
BAB 11
"Rajin banget mereka, langsung latihan hari ini. Padahal mereka udah sekolah dari pagi, terus dilanjut Pramuka, pasti cape. Kalo saya sih malass" - Gio -
...----------------...
Namun tak lama setelahnya, Bu Ira berjalan menghampiri kami. Saat posisi beliau sudah dekat, aku menghentikan latihan sejenak.
"Haloo, lagi pada latihan ya?" Tanya beliau.
"Iya nih bu, hari ini khusus yang pasukan 9 dulu" Jawabku.
"Ibu lihat kalian sudah cukup kompak kok, tapi latihannya bukan cuma hari ini kan?" Tanya beliau lagi.
"Engga kok bu, nanti antara hari Jumat atau Sabtu kami latihan lagi bareng petugas-petugas yang lain"
"Saran dari ibu mending hari Sabtu aja, kan pas kalian libur. Daripada hari Jumat takutnya banyak yang ga bisa, soalnya kan jadwal ekskul kebanyakan di hari Jumat" Ujar Bu Ira.
"Terus, sekarang kalian mending pulang dulu, istirahat. Kan sudah sore, lagian ibu liat kalian sudah cukup kompak, tinggal latihan pas belok-beloknya ajaa lagi, okee?" Lanjut beliau.
"Iyaa, siap bu" Jawabku lagi.
"Yasudah kalau begitu, kalian tetap semangat ya!" Ujar Bu Ira lalu berjalan pergi sambil melambaikan tangannya.
Sesuai perintah Bu Ira, aku menghentikan latihan hari ini dan mempersilahkan teman-teman yang lain untuk pulang. Seperti biasa, aku pulang dengan berjalan kaki, tetapi sebelum keluar gerbang sekolah, ku lihat Tika masih berdiri sambil menengok kesana-kemari, melihat hal tersebut aku menghampirinya.
"Tika! Kamu ngapain berdiri disini? Kamu belom dijemput??" Tanyaku.
"Iyaa nih Dik, kayaknya aku pulang jalan lagi deh" Jawabnya.
"Yaudah kalo gitu kita pulangnya jalan bareng aja" Ajakku padanya.
"Umm boleh aja, tapi bentar ya aku mau beli batagor dulu. Laper soalnya, hehe"
"Okee, ku tunggu disini ya" Ujarku.
Pergilah Tika ke seberang jalan untuk membeli makanan, sedangkan aku duduk di kursi yang ada di trotoar, sambil menunggu aku merenungi kembali nilai ulangan IPS ku tadi. "Yasudah lah, minggu depan tinggal ikut remed aja" Pikirku
Tiba-tiba, ada orang yang menepuk pundakku, ku pikir itu Tika, tapi tidak mungkin untuk membeli batagor yang digoreng dadakan dengan waktu secepat ini. Saat menolehkan kepalaku, terlihat Gio dengan wajah merah dan nafas yang terengah-engah sedang terduduk lemas.
"Loh, Gio? Kok kamu belom pulang?" Tanyaku.
"Kan aku nungguin kamu dari tadii, aku ke toilet bentar tapi pas balik kamu sama yang lain udah ga ada di lapangan. Aku cariin kamu tau sambil lari-lari ke kelas!" Jawabnya masih dengan nafas yang terengah-engah.
"Duh, maaf deh. Ku pikir kamu udah pulang dari tadi, heheh. Memang kamu teman yang paling setia kawan~" Ucapku.
"Hilih, kalo ga ketemu juga pasti ditinggal. Udah ah, yok pulang!" Ujar Gio.
"Bentarr, aku lagi nungguin Tika. Dia mau pulang bareng, soalnya ga ada yang jemput" Ucapku sambil menunjuk ke seberang jalan.
"Hmm... Karena ga ada yang jemput atau karena kamu yang ngajak?" Tanya Gio dengan mata menyipit.
"Well, dua-duanya sih, heheh. Kasian tau... Ntar dia kesepian kalo pulang sendiri"
"Dih, modus! Yaudah lah, aku mau beli minum dulu kalo gitu" Ucap Gio.
Aku pun sendiri lagi, sepertinya memang pada dasarnya aku harus terbiasa sendiri (Bruh). Waktu menunggu ku habiskan untuk memandangi lingkungan sekitar, kawasan yang dipenuhi oleh gedung, kendaraan, dan kabel listrik yang melintang ini sudah menjadi pemandanganku setiap hari.
Sekali-kali, ingin rasanya aku pergi sesaat ke tempat yang hijau, sunyi, dan penuh dengan pemandangan alam, kalo kata orang-orang mah 'healing', heheh.
Omong-omong, beberapa menit setelahnya Tika menyeberang kembali bersamaan dengan Gio yang berjalan menghampiriku.
"Gio? Kamu belom pulang dari tadi??" Tanya Tika.
"Iyaa kita kan setia kawan bangett" Ucapku bercanda.
"Iyain aja udah, by the way ini mau langsung pulang kan?" Ujar Gio.
"Iya langsung pulang aja yuk, aku takut dicariin orang rumah" Ajak Tika.
"Yaudah kalo gitu, buat apa juga kita lama-lama disini" Ucapku.
Pulanglah kami dengan berjalan, well udah kegiatan tiap hari. Ditengah perjalanan, Gio bertanya mengenai rencana kami soal tugas prakarya yang diberikan oleh Bu Adria tadi, mengingat kami bertiga berada dalam satu kelompok yang sama.
"Eh, aku baru inget. Soal tugas prakarya tadi gimana Ka, kan kamu tadi nanya ke Febri?" Tanya Gio padaku.
"Belom tau dia nya juga, ntar katanya mau bikin grup chat buat diskusi" Jawabku.
"Tadi aku nanya ke Gita, dia bilang biasanya kalo tugas kelompok gini patungan, terus satu orang yang beli?" Tanya Tika.
"Iyaa, biasanya gitu. Udah jadi tradisi di setiap tugas kelompok, emangnya kenapa?" Tanyaku balik.
"Kalo saranku mending kita bagi-bagi tugas, terus beli bahannya pakai uang masing-masing. Jadi semuanya ke sekolah masing-masing bawa satu bahan, mungkin paling banyak dua. Soalnya menurutku itu lebih efektif" Ujar Tika menjelaskan.
"Hmm... Ide bagus, nanti aku bicarain sama yang lain" Ucap Gio.
"Bener, aku juga setuju. Biar ga terpusat di satu orang juga nanti" Ujarku.
Perbincangan tersebut tetap kami lanjutkan sepanjang perjalanan hingga kami sampai di depan gang rumahnya Gio. Setelah Gio pamit dan pulang, tinggal aku berdua saja dengan Tika, karena gang rumah kami lebih ke belakang dibandingkan rumah Gio. Tetapi kami hanya diam-diaman saja selama sisa perjalanan, sampai kami akhirnya terpisah untuk pulang ke rumah masing-masing.
"Dah Tika, aku pulang dulu ya!" Ujarku berpamitan dengannya.
"Iyaa Dik, hati-hati ya" Ucap Tika.
Tetapi tak lama setelah itu, aku mendengar suara langkah berlari padaku. Pada awalnya tak aku hiraukan, tetapi aku sadar ada suara yang memanggilku.
"Eh, Dika!!" Teriak Tika dari kejauhan.
"Iyaa kenapa Tika?!" Tanyaku sambil berteriak, lalu dengan sedikit perasaan cemas aku berlari balik ke arahnya.
"Kamu kenapa Tik?!!" Tanyaku lagi saat kami sudah berhadapan.
"Inii..." Ucap Tika dengan nafas terengah-engah.
"Ini? Ini apaa??" Tanyaku lagi.
"Ini, tadi aku beliin kamu batagor. Tapi belom ku kasih, soalnya ga enak tadi ada Gio, hampir aja lupa" Ujar Tika sambil memberi sebungkus batagor lengkap dengan kuah dan timun di dalamnya.
"Hah, seriusan kamu?? Aku kira kamu kenapa-napa..." Ujarku.
"Hehe, aku ga apa-apa kok. Yasudah ya, aku pulang dulu. Jangan lupa dimakan batagornya" Ucap Tika lalu berbalik badan dan berjalan pulang ke rumahnya"
"Siap, makasih banyak ya!" Ucapku sambil berteriak kecil.
Setelah itu aku pulang dengan perasaan senang, lalu kujalani sore hari seperti biasa sambil memakan batagor pemberian Tika tadi. Dimalam hari setelah mengerjakan tugas, aku tertidur setelah salat Isya dibawah dinginnya udara malam.
Bersambung...
...----------------...
Terima kasih sudah membaca!
Semoga dengan membaca bab ini kalian jadi terhibur~