
BAB 15
...----------------...
*Keesokan harinya*
Hari ini aku terbangun karena alarm seperti hari-hari sebelumnya. Seperti biasa, hari ini ku mulai dengan shalat Subuh, mandi, bersiap, sarapan, lalu berangkat sekolah. Pagi ini aku berangkat seperti biasanya, dan Alhamdulillah bisa sampai di sekolah tepat waktu. Bel masuk berbunyi pukul 7 tepat, menandakan dimulainya kegiatan penumbuhan karakter yang rutin dilakukan setiap hari Jumat, kegiatan ini biasanya dilakukan selama 20 menit, lalu barulah kami belajar sesuai jadwal.
Tepat pada pukul 7.20, bel pergantian jam pelajaran berbunyi, menandakan dimulainya pelajaran PPKN atau Pendidikan Pancasila dan KewargaNegaraan, pastinya kita semua sudah tau mata pelajaran satu ini. Beberapa saat setelahnya, Bu Rani masuk ke kelas, beliau adalah guru PPKN yang mengajar di kelas kami. Hari ini kami memasuki bab baru yang membahas mengenai Sumpah Pemuda, sebuah peristiwa penting pada tahun 1928 yang menjadi salah satu tonggak sejarah persatuan bangsa Indonesia.
Setelah diberi penjelasan lengkap, Bu Rani meminta kami untuk menghafalkan teks sumpah pemuda, lalu masing-masing dari kami harus maju ke depan kelas.
"Untuk tugas hari ini, ibu akan meminta kalian untuk praktek hafalan teks sumpah pemuda. Ibu beri kalian waktu sepuluh menit untuk menghafalkan, setelah itu masing-masing dari kalian akan maju ke depan kelas, bisa dipahami?" Ujar Bu Rani menjelaskan.
"Siap, bisa bu!" Jawab seisi kelas.
Untuk sekarang aku bisa bersantai, karena udah berulang kali aku disuruh praktek ini, jadinya masih hafal deh, yeay! Sambil menunggu 15 menit kedepan, aku diam-diam membaca novel yang ku pinjam dari perpustakaan. Karena terbawa serunya cerita, aku sampai tidak sadar kalau Bu Rani sudah ada disampingku.
"Dika, kamu liat apa?" Tanya Bu Rani sambil menundukkan badannya, karena posisiku juga menunduk.
"Eh, anu bu... Saya baca novel, hehe" Jawabku pelan.
"Ohh gitu? Coba siniin novelnya" Perintah beliau.
"Ini bu..." Jawabku, lalu memberikan buku novel tadi.
"Okey, terima kasih. Omong-omong, ini buku novel siapa?" Tanya Bu Rani sambil membolak-balik buku tersebut.
"Ohh, okelah. Kalo gitu ibu balikin aja ya ke perpus? Nanti kamu kesana aja buat konfirmasi" Ujar beliau sambil berjalan kembali ke mejanya.
"Baik bu" Jawabku pasrah.
"Makanya jangan baca novel terus" Bisik Gio tiba-tiba.
"Bawel kamu, ikut-ikutan aja" Balasku lalu kembali membuka buku PPKN.
Beberapa menit setelahnya, kami mulai dipanggil satu-persatu ke depan kelas untuk membacakan hafalan sumpah pemuda. Anak demi anak berganti, tibalah giliranku untuk membacakan hafalanku di depan.
"Sumpah pemuda! Satu, kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia. Dua, kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Tiga, kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia!" Ucapku dengan lantang di depan kelas, aku kemudian menunduk diikuti oleh suara tepuk tangan dari teman sekelasku.
Setelahnya pengambilan nilai terus berlanjut, dengan setiap anak bergantian tampil di depan kelas. Ada yang sudah hafal, tetapi ada juga yang masih belum hafal sama sekali, sebagai anak muda penerus bangsa, ada baiknya kita mempelajari dan mengamalkan setiap poin-poin sumpah pemuda ini untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.
*Bel istirahat berbunyi*
Bersambung...
...----------------...
Terima kasih sudah membaca!
Semoga dengan membaca bab ini kalian jadi terhibur~