
Bab 5
"Hari ini adalah hari keduaku di sekolah ini, ku harap hari ini berjalan dengan baik. Ga kayak hari pertama kemarin, ke kantin bukannya makan, malah kesiram kuah" - Tika -
...----------------...
"Ya gue setuju aja sih, tapi emangnya bisa?" Tanya Gita.
"Boleh dong... Dulu kakak kelas kita ada kok yang kayak gini~" Jawabku.
"Ohh okeh" Balas Gita.
Setelah itu aku dan Gio kembali berdiskusi untuk menentukan petugas-petugasnya, sedangkan yang lain hanya mengobrol dan makan, tapi aku ikhlas kok... Ikhlas kok! Setelah beberapa saat berdiskusi, aku dan Gio akhirnya mengumumkan petugas-petugas upacara untuk Senin depan.
"Okee, yang lain tolong perhatiannya!" Ucapku ke seluruh anak di kelas.
"Jadi gimana tuu?!" Tanya Febri.
"Gweh bakal ngumumin nama-nama petugas upacara bendera untuk Senin depan, kalau namanya ga disebut berarti jadi paduan suara ya" Ujarku.
"Jadi untuk pemimpin upacaranya Gita, pemimpin barisannya Dian, Nadia, dan Siti. Untuk pembawa teks Pancasilanya Ani, dan pembaca teks UUD aku pilih Dinda. Terus untuk pembawa acaranya Febri, pemimpin lagu aku pilih Fahry, penyambut pembinanya Gufran, pembaca teks janji siswa aku pilih Gio, dan untuk memimpin doa aku pilih Amar. Jadi selebihnya jadi paduan suara ya bersama kelas sebelah" Ucapku menyebutkan nama-nama petugas satu-persatu.
"Lah, yang jadi pasukan 9 siapa ajaa?" Tanya Dian.
"Oh iyaa! Lupa gue sebutin, heheh" Jawabku.
"Yaudah nih... Untuk pasukan 9, gue sama Gio pilih Satria, Indra, Nathalie, Thalia, Lidya, Zahra, Alimah, Yasmine, dan Tika. Untuk pasukan 9, akan mulai latihan besok, sedangkan yang lain nyusul dihari Jumat atau Sabtu" Lanjutku menjelaskan.
"Hah, Dika juga?" Tanya Gita lagi.
"Iyaa, gue sendiri. Emang kenapa?" Ucapku bertanya balik.
"Emangnya boleh?" Tanya Gita lagi.
"Ya boleh lah, kenapa engga. Lagian nanya mulu lu dari tadi"
"Ya nanya aja, buat mastiin" Ujar Gita.
Setelah itu yang lain langsung keluar kelas untuk jajan, tanpa bilang terima kasih atau apaa gitu kan... Tapi setidaknya mereka sudah mendengarkan. Tentu saja tugasku belum selesai, aku harus memberikan selembar kertas yang berisi catatan nama petugas-petugas tadi, tentu saja masih dibantu Gio.
"Eh Gi, tolong tulisin ya nama petugas-petugas tadi, nih pake kertasku ajaa" Ucapku meminta tolong.
"Kenapa harus aku? Kan kamu bisa nulis sendiri" Balasnya.
"Yaa... Tulisan kamu kan bagus. Lagian ini cuma sedikit, cuma lima menit pasti selesai kok" Ujarku.
"Yaudah, seribu rupiah per kata" Ujarnya.
"Lah, kok kamu begitu sih Gi... Kita kan sudah berteman bertahun-tahun lamanya~" Balasku.
"Yaudah, tapi nanti liat tugas IPA yaa" Tawar Gio padaku.
"Hah, memangnya ada tugas IPA?" Tanyaku.
Namun, sebelum Gio sempat menjawab, Tika menghampiri kami berdua. Belum jelas tujuan dia menghampiri kami saat itu, kami hanya menoleh padanya saat dia memanggil nama kami.
"Iyaa! Ada apa Tika?" Tanya Gio.
"Aku mau nanya nih, kenapa aku ikut jadi salah satu petugas di pasukan 9? Aku kan belum tau sistemnya" Ujar Tika bertanya balik.
"Karena kalau aku liat, postur badan kamu bagus Tika. Badan kamu lumayan tinggi dan tubuh kamu tegap, makanya ku pikir kamu udah pernah jadi paskibra" Jawabku menjelaskan.
"Yaa... Pernah sih, jadi paskibra kelas, tapi itu kan di sekolah lamaku" Ujarnya.
"Iyaa aku tau, sekarang kan juga sama. Lagian nanti semuanya diajarin kok pas latihan" Jawabku lagi.
"Ohh begitu... Aku cuma penasaran aja kenapa aku ikut jadi petugas" Ujarnya.
Setelah itu suasana sunyi diantara kami bertiga, karena semuanya sama-sama diam. Kami hanya bertatap-tatapan sambil senyum tidak jelas, setidaknya sampai Gita datang dan memecahkan suasana.
"Heh Dika! Temenin gue dong ke kantin, temen-temen gue pada ga setia kawan semua" Ujar Gita.
"Ah... Lagi males gue, sama Gio aja sana, kamu bilang mau jajan kan tadi?" Tanyaku pada Gio.
"Iyaa tadi, yaudah sama gue aja yuk Git" Jawab Gio.
Setelah Gio dan Gita keluar kelas, aku mencoba untuk memulai percakapan dengan topik yang memang biasa dibicarakan oleh orang yang baru kenal.
"Kamu orang asli mana Tika?" Tanyaku.
"Eh, aku asli Bandung..." Jawabnya setelah termenung sesaat.
"Ohh orang Bandung ya, terus kenapa pindah ke Jakarta?" Tanyaku lagi.
"Ayahku dipindah dinas soalnya, katanya sih hanya sementara, tapi aku ga tau sampai kapan aku disini" Jawab Tika, dari percakapan ini kami mulai akrab.
"Ohh begitu... Di Jakarta udah kemana aja? Udah pernah ke Ancol belum?" Ujarku mulai mengganti topik.
"Umm kalo ke Ancol aku belum pernah, tapi aku udah pernah ke TMII dan Ragunan" Jawab Tika lagi.
"Wahh, malahan aku belum pernah sama sekali ke TMII. Kebanyakan dirumah sih aku, hehe" Ujarku.
"Haha, emangnya kamu ga ada teman yang tinggalnya berdekatan?" Tanya Tika.
"Yang paling dekat sih cuma si Gio doang, tapi kita juga jarang main keluar karena seringnya main bareng di game online, hehe" Jawabku.
"Ohh begitu ternyata..." Ujar Tika.
Lalu percakapan kami terhenti karena bel masuk berbunyi, kami kembali ke tempat duduk masing-masing dan mengeluarkan buku pelajaran selanjutnya yaitu IPA
Bersambung...
...----------------...
Terima kasih sudah membaca!
Semoga dengan membaca bab ini kalian jadi terhibur~