotor dan berantakan. Rambutnya yang panjang ia biarkan terurai kedepan, menutupi area wajahnya hingga tak terlihat. Suasana senja yang temaram membuat wanita itu kian terlihat seperti layaknya hantu. Selain itu, tampak salah satu kakinya terlihat pincang karena cara berjalannya sedikit di seret.


Setelah sampai di depan salah satu rumah, wanita itu berbelok. Ia berjalan tertatih seraya merogoh ke dalam tas selempang yang ia gunakan.


Cklek


Pintu itu terbuka. Dengan sisa-sisa tenaga yang dimiliki, wanita itu berjalan masuk. Setibanya di dalam, tubuh wanita itu terjatuh.


Bruk


Berbarengan dengan hal itu, wanita itu langsung menangis. Air mata yang sejak tadi di tahannya, kini tumpah ruah. Ia luapkan semua kesedihan serta kekecewaannya terhadap takdir yang telah ia terima dari Tuhan untuknya.


"Kenapa, Tuhan? Kenapa kau hukum aku atas semua kesalahan mereka? Sakit, Tuhan. Mereka begitu kejam padaku, membuatku merasakan sakit di hati dan ragaku. Apa yang harus aku lakukan, HAH?" teriak wanita itu seraya mendongakkan kepalanya seakan menatap Tuhan yang berada di atas sana. Kedua sudut bibirnya tampak membiru, pelipis kirinya juga terlihat robek terlihat ada bercak darah yang mengalir di sana.


Air matanya mengalir begitu deras, seakan itulah gambaran kesakitan yang ia rasakan atas ketidakadilan yang ia terima selama ini. Ketidakadilan yang diberikan oleh mereka yang sangat membenci dirinya atas kesalahan kedua orang tuanya dulu. Ialah Abigail. Wanita itu barusaja pulang dari mall yang ia kunjungi setelah mengajar tadia siang. Namun naas, disana ia bertemu dengan orang yang selama ini berusaha ia hindari. Yakni anggota keluarga dari ayah kandung yang selama ini membenci dirinya dan juga almarhumah ibunya.


Ucapan demi ucapan yang dilontarkan oleh Pamela nyatanya kembali terngiang di benak Abigail. Apalagi disertai dengan perlakuan kasarnya membuat Abigail serasa bertemu dengan malaikat maut yang tengah datang memberinya hukuman.


Satu tamparan keras mendarat di pipi mulus Abigail. Wajah cantiknya itu sampai menoleh karena saking kerasnya pukulan tersebut.


"Itu untuk perlakuan jijik ibumu,"


"Itu untuk penghianatan yang dilakukan oleh ayah karena ibumu,"


"Itu untuk sakit hati yang mamaku terima karenamu,"


"Itu untukmu karena berani lahir di dunia ini,"


"Dan itu untuk keberanian mereka yang membuat mamaku bersedih sekian lama,"


Pamela berulang kali menampar kedua pipi Abigail secara bergantian. Ia layaknya seperti iblis kesetanan yang tengah berhadapan dengan musuh yang selama ini ia benci. Kedua mata Pamela terlihat memerah, menggambarkan bara api dendam yang selama bertahun-tahun ini terpendam. Walau waktu terus berjalan, nyatanya dendam itu tak pernah pudar sedikitpun. Kebalikannya, justru kebencian Pamela semakin menjadi karena melihat Abigail yang bisa hidup bahagia layaknya seperti orang pada umumnya. Sedangkan dirinya, ia setiap hari melihat kesedihan Dimata mamanya meski kepergian papanya sudah puluhan tahun berlalu. Rasa sakit atas penghianatan yang dilakukan oleh papanya sangat membekas di hatinya. Cinta pertama Pamela telah mengkhianatinya dan mamanya dikarenakan seorang wanita yang merupakan masalalu dari papanya.


Bugh


Bugh


Pukulan demi pukulan Pamela layangkan pada Abigail. Hingga membuat wanita itu tergeletak tak berdaya di lantai toilet tersebut. Laura yang melihat itu langsung menyadarkan Vena agar mau membujuk Pamela.


"Sudah, Mel. Jangan diteruskan, lihat. Dia sudah tak berdaya," ucap Laura pada Pamela seraya menghalangi wanita itu yang terlihat ingin kembali menghakimi Abigail. Vena pun ikut memegangi tangan Pamela.


"Iya, benar kata Laura. Lo nanti bisa dipidana kalau sampai dia mati, Mel." Imbuh Vena.


Keduanya mampu mendengar deru napas panas yang berasal dari mulut Pamela. Wanita itu masih dikuasai amarahnya hingga saat ini. Pamela seakan tak rela jika harus menghentikan apa yang sedang ia lakukan saat ini. Ia merasakan lega dalam dirinya karena bisa melampiaskan segala emosi yang selama ini membuat hidupnya serta keluarganya alami.


"Lepaskan aku. Aku masih belum puas memberinya pelajaran," desis Pamela seraya kedua matanya masih tertuju pada tubuh lemah Abigail.


"Sudah, Mel. Hentikan," ujar Laura.


"Iya, Mel. Ayo kita pergi, sebelum ada orang yang mengetahui kita ada di sini." Tambah Vena yang takut jika sampai ada o6lain yang mengetahui kejadian itu mereka bakal kena masalah besar. Apalagi mereka saat ini ada di tempat umum.


Karena pegangan kedua sahabatmya begitu erat, membuat Pamela tidak bisa mendekat ke arah Abigail. Namun ia tak kehabisan akal, kaki kanannya langsung menginjak kaki kiri Abigail yang berada tak jauh dari kakinya.


ARGHHHH


Lolongan panjang keluar dari mulut Abigail saat ia merasakan kakinya sengaja diinjak oleh Pamela dengan kerasnya. Laura dan Vena yang terkejut langsung menyeret tubuh Pamela agar menjauh dari Abigail.


Tak mau Pamela kembali menerjang Abigail, Vena dan Laura saling pandang dan langsung menarik tubuh Pamela agar keluar dari tempat itu.


"Lepaskan gue, breng sek."


"Awas lo Pela cur, awas Lo. Gue akan kembali,"


Teriakan demi teriakan Pamela tidak dihiraukan oleh Vena maupun Laura. Keduanya tidak ingin terseret jika sampai aksi mereka diketahui pihak mall maupun pengunjung lain.


"Kenapa tidak kau ambil saja nyawaku ini, Ya Tuhan? Aku tidak akan sanggup jika harus menerima semua perlakuan ini terus menerus," adu Abigail pada Tuhannya. Lalu pandangannya turun hingga tertuju pada sebuah pigura yang ada di dinding. Pandangan mata Abigail menjadi tajam, lalu dengan perlahan ia bangkit dari duduknya. Dengan tertatih, wanita itu berjalan hingga berhenti di depan pigura itu.


"Lihatlah, Bu. Lihat aku. Gara-gara ibu, aku harus menerima semua ini," teriak Abigail pada foto sang ibu yang terlihat tersenyum padanya. Wajah cantik ibunya sama persis dengan dirinya.


"Sampai kapan, Bu? Sampai kapan aku harus menerima balasan atas semua kesalahan Ibu, HAH? SAMPAI KAPAN?" pekik Abigail seraya menunjuk ke arah kedua mata ibunya. Air matanya kembali tumpah ruah disana, menunjukkan betapa sakit raga dan jiwanya saat ini.


"Bawa aku, Bu. Bawa aku pergi, agar tidak lagi merasakan sakit atas semua ini. Bawa aku, Bu. Hiks, hiks," imbuh Abigail diakhiri dengan tangis kesedihannya dan jatuhnya ia di bawah potret ibunya.


Sambil menepuk-nepuk dadanya, Abigail kembali meraung. Meluapkan semua kesedihan atas apa yang ia alami hari ini. Menjadi anak yang berasal dari hubungan gelap kedua orang tuanya, membuat hidup Abigail sulit.


"Rasanya sangat menyakitkan, Tuhan. Lahir dari rahim seorang simpanan begitu berat. Hidupku seakan hina, seperti perbuatan ibu dan laki-laki itu," lirih Abigail seraya menundukkan kepala.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...