Dika And His School Life

Dika And His School Life
BAB 2



Bab 2


"Saya ga habis pikir sama Dika. Sudah bertahun-tahun saya kenal dia, tapi baru kali ini dia seceroboh itu, sepertinya ada yang berubah dari dia" - Gio -


...----------------...


Sudah satu setengah jam berlalu, bel pergantian jam pelajaran berbunyi. Sekarang adalah pergantian jam dari pelajaran IPA ke pelajaran PAI. Pendidikan Agama Islam adalah salah satu dari sepuluh mata pelajaran di sekolahku, tentu saja yang mempelajari mata pelajaran ini hanya siswa yang beragama Islam. Tapi sekolah juga memberikan pembelajaran khusus bagi siswa-siswi yang beragama selain Islam, oleh karena itu pendidikan agama secara keseluruhan disebut Pendidikan Agama dan Budi Pekerti.


Guru PAI yang mengajar di kelasku bernama Pak Ridho, beliau adalah guru yang masih muda, ganteng, dan berwibawa yang disukai sama murid-murid cewek. Tapi sangat disegani sama murid cowok, karena setiap ada razia rambut, Pak Ridho yang bertugas untuk menggunting rambut siswa yang panjang bersama guru BK dan beberapa guru piket lainnya. Dan setiap mengajar, Pak Ridho selalu menukar posisi tempat duduk secara acak biar ga ada murid yang ngobrol dibelakang. Biasanya murid pendiam dipasangin sama murid yang suka ngobrol, dan aku selalu jadi salah satu siswa yang selalu diubah tempat duduknya.


Omong-omong, sekarang sudah sepuluh menit berlalu. Tapi Pak Ridho belum juga datang, anak-anak dikelas udah mulai senang karena kemungkinan besar akan terjadi peristiwa yang selalu ditunggu-tunggu sama hampir seluruh siswa, yaitu jam kosong.


Ternyata benar, Pak Ridho lagi ada urusan diluar sekolah, aku tau hal itu dari temanku yang ada dikelas sebelah. Tapi guru ga masuk bukan berarti ga ada tugas, saat ingin kembali ke kelas aku melihat Pak Lofi berjalan ke arah kelasku, seenggaknya firasatku berkata begitu.


Ku beri tahu teman sekelasku kalau Pak Lofi mau datang, semuanya langsung mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela. Tapi yang terlihat adalah Pak Lofi yang berbelok ke arah kanan, ke arah kelas VIII-E. Semua teman sekelasku menghembus nafas lega dan bersorak gembira karena bisa dipastikan sekarang jam kosong.


"Yey, jamkos! Ada yang bawa ponsel? Yuk mabar!" Teriak salah satu temanku.


Kok bisa ya orang-orang pada senang kalo jam kosong? Padahal kan kalo kayak gitu kita bisa ketinggalan pelajaran...


Sempat merasakan kebahagiaan yang tiada tara, Gio yang sedang berdiri di dekat pintu melihat Pak Lofi sedang berjalan kemari, kali ini dengan memegang buku absen bertuliskan Kelas VIII-A, Gio pun ngasih tau ke seluruh siswa dikelas untuk kembali ke kursi mereka masing-masing.


Beberapa murid yang sedang bermain segera menyembunyikan ponsel dan papan permainan mereka, setelah itu kembali ke tempat duduk mereka. Tak lama setelah itu Pak Lofi masuk kelas dengan mata yang menatap kearah papan tulis yang kosong, setelah duduk Pak Lofi langsung memberikan informasi.


"Harusnya sekarang kalian belajar sama Pak Ridho kan? Karena beliau sedang ada urusan diluar sekolah, saya akan memberikan tugas yang sudah diamanatkan oleh Pak Ridho untuk kalian. Dan saya akan duduk menjaga dikelas ini sampai pulang nanti!" Ujar Pak Lofi dengan tegas.


Beberapa murid menggerutu, mengeluhkan tugas yang diberikan tanpa ada penjelasan, walaupun sebenarnya jawabannya ada dibuku, toh ini bukan ulangan kan? Aku hanya mengangguk dan mengeluarkan buku tugasku, sambil mendengarkan daftar soal yang harus dikerjakan.


Pak Lofi itu orang yang paling ga suka siswa yang menyontek, kalo ketahuan ada yang menyontek apalagi pas ulangan, kertas ulanganya bakal diremas atau dirobek terus dibuang. Makanya beliau cukup disegani sama siswa-siswi yang diajarnya, tapi disisi lain beliau punya maksud baik, Pak Lofi ingin siswa-siswinya menjadi orang yang mandiri dan tidak bergantung pada orang lain.


Sudah sekitar setengah jam berlalu, belum ada satu pun murid yang sudah selesai mengerjakan tugas yang diberikan Pak Lofi tadi. Kecuali aku, haha! Aku murid pertama yang mengumpulkan tugas ini. Gampang banget soalnya, ngerjain sambil merem juga bisa~


Aku berjalan ke depan dengan percaya diri yang tinggi sambil mengangkat bukuku untuk diperlihatkan ke depan, sudah kulihat mata Pak Lofi tertuju padaku sambil mengangguk. Tapi pandangan itu dialihkannya ke arah pintu kelas, saat itulah aku terdiam, saat itu juga kuhentikan langkahku. Ku lihat Tika sudah berdiri di depan pintu, sebelum akhirnya meminta izin untuk masuk ke dalam kelas.


"Assalamu'alaikum Pak... Maaf saya terlambat masuk kelas" Ucap Tika.


"Wa'alaikumsalam, kenapa kamu terlambat?! Sekarang kan sudah setengah jam dari bel masuk!" Balas Pak Lofi dengan ketus.


"Emangnya sakit kenapa? Saya liat kaki kamu ga apa-apa tuh, kamu berani bohong sama saya?" Ucap Pak Lofi.


Kalimat yang dilontarkan Pak Lofi membuatku geram, Tika ga salah sama sekali, justru dia di UKS karena aku yang bikin dia cedera. Jadi aku dengan tegas menyampaikan alasan Tika pada Pak Lofi.


"Pak! Maaf saya mau ngomong boleh?" Ucapku.


"Ada apa Dika? Kamu ga liat saya lagi ngomong sama dia??" Jawab Pak Lofi.


"Jadi gini pak, kaki Tika emang sakit kok tadi. Saya lihat sendiri, selain itu... Emang saya yang bikin kaki dia ketumpahan kuah panas, tapi untung kakinya cuma cedera ringan ajaa" Kataku menjelaskan.


"Apa iyaa?" Tanya Pak Lofi singkat.


"Iyaa beneran pak, bapak bisa tanya ke Gio sama anak-anak lain yang ada di kantin tadi" Ucapku.


Tiba-tiba rasa bersalah dalam diriku semakin besar, bahkan aku ga bisa natap wajah Tika karena saking merasa bersalahnya, iyaa emang sih aku yang salah, tapi itu kan cuma cedera ringan, sebentar lagi juga sembuh, ya kan?


Dan untuk menghilangkan rasa bersalah itu, aku melakukan hal yang aku pikir adalah cara brilian yang dilakukan semua orang.


"Tika, maafin aku yah... Aku ga sengaja" Ucapku, di depan kelas!


Aku bisa liat muka Tika memerah malu sambil melihat ke arah beberapa teman kelas yang nahan ketawa karena nganggap ini lucu, aku bingung sih sama mereka! Kenapa mereka ketawa? Emangnya ini lucu?! Aku minta maaf ini serius ke Tika! Tentu aja suasana ini dipotong sama Pak Lofi.


"Sudah semua, kembali kerjakan tugas kalian! Kalian Dika dan Tika, silahkan duduk kembali!" Perintah Pak Lofi dengan tegas.


Singkat cerita, jam pelajaran PAI berakhir dan bel pulang berbunyi. Kami pulang ke rumah masing-masing. Aku pulang berjalan kaki bareng Gio, karena rumah kami searah, biasanya kami berjalan santai sambil mengobrol ringan, tapi kali ini pikiranku tertuju pada satu hal...


Bersambung...


...----------------...


Terima kasih sudah membaca!


Semoga dengan membaca bab ini kalian jadi terhibur~