
BAB 10
"Pernah ga jantung kalian berdegup kencang? Kalo aku sih sering, setiap pembagian kertas ulangan pasti begitu. Ga tau kenapa, padahal pas udah liat nilainya jadi biasa aja" - Tika -
...----------------...
Kertas milikku pun diberikan, lalu ku buka lembarannya dengan penuh harap, sedikit demi sedikit, hingga nilaiku mulai terlihat, dan akhirnya terlihat seluruhnya.
"Hah, apaan nih?!" Mataku terbelalak melihat nilaku sendiri.
"Kenapa Ka? Omong-omong nilaimu berapa??" Tanya Gio.
"Eh, ga apa-apa. Lumayan kok, heheh" Jawabku.
"Okey... Lumayan? Ya lumayannya itu berapa?" Tanya Gio lagi.
"Ntar aja lah, aku mau ke kamar mandi dulu" Ucapku lalu keluar kelas, sambil membawa kertas ulanganku.
Yap, seperti yang mungkin sudah kalian duga. Nilaiku dibawah KKM, lebih tepatnya 65. "Apaan sih, kok bisa begini..." Gumamku dalam hati sambil menahan tangis. Tapi aku tetap berjalan ke kamar mandi, saat sampai di depan wastafel, ku tatap lagi lembaranku. Lalu karena kesal, ku robek-robek lembaran tersebut, ku basahi, ku hancurkan, lalu ku buang, selesai! Sekarang ga bakal ada yang tau nilaiku berapa. Setelah itu aku berjalan kembali ke kelas dan langsung duduk di kursiku, dan Bu Santi kembali memberikan pengumuman.
"Ingat ya, yang nilainya dibawah 76 harus remedial di pertemuan selanjutnya. Yang susulan juga harus minggu depan, kalo misalkan di pertemuan selanjutnya ga remedial ataupun susulan, saya ga akan kasih kesempatan lagi" Ujar beliau.
*Bel pulang berbunyi*
"Pas sekali pertemuan kali ini sudah berakhir, kalian silahkan ke lapangan untuk kegiatan Pramuka. Saya tutup dengan wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh"
Jam sekolah hari ini sudah berakhir, tetapi kami belum dibolehkan pulang karena hari ini adalah jadwal Pramuka Wajib. Seperti namanya, ekstrakulikuler ini wajib diikuti oleh seluruh siswa di sekolah, katanya sih kalo ga ikut Pramuka Wajib nanti ga naik kelas.
Kami segera beranjak ke lapangan sambil diarahkan menuju barisan masing-masing, setelah itu kami diperintahkan untuk duduk di posisi masing-masing. Hari ini kami di jelaskan mengenai arah mata angin, dan cara menggunakan kompas. Setelah pembahasan materi selesai, kami diperintahkan untuk membentuk kelompok, dan masing-masing kelompok diberikan kompas untuk penilaian prakteknya.
Setelah rangkaian kegiatan selesai, kami diperintahkan untuk kembali berbaris dan bersiap untuk pulang.
"Dengar semuanya! Sebelum pulang, mari kita berdoa terlebih dahulu. Berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing, berdoa dimulai"
Setelah itu, kami dipersilahkan untuk pulang. Tetapi seperti yang sudah direncanakan, petugas upacara bagian pasukan 9 harus berkumpul dulu untuk mengatur posisi dan berlatih setidaknya sekali.
Setelah seluruh barisan bubar, ku panggil semua anak yang sudah ku tunjuk sebelumnya, dan ku kumpulkan ke tengah lapangan. Kebetulan hari ini matahari tertutup awan, jadi tidak terlalu panas.
"Okeh, dengerin semuanya!" Ujarku.
"Ini cuma kita doang yang latihan? Yang lain mana??" Tanya Gita.
"Kan gue udah bilang kemarin, kita latihan bareng yang lain itu antara hari Jumat atau Sabtu. Lu ga dengerin ya kemaren?" Jawabku.
"Denger kok, cuma mastiin aja. Biasa aja kali nada ngomongnya"
"Bruh, okelah" Ujarku lalu berjalan ke sisi samping barisan.
Ku lihat barisan ini baik-baik, ku perhatikan mereka satu persatu, lalu ku bayangkan posisi mereka dalam pikiranku. Untuk menentukan posisi mereka, aku mempertimbangkan tinggi badan dan postur tubuh, tentu agar barisannya terlihat rapi dan seimbang.
Karena bentuk barisannya 3×3, seluruh laki-laki mau ku taruh di tengah semua dan enam perempuan berbaris di depan dan belakang barisan laki-laki. Setelah mempertimbangkan hal-hal tadi, akhirnya kuberitahukan pemikiranku.
"Nathalie, Thalia, sama Lidya di depan. Alimah, Yasmine, sama Tika di belakang. Nanti gue, Satria, sama Indra di tengah. Untuk sekarang kayak gitu aja dulu, ada yang mau komplen?" Jelasku sambil mengarahkan mereka ke barisan masing-masing.
"Berarti nanti yang ngibarin bendera cowok semua?" Tanya Satria.
"Iyaa, nanti lu sama gue dan Indra. Kenapa, ada masalah?" Jawabku.
"Ga, ga ada masalah. Cuma nanya aja, soalnya kelas lain belum ada yang kayak gini" Ujarnya sambil mengangguk.
"Okelah kalau begitu" Ujarku sambil berjalan ke barisanku.
Setelah semuanya berdiri tegap secara rapi di posisi masing-masing, ku mulai latihan dengan jalan ditempat untuk mengompakkan langkah kaki terlebih dulu. Setelah semuanya kompak, barulah nanti akan latihan gerak jalan dengan trek lurus. Untuk hari ini cukup dua latihan itu saja dulu, karena bisa kulihat wajah teman-temanku yang sudah lelah karena sudah disekolah dari pagi hingga sore. Aku tidak mau membuat mereka kelelahan, apalagi sampai jatuh sakit.
Dari kejauhan, kulihat Bu Ira sedang berdiri sambil melipat tangannya melihat ke arah kami. Sepertinya beliau sedang memantau kami yang sedang latihan, sejujurnya aku memang belum bilang pada Bu Ira kalau hari ini akan latihan, tetapi dari raut wajah beliau terlihat senyum kecil, yang sepertinya mengartikan kalau beliau mengizinkan(?).
Dan saat itu latihan tetap ku lanjutkan, benar-benar sampai semuanya kompak saat melangkahkan kaki, barulah nanti latihan terakhir tinggal latihan berbelok dan memutar. Namun tak lama setelahnya, Bu Ira berjalan menghampiri kami...
Bersambung...
...----------------...
Terima kasih sudah membaca!
Semoga dengan membaca bab ini kalian jadi terhibur~