Dika And His School Life

Dika And His School Life
PROLOG



Hai, namaku Ahmad Dika, biasa dipanggil Dika. Aku adalah siswa kelas 8 SMP yang pinter banget, setidaknya kata orang-orang begitu. Tapi kalo ngeliat piagam yang berjejer di rak kamarku sih ya... Bisa dibilang pinter lah ya. Seenggaknya bagi sebagian besar orang tua Indonesia.


Matematika! Aku suka banget sama mata pelajaran yang satu ini, setiap ulangan pasti pernah remedial! Tapi ya... di matematika doang. Di pelajaran lain nilaiku agak kurang, terutama Seni Budaya dan Olahraga yang lebih banyak praktek daripada teori. Males kalo mikir ke situ, tapi disisi lain aku suka sih nyanyi sendiri di kamar, dan tentunya bulu tangkis.


Ayahku adalah seorang dosen matematika di salah satu Universitas ternama di Indonesia, sedangkan Ibuku adalah guru fisika di salah satu SMA di Jakarta Selatan. Aku juga punya dua adik yang masih kelas 5 dan 2 SD. Mereka tuh rese' dan mengganggu tapi kalo ga liat mereka sejam aja bikin hati ga tenang, aku juga ga suka adikku digangguin sama anak lain. Pokoknya cuma aku yang boleh bikin mereka nangis!


Jakarta Selatan, DKI Jakarta/Februari 2022


Omong-omong hari ini jam tujuh pagi di hari Senin, dan beberapa menit lagi upacara akan dimulai, males banget sih sebenernya, pengen pura-pura pingsan aja biar dibawa PMR ke UKS. Tapi aku ga punya bakat akting, jadi aku ikuti upacara dengan sangat khidmat. Aku berdiri di barisan kedua dibelakang temanku, Gio. Setiap upacara pasti dia disuruh berdiri di depan sama yang lain karena dia pendiam, sedangkan yang lain sibuk ngobrol di belakang. Well... We don't care, kalo ketahuan berisik kan mereka juga yang dimarahin. Upacara ku ikuti seperti biasa, hingga saat penghormatan bendera merah putih, ku lihat satu cewek yang belum pernah ada di kelasku sebelumnya, kupikir dia siswi kelas lain yang baris di barisan kelas ku karena barisan kelasnya udah penuh, jadi ga terlalu aku pikirkan.


Oh ya, omong-omong aku ketua kelas VIII-D. Aku sebenernya ga niat jadi ketua kelas soalnya males, tapi karena dipilih sama Wali Kelas ya... Apa boleh buat?


Waktu terus berjalan, dan upacara selesai pada jam 7:40 pagi. Barisan dibubarkan dan seluruh siswa masuk kelas masing-masing, mata pelajaran di hari Senin itu Matematika, IPA, dan PAI, biasa aja sih sebenernya, semua pelajaran itu mudah buatku. Sekitar lima menit berlalu, Bu Ira wali kelasku masuk ke ruang kelas. Padahal seharusnya hari ini beliau tidak mengajar, ternyata Bu Ira punya pengumuman.


"Assalamu'alaikum anak-anak, selamat pagi. Bagaimana kabar kalian?"


"Wa'alaikumsalam, pagi Bu!!" Jawab seisi kelas.


"Hari ini, kelas kita kedatangan siswi baru. Mungkin kalian sudah melihat dia saat upacara, soalnya sudah saya masukan ke barisan tadi pagi" Ucap beliau.


"Tika, silahkan masuk!" Lanjutnya.


Sesaat setelahnya masuklah seorang cewek cantik jelita, dengan langkah kecil sambil sedikit malu-malu. Ia berhenti di tengah-depan kelas di depan papan tulis, mulailah dia memperkenalkan diri.


"Assalamu'alaikum semuanya, nama saya Rahma Cantika Putri. Biasa dipanggil Tika, salam kenal ya semuanya!" Ucapnya memperkenalkan diri.


Ku lihat dia baik-baik, dari atas sampai bawah. Hanya satu hal yang kulihat dari dia, dia itu cantik banget! Sepatu hitam dengan sol berwarna putih yang elegan, hijab putih yang menutupi kepalanya, dan senyum manis yang terpancar dari bibirnya. Membuatku senyum-senyum sendiri, sampai-sampai aku tak sadar namaku dipanggil oleh Bu Ira.


"Dika, kamu mikirin apa??"


"Eh, engga Bu. Mikirin tugas fisika nanti, hehe" Jawabku.


"Ohh, yasudah kamu tolong anterin Tika ke perpustakaan ya. Dia mau pinjam buku pelajaran" Ucap beliau.


"Baik Bu..." Jawabku singkat.


Aku diam sejenak, sebenarnya aku males keluar pas jam pelajaran. Apalagi di pelajaran Bu Ratna, guru Matematika. Beliau kalau sudah marah bisa bikin satu kelas ketar-ketir, tapi ya sudahlah lagian ini kan disuruh sama Bu Ira.


"Tika! Yok ke perpus" Ajak ku.


Dia hanya mengangguk, sambil mengikuti ku dari belakang. Sedikit-sedikit ku mengintip ke belakang, ku lihat ia berjalan sambil membenarkan pucuk hijabnya yang mencong. Beberapa saat kemudian, sampailah kami di perpustakaan sekolah, aku pun mempersilahkan Tika masuk.


"Ini perpustakaannya, silahkan ambil bukunya. Saya tunggu disini" Kataku.


"Umm... Kamu bisa ga temenin aku ambil buku-bukunya? Soalnya aku belum tau tata letak perpustakaan ini..." Ujarnya meminta tolong.


"Boleh sih, tapi kamu yang bawa sendiri ya bukunya" Jawabku.


"Iyaa deh, lagian kan aku ga nyuruh kamu bawa buku-bukunya" Katanya sambil tertawa kecil.


Aku hanya merespons dengan senyuman kecil, lalu ku tunjukan satu-persatu letak buku masing-masing mata pelajaran. Seusai mengambil buku, kami kembali ke kelas. Diiringi dengan perbincangan kecil.


"Makasih ya, kamu udah mau bantuin aku" Ujar Tika.


"Iyaa, sama-sama. Udah tugas saya sebagai ketua kelas..." Jawabku dengan gugup.


"Hari ini kita belajar Matematika, IPA, sama PAI, Itu aja kok" Jawabku menjelaskan mata pelajaran hari ini.


"Waduh, jadwalnya bisa bikin sakit kepala ya? Hehe" Ujar Tika.


Tapi kali ini aku hanya diam, meresponsnya hanya dengan senyuman, mungkin pernyataan 'bikin sakit kepala' tertuju pada matematika. Setelah itu tidak ada lagi perbincangan sampai kelas, jarak antara perpustakaan dan kelasku lumayan jauh, kalau diibaratkan itu seperti ujung ke ujung, jadi jalan tanpa perbincangan kayak gini sebenernya ngebosenin, apalagi sama siswi baru kayak Tika.


Ditengah perjalanan, Tika kebelet buang air. Dia bertanya padaku dimana letak toilet, dan sebagai ketua kelas yang baik, aku menunjukkan jalan sampai ke toilet, tapi aku ga bisa ikut masuk ke dalam karena itu toilet perempuan. Tika pun menitipkan buku-buku itu padaku.


"Eh, aku titip sebentar buku-buku ini sama kamu ya. Soalnya ribet kalo dibawa ke dalam..." Ujar Tika meminta tolong padaku.


"Iya, sini bukunya. Saya tungguin disini" Kataku dengan nada ramah.


Tika menitipkan buku-buku itu padaku, sebenernya buku-buku ini lumayan berat. Dan aku jadi kasihan sama Tika, aku pengen bawain buku-buku ini sampe kelas. Tapi aku males, jadi aku biarin Tika bawa buku-buku itu sendiri.


Beberapa menit kemudian, Tika keluar dari toilet. Dia sudah selesai buang air, aku langsung menyerahkan buku-buku itu dan mengajaknya untuk segera kembali ke kelas. Aku males banget ngebayangin muka manyun Bu Ratna kalo ada siswanya yang terlambat masuk kelas, walaupun aku bisa memberi alasan untuk keterlambatan ini. Dan... Benar aja, Bu Ratna udah duduk di kursi guru dan dengan cepat melihat ke arah kami saat kaki ku pertama kali menyentuh lantai kelas.


"Kenapa kalian terlambat masuk kelas? Itu siapa yang di belakang kamu Dika?" Tanya Bu Ratna.


"Ehm... Kami dari perpustakaan Bu, disuruh sama Bu Ira tadi. Soalnya dia murid baru" Kataku sambil menunjuk ke arah Tika.


"Ohh... Ya sudah kalau begitu, Bu Ira memang sudah kasih tau kalau ada siswi baru. Silahkan duduk, nama kamu Cantika kan?" Tanya Bu Ratna pada Tika.


"Iya Bu, saya Tika. Siswi pindahan yang baru masuk hari ini" Jawab Tika sambil berusaha membereskan buku-buku yang baru diambil tadi.


Tiba-tiba muncul rasa bersalah dalam diriku, kenapa aku ga bawain buku-buku itu sampai kelas? Kenapa aku biarin dia bawa buku itu sendiri?! Tapi udah terlanjur sih... Lagian dia juga kuat bawa buku-bukunya sendiri, cuma agak susah pas membereskan bukunya aja. Aku memikirkan itu berulang-ulang, hingga Bu Ratna mulai mengajar, aku baru sadar kalau aku dari tadi termenung memikirkan hal itu. Aku pun berusaha mengalihkan pikiranku dan mulai mengeluarkan buku pelajaran, kubuka buku tugas dan terlihat tugas yang belum dikumpulkan, tentu aja aku akan mengingatkan Bu Ratna soal ini.


"Bu!! Saya mau nanya, tugas yang kemaren dikumpul tidak?" Tanyaku.


"Ohh iyaa! Saya juga baru inget, semuanya silahkan kumpul tugas kalian di depan" Ujar Bu Ratna.


Pernyataan itu langsung mengalihkan perhatian teman-teman sekelas ke arah ku, mereka melotot, memasang wajah kesal, marah, sedih... Tapi aku ga peduli, soalnya aku udah bikin tugas itu dan ga mungkin aku membiarkan tugas ini ga dikumpul cuman gara-gara teman-teman sekelas ku ada yang ga kerjain. Alhasil dua belas dari tiga puluh enam siswa dihukum dan diceramahi karena tidak mengumpulkan tugas.


Jujur aku puas banget liat mereka dimarahin, kayak melihat muka mereka sampe ada yang mau nangis itu memuaskan banget. Sedangkan yang membuat tugas bisa santai di tempat duduk mereka masing-masing, melihat temannya diceramahi di depan kelas.


Hampir tujuh menit dihabiskan oleh Bu Ratna hanya untuk menceramahi siswa yang tidak mengerjakan tugas, sebenernya ini sudah mulai membosankan. Tapi kalo Bu Ratna sudah marah, ga ada satupun siswa yang boleh menyela pembicaraannya, kalau ada yang berani pasti bakal ikut kena marah juga. Ku habiskan setengah jam itu dengan membaca novel yang kupinjam dari perpustakaan sekolah, sesekali kulihat Tika menulis di buku hariannya, ku pandang dia dan tulisannya yang sangat rapih, bahkan lebih rapih daripada tulisan sekretaris kelas.


Lumayan lama ku memandangnya, sepertinya ia sadar. Tika memandangku balik, ia hanya tersenyum kecil sambil menganggukan kepalanya. Aku kaget dong, langsung ku alihkan pandanganku ke depan. Sambil berpikir kenapa aku memandangnya seperti itu, dan kenapa cewek itu tersenyum padaku, apa jangan-jangan dia suka sama aku? Duh, itu mah kepedean. Atau mungkin... Aku yang suka sama dia? Eh, apaan sih?! Dah lah.


Sudah dua belas menit berlalu, aku jadi nyesal kasih tau Bu Ratna kalau hari ini ada tugas. Harusnya sekarang udah ada tugas baru, tapi karena marah-marah terus, sekarang pelajaran belum juga dimulai. Ku tunggu dengan sabar sambil membaca novel tadi, sudah sekitar lima menit, akhirnya keluar kalimat yang mengakhiri 'ceramah' ini.


"Sudah, kalian duduk lagi sana. Kalau ga bikin tugas lagi... Kalian saya panggil ke BK!" Ujar Bu Ratna dengan nada tinggi.


"Baik Bu..." Para siswa yang dimarahi pun hanya menunduk sambil berjalan ke kursi mereka masing-masing.


Setelah itu pelajaran dimulai seperti biasa, diawali oleh materi dan diakhiri oleh tugas rumah. Sebenernya aku bisa kerjain tugas ini di sekolah, cuma lima belas soal kok. Tapi biasanya aku sama Gio ngerjain tugas bareng dirumahnya, jadi bisa sambil diskusi sama main-main sedikit, hehe.


Bersambung...


...----------------...


Terima kasih sudah membaca!


Semoga dengan membaca bab ini kalian jadi terhibur~