Dika And His School Life

Dika And His School Life
BAB 4



Bab 4


"Aku masih merasa bersalah sama Tika, gimana ya caranya biar dia ga marah? Tapi masalahnya aku juga ga tau dia marah atau engga" - Dika -


...----------------...


*Alarm berbunyi*


Jam menunjukkan pukul 5 pagi saat alarm berbunyi, setelah bangun aku duduk sejenak, lalu berjalan ke kamar mandi untuk cuci muka dan berwudhu. Setelah menyiapkan seragam, aku bergegas mandi, karena aku harus berangkat pukul 6.30 agar tidak terlambat. Jam sudah menunjukkan 6.15, setelah selesai memakai seragam aku langsung menyantap sarapan lalu berpamitan pada ayah dan ibu untuk berangkat ke sekolah.


Biasanya aku berjalan ke depan gang komplek untuk menunggu ada ojek atau angkot yang lewat, durasi aku menunggu disini itu tergantung banyak atau enggaknya ojek dan angkot yang lewat, kalau lagi beruntung aku bisa langsung naik tanpa menunggu, tapi kalau lagi sepi aku bisa menunggu hingga sepuluh menit atau bahkan lebih. Dan kali ini aku sedang beruntung, tak sampai menunggu lima menit aku sudah naik ke atas angkot lalu duduk di bagian belakang, karena bagian ini jauh dari abang sopir yang terkadang suka merokok.


Setelah itu angkot berjalan seperti biasa, aku berhasil sampai di sekolah tepat waktu dan langsung pergi menuju ruangan kelasku, tetapi saat ingin berjalan masuk, aku dicegat oleh Gita.


"Heh Dika, lu udah selesai belum tugas IPS yang minggu lalu?" Tanya Gita dengan gelisah.


"Udahh dong... Gue kan anak teladan" Jawabku sambil bercanda.


"Nah, liat dong" Ucapnya sambil menadahkan tangan (Aku jadi nyesel bilang udah).


"Enak ajaa, kerjain sendiri lah..." Jawabku menolak sambil berjalan ke mejaku.


"Ihh jangan pelit gitu lahh, ntar gue kasih duit deh" Tawar Gita sambil mengikutiku.


"Tidak bisa begitu kalo sama gue, lu mau ngasih duit berapa pun ga bakal gue kasih~" Jawabku menolak lagi.


"Lima belas ribu mau?" Tawarnya lagi.


"Okee, deal. Nih bukunya" Kataku akhirnya menyetujui.


"Okeh, ini duitnya. Senang berbisnis dengan anda" Ujar Gita sambil bercanda.


Setelah itu kami melanjutkan aktivitas kami seperti biasa, aku membaca buku sambil menunggu bel masuk berbunyi, sedangkan Gita sedang 'mengerjakan' tugasnya. Jam pelajaran pertama hari ini adalah IPS, jadi aku mengeluarkan buku IPSku, saat aku menengok ke depan aku melihat Tika berjalan masuk ke dalam kelas, aku refleks menunduk menyembunyikan kepala dan tubuhku dibawah meja, sampai Gita memanggilku.


"Dika, ini buku Lo ya! Sedikit doang ya ternyata, kalau tau dari tadi mending gue kerjain sendiri..." Ucapnya sambil mengembalikan buku ku.


"Heh, lu ngapain dibawah meja?" Lanjutnya bertanya.


"Hah, hmm... Gue ngambil pena! Tadi pena gue jatuh, heheh" Jawabku (tentu saja itu bohong).


"Ohh okeh, cukup tau... Yaudah gue mau ke kelas cowo gue dulu ya, eheq" Ujarnya sambil berlari kegirangan.


"Hadeuh, kapan ya 'tu anak berhenti halu?" Pikirku.


Aku lanjut membaca buku, saat itu aku tidak mau menengok ke belakang karena di belakang ada Tika! Walaupun ada jarak tiga meja, tapi... Rasanya canggung. Kenapa canggung? Ya karena tingkahku kemarin! Omong-omong, sekarang jam sudah menunjukkan pukul 6.57, dan aku mulai kepikiran soal Gio, biasanya sekarang dia sudah duduk di sampingku, tapi sampai sekarang dia belum datang juga.


Apa mungkin dia sakit? Atau dia ada urusan mendadak sampai harus izin tidak masuk sekolah? Atau jangan-jangan dia terlambat? Hmm... Sejak aku mengenalnya saat kelas 4 SD, aku belum pernah melihat seorang Gio terlambat sih, tapi siapa yang tahu kan?


Sekarang sudah pukul 7.00, pasti gerbang sekolah sudah ditutup karena bel masuk sudah berbunyi. Biasanya siswa yang terlambat akan dibiarkan dulu di depan gerbang sampai pukul 7.15, setelah itu baru dibiarkan masuk tetapi diberi hukuman terlebih dahulu.


Kenapa aku bisa tahu? Karena Gita pernah terlambat. Waktu itu dia cerita sambil marah-marah padaku, padahal itu salah dia sendiri, haha. Beberapa menit setelahnya, Bu Santi masuk ke kelas, beliau ada guru IPS yang mengajar dikelasku.


"Assalamu'alaikum, selamat pagi anak-anak!" Sapa beliau.


"Wa'alaikumsalam, pagi Bu!" Jawab seluruh anak serentak.


"Jadi, ibu mau nanya nih... Kalian sudah mengerjakan tugas yang ibu berikan di pertemuan kemarin kan?" Tanya Bu Santi.


"Sudah Bu!" Jawab sebagian murid yang pastinya sudah mengerjakan tugasnya.


"Nah, kalau begitu silahkan kumpulkan tugas kalian didepan. Lalu keluarkan kertas selembar dari bagian tengah buku kalian, hari ini kita akan ulangan harian 2 IPS" Perintah Bu Santi.


Banyak siswa yang terkejut mendengar hal tersebut, termasuk aku karena aku belum belajar sama sekali tadi malam. Tapi kalau dipikir-pikir, kan pembelajaran bab 2 baru selesai, jadi memang sangat mungkin diadakan ulangan... Huwaa!! Harusnya aku belajar tadi malam!


"Saya bagikan soal ulangannya ya, dilarang mencoret soal, dilarang meminjam barang dari teman, dan dilarang menyontek! Paham??" Ujar Bu Santi menjelaskan peraturan ulangan kali ini.


"Paham bu!" Jawab seisi kelas.


Setelah itu Bu Santi langsung membagikan soal ulangan, siswa yang sudah mendapatkan soal boleh langsung mengerjakan. Dan seperti biasa, aku membaca dan memahami beberapa soal terlebih dahulu, dan aku mengidentifikasi kalau soal kali ini susah


Mungkin karena aku tidak belajar sama sekali tadi malam, tapi aku tetap mengerjakan sebisaku, lagipula ini waktu untuk mengerjakan masih sangat lama, jadi aku bisa mengerjakan dengan santai.


Sekitar pukul 7.20, aku sudah berhasil mengerjakan 9 dari 20 soal, selebihnya? Nope. Jadi aku mengerjakan soal yang aku bisa lebih dahulu, jadi setidaknya aku tahu mana saja soal yang bisa aku kerjakan, dan mana soal yang belum bisa aku kerjakan, selain itu menurutku cara ini juga lebih hemat waktu daripada hanya berfokus dan akhirnya terhambat di satu soal.


Saat tengah berpikir, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kelas yang saat itu tertutup, setelah itu pintu terbuka dan... Terlihatlah Gio disana, yap! Gio! Seperti yang sudah aku duga sebelumnya, ia terlambat dan akhirnya harus menunggu gerbang dibuka kembali, duh kasihan...


"Assalamu'alaikum... Maaf Bu, saya terlambat" Ucap Gio setelah menyalami Bu Santi.


"Wa''alaikumsalam, kamu terlambat kenapa?" Tanya Bu Santi.


"Tadi macet banget dijalan, Bu. Tadi saya naik angkot soalnya" Jawab Gio.


"Ya sudah, makanya lain kali berangkat lebih pagi ya..." Ujar Bu Santi menasihati Gio.


"Iyaa bu, sekali lagi saya minta maaf" Ujar Gio.


"Iyaa, tidak apa-apa. Ya sudah, ini ambil soal ulangannya, silahkan duduk ke tempatmu" Ujar Bu Santi sambil memberikan soal ulangan.


"Eh, iyaa baik Bu" Jawab Gio.


Setelah itu Gio langsung duduk di sampingku, lalu mengeluarkan tempat pensilnya. Aku masih terfokus memikirkan jawaban saat itu.


"Heh Ka, emangnya hari ini ulangan?" Tanya Gio.


"Yaa bisa liat sendiri kan??" Balasku.


"Iyaa tau, tapi emangnya udah pernah dibilangin sebelumnya?" Tanyanya lagi.


"Belum, makanya ini jadi ulangan dadakan~" Jawabku.


"Duh, aku belum belajar lagi! Aku ga tau sama sekali hari ini ada ulangan" Ujarnya.


"Yang lain juga sama tauu, udahlah daripada ngedumel mending kerjakan ulangannya" Ujarku.


"Iya-iya... Ini baru mau ngambil kertas selembar" Ucap Gio sambil mengeluarkan buku tulisnya.


"Ehem, omong-omong kok tumben kamu terlambat?" Tanyaku.


"Kan udah ku bilang tadi, jalannya macet" Jawabnya.


"Ah masaa?? Tadi pas aku berangkat ga terlalu ramai kok" Ujarku.


"Ya kan kamu berangkatnya lebih pagi, tadi aku baru berangkat jam tujuh kurang... Gara-gara kebelet buang air" Jawab Gio menjelaskan.


"Haha, kenapa ga kamu tahan aja sih?? Kan di toilet sekolah juga bisa~" Ujarku meledeknya


.


"Ah, lebih baik aku terlambat daripada harus buang air di toilet sekolah" Balas Gio.


Setelah perbincangan singkat tersebut, kami lanjut mengerjakan soal ulangan, dan di saat ini aku pusing banget! Dari 20 soal aku baru bisa mengerjakan 11, masalahnya ini IPS yang mengutamakan hafalan... Baiklah, tenang... Sekarang saatnya menggunakan cara darurat...


"Heh, Gi! Nomor 17 jawabannya D" Bisikku pada Gio.


"Hah serius?" Tanya Gio berbisik padaku.


"Iyaa, beneran..." Jawabku.


"Okeh, makasih!" Ujar Gio.


Aku akhirnya berhasil menyelesaikan ulanganku pada pukul 8.15, lima menit sebelum jam pelajaran IPS berakhir. Aku bersyukur bisa menyelesaikan seluruh soal sebelum waktu mengerjakan habis, karena kalau tidak bisa-bisa aku mengumpulkan ulangan yang belum selesai. Lima menit kemudian, bel penanda berakhirnya jam pelajaran berbunyi, seluruh siswa harus mengumpulkan lembar jawaban mereka, baik yang sudah maupun belum. Setelah mengumpulkan lembar jawaban, saat ingin kembali ke kursiku, aku tidak sengaja berpapasan dengan Tika.


"Eh Dika, kamu udah ngerjain semua soal belum?" Tanya Tika.


"Ehm udah kok, Alhamdulillah tadi udah ngerjain semua" Jawabku.


"Wah, hebat dong... Aku tadi tinggal satu soal lagi, tapi udah disuruh ngumpulin, andai waktu nya agak lamaan sedikit... Yaudah kalo begitu aku balik ke tempat dudukku dulu ya!" Ujar Tika.


"Ohh iyaa, silahkan" Balasku.


Setelah itu Bu Santi berdiri lalu berbicara untuk menutup jam pelajaran kali ini, beliau juga mencurahkan harapan kelas ini akan memiliki nilai yang memuaskan.


"Baiklah, jadi kalian sudah mengerjakan ulangan harian 2 IPS, saya harap kalian mendapatkan nilai yang memuaskan. Saya akan koreksi ulangan kalian hari ini, dan hasilnya akan saya umumkan besok saat jam pelajaran IPS, sekaligus remedial bagi siswa yang mendapatkan nilai dibawah KKM. Mengerti??" Ujar beliau menjelaskan.


"Siap bu, mengerti!" Jawab sekelas serentak.


"Baik, saya tutup dengan Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh" Ucap Bu Santi lalu meninggalkan kelas.


Aku terdiam sejenak, sambil berfikir soal nilai hasil ulangan IPS ku, aku khawatir kalau nanti hasilnya kurang memuaskan, tapi untuk saat ini aku hanya bisa berharap nilaiku bisa diatas KKM, jadi setidaknya aku tidak harus ikut remedial.


Lalu aku mengeluarkan buku untuk pelajaran berikutnya, yaitu Bahasa Inggris yang diajarkan oleh wali kelasku sendiri, Bu Ira. Biasanya Bu Ira orangnya tepat waktu, dan pelajaran Bahasa Inggris adalah salah satu pelajaran yang tidak pernah jam kosong. Tapi kali ini Bu Ira agak terlambat, sudah 15 menit berlalu tetapi beliau tak kunjung masuk, membuat suasana kelas menjadi berisik.


"Heh! Ini bisa pada diem ga sih?!" Teriak Febri, salah satu teman sekelasku.


"Pfftt, udah diemin aja... Ntar mereka juga yang dimarahi" Ujarku padanya.


"Ya ga bisa gitu lah, gue kan seksi keamanan, ntar kalo ketahuan Bu Ira malah gue yang dimarahi! Lagian Lo kan ketua kelas, harusnya bantuin gue nertibkan kelas lah!" Ucap Febri.


"Ga ah, malez~" Balasku.


"Eh Ka, ntar kalo kelas ketahuan berisik kamu juga bisa kena marah lho" Sambung Gio tiba-tiba.


"Hmm... Bener juga sih, yaudah deh aku coba tertibkan" Ujarku.


"Nah, gitu dong dari tadi!" Ucap Febri.


Namun, saat aku baru mau berdiri, tiba-tiba pintu kelas terbuka dengan kencang. Seluruh kelas terkejut mendengar suara bantingan pintu kelas yang terbanting saat terbuka, ternyata... Yang membuka pintu kelas adalah Bu Ira... Refleks aku menelan ludah, karena Bu Ira kalau sudah marah sering 'meledak-ledak', walaupun marahnya sebentar sih... Tapi tetap saja aku takut karena aku ketua kelas, dan aku dalam posisi berdiri saat Bu Ira masuk.


"Heh, ini kelas kenapa bisa berisik begini?! Kalian tau ga, suara kalian tuh kedengaran sampai sampai gedung sebelah! Dika, Febri, Dewi! Kesini kalian!!" Ujar beliau dengan tegas, anak-anak sekelas langsung terdiam dan kembali ke tempat duduk mereka.


Aku, Febri, dan Gita yang juga salah satu seksi keamanan di kelas, berjalan ke depan kelas sesuai dengan yang diperintahkan oleh Bu Ira, disuruh ke depan untuk ngapain? Ya untuk dimarahi! Atau lebih tepatnya ditegur sih...


"Kalian tau kan tugas kalian ngapain?? Harusnya kalian menertibkan dan mencatat teman-teman kalian yang berisik, bukan kalian yang ikutan berisik! Apalagi kamu Dika, kamu ngapain berdiri saat saya datang tadi?!" Tanya beliau.


"Ehm... Begini bu, barusan itu saya baru mau berdiri ke depan buat nyuruh sekelas diam, tapi ibu udah masuk duluan..." Jawabku.


"Ohh begitu? Kenapa ga dari tadi kamu melakukannya?? Kamu bisa liat kan saya ga ada di kelas? Harusnya kamu memanggil guru piket untuk meminta tugas!" Ujar Bu Ira.


"Iyaa bu, maaf tadi saya fokus membaca" Jawabku singkat.


"Alasan saja... Dengar ya untuk yang lain! Kalau misalkan kalian melihat tiga orang yang ada di depan ini berisik dan bikin ulah dikelas, lapor ke saya!" Ucap Bu Ira.


"Dan untuk kalian bertiga, kalau teman-teman kalian ada yang berisik saat tidak ada guru dikelas, catat lalu lapor ke saya! Pokoknya saya ga mau ada laporan soal kelas 8D kelas yang berisik atau semacamnya, paham?!" Lanjut beliau.


"Paham bu..." Jawab sekelas.


Setelah itu kami dipersilahkan duduk kembali, lalu pelajaran berjalan seperti biasa, bahkan dari reaksi Bu Ira saat mengajar seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Sesaat sebelum istirahat, Bu Ira mengumumkan bahwa Senin depan kelas kami yang menjadi petugas upacara bendera.


"So, seperti itu dulu pelajaran kita hari ini, any question?" Tanya Bu Ira.


"Tidak ada bu..." Jawab seisi kelas.


"Baiklah kalau begitu, mari kita akhiri pertemuan kali ini" Ujar Bu Ira.


"Oh iya, saya punya pengumuman! Lupa saya beri tahu kemarin" Lanjut beliau.


"Pengumuman apa bu?" Tanya Gita.


"Jadi Senin depan, kelas kita yang akan menjadi petugas upacara bendera. Jadi sebelum latihan, saya ingin memberikan wewenang pada ketua kelas untuk memilih dan menetapkan petugas-petugasnya nanti, bisa kan Dika?" Ujar Bu Ira menjelaskan.


"Siap bu, saya bisa!" Jawabku.


"Baiklah, kalau begitu hal ini ibu percayakan sama kamu ya... Kalau kamu kesulitan minta aja bantuan sama wakil ketua kelas atau teman kamu" Ucap beliau lagi.


"Baik Bu!" Ujar Gio. Yap, dia adalah wakil ketua kelas.


*Bel istirahat berbunyi*


"Nah, sekarang sudah istirahat... Silahkan kalau mau jajan atau makan, tapi ingat! Jangan ada anak kelas ini yang jajan keluar sekolah! Okee?" Ujar Bu Ira mengingatkan.


"Kalau begitu pertemuan kali ini saya tutup dengan Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh" Sambung beliau lalu berjalan keluar kelas.


Aku berfikir sejenak, siapa yang harus ku pilih dan kenapa? Pastinya harus orang-orang yang bisa diajak serius dan sigap sih... Baiklah, harus ku putuskan sekarang!


"Okee! Semuanya jangan ada yang keluar kelas dulu! Gue sama Gio mau nentuin orang-orang buat petugas upacara Senin depan!" Ujarku dengan tegas di depan kelas.


"Lah, kok kamu bawa-bawa aku Ka?" Tanya Gio dengan nada malas.


"Kan kamu yang bilang sendiri mau bantu aku~" Jawabku.


"Yaudah cepetan!" Ujar Gita.


Aku mulai berdiskusi dengan Gio, sedangkan anak-anak yang lain berbicara di belakang. Disini aku memikirkan ide yang mungkin adalah ide yang brilian?


"Okeh guys! Dengerin nih Dika mau ngomong" Ujar Gio.


"Jadi gue punya gagasan, kita balik peran laki-laki dan perempuan dalam bertugas!" Ucapku.


"Hah, maksudnya?" Tanya Dian, salah satu teman sekelasku.


"Jadi nanti peran yang biasanya dilakukan sama laki-laki kayak pemimpin upacara, pemimpin barisan, sama pembawa teks Pancasila dan pembaca pembukaan UUD bakalan dilakuin sama perempuan. Dan nanti peran pembawa acara, pemimpin lagu, penyambut pembina dan pembaca teks janji siswa dilakuin sama laki-laki. Sedangkan pasukan 9 atau paskibra nanti campuran perempuan dan laki-laki, tapi untuk pemimpin doa tetap laki-laki ya..." Ujarku menjelaskan.


Lalu Gita berbicara dari belakang kelas "Ya gue setuju aja sih, tapi..."


Bersambung...


...----------------...


Terima kasih sudah membaca!


Semoga dengan membaca bab ini kalian jadi terhibur~