Destined Together

Destined Together
eps. 10



tak berselang lama,mobil yang di kendarai oleh p. ahmad sampai di depan rumah sakit.dengan cepat


b.dila lansung sigap membuka pintu mobil dan meneriaki suster.meminta bantuan.


terlihat beberapa suster membawa brangkas dorong dari kejauhan dengan cepat.syafina yang semakin memucat seperti mayat hidup.hanya bisa di pasrakan pada suster suster yang bertugas.dengan kecepatan penuh.suster melarikan syafina ke ruang IGD yang terletak di ruang utama rumah sakit.


lutfi zizah dan Alvin keluar mengikuti b. dila yang tampak berjalan dengan langkah lebar menuju ruang tunggu di depan IGD.sedangkan p. ahmad memilih mencari parkir untuk mobilnya.


....


zizah yang termenung hanya bisa menangis dengan keadaan saat ini.sedangkan lutfi diam membisu dengan tatapan kosong di kursi tunggu.dan alvinpun hanya bisa menunduk dan menangis. b.dila yang melihat mereka bertiga hanya bisa diam dan menunggu ke datangan dokter keluar dari ruangan.


"siapa di sini yang punya nomer telpon ibu syafina?. " tanya b.dila memecahkan keheningan.


dengan suara yang masih menyisakan isak tangis.zizah menjawab pertanyaan b. dila bahwa dia punya nomer telpon orang tua syafina.


"behentilah menangis,percayakan pada Allah. syafina pasti baik baik saja.dan cepatlah telpon orang tua syafina lalu berikan itu saat sudah terangkat"


tak lama, telepon yang di pegang zizah berdengung menandakan bahwa telpon nya masuk.saat ke tiga kalinya berdengung, tiba tiba suara dengungan berhenti dan berganti suara orang dari sebrang sana.


"halo? apa ada yang bisa saya bantu? " ucap salah satu asisten yang mengangkat telpon dari zizah.


"halo... apakah ini orang tua syafina? " tanya zizah yang lansung memantapkan pertanyaannya tampa menyisakan suara tangis seperti sebelumnya.


"tentu.saya orang tua syafina." ucap bi wulan sang Ketua asisten yang langsung berwajah dingin saat mendengar nama tuan rumahnya.


dengan cepat zizah.memberikan telponnya pada b.dila yang terlihat dari tadi menunggu telpon itu terangkat.


"halo apakah ini benar-benar orang tua syafina?"tanya b. dila sekali lagi untuk memastikan.


"iya benar.saya orang tua syafina.apa ada yang terjadi seuatu pada anak saya?hingga anda menelpon saya tengah malam."


" maaf saya tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi. tapi bisakah anda ke rumah sakit *******"


bi wulan yang kaget lansung mematikan telponnya tampa berkata "iya atau tidak" langsung menekan alaram membangunkan para penjaga rumah dan mengingatkan semuanya untuk bersiap.


tampa pikir panjang bi wulan bertanya "apakah anda yang barusan menelpon saya?"


" andakah orang tua syafina? "


"iya betul saya orang tuanya.kenapa anak saya bisa di bawa ke rumah sakit? apa yang terjadi. " tanya bi wulan dengan memasang wajah panik.


bunda dila pun saat tau dia orang tua syafina,hanya bisa menangis memohon maaf.dan menjelaskan semua yang terjadi.


bi wulan hanya bisa diam berusaha menenangkan dirinya.saat tau bahwa terjadi sesuatu pada syafina. kini ia hanya bisa menangis saat sudah tak tahan diam. dan berpura pura memasang wajah dingin di depan semua orang dan b. dila.


b. dila yang terus menerus meminta maaf.hanya bisa menenangkan bi wulan yang terisak menangis.dan mereka hanya bisa menunggu ke datangan dokter dari dalam ruangan.


lebih dari 2jam tak ada satupun dokter ataupun suster keluar dari ruang IGD.nampak semua wajah orang yang menunggu di depan ruangan hanya bisa diam di suasana hening yang mencekam.


bi wulan yang melihat ke 2seorang gadis tersenyum saat melihat mereka begitu peduli dengan nona kecilnya.seketika bi wulan menghampiri lutfi dan zizah.


"sepertinya kalian teman syafina? betul begitu?"tanya bi wulan dengan ramah


zizah dan lutfi hanya bisa diam tertunduk.


" maafkan kami,jika saja kami menjaga syafina dengan benar, mungkin ini tidak akan terjadi"ucap lutfi bersamaan dengan zizah dengan wajah menunduk.


"tidak tidak, tidak seharusnya kalian menyalahkan diri kalian.mungkin ini sudah jalan yang harus di jalani syafina.jadi.. kalian tidak perlu khawatir. karna saya tau bagaimana anak saya mengatasi semua masalah." ucap bi wulan sembari menenangkan ke duanya.


lutfi dan zizah yang mendengar perkataan itu dari orang tua syafina, malah menangis dengan kencang akibat dari kelembutannya.


"heeh!? kenapa kalian menangis?sudah sudah.jangan menangis.nanti saya malah di kira tukang memarahi anak anak.berhentilah menangis.dan ikuti bibi.lebih baik kalian istirahat. ini sudah pagi, sudah semalaman kalian menjaga syafina dan tak mau istirahat. jika syafina tau kalian tidak istirahat. yang kena imbas pasti bibi.jadi kalian istirahat saja.. biar bibi yang menjaga syafina."


senyuman hangat yang mengembang di wajah bi wulan membuat ke 2nya menurut.dan memilih istirahat di ruang istirahat.


bersambung..