
BAB 13
"Entah kenapa pagi ini aku malah ngantuk, alasannya? Ya ga tau! Yang pasti ngantuk aja. Dah lah, tidur sebentar di kelas harusnya ga apa-apa kan?" - Dika -
...----------------...
Tak lama setelah Pak Indra keluar, Gio mengajakku ke kantin untuk jajan seperti biasanya. Tetapi aku menolak ajakannya, kenapa? Ga apa-apa, aku males aja jalan ke kantin.
"Dika! Yuk ke kantin!" Ajak Gio.
"Mau ngapain?" Tanyaku.
"Ya jajan lah, emangnya ke kantin ngapain lagi?" Ujarnya.
"Ohh, iya juga sih. Kamu aja deh, aku males" Tolakku.
Tiba-tiba Gita datang memotong pembicaraan kami.
"Yaudah kalo gitu kita berdua aja, Gio!" Ujar Gita tiba-tiba.
"Dih, emangnya lo diajak?" Ledekku.
"Ga perlu ajakan lu juga sih, kan gua perginya sama Gio~"
"Yaudah pergi sana berdua, gua mau tidur" Ujarku lalu kembali duduk dan menyenderkan kepala di meja.
"Hah, Dika tidur di kelas?? Apakah iyah?" Ledeknya balik.
"Hush, kalo mau bareng cepetan, biarin aja kayaknya dia lagi capek" Ujar Gio pada Gita.
"Ehm okee lah, let's go! Bye Dika!" Ujar Gita lalu pergi bersama Gio ke kantin.
Masih diposisi tadi, aku memejamkan mata sebentar untuk sekedar menyegarkan pikiran. Tapi setelahnya, aku tak sadar lagi, seperti sedang tertidur (Well, kayaknya aku memang tertidur).
Aku kembali sadar ketika mendengar bel masuk berbunyi, dengan kondisi masih dengan mata mengantuk dan sedikit merah, aku mencoba menegakkan kepalaku. Sesaat setelahnya, aku baru sadar ada sebuah topi ditaruh dikepalaku, sepertinya topi ini menutupi mataku saat aku tidur. Aku tak tahu ini topi milik siapa, warnanya krem kecoklatan, dengan hiasan bulu diatasnya, dari ciri-ciri tersebut sepertinya topi ni milik perempuan.
Aku melihat-lihat ke sekitar untuk memastikan, tetapi saat itu belum ada orang karena bel masuk memang baru saja berbunyi. Beberapa saat setelahnya, barulah seluruh murid masuk kembali ke kelas, aku bertanya pada Gio siapa kira-kira pemilik topi ini.
"Eh gi, kamu pernah liat topi ini ga?" Tanyaku.
"Pernah, ini kan kamu liatin sekarang" Candanya.
"Ya ampun, maksudku kamu tau ga siapa yang punya?" Tanyaku lagi.
"Mana ku tahu? Coba aja tanya yang lain, kayaknya sih punya anak cewek" Ujarnya.
Benar juga, aku bisa bertanya ke murid lain satu-persatu apakah mereka pemilik topi ini atau bukan. Tetapi baru saja aku meluruskan kaki untuk beranjak, Pak Indra sudah masuk ke kelas, tentu saja aku mengurungkan niatku barusan, dan kembali duduk lalu membuka buku Bahasa Indonesia.
"Baiklah, kita lanjutkan pelajaran tadi. Untuk sekarang, silahkan bentuk kelompok dari 5-6 orang. Nanti akan bapak berikan tugas" Ujar Pak Indra menjelaskan.
Sesaat setelahnya seluruh murid kembali 'grasak-grusuk' mencari teman sekelompok mereka, aku sih sudah pasti sama Gio, tapi siapa kira-kira empat orangnya lagi? Saat aku dan Gio sibuk menengok kesana-kemari, Febri dan Dian mendatangi kami dan mengajak kami untuk sekelompok dengan mereka.
"Oi Dik, lu mau sekelompok ga sama gua?" Tanya Febri.
"Ayo aja gua mah, tapi sama Gio juga ya" Jawabku.
"Okeh, berarti tinggal dua orang lagi" Ujarnya lalu kembali menengok-nengok.
Setelah beberapa menit menengok-nengok bagai orang kebingungan (Dan seperti memang kebingungan), kami belum juga menemukan dua orang lagi. Disisi lain, sudah tidak ada lagi murid yang berkeliaran atau setidaknya berdiri mencari kelompok. Akhirnya kami memutuskan untuk mengatakan pada Pak Indra kalau kelompok kami kekurangan orang, siapa tahu ada yang belum dapat kelompok kan?
Namun syukur Alhamdulillah, belum sempat kami berdiri, Gita dan Tika datang ke tempat kami sambil menunjukkan muka gelisah, dugaanku mereka belum dapat kelompok.
"Heh! Lu pada udah dapet kelompok belom?" Tanya Gita (Dugaanku benar kan~).
"Udah, cuma kurang dua nih. Emang napa? Mau masuk kelompok kita?" Jawab Febri.
"Mau lah, kita belom dapet kelompok nih" Ujar Gita.
"Emang siapa satu lagi?" Tanya Dian.
"Ya Tika lah, pake nanya, orangnya udah disamping gua juga..." Jawab Gita lagi.
"Yaudah ikut aja, pas kok kita juga lagi kurang dua orang" Ujarku.
Setelah itu, sesuai dengan arahan Pak Indra, kami menyusun meja dan kursi berdasarkan kelompok. Sesaat setelahnya, Pak Indra memberikan lembaran kertas soal untuk dikerjakan oleh masing-masing kelompok, didalamnya ada lima soal yang membuat kita harus menganalisis isi dan struktur dari teks yang disajikan, seharusnya sih ini cukup mudah. Setelah itu Pak Indra kembali memberikan lembaran kertas kedua untuk dijadikan lembar jawaban.
Setelah lembar jawaban kelompok kamk dikumpulkan, kami menghabiskan waktu selama sisa jam Bahasa Indonesia dengan mengobrol kecil, atau bermain permainan cepat seperti suit, abc lima dasar, dan lainnya.
*Bel pergantian jam pelajaran berbunyi*
"Anak-anak! Waktunya sudah habis, silahkan dikumpulkan, mau selesai atau tidak yang penting dikumpulkan!" Ujar Pak Indra tepat sesaat bel berbunyi.
Sebenarnya sudah banyak kelompok yang sudah selesai, tinggal satu atau dua kelompok lagi saja yang belum selesai. Tapi bagaimana pun itu, jam pelajaran Bahasa Indonesia sudah berakhir, so yeah.
Tepat setelah Pak Indra keluar kelas, Bu Rasti yaitu guru mata pelajaran PJOK masuk ke kelas. Kalau sesuai jadwal, seharusnya hari ini Bu Rasti hanya akan memberikan materi teori, barulah di pertemuan selanjutnya kami akan praktek.
Seperti yang aku bilang tadi, Bu Rasti memberikan penjelasan materi, materi yang dibahas kali ini adalah senam irama. Materi dijelaskan mulai dari pengertian senam irama, induk organisasi senam Indonesia dan Internasional, gerakan dasar senam irama, bagian-bagian senam irama, jenis-jenis senam lantai, dan lainnya, semuanya dijelaskan hari ini. Setelah penjelasan materi selesai, Bu Rasti memberikan pengumuman mengenai praktek kami selanjutnya, yaitu praktek senam irama.
Praktek ini akan dilakukan secara berkelompok, yang masing-masing kelompok terdiri dari lima sampai enam orang. Tetapi pembagian kelompok tidak dilakukan secara bebas, melainkan kami harus mencabut undian, lalu masuk ke kelompok yang kita dapat dari undian tadi. Katanya sih biar semuanya bergaul tanpa pilih-pilih teman.
Dan... Entah kebetulan atau gimana. Aku sekelompok lagi dengan Tika, Gita, Febri, Dian, dan Gio, sangat waw memang. Setelahnya, kami diperintahkan duduk per kelompok untuk mendiskusikan senam irama apa yang akan kami praktekkan, untungnya kami dibebaskan dalam hal itu.
"Eh, kita sekelompok lagi!" Ujar Gita.
"Wah, iyaa ya. Kemaren Prakarya, tadi Bahasa Indonesia, terus sekarang Olahraga, kayaknya kita emang ditakdirkan bersama deh~" Ujar Febri.
"Idih lebay lu, kebetulan doang kali" Balas Dian.
"Anyway kita mau senam apa ni?" Tanya Dian setelahnya.
"Apa aja lah, gua mah ikut aja" Ujar Gio.
"Ya jangan gitu lah, ntar ada yang ga bisa gimana?" Ucap Gita.
"Yaudah, SKJ yang biasa kita senam pagi-pagi mau ga?" Tanya Gio.
"Jangann, itu mah biasa bangett" Tolak Dian.
"Kalo senam PGRI?" Tanya Gio lagi.
"Panjang banget tau, gua mana bisa" Tolak Gita.
"Senam Gemu Fa Mi Re gimana? Kan gampang tuh" Tawar Gio lagi.
"Itu juga udah banyak yang pake Gi" Tolak Gita lagi.
"Ya terus mau lu apa?! Dari tadi gua usulin ditolak mulu" Ujar Gio.
"Makanya bantu pikirin lah..." Ucap Dian.
"Astaghfirullah, emangnya gua kasih usul tadi ga pake mikir?" Ucap Gio.
"Heh udah! Kok malah ribut sendiri sih" Potong Febri melerai mereka.
*Bel pulang berbunyi*
"Tuh kan udah pulang!" Ujar Dian.
"Yaudah lah, ntar kita omongin lagi aja di grup, ntar gua cariin yang bagus di yutub" Ucapku.
"Okee lah, ntar gua chat duluan di grup ya. Awas aja kalo pada offline!" Ujar Gita.
"Lah kan yang biasanya off kalo bahas tugas elu Git" Ucap Gio.
"I-itu kebetulan doang kali! Lu pada lagi ngebahas, gua lagi ga pegang handphone" Balas Gita.
"Udah ah, pada mau pulang ga sih?" Ucap Febri.
"Mau lah!" Jawab kami serentak.
Bersambung...
...----------------...
Terima kasih sudah membaca!
Semoga dengan membaca bab ini kalian jadi terhibur~