
BAB 12
"Praktek lagi... Praktek lagi... Mana prakteknya pasangan, paling males gua sebenarnya. Soalnya gua tuh paling ga bisa nahan ketawa di depan kelas!" - Febri -
...----------------...
*Keesokan harinya*
Pagi ini, aku terbangun karena alarm yang berbunyi. Jam menunjukkan pukul 05.00 pagi, ku buka jendela kamar untuk mendapatkan udara pagi yang masih segar. Setelah itu aku ke kamar mandi untuk berwudhu, lalu melaksanakan salat Subuh. Barulah setelah itu mandi, bersiap, lalu sarapan. Tidak seperti kemarin, hari ini aku bisa melakukan semuanya dengan lebih santai, karena aku tidak kesiangan. Jadi setelah sarapan, aku berpamitan pada kedua orang tuaku, lalu berangkat sekolah sendiri seperti biasa.
Sesampainya di sekolah, aku langsung menaruh tasku, dan duduk di kursiku. Lalu kembali menundukkan kepala dan memejamkan mata. Entah kenapa pagi ini aku sedikit mengantuk, walaupun memang setiap pagi pasti mengantuk sih, tetapi rasa kantuk kali ini lebih dari biasanya. Aku tak tau mengapa, padahal tadi malam aku sudah tidur cukup, dan pagi tadi juga aku sudah mandi. Tapi yasudah lah ya, nanti juga lama-lama ga ngantuk lagi.
Omong-omong, jam pertama pada hari ini adalah Bahasa Inggris, kalian pasti sudah tau yang ngajar siapa. Seharusnya pembelajaran hari ini adalah praktek speaking, biasanya kami akan diberikan dialog yang setiap praktek selalu berbeda-beda, setelah itu kami dipersilahkan untuk membentuk kelompok untuk mempraktekkan dialog tersebut, dan jumlah anak dalam kelompok pun juga bisa berubah-ubah setiap kali praktek. Duh, jadi ga sabar buat praktek speaking hari ini.
Tepat pukul 7.15, Bu Ira masuk ke kelas dengan membawa lembaran kertas yang kemudian ditaruh bertumpuk di mejanya, sepertinya itu adalah kertas berisi dialog yang aku bicarakan tadi. Setelah duduk, beliau memulai pelajaran.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh" Ucap Bu Ira memberi salam.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh" Jawab seisi kelas.
"Good morning students, how are you today?" Tanya beliau sambil menunjuk ke arah Febri.
"I'm fine ma'am, thank you. And you?"
"I'm fine too, thank you"
Kegiatan sapa-menyapa adalah hal yang pasti dilakukan oleh Bu Ira sebelum memulai pelajaran. Tujuannya untuk melatih kemampuan greetings anak-anak dalam bahasa Inggris, dan dilakukan dengan memilih salah satu murid secara acak, ini bagus dan aku suka!
"Okay anak-anak, seperti biasa. Hari ini kita akan pengambilan nilai speaking berdasarkan dialog yang saya bawa. Ga perlu dihafalkan, yang penting pengucapan dan intonasinya benar" Ujar beliau menjelaskan.
"Dialognya untuk berapa orang, Bu?" Tanya Gio.
"Dialog ini untuk dua orang, kalian silahkan pilih pasangan kalian. Terserah mau siapa, kali ini saya beri kebebasan" Jawab beliau.
"Siap bu!"
"Oh iya, dialognya untuk laki-laki dan perempuan ya. Kalau ada yang ga punya pasangan nanti gantian aja" Ujar Bu Ira setelahnya.
Suasana kelas menjadi riuh, karena biasanya laki-laki hanya sekelompok dengan laki-laki saja, begitu juga perempuan. Banyak teman sekelasku yang kebingungan mencari pasangan dialognya, kebanyakan agak milih-milih karena hal ini tidak biasa sebelumnya.
"Baiklah, kalau begitu kalian ibu beri waktu 10 menit untuk nyari pasangan dan latihan, setelah itu baru kita mulai prakteknya" Lanjut Bu Ira menjelaskan.
"Siap bu!"
"Ini tolong dibagikan dialognya"
Okeh, nyari pasangan, kayaknya gampang. Aku tinggal cari aja cewek yang belom punya pasangan buat praktek, ya kan?
"Eh git, pasangan sama gua yuk" Ajakku pada Gita.
"Engga ah, gue udah sama Gio" Jawab Gita.
"Ohh, okelah" Ujarku lalu berpaling.
"Eh Dian, lu udah punya pasangan belom?" Tanyaku.
"Udah, gua sama Febri" Jawab Dian.
"Haha, lu belom ada pasangan ya?" Ledek Febri setelahnya.
"Bawel lu, bentar lagi juga dapet" Jawabku lalu berjalan pergi.
Aku mulai bingung mau pasangan sama siapa lagi, ku lihat lagi ke kanan dan kiri, tetapi tampaknya semua perempuan sudah punya pasangan. Tetapi, tiba-tiba aku kepikiran satu cewek lagi, dan cuma dia satu-satunya harapan sekarang.
Aku pun berjalan menghampirinya, saat itu dia tampak berdiri, jadi aku mempercepat langkahku, berharap ia belum mendapatkan pasangan.
"Eh Tika! Kamu..." Ucapku (Saat itu aku belum selesai berbicara).
"Dika! Kamu udah punya pasangan belom?!" Tanya Tika, memotong pembicaraanku.
"Eh? Belum kok, ini aku masih nyari" Jawabku.
"Yaudah kita pasangan aja yuk" Ajaknya masih dengan nada panik, sepertinya ia juga belum mendapatkan pasangan dari tadi.
"Okeh, hayuk aja aku mah" Jawabku dengan kalem, sekaligus lega karena tidak perlu bergantian dengan pasangan lain (nunggunya lama).
Kami duduk berdua di barisan Tika karena kursiku sudah 'diambil alih' oleh Gita yang sekelompok dengan Gio. Aku dan Tika memulai latihan untuk memperlancar pelafalan sebelum dipanggil untuk praktek nanti. Dialog kali ini terdiri dari satu halaman, dan dua tokoh tentunya, dialog ini sepertinya merupakan potongan salah satu dongeng terkenal.
Sudah sepuluh menit berlalu, kini saatnya kami dipanggil satu-persatu ke depan untuk mempraktekkan dialog ini. Bu Ira mulai membuka buku absen dan memperhatikan buku itu dari atas sampai bawah, kemudian dipanggilnya aku. Ya, aku
"Dika! Bawa pasanganmu ke depan!" Perintah beliau.
"Eh, saya bu?" Tanyaku.
"Pake nanya, ayo cepat!" Tegas beliau.
Aku dan Tika pun berdiri, berjalan ke depan kelas untuk mempraktekkan dialog ini. Setelah mengatur posisi dan mengambil nafas, kami mulai membaca.
"Hey, Ani!" Ujarku memulai dialog.
"Umm... Nothing, just want to say hi"
"Owh, okay. By the way, have you finished your homework?"
"Not yet, what's wrong?"
"Do you want to do our homework together?"
"Together, with you?"
"Yeah, with me"
"Of course i want!" Ujarku mengakhiri dialog.
"Okay, good! Pengucapannya sudah bagus dan jelas. Tapi Dika, nada bicara kamu masih kaku. Sudah, duduk sana" Ujar Bu Ira me-review pembacaan dialog kami.
Setelah itu kami duduk masih di tempat yang sama, kami membicarakan kembali soal praktek kami tadi, mengenai lebih dan kurang, serta pendapat kami masing-masing mengenai penampilan tadi.
"Eh Tik, emangnya tadi aku ngomongnya agak kaku ya?" Tanyaku.
"Hmm... Kalo dari pengucapan sih enggaa, tapi kalo dari intonasi iya, kaku banget! Hehe. Kayak lagi baca puisi" Jawabnya (Okeh, ini jujur banget)
"Ohh gituu, hehe. Okee deh" Ujarku sambil mengangguk.
"Kalo aku gimana tadi? Menurutmu ajaa" Tanya Tika bertanya balik padaku.
"Bagus kok, ekspresimu juga dapet banget. Kayaknya kamu cocok jadi aktor atau model deh" Jawabku.
"Ah, masa sih? Biasa aja kok perasaan~" Ujarnya.
Begitulah percakapan kami terus berlanjut sembari murid-murid lain bergantian menampilkan pembacaan dialog mereka. Tak terasa sebentar lagi jam pelajaran Bahasa Inggris akan berakhir, saat itu Bu Ira memerintahkan kami untuk kembali duduk ke tempat masing-masing.
"Sudah, semuanya dengarkan! Silahkan kembali dulu ke kursi masing-masing" Perintah Bu Ira.
"Siap Bu!" Jawab seisi kelas.
"Yaudah kalo gitu aku balik ke kursiku ya" Ujarku, lalu berjalan pergi.
"Okee dah!" Balasnya.
Setelah itu aku berjalan ke kursiku, dan kembali duduk di sebelah Gio seperti biasa. Tak lama setelah itu bel pergantian jam berbunyi, menandakan berakhirnya jam pelajaran Bahasa Inggris, sesaat setelah itu Bu Ira berpamitan lalu berjalan keluar kelas.
Saat itu aku langsung memasukkan buku Bahasa Inggrisku, dan ku keluarkan buku Bahasa Indonesiaku.
Tak lama setelahnya, Pak Indra masuk ke kelas. Pembahasan kami kali ini masih sama, setelah mengumpulkan PR, kami kembali membahas materi, jujur saja aku tak fokus pada pembelajaran, pikiranku berkeliaran kemana-mana, entah kenapa aku pun tak tahu.
"Ahmad Dika, apa pokok bahasan teks tadi?" Tanya Pak Indra.
"..."
"Ahmad?" Panggil pak Indra lagi.
Aku masih termenung saat itu, aku tenggelam dalam pikiranku sendiri dan tak merespon ke sekitar, keadaanku masih sama sampai Gio menggoyangkan badanku.
"Heh, Dika!" Ujar Gio menggoyangkan badanku, dengan nada setengah teriak.
"Hah, kenapa gi?" Tanyaku yang baru sadar.
"Lo nanya? Dari tadi ditanyain noh sama Pak Indra!" Ujar Gita.
"Ahmad... Ahmad... Kenapa kamu tadi? Enak ya berkhayalnya?" Ujar Pak Indra.
"Eh, engga kok pak. Saya cuma bengong aja" Jawabku.
"Yaudah kalo gitu jawabannya apa?"
"Umm saya... Ga tau pak" Ucapku sambil menundukkan kepala.
"Tuh kan, memperhatikan saja enggak, gimana mau jawab? Sudahlah, sampingnya saja yang jawab" Ujar Pak Indra menunjuk Gio.
Saat itu juga aku sadar performa belajarku menurun, akhir-akhir ini aku lebih sering bermalas-malasan ketimbang belajar. Saat itu juga aku mengingat lagi nilai ulangan IPS ku, awalnya ingin ku renungkan lagi, tetapi sepertinya ini bukan saat yang tepat, aku harus fokus memperhatikan kalau mau mengerti, merenung saat ini cuma akan menambah masalah.
Setelah itu aku berusaha fokus memperhatikan pelajaran, dan semua pertanyaan berusaha ku jawab.
Hingga bel istirahat akhirnya berbunyi, menandakan berakhirnya jam pelajaran Bahasa Indonesia untuk sementara, karena setelah istirahat masih pelajaran Bahasa Indonesia.
*Bel istirahat berbunyi*
"Baiklah semuanya, silahkan istirahat dulu, nanti kita bertemu lagi" Ujar Pak Indra lalu berjalan keluar kelas.
Bersambung...
...----------------...
Terima kasih sudah membaca!
Semoga dengan membaca bab ini kalian jadi terhibur~