
Bab 6
"Duh, gua baru inget lagi, Hari ini praktek nyanyi! Mana gua belom latihan lagi... Semoga si anak baru itu masuk ke kelompok gua deh, suara dia bagus soalnya (gua ga sengaja denger pas dia lagi nyanyi sendiri)" - Febri -
...----------------...
Bel masuk berbunyi, menandakan berakhirnya jam istirahat. Jam pelajaran berganti ke IPA, aku sudah ga sabar! Materi yang disampaikan Bu Tri pasti selalu menarik, tetapi beberapa saat setelahnya, yang masuk kelas adalah Bu Sinta. Beliau juga guru IPA, tetapi setauku Bu Sinta mengajar di kelas 7.
"Assalamu'alaikum anak-anak, hari ini Bu Tri izin tidak masuk karena sakit, jadi hari ini saya yang akan mengawasi ulangan harian yang diberikan Bu Tri. Kalian akan mengerjakan ulangan di kertas HVS yang sudah saya bawa. Soal nya tidak banyak kok, hanya 35 soal pilihan ganda dan 5 soal essay, nanti di soal essay ada perintah menggambar, jadi kalian persiapkan juga pensil dan pensil warna kalian ya..." Ujar beliau menjelaskan.
"Wa'alaikumsalam, baik Bu!!" Jawab seisi kelas.
"Maaf Bu! Saya ga bawa pensil warna hari ini, jadi bagaimana Bu??" Tanya salah seorang anak tiba-tiba.
"Ya itu bukan urusan saya. Kan yang ngasih tau harusnya Bu Tri" Jawab Bu Sinta.
"Hah, emangnya Bu Tri pernah nyuruh kita bawa pensil warna?" Bisik Gio bertanya padaku.
"Astaghfirullah, aku lupa! Bu Tri udah kirim lewat pesan tadi pagi, aku lupa share ke grup kelas" Jawabku.
"Jam berapa dikasih tau nya?" Tanya Gio lagi.
"Sekitar jam 5 pagi" Jawabku lagi.
"Bruh, yaudah lah. Bu Tri nya juga telat bilangnya" Ujar Gio lalu mulai mengerjakan soal.
Aku langsung membalik badan untuk mengecek apakah aku membawa pensil warna atau tidak, dan ternyata... Aku tidak membawanya. Tentu saja aku panik dan langsung menanyakan ke sekitar, tetapi Gio juga ga bawa.
Aku pun berusaha tenang, sambil menunggu 'donasi pensil warna', aku mengerjakan soal pilihan ganda terlebih dahulu, setidaknya dengan begitu aku tidak membuang waktu untuk mencari-cari pensil warna.
Sebenarnya soal-soal ini mudah, bahkan aku bisa mengerjakan seluruh soal pilihan ganda hanya dalam waktu tujuh menit. Tetapi inilah masalahnya, karena soal pilihan ganda sudah selesai, maka aku harus mengerjakan soal essay, di soal essay ada perintah menggambar, dan aku belum menemukan orang yang bisa meminjamkan pensil warna padaku.
Sebenarnya aku bisa saja sih mendatangi mereka lalu langsung meminjam pensil warnanya, tetapi... Aku terlalu malu untuk melakukan itu, hehe.
Jadi selama kurang lebih lima menit hanya aku habiskan hanya untuk menengok ke kanan dan kiri, aku tahu ini membuang waktu, tapi ya mau gimana lagi? Tau sendiri kan aku orangnya gimana...
Tetapi tiba-tiba, ada yang menepuk pundakku dari belakang. Ternyata itu adalah Tika, ia menyodorkan pensil warna miliknya padaku, sepertinya ia sadar aku sedang mencari benda itu sejak tadi.
"Nih Dik, kamu mau nyariin ini kan? Pinjem aja dulu punyaku" Ujar Tika.
"Eh iyaa, heheh. Kamu tau aja... Tapi emangnya kamu ga pake?" Tanyaku.
"Enggaa, aku punya krayon juga. Dan aku lebih nyaman pake krayon, so... Yeah" Jawabnya.
"Ohh begitu, yaudah ini aku pinjam dulu ya" Ujarku sambil mengangkat pensil warna tadi.
"Okeh kalo begitu, nanti balikinnya pas kamu udah selesai aja ya" Ucap Tika lalu kembali kembali ke kursinya.
Aku bersyukur banget ada penyelamat hari ini, rasanya seperti aku lagi di gurun pasir, lalu dia datang dan memberiku minum. Huwaa, aku senyum-senyum sendiri untuk sesaat, tetapi setelah itu aku ingat akan tugasku yang belum selesai.
Walaupun hanya lima soal, tetapi soal essay ini lebih sulit karena seluruhnya harus dibuat gambar, well... Sebenarnya bukan sulit sih, hanya membutuhkan waktu yang lama untuk membuat gambar yang rapih dan enak dipandang. Tetapi tidak apa-apa sih, lagipula jam pelajaran IPA juga masih panjang.
Sekitar 20 menit berlalu, dan aku baru menyelesaikan dua soal essay. Disini aku mulai mempercepat gerakan tanganku karena setelah di gambar, gambar tadi masih harus diwarnai.
Ku lihat Gio yang duduk disebelahku sudah menyelesaikan gambar pertamanya yang sudah diwarnai, begitu juga Gita dan Tika. Karena itulah aku juga mulai menggunakan cara yang sama, yaitu menyelesaikan satu gambar secara utuh, setelah itu barulah mengerjakan gambar berikutnya.
Omong-omong, sekarang jam pelajaran IPA tinggal 10 menit lagi. Aku sudah menyelesaikan empat gambar, jadi karena aku sudah mulai panik, aku pun mengambil buku pelajaran lalu menjiplak gambar dari buku tersebut.
Dan berhasil sih, aku menyelesaikan gambar kelima lebih cepat daripada harus digambar sendiri, yay!
Setelah menyelesaikan seluruh tugasku, lembaran milikku aku beri nama dan kelas, lalu aku kumpulkan ke Bu Sinta. Memang sih aku bukan orang pertama yang mengumpulkan tugasku, tetapi setidaknya tugasku selesai tepat waktu~
*Bel pergantian jam berbunyi*
Sekarang jam pelajaran IPA sudah berakhir, lega rasanya karena tugasku selesai tepat waktu. Kalau tidak, aku akan bernasib sama dengan Gio, yang harus mengumpulkan tugasnya besok pagi.
Saat itu aku berdiri dan berniat mengembalikan pensil warna yang sebelumnya dipinjamkan olehnya, tetapi guru Seni Budaya yaitu Pak Ari, sudah masuk ke kelas. Hari ini sih seharusnya ada tugas praktek menyanyi, lebih tepatnya materi menyanyi dalam bentuk group.
Mweheh, aku sudah mempersiapkan ini sejak lama, jadi Pak Ari menugaskan kami untuk menyanyikan lagu daerah secara berkelompok, dan kami akan maju ke depan kelas.
"Seperti janji saya pada pertemuan yang lalu, hari ini kalian akan melakukan praktek vocal group. Sekarang silahkan gunakan satu jam pelajaran untuk latihan, dua jam pelajaran sisanya akan kita gunakan untuk pengambilan nilai" Lanjut beliau.
"Wa'alaikumsalam, siap pak!" Balas sekelas kompak.
Sebenarnya aku dan kelompokku sudah mempersiapkan diri sejak lama, tapi untuk membuat vocal kami lebih siap, kami juga berlatih saat satu jam pelajaran pertama. Ditengah latihan, tiba-tiba Pak Ari membuat pengumuman.
"Mohon perhatiannya sebentar, semua!" Ujar Pak Ari.
"Masih ada ga, kelompok yang kekurangan orang? Ini ada satu murid belom masuk!" Lanjut beliau sambil menunjuk Tika.
"Kayaknya sudah pas semua pak!" Jawab Febri.
"Yang benar? Memangnya sudah kamu hitung satu-satu? Satu kelompok seharusnya enam orang kan??" Balas Pak Ari.
"Eh, iyaa pak" Jawab Febri lagi.
"Itu tuh, kelompok yang itu aja! Kayaknya saya hitung-hitung masih lima orang" Ujar Pak Ari, sambil mengarahkan Tika.
"Maaf pak, kelompok kami sudah pas enam orang, tapi ada satu orang yang ga masuk hari ini" Ucap Gio yang sekelompok denganku.
"Yasudah lah, tambahin aja lagi satu orang. Dia kan murid baru, belom ada pas pembagian kelompok pertemuan lalu. Sudah, sekarang silahkan lanjut latihan!" Ujar Pak Ari lalu kembali duduk.
Bisa ku lihat wajah Gio yang mengkerut bersama beberapa anggota lain, aku mengerti mereka kesal karena takut Tika tidak menguasai materi lagu, sebenernya aku juga takut sih nilai kelompok kami akan dikurangi kalau Tika tidak bisa kompak, tetapi disisi lain aku juga percaya kalau Tika pasti bisa belajar dengan cepat.
Saat Tika baru duduk, Gio langsung memberikan kertas lirik ke Tika dan menyuruhnya untuk segera menghafalkan lirik tersebut.
"Nih liriknya, hafalin dulu aja. Nanti nada, tempo, sama melodinya sama Dika aja" Ujar Gio sambil memberikan kertas lirik tersebut.
"Engga, ga usah. Kayaknya aku tau lagu ini" Jawab Tika.
"Beneran? Emangnya kamu hafal liriknya?" Tanyaku pada Tika.
"Iyaa, hafal kok. Aku sering nyanyiin ini dirumah" Jawabnya.
Yap, dugaanku benar. Tika bahkan sudah hafal lirik dan nada lagu tersebut lebih dari anggota yang lain, suaranya juga merdu dan nyaman didengar, wajah Gio juga berubah menjadi senyum bangga. Dengan ini, aku yakin dengan sedikit latihan lagi, pasti kelompokku bisa mendapatkan nilai tertinggi, ya... Setidaknya di kelas.
*Bel pergantian jam pelajaran berbunyi*
"Okee, sudah semua! Waktu latihan sudah selesai, sekarang kita mulai untuk pengambilan nilainya. Silahkan untuk kelompok yang ingin maju duluan" Ujar Pak Ari.
Setelah pengumuman tersebut, suasana kelas seketika hening. Semua anak terdiam, dan tidak ada satu kelompok yang mau maju duluan secara sukarela, aku tadinya sangat berharap ada kelompok yang langsung mengajukan diri untuk maju, jadi kelompokku bisa latihan lagi setidaknya untuk hafalin lirik. Tetapi... Keadaan berkata lain.
"Ini tidak ada yang mau maju?? Yasudah, kalau begitu saya yang panggil kelompoknya ke depan" Kata Pak Ari sambil membuka buku nilainya.
"Saya panggil Ahmad Dika, bawa kelompokmu ke depan!" Lanjut beliau setelah membolak-balik buku nilai.
Hmm tampil pertama ya... Ga sulit sih, tapi agak disayangkan aja soalnya ga bisa latihan lebih lama. Walaupun begitu, aku dan kelompokku tetap berusaha untuk yang terbaik. Dan latihan kami selama ini tidak sia-sia, kami berhasil menyanyikan lagu dengan intonasi dan artikulasi yang pas, perpaduan suara kami juga tidak sumbang, dan pastinya semua ini jadi lebih lengkap dengan suara merdu Tika.
Saat kami selesai bernyanyi, terdengar suara tepuk tangan memenuhi ruangan kelas, tepukan dari kelompok lain dan Pak Ari yang membuatku sangat puas dengan hasil kelompok kami.
Setelah itu kelompok-kelompok lain tampil bergantian, satu demi satu kelompok tampil hingga akhirnya seluruh kelompok sudah selesai tampil sekitar sepuluh menit sebelum pulang. Hal terakhir yang pasti diberikan oleh guru Seni Budaya setelah praktek bernyanyi adalah komentar.
"Jadi semuanya kelompok sudah praktek di depan kelas ya, Alhamdulillah untuk keseluruhan kalian sudah cukup baik. Tapi perlu diperhatikan lagi artikulasinya yah" Ujar beliau.
"Dan untuk kelompok dengan nilai tertinggi adalah kelompoknya Dika, kalian sudah sangat kompak, melakukan improvisasi dengan baik, dan tidak ada suara yang sumbang sama sekali. Kerja bagus!" Lanjut beliau.
Aww jadi malu ditepuk tanganin terus, aku dan kelompokku saling berterima kasih karena sudah bisa diajak bekerja sama dengan baik, juga karena kami semua sudah berusaha sungguh-sungguh.
Omong-omong, sisa waktu sampai pulang kami habiskan dengan tidak ngapa-ngapain, karena ya sebenarnya pelajarannya sudah selesai.
Bersambung...
...----------------...
Terima kasih sudah membaca!
Semoga dengan membaca bab ini kalian jadi terhibur~