
Bab 9
"Wahh, untung aja tadi ga dimarahin sama Pak Indra. Lain kali habis shalat Subuh langsung mandi aja deh, ga kebayang kalo terlambatnya pas pelajarannya Bu Ratna" - Dika -
...----------------...
*Bel pergantian jam pelajaran berbunyi*
"Baiklah anak-anak, karena jam pelajaran bapak sudah habis, bagi yang belum selesai silahkan lanjutkan kerjakan dirumah, dan besok dikumpulkan saat jam pelajaran bapak, mengerti??" Ujar Pak Indra.
"Mengerti pak!" Jawab seisi kelas dengan kompak.
"Baik, sampai jumpa di pertemuan berikutnya" Pamit Pak Indra lalu berjalan keluar kelas.
Sekarang jam pelajaran Bahasa Indonesia sudah berakhir, jam pelajaran berikutnya adalah Prakarya. Pelajaran yang menurutku memiliki praktek yang menyenangkan, apalagi kalau mengerjakannya berkelompok, pasti seru!
Aku mengeluarkan buku paket dan tulisku karena hari ini adalah pembahasan teori. Tak lama setelah itu, Bu Adria yang mengajar Prakarya di kelas kami masuk ke ruangan kelas.
Biasanya sih Bu Adria cuma ngasih materi dan latihan saat teori, baru setelah itu memberikan tugas praktek untuk pertemuan selanjutnya. Hari ini kami membahas tentang alat penyaring air dari bahan alami, dan menurut dugaanku kami kan disuruh praktek membuat alatnya minggu depan.
"Disini siapa yang tau fungsi penyaring air?" Tanya Bu Adria.
"Fungsinya ya untuk menyaring air Bu!" Jawab Febri, seisi kelas menertawakannya.
"Iyaa itu benar, tapi fungsi lebih spesifiknya untuk menyaring kotoran, kuman dan bakteri sehingga air yang sudah disaring aman untuk dikonsumsi" Ujar Bu Adria menjelaskan.
"Penyaring air ini sangat berguna kalau kita sedang berkemah di hutan atau gunung, kalau kita kehabisan air mineral dan disana cuma ada sungai, kita bisa menggunakan penyaring air untuk menyaring air sungai agar aman dikonsumsi, tetapi ada baiknya kalau setelah disaring tetap direbus dahulu sebelum diminum" Lanjut beliau.
"Terus kalau kita ga punya alat penyaring airnya gimana Bu?" Tanya Amar, salah satu teman sekelasku.
"Makanya sekarang kita mau belajar membuat alat penyaring air dari bahan sederhana, bahan-bahan yang ada disekitar kita, bisa alami ataupun buatan, yang penting bersih dan aman" Jawab Bu Adria.
Setelah itu penjelasan dari Bu Adria berlanjut, mulai dari bahan pembuatan penyaring air baik yang alami maupun buatan, tipe-tipe penyaring air, dan tata cara penyaringan air yang benar. Jam menunjukan pukul 9.45, ini berarti saatnya istirahat!
*Bel istirahat berbunyi*
"Baiklah, segitu aja dulu dari ibu. Nanti setelah istirahat kita bertemu lagi untuk mengerjakan latihan, terima kasih wassalamu'alaikum" Ujar Bu Adria lalu keluar kelas.
Yap, kami akan bertemu lagi setelah jam istirahat, karena jam Prakarya terpotong ditengah. Omong-omong, seperti biasa aku langsung menghampiri Gio dan Gita. Mau ngapain? Ya ngajakin jajan lah.
"Eh, jajan yuk!" Ajakku pada mereka.
"Ah malas, lu aja sendiri ke kantin. Gue nitip, hehe" Ujar Gita.
"Enak aja lu, kalo mau ikut sini!"
"Nih uangnya, kembaliannya buat lu aja" Ucap Gita sambil memberikan dua lembar 5000 rupiah.
"Nah, bilang dong dari tadi. Yuk Gio kita aja yang ke kantin" Kataku sambil mengantungi uang tadi.
"Yaudah yuk" Ujar Gio.
___~___~___
"Kamu mau jajan apa?" Tanyaku pada Gio sesampai di kantin.
"Aku mah ikut aja, emang Gita nitip apa tadi?" Tanya Gio balik.
"Lah iya, dia ga bilang mau nitip apa, aku juga lupa nanyain ke dia" Ujarku.
"Mau balik dulu ga? Buat nanyain gitu..." Tanya Gio.
"Kamu aja sendiri kalo mau" Jawabku sambil memilih-milih makanan.
"Dih, malass. Yaudah beliin seblak aja dia mah" Ujar Gio.
"Eh, jangan! Seblak tuh harganya 6000" Ucapku menolak.
"Lah, emangnya kenapa? Kan dia ngasih uangnya 10.000?" Kata Gio terheran-heran.
"Nanti kembaliannya makin sedikit, kalo makin sedikit ntar untungku makin tipis" Jawabku.
"Emang dasar mata duitan" Ujar Gio lalu memesan seblak di stand sebelah.
"Udah pakai uangku aja" Ucap Gio setelah membayar pesanan seblaknya.
"Lah, janganlah! Ini kan dia ngasih uang" Ujarku sambil memberikan uang tadi pada Abang penjual.
"Katanya tadi ga mau, karena kembaliannya lebih sedikit?" Tanya Gio dengan nada menyindir.
"Apaan sih, becanda doang kali..." Jawabku.
"Tapi kok kamu mau ngeluarin uang buat Gita? Kamu suka sama dia ya? Hayoo" Lanjutku bertanya balik.
"Engga! Aku sama Gita tuh udah temenan lama, mana mungkin suka-sukaan?" Jawab Gio.
"Justru itu, udah kenal lama..." Ledekku lagi.
"Dah lah, terserah kamu"
"Eh, bercanda doang! Jangan marah ya, plis" Ucapku.
"Apaan sih, kayak ngomong sama cewek aja" Ujar Gio lalu meninggalkanku.
Setelah selesai membeli makanan, kami kembali ke kelas. Dikelas terlihat Gita yang sedang duduk dengan muka masam, bersama Tika disampingnya.
"Lama amat sih lu" Ujar Gita sambil merebut seblak tadi ku belikan.
"Namanya juga beli di kantin, pasti ngantri. Kalo mau cepat ya bikin sendiri" Balasku.
"Dih, lebih lama bikin sendiri lah. Yaudah makasih" Ucapnya lalu berjalan meninggalkanku.
Setelah itu aku dan Gio berniat duduk di kursi kami untuk memakan jajanan kami, tetapi di samping kursiku ada Tika yang sudah duduk duluan.
Pada awalnya aku merasa gugup dan mau mengajak Gio mencari tempat lain saja, tetapi Gio sudah terlanjur duduk di barisan depan kursiku. Jadi mau ga mau aku harus duduk di tempatku, lagipula seharusnya bakal biasa aja kan?
"Eh Dika, aku duduk disini dulu ya. Ga apa-apa kan?" Tanya Tika hanya sesaat setelah aku duduk disebelahnya.
"Iya ga apa-apa, Gio udah duduk di depan kok" Jawabku sambil menunjuk ke tempat Gio berada.
"Yaudah kalau begitu" Ujar Tika.
"Omong-omong, tadi kok Pak Indra ga marah ya waktu kamu terlambat?" Tanya Tika memulai obrolan.
"Oh, jadi kamu pengennya Pak Indra marah ke aku?"
"Engga kok, cuma nanya aja... Kamu ga marah kan?"
"Hahaha, enggak kok bercanda doang. Kayaknya karena Pak Indra udah males marah-marah gitu, mungkin karena beliau sudah tua" Jawabku.
Setelah itu kami lanjut menghabiskan makanan kami, sambil sedikit mengobrol dan tertawa, dengan begitu istirahat kali ini jadi salah satu istirahat paling menyenangkan!
Sesaat kemudian, bel masuk berbunyi. Menandakan berakhirnya jam istirahat.
"Eh, udah masuk. Aku balik ke kursiku ya!" Ujar Tika.
"Okee deh" jawabku siingkat.
"Baik anak-anak, karena ibu rasa materi tadi sudah cukup, sekarang silahkan kerjakan latihan di buku tugas kalian. Soal nya ada di halaman 112 buku paket kalian" Ujar Bu Adria memberi perintah.
"Bu! Saya mau tanya, untuk materi ini ada prakteknya atau tidak?" Tanya salah satu teman sekelasku.
"Tentu saja ada, nanti mengerjakannya secara berkelompok. Sekarang kerjain aja dulu latihannya, ibu beri waktu tiga puluh menit, baru nanti ibu bagikan kelompoknya" Jawab beliau.
"Siap bu!" Ucap seisi kelas.
Aku langsung mengerjakan soal-soal tersebut, mulai dari pilihan ganda hingga essay, berhasil ku selesaikan dalam waktu lima belas menit saja. Tetapi ada satu pertanyaan, satu pertanyaan saja, yang belum bisa ku jawab. 'Bagaimana perasaanmu saat mempelajari materi ini?' hmm... Bagaimana yaa?
"Eh Gi, kamu yang nomor terakhir jawab apa?" Tanyaku.
"Yang manaa?" Ujar Gio balik bertanya.
"Ituu lho, yang tentang perasaan itu"
"Ohh, ga tau. Aku belom sampe situ" Ujar Gio.
"Dih, lama amat" Ucapku meledeknya.
"Kamu yang terlalu cepat. Udah ah, aku mau nyelesaiin dulu, kamu tanya siapa aja kek sana" Ujar Gio lalu memalingkan wajahnya dariku.
"Duh, tanya siapa ya?" Gumamku, lalu ku hampiri Gita.
___~___~___
"Eh Gita, lu yang nomor terakhir itu jawab apa?" Tanyaku.
"Lah, kok nanya gue sih? Kan perasaan lu yang ditanya" Ujar Gita.
"Ya gue cuma nanya kalii, buat referensi aja, gue ga bakal nyontek kok" Ucapku.
"Kan lu bisa jawab, apaa gitu. Senang, sedih, marah, apa aja terserah lu dah" Ucapnya sambil menyuruhku kembali duduk.
"Kan gue udah bilang, gue ga tau. Makanya gue nanya" Balasku lagi.
"Udah ah, duduk lagi sana. Makanya sesekali suka sama orang biar ngerti soal perasaan" Ujar Gita dengan nada menyindir.
"Lah, beda lagi itu mah. Yaudah ga jadi liat, gue duduk nih" Ujarku sambil berjalan kembali ke kursiku.
Duh, yaudah lah, isi sebisanya aja, gumamku dalam hati. 'Saya senang sekali dengan pelajaran kali ini' Yap, aku jawab itu, jawaban yang sangat template tapi yang penting terjawab.
Setelah tugas latihanku selesai, aku menghabiskan sisa waktu mengerjakan tadi untuk membaca novel, sebenarnya baca novel begini dilarang sih saat jam pelajaran, tapi asalkan ga ketahuan ga apa-apa kan? Lagian aku bukan main game dan tugasku juga sudah selesai.
Tak terasa waktu untuk mengerjakan latihan sudah selesai, memang cuma sepuluh menit sih sejak aku selesai tadi, tapi tetap saja terasa lebih cepat. Setelah semua buku dikumpulkan, Bu Adria memulai pengumuman untuk memberi tahu pembagian kelompok untuk tugas praktek penyaringan air.
"Okee! Dengarkan dulu semuanya, seperti yang ibu janjikan tadi. Ibu akan memberi tahu tugas praktek beserta kelompoknya" Ucap Bu Adria memulai pengumuman.
"Jadi nanti tugasnya kalian harus membuat alat penyaring air dari alat an bahan yang sudah kita pelajari tadi, kalian bawa bahan-bahannya ke sekolah, lalu kalian akan bekerja sama dengan teman sekelompok kalian untuk membuat alat penyaring air itu disini. Setelah percobaannya dilakukan, kalian harus membuat laporan hasil percobaannya dengan format judul, tujuan, alat dan bahan, langkah kerja, dan hasil pengamatan serta kesimpulan. Itu semua kalian kerjakan di sekolah jadi bisa saya pantau langsung, mengerti??" Lanjut beliau menjelaskan.
"Mengerti, Bu!" Jawab seisi kelas.
"Baik, sekarang untuk kelompok-kelompoknya. Ibu sudah membagi-bagikan secara acak saat kalian mengerjakan tugas barusan" Ucap Bu Adria lalu membacakan nama-nama anggota kelompok yang sudah dibagi.
Namaku tak kunjung disebut sampai kelompok terakhir, kelompok 7. Yang beranggotakan enam orang, satu orang lebih sedikit daripadanya kelompok lain karena ini kelompok terakhir, tapi tidak apa-apa, aku yakin kelompok kami tetap bisa menyelesaikan tugas ini dengan mudah.
"Dan untuk kelompok tujuh beranggotakan Ahmad Dika, Andiana Christin, Anggita Syafira, Febriansyah Hendri Gunawan, Muhammad Giofano Saputra Dwi Cahyo, dan Rahma Cantika Putri" Ujar Bu Adria menyampaikan nama-nama anggota kelompok terakhir.
"Ingat ya semua, saya mau kalian semua membeli bahan bersama-sama, dan dibicarakan berapa perkiraan biaya nya, saya ga perlu mahal-mahal, yang penting jadi dan bisa digunakan. Kalau bisa cari bahannya yang agak murah biar gak membebani, saran saya patungan biar terbagi rata. Kalau misalnya ada yang keberatan soal biaya, silahkan lapor ke saya biar saya tambahin uangnya. Mengerti??" Lanjut beliau menjelaskan.
"Siap bu, mengerti!" Jawab sekelas kompak.
___~___~___
*Bel pergantian jam berbunyi*
"Pas sekali jam pelajaran saya selesai, ingat ya jangan lupa bahannya dibawa minggu depan! Selamat pagi menjelang siang dan wassalamu'alaikum" Pamit beliau lalu berjalan keluar kelas.
Aku berpikir sejenak. Kerja kelompok, kerja, kelompok, hmm... I don't like it. Dari pengalamanku sebelum-sebelumnya, yang namanya kerja kelompok itu adalah satu orang bekerja dan yang lainnya numpang nama, makanya aku jadi kurang suka sama kerja kelompok.
Walaupun ga semuanya kayak gitu, tapi yang kayak gitu sudah pasti terjadi hanya saat kerja kelompok. Tapi aku yakin, teman-teman sekelompokku ini beda dari teman sekelompokku yang sebelumnya. Febri lumayan rajin, dia ranking 2 dikelasku. Dian juga jarang ga ngerjain tugas, dan tulisannya bagus.
Okeh, kayaknya kelompokku ga buruk-buruk banget. Lalu ku hampiri Febri untuk ku ajak sedikit berdiskusi untuk kerja kelompok nanti.
"Eh Feb, ini kerja kelompoknya gimana nanti?" Tanyaku.
"Mana gue tau, tanya ke yang lain juga lah" Jawabnya.
"Ya kan gue nanya ke elo dulu, ntar baru disampaikan ke yang lain" Ujarku.
"Udah deh nanti aja, lagian sekarang kan udah jam IPS. Ntar gue bikinin grup chat aja buat diskusi" Ujar Febri sambil mengeluarkan buku tulis IPS nya.
"Yaudah kalo gitu" Jawabku singkat sambil berjalan kembali ke kursiku.
Tak lama setelahnya, Bu Santi masuk ke kelas sambil membawa lembaran ulangan kami sebelumnya, dan sepertinya sudah dinilai. Akan tetapi beliau tak langsung membagikan hasil ulangan kami, melainkan akan dibagikan setelah belajar.
Duh, padahal aku sudah penasaran dengan nilaiku. Aku pun mengambil buku tulis IPS dari dalam tas ku. Tapi ada hal aneh yang baru ku sadari. Saat ku cari-cari lagi, hanya ada satu buku tulis IPS, padahal seharusnya ada dua, yaitu buku catatan dan buku tugas. Aku pun panik setengah mati, apalagi yang hilang adalah buku tugas yang harus ku kumpulkan hari ini.
Namun aku masih berusaha tenang, ku cari lagi di kolong meja, bawah kursi, meja belakang, meja depan, meja samping, sampai dalam tas Gio juga ku cari, tapi tidak ketemu! Sampai akhirnya aku tanyakan hal ini ke Gio.
"Eh Gi, kamu liat buku tugas IPS ku ga?" Tanyaku masih dengan panik.
"Enggaa, emang kenapa?" Ujar Gio bertanya balik.
"Duhh kemana ya?! Padahal kan harus dikumpul hari inii"
"Lah, bukannya udah dikumpul kemarin?" Tanya Gio keheranan.
"Hah, iyakah?" Ucapku sambil menyeka air mataku yang sudah hampir menetes.
"Iya, masa baru sehari udah lupa sih. Sampe nangis segala lagi, HAHA"
"Heh, siapa yang nangis?! Ini cuma kelilipan aja"
"Iya deh, aku percaya" Ujar Gio meledek.
Okeh, ternyata bukunya sudah dikumpulkan. Eheq, mari kita beranjak, setelah peristiwa 'kelilipan' tadi, aku kembali memerhatikan Bu Santi menjelaskan materi hari ini. Setelah ulangan kemarin, kami sudah memasuki bab baru, namun masih dalam lingkup pembelajaran Ekonomi.
Jam pelajaran hari ini hanya berfokus pada materi saja, dan Bu Santi tidak memberikan tugas. Setelah penjelasan selesai, Bu Santi memberikan pengumuman sebelum membagikan hasil ulangan kami.
"Baik, dengarkan semua! Ibu akan membagikan hasil ulangan kemarin, semuanya sudah ibu nilai sendiri. Buat yang nilainya dibawah 76, harus remedial di pertemuan selanjutnya, dan yang belum ulangan harus susulan, barengan aja sama yang remedial. Paham?" Ujar Bu Santi menjelaskan.
"Paham Bu!" Jawab seisi kelas.
"Yasmine, tolong bagikan kertas ulangannya" Perintah Bu Santi.
Kertas-kertas ulangan beserta nilai yang tertulis diatasnya pun dibagikan pada pemiliknya masing-masing, lalu ku lihat reaksi mereka satu-persatu. Ada yang senang, terdiam, menangis, tapi ada juga yang reaksinya datar, tetapi aku masih percaya diri kalau nilaiku setidaknya masih diatas 80. Kertas milikku pun diberikan, lalu ku buka lembarannya dengan penuh harap, sedikit demi sedikit, hingga nilaiku mulai terlihat...
Bersambung...
...----------------...
Terima kasih sudah membaca!
Semoga dengan membaca bab ini kalian jadi terhibur~