Dika And His School Life

Dika And His School Life
BAB 1



Bab 1


"Belasan tahun aku hidup, tetapi baru Tika saja yang bisa membuatku 'dag-dig-dug' saat melihatnya" - Dika -


...----------------...


Bel istirahat pertama berbunyi, berakhirlah pelajaran Matematika pada hari ini. Seluruh siswa yang sudah kelaparan berbondong-bondong pergi ke kantin, termasuk aku dan Gio.


Aku biasanya beli nasi uduk buat sarapan, kalo lagi bosen sih beli nasi goreng, kadang kalo lagi pengen ngemil aja cuma beli pempek. Tapi untuk hari ini, aku ga mau beli apa-apa. Soalnya aku mau menabung buat beli novel terbaru dari penulis kesukaanku, aku emang suka banget baca novel, lumayan buat ngilangin bosen pas jam kosong di sekolah. Jadi karena aku ga jajan, aku cuma nemenin Gio aja.


"Kamu mau beli apa?" Tanya Gio.


"Ehm... Aku ga jajan dulu, mau nabung buat beli novel, hehe" Jawabku sambil tertawa kecil.


"Kan novel ada banyak di perpustakaan sekolah?" Ujarnya.


"Ya... Novel ini baru keluar, lama kalo nunggu muncul di sekolah" Jawabku lagi.


"Ya udah lah, terserah" Kata Gio, lalu membalikkan badan dan kembali memilih makanan.


Sambil menunggu Gio yang sedang mondar-mandir keliling kantin, aku duduk di salah satu kursi kantin sambil membaca novel. Sekali-sekali ku alihkan pandanganku ke sekitar untuk melihat posisi Gio. Dan saat ingin menengok lagi, yang kulihat bukan Gio, tapi Tika yang sedang membawa makanannya ke meja yang berlokasi tepat di depanku.


Entah kenapa perasaanku gugup, ingin ku lihat dia tapi malu. Akhirnya ku putuskan untuk menyusul Gio, anak itu emang agak lama kalo soal pilih-pilih makanan.


Ku hampiri satu-persatu stan dan gerobak makanan di kantin, hanya untuk mencari Gio. Setelah ku kelilingi hampir seluruh area kantin, tapi Gio belum ketemu juga. Aku jadi kesel dong... Ku buat tubuhku yang sedang jalan cepat ini berhenti mendadak, saat itu juga tiba-tiba punggungku tertabrak oleh benda tipis yang sepertinya terbuat dari logam. Suara air tumpah dan sendok yang jatuh juga terdengar keras, aku pun menengok ke belakang karena kaget. Tapi aku lebih kaget lagi karena ternyata yang menabrak punggungku itu adalah nampan makanan, dan suara air tumpah serta pecahan kaca tadi adalah kuah dan mangkuk yang jatuh.


Aku bingung, baru kali ini aku seceroboh ini, aku berniat ingin meminta maaf dan membantu membersihkan makanan yang tumpah itu.


Namun yang kulihat adalah cewek yang merintih kesakitan karena tangannya tersiram kuah soto panas yang memang baru keluar dari panci, cewek itu hanya menatap wajahku sebentar lalu mulai menangis kesakitan. Suasana kantin menjadi riuh, semua perhatian tertuju pada cewek itu dan aku, dan aku makin panik karena ternyata cewek yang nangis di depanku sekarang itu Tika!


Aku mulai cemas, keringat mengalir di sekujur badanku. Seorang siswi baru yang mau menikmati hari pertamanya malah mengalami kejadian tak mengenakan saat dia ingin menyantap makanan pesanannya, dan kejadian itu disebabkan olehku. Suasana mulai kondusif saat anggota PMR datang menjemput Tika untuk dibawa ke UKS, saat itu juga Gio menghampiriku.


"Dika! Kamu ga apa-apa?" Tanya Gio, yang dari raut wajahnya juga terlihat khawatir.


Tapi aku ga menjawab apa-apa, aku cemas bukan main. Pikiranku cuma tertuju ke kondisi Tika, gimana kalo dia kenapa-kenapa? Belum lagi aku bakalan dipanggil sama Bu Ira, dan jadi bahan omongan di sekolah... Gimana kalo misalkan aku diskors karena masalah ini?! Belum lagi kalo habis kejadian ini Tika jadi benci sama aku. Overthinking ini membuatku termenung selama beberapa menit, sebelum akhirnya Gio menyadarkanku.


"Ka! Dika, kamu kenapa?" Tanya Gio, dia kayaknya belum tau apa-apa dan cuma ngamperin karena liat kerumunan aja.


"Aku... Tika kemana?" Kataku bertanya balik, saat ini pikiranku hanya tertuju pada keadaan Tika.


"Tika? Dia tadi dibawa sama anggota PMR, kayaknya sekarang dia di UKS" Ujar Gio.


Aku hanya mengangguk, lalu berdiri dan berjalan menuju UKS, Gio mengikutiku dibelakang. Aku khawatir kalau terjadi apa-apa sama Tika, ya gimana ga khawatir? Yang bikin dia cedera itu aku! Di tempat umum lagi... Selain sakit dia juga pasti malu. Di depan pintu UKS, terlihat beberapa anggota PMR keluar dari ruangan, kayaknya mereka udah selesai ngobatin Tika, atau jangan-jangan... Tika dibawa ke rumah sakit lagi?!


Langsung ku tarik tangan Gio, dan kubawa dia lari ke UKS. Soalnya dari tadi dia cuma jalan cepat, sebenernya aku agak kesel sama dia, karena aku nyenggol nampan Tika karena mondar-mandir nyari Gio yang ternyata udah duduk di tempat kami duduk sebelumya. Tapi aku juga ga bisa nyalahin dia, aku yang harusnya nungguin dia sambil tetap duduk, bukannya mondar-mandir keliling kantin cuma karena gugup duduk didekat Tika, yang ternyata juga baru mau beli makanan, hari ini kacau banget pokoknya.


Sesampainya di pintu UKS, kulihat seluruh ruangan dengan teliti. Semua tempat tidur d UKS ditutupi tirai di sisi kanan dan kirinya, jadi aku ga bisa liat dengan jelas siapa orang dibalik tirai-tirai itu. Hari ini UKS lumayan rame, mungkin karena banyak yang sakit pas upacara bendera tadi pagi. Di salah satu ujung kasur, kelihatan kaki berlapis kaus kaki putih yang sepertinya kaki perempuan. Kuhampiri kasur itu, dan langsung kubuka tirainya.


Aku tau ini ga sopan, tapi rasa bersalah dan cemas ini udah ngedorong aku untuk langsung melakukan itu. Setelah tirainya terbuka, kulihat Tika terbaring dengan tangan terbalut perban. Saat itu matanya masih terpejam, aku pun tidak mau mengganggunya dan berniat untuk langsung pergi, seenggaknya dia keliatan baik-baik aja. Tapi Tika sadar aku ada disitu dan langsung memanggil namaku.


"Dika? Kamu ngapain disini?" Tanya Tika dengan nada lirih, kayaknya dia masih merasa sakit di tangannya.


"Aku... Aku cuma mau liat keadaan kamu aja, soalnya tadi aku yang jatuhin nampan kamu, sama aku mau minta maaf..." Jawabku sambil tertunduk, tentu aja aku malu banget soal kejadian tadi, ini salah satu kejadian paling memalukan yang pernah terjadi selama hidupku.


Tika hanya mengangguk sambil tersenyum kecil, senyum itu... Senyum yang terpaksa, dia juga ngeliat kesana-kemari menandakan kalau dia itu ga nyaman. Ya, selain pinter aku juga peka! Seenggaknya kurasa begitu, karena itulah aku langsung pamit dan kembali ke kelas, disini terus malah bikin suasana makin canggung.


"Iyaa" Jawabnya singkat.


Tanpa bicara apa-apa lagi, aku dan Gio meninggalkan ruangan UKS, berjalan kembali ke kelas. Disaat itu aku masih kepikiran sama Tika, aku memang udah liat kalau dia baik-baik aja, tapi hubungan baik aku sama dia? Duh, Kita sekelas lagi... Andaikan aja aku tadi lebih hati-hati. Tapi yang ini sudah terjadi, waktu ga bisa terulang kan? Jadi aku berusaha buat ngalihin perhatianku ke hal lain, disaat itu juga Gio mengajakku bicara.


"Ka, tadi si Tika kenapa tangannya?" Tanya Gio.


"Lah? Kan kesiram kuah panas..." Jawabku sambil menggaruk kepala.


"Ohh, gitu ternyata" Ujarnya sambil mengangguk.


"Berarti dari tadi kamu belom tau?!" Tanyaku balik.


"Iyaa, kukira dia pingsan atau gimana gitu... Ternyata tangannya kesiram, dan itu gara-gara kamu" Katanya sambil menjentikkan jari.


"Ya Allah... Nih anak dari tadi belom nyambung ternyata" Ujarku sambil tertawa geli.


Kami berjalan menuju kelas sambil mengobrol dan bercanda, saking menikmatinya sampai-sampai kami ga sadar kelas kami sudah terlewat. Kadang-kadang aku mikir, kalo aku udah dewasa nanti, apa masih bisa ngerasain kayak gini? Merasakan malasnya upacara bendera dipagi Senin, ngobrol sama temen sambil makan batagor di kantin, atau masuk BK karena ngasih contekan waktu ujian. Mungkin semua itu cuma bisa dirasain di masa sekolah, masa yang mungkin aku rindukan saat sudah memasuki dunia pekerjaan...


Kami sampai di kelas dengan selamat, bersamaan dengan berbunyinya bel masuk. Pertanda dimulainya jam IPA, mata pelajaran dengan tugas terbanyak kedua setelah Matematika dikelasku. But that's fine! IPA adalah salah satu mata pelajaran paling menyenangkan dan paling mudah yang pernah ada, perpaduan hafalan dari biologi dan perhitungan dengan rumus dari fisika membuat IPA jadi menarik banget. Guru IPA yang mengajar di kelasku bernama Bu Tri, beliau memang sudah cukup berumur, sekitar tiga tahun lagi pensiun, tapi semangat mengajarnya masih membara, membuat beliau menjadi salah satu guru yang paling disukai sama anak-anak dikelasku. Pelajaran kali ini dimulai dengan pembahasan mengenai Gelombang Transversal.


"Dari kalian ada yang tau apa itu gelombang?" Tanya Bu Tri.


"Gelombang adalah getaran yang merambat dengan membawa energi dari satu tempat ke tempat lainnya!" Jawab Wahyu, salah satu teman sekelasku.


"Yap, benar! Kamu liat buku ya?" Ujar Bu Tri.


"Eh, iya Bu... Hehe" Jawab Wahyu sambil tertawa kecil.


Seisi kelas juga tertawa mendengar guyonan itu.


"Jadi benar yang dikatakan sama Wahyu, gelombang adalah getaran yang merambat dengan membawa energi dari satu tempat ke tempat yang lain. Dikelas delapan ini, kita akan membahas tentang gelombang transversal, gelombang longitudinal, serta hubungan antara panjang gelombang, frekuensi, cepat rambat, dan periode gelombang. Tapi untuk hari ini kita hanya akan membahas gelombang transversal karena waktu yang terbatas" Ujar Bu Tri menjelaskan.


"Gelombang transversal adalah gelombang yang arah rambatnya tegak lurus dengan arah getarnya, satu gelombang transversal terdiri dari satu bukit dan satu lembah, atau terdiri dari empat getaran, dan satu gelombang dilambangkan dengan Lamda" Lanjut Bu Tri sambil menggambar grafik di papan tulis.


"Sampai sudah paham? Ada yang mau ditanyakan?" Tanya Bu Tri.


"Tidak Bu!! InsyaAllah sudah paham" Jawab beberapa siswa, ya beberapa karena yang lain cuma diam dan nampilin gerak-gerik mau nanya tapi malu.


"Baiklah, kalau begitu kita lanjutkan ke materi berikutnya" Ujar Bu Tri sambil lanjut menulis di papan tulis.


Setelah itu pelajaran berlanjut seperti biasa. Bu Tri menjelaskan pelajaran, dan seluruh siswa menyimak pelajaran dengan baik. Setelah memberi materi, Bu Tri memberikan tugas untuk dikerjakan sekarang.


Semua anak dikelas bisa mengerjakan tugas itu dengan nilai memuaskan karena mereka sudah paham, inilah kenapa pentingnya menyimak pelajaran dengan baik dikelas. Bukan hanya karena takut dengan guru, tapi juga karena keinginan belajar yang kuat dari hati.


Bersambung...


...----------------...


Terima kasih sudah membaca!


Semoga dengan membaca bab ini kalian jadi terhibur~