
Bab 3
"Gue udah kenal Dika dari SD, tapi baru tadi doang dia hampir diketawain sekelas. Harusnya gue ketawa lepas aja tadi ya? HAHA" - Gita -
...----------------...
Selama perjalanan pulang, aku hanya diam memikirkan hal tadi, hal paling memalukan dan paling awkward seumur hidupku. Aku berulang kali memikirkan kalimat penyesalan dalam pikiranku, sampai Gio menegurku.
"Heh Dika, kamu kok diem aja dari tadi? Mikirin apaa kamu??" Tanya Gio padaku.
"Hah? Aku?? Ga mikirin apa-apa kok" Jawabku singkat.
"Kejadian yang tadi yaa? Haha, aku juga hampir ketawa sih" Ujar Gio meledekku.
"Dih apaan sih, seenggaknya nilaiku semester lalu lebih tinggi ya dari kamu!" Jawabku kesal.
"Lah, bercanda bawa-bawa nilai. Udahlah, ga usah overthinking soal ituu... Lagian kejadian itu pasti cepat dilupakan, kamu besok datengin aja si Tika terus minta maaf lagi" Ujar Gio.
"Iyaa, aku tau kok... Aku cuma mikirin perasaan dia ajaa" Jawabku.
"Yaudah kalo gitu, semangat dikit lahh. Masih muda jangan cemberut terus~" Ujarnya lagi.
"Iyaa deh tua" Balasku singkat.
Pikiranku agak tenang setelah itu, nasihat bijak dari Gio memang ga pernah gagal bikin orang lain jadi lebih baik, makanya teman-teman kelas banyak yang curhat sama dia, haha. Omong-omong, aku akhirnya pulang sendiri karena Gio baru ingat hari ini dia ada ekstrakulikuler, dan dia harus lari kencang untuk kembali ke sekolah, semoga aja dia ga terlambat.
Saat memasuki daerah komplek, aku melihat Tika yang sedang dibonceng motor melewatiku. Mataku refleks melotot, apakah ini berarti rumah Tika berdekatan dengan rumahku?
Ku perhatikan dengan seksama arah gerak motor tersebut, dan ku lihat motor itu berbelok ke gang Anggrek, yang berarti... Rumah Tika hanya berbeda satu gang dengan rumahku! Astaga, kalo aku berpapasan sama dia gimana?! Duh, tadi sadar ga ya ada aku dipinggir jalan? Heuh, bikin sakit kepala saja!
Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku dari belakang, tentu saja aku refleks membalik badan, ternyata yang menepuk pundakku adalah Gita, salah satu teman sekelasku. Kami udah kenal dari saat kami masih TK, tapi karena udah mulai punya urusan masing-masing kami jadi jarang bertemu, padahal rumah Gita hanya berbeda empat gang dari rumahku.
"Tumben Lo sendiri aja, si Gio kemana?" Tanya Gita.
"Gio ada ekskul di sekolah, jadi gue pulang sendiri" Jawabku.
"Haha, kasian ga ada teman" Ledek Gita padaku.
"Lah, Lo sendiri? Tumben ga sama Rara" Kataku bertanya balik.
"Hadeuh, dia ada ekskul juga hari ini. Ganti-gantian ekskul terus sih..." Jawab Gita.
"Lohh, kok kita samaan..." Ucapku bercanda.
"Kebetulan aja itu mah, yaudah gue mau ke warung dulu. Mau beli es krim, Lo kalo mau duluan ajaa" Ujarnya.
"Emang siapa yang mau nungguin?" Ledekku sambil berlari kecil meninggalkan Gita.
Selang beberapa saat, aku sampai dirumah. Akhirnya bisa istirahat juga. Aku langsung berteriak memanggil orang dirumah, karena pintu rumah dikunci dari dalam. Tapi anehnya ga ada jawaban, berkali-kali aku berteriak tapi hasilnya tetap sama.
Perasaanku berubah dari senang menjadi panik, apakah tidak ada orang di rumah? Kalau begitu... Aku harus menunggu diluar rumah sampai keluargaku pulang? Oh no... Itu bakal membosankan. Lantas aku pun kembali menggedor-gedor pintu rumah hingga akhirnya pintu dibuka oleh adikku yang bernama Ahmad Setiawan, biasa dipanggil Awan, namanya lucu ya? Tapi tingkahnya seratus delapan puluh derajat dari kata 'lucu'.
"Ah elah, kamu kemana aja sih?! Mas udah nungguin dari tadi di depan rumah tau ga!" Ujarku.
"Heh mas, masuk rumah bukannya ucap salam malah marah-marah. Aku ketiduran tadi, pengertian sedikit kek" Jawabnya.
"Tidur tuh pas siang, ini sudah sore bukannya belajar malah tidur..." Ucapku menasihatinya.
"Emangnya mas belajar pas sore begini?" Katanya bertanya.
"Engga sih... Tapi kan mas belajarnya pas malam~" Jawabku.
"Terserah deh mas, terus mau masuk ga nih?" Ujarnya.
"Mau lah, makanya kamu minggir dulu!" Jawabku sambil menerobos masuk.
Seperti biasanya, setelah melepas kaus kaki dan menaruh tas. Aku langsung merebahkan tubuhku di tempat tidur. Ahh... Rasanya... Enak banget! Kadang-kadang aku sampai ketiduran saat seperti ini, padahal aku masih memakai seragam sekolah. Sejenak ku istirahatkan pikiranku dengan membaca novel dan bermain game di ponselku.
Tetapi ditengah permainan, tiba-tiba ada nomor yang tidak dikenal mengirim pesan padaku, sebelumnya aku biarkan karena aku tidak membaca notifikasinya sama sekali, setidaknya sampai setengah jam setelahnya. Setelah berhasil memenangkan permainan, barulah aku melihat notifikasi pesan tersebut, ternyata... Yang mengirimkan pesan padaku adalah Tika! Aku baru ingat kalau tadi pagi aku memberikan nomor teleponku padanya. Tentu saja aku langsung membuka dan membalas pesan tersebut.
@+628~Cantika: Assalamu'alaikum
@+628~Cantika: Dika, save ya ini Tika
Aku pun memikirkan nama yang bagus untuk menyimpan kontaknya, dan akhirnya aku kepikiran nama...
@Tika: Dika, aku boleh minta tolong ga?
@Tika: Tolong masukin aku ke grup kelas ya, tadi udah disuruh kok sama Bu Ira
@Dika: Iyaa sebentar ya
@Tika: Ok Dika, makasih ya
Yap, aku simpan pakai nama asli nya. Setelah itu percakapan kami tidak berlanjut lagi, aku langsung memasukkan nomornya ke grup kelas lalu ku matikan ponselku. Aku ga mau berkirim pesan terlalu lama sama dia, karena ya... Ga mau aja.
Menit-menit setelahnya aku lewati seperti biasa, jam sudah menunjukkan pukul 17 sore, aku memutuskan untuk mandi. Tadinya ku pikir aku akan merasakan mandi yang santai dan tenang, lalu dilanjutkan dengan mengerjakan tugas. Tetapi! Tiba-tiba Awan menghampiriku sambil mengeluh ga jelas dan berbicara padaku dengan nada panik dan gelisah.
"Mas, mas Dika! Tolongin aku dong..." Ucapnya.
"Tolongin apaa? Cepetan, mas mau mandi nih" Tanyaku.
"Umm... Tolong cariin kembang sepatu bisa ga? Buat tugasku besok soalnya" Jawabnya sambil memohon padaku.
Aku hanya ternganga mendengar ucapan Awan, dia meminta tolong padaku mencarikan kembang sepatu, di jam 17 sore, untuk praktek besok, Dia mikir ga sih! Aku kan perlu waktu buat nyari, heuh!
"Wan, kamu kan bisa bilang dari tadi, seenggaknya sebelum jam empat kan bisa?!" Ujarku.
"Iyaa maaf mas, aku baru diingetin teman tadi... Tapi tolong cariin ya mas, tolonglah adikmu ini..." Ucapnya dengan nada memelas.
"Mau cari dimana?? Toko di pasar pasti udah banyak yang tutup, mau cari dirumah orang juga sudah sore, gimana sih kamu!" Balasku.
"Lah, yaudah sih mas kalau ga mau, ga usah marah-marah juga! Bilang aja mas malas nyariin buat aku" Ucapnya sambil berpaling.
"Hah? Maksud kamu apaan?" Tanyaku heran.
"Dah lah, lelah ngomong sama kamu mas, Mending aku cari sendiri!" Ucapnya sambil membanting pintu keluar, lalu berjalan keluar pagar.
Reaksiku? Tentu saja ku biarkan, dia sudah kelas 5 SD. Dulu saat seumuran dia aku sudah bisa mencari semuanya sendiri, kenapa dia engga? Jadi... Aku melanjutkan kegiatanku dirumah. Setelah mandi, aku keluar rumah untuk sekedar menghirup udara segar di teras sambil membaca novel yang aku pinjam dari perpustakaan sekolah.
Ku kira aku bisa santai, tetapi... Sudah setengah jam berlalu, dan Awan belum juga kembali. Aku mulai khawatir, apa yang akan terjadi padanya jika ia terlalu lama di luar rumah tanpa pengawasan? Dan apakah dia baik-baik saja sekarang?
Aku mulai memikirkan ulang niatku, seharusnya aku memikirkan ini sejak awal, seharusnya aku temani dia, karena dia berbeda dengan diriku, belum tentu dia bisa melakukannya sendiri... Arghh, sudahlah! Aku cari saja dia!
Aku bersiap untuk mencari Awan, kemana pun asalkan bisa bertemu. Aku ambil sendalku, dan kuambil rumah yang tergantung di gagang pintu. Aku berniat untuk langsung mengunci pintu lalu langsung pergi mencari Awan, tetapi tiba-tiba aku dengar teriakan dari belakang.
"Huwaa!! Mas! Liat nih!" Teriak Awan sambil menunjukkan kembang sepatu yang dipegangnya.
"Hah? Ketemu dimana?" Tanyaku sambil berusaha untuk tetap 'cool'.
"Tadi dikasih sama Pak RT, kan ada kembang sepatu di depan rumahnya" Jawabnya dengan tenang.
"Ohh yaudah kalo begitu, mandi sana" Kataku sambil menunjuk ke dalam rumah.
"Iyaa ah, ga usah disuruh juga udah tau kalii" Jawabnya sambil melepas sandal lalu berjalan masuk.
"Eh mas, ini pintu rumah dikunci ya?" Tanya Awan sambil berusaha mengotak-atik gagang pintu.
"Ehm... Iyaa tadi mas kunci, tadi mau ke warung. Mau beli shampo soalnya" Jawabku, tentu saja itu bohong.
"Lah, bukannya shampo kita masih banyak?" Tanyanya lagi.
"I-iyaa, makanya ini ga jadi... Baru inget barusan pas sebelum kamu dateng, heheh" Balasku.
"Ohh okeh" Balasnya singkat.
Setelah itu kami melanjutkan aktivitas kami seperti biasa, setelah mandi kami makan berdua, dengan mie instan yang aku masak sendiri. Karena ayah dan ibu baru pulang saat malam hari, akulah yang harus membantu mencuci piring, dan mengepel lantai rumah, kenapa? Karena adik-adikku tidak bisa melakukannya, heheh.
Setelah selesai melakukan semua pekerjaan rumah, aku langsung masuk ke kamar untuk mengerjakan tugas minggu lalu. Yap, tugas ini sudah diberikan sejak seminggu yang lalu, dan kenapa aku baru mengerjakan tugas ini sehari sebelum dikumpulkan? Karena sensasinya lebih berasa broh! Sensasi 'H-1' yang bikin aku harus menyelesaikan tugas saat itu juga, haha...
Umm... Okee, sebenernya karena aku malas aja sih. Tapi aku berhasil menyelesaikan seluruh tugasku dengan cepat dan tepat, setidaknya sebelum pukul 20 malam. Setelah itu aku hanya bermain game dan menonton televisi, sekitar pukul 21 malam ayah dan ibu serta adikku pulang, setelah menyambut mereka aku lanjut masuk ke kamar lagi, kali ini untuk menyiapkan buku sesuai daftar mata pelajaran besok, tentu saja aku tidak mau membawa semua buku setiap hari karena tas ku akan menjadi sangat berat.
Barulah setelah itu aku bersiap tidur, huwaa... Hari ini sedikit melelahkan, sekarang saatnya aku istirahatkan diriku, untuk melanjutkan aktivitas di esok hari.