Daniella, The Brave Girl

Daniella, The Brave Girl
Chapter 7



"Sudah, berikan aku nomor ponselmu. Jangan terlalu berpikir yang buruk tentangku. Sudah ku katakan aku ini orang baik. Aku ingin menjadi temanmu. Siapa tahu kamu bisa mendapatkan program beasiswa itu. Dan kamu bisa berkuliah sambil bekerja. Kau bisa mendapatkan dua hal itu sekaligus." Terang Albert.


Akhirnya, mau tidak mau, Daniella memberikan nomor ponselnya kepada Albert.


"Jadi deal ya. Sekarang kita menjadi teman." Albert kemudian memberikan tangannya kepada Daniella untuk berjabatan.


Sedikit ragu, Daniella kemudian menjabat tangan Albert.


Dan sejak saat itu, Daniella dan Albert pun bersahabat.


Semakin lama persahabatan di antara mereka semakin akrab.


Dan Daniella sepertinya benar-benar percaya jika Albert adalah orang biasa. Padahal Albert adalah orang kaya.


Dan sejauh itu pula Albert selalu berakting. Jika dia adalah orang biasa.


Setiap kali bertemu Daniella. ia selalu merubah penampilannya. Bahkan kini Albert jika bertemu dengan Daniela selalu menggunakan sebuah motor butut.


Padahal dia memiliki mobil yang sangat mewah dan juga motor yang mewah di rumahnya.


Albert benar-benar ingin menunjukkan kepada Daniella jika ia orang biasa.


Albert tidak sama sekali menunjukkan indentitasnya. Ia menutup rapat-rapat indentitasnya.


Semakin lama mereka pun semakin mengenal. Albert pun semakin di buat jatuh cinta kepada pada gadis periang seperti Daniela.


Albert dibuat jatuh cinta dengan sikap mandiri Daniella. Ia tidak hanya sebagai seorang wanita muda yang mandiri. Tapi Daniel juga menunjukkan sikapnya sebagai seorang kakak yang bertanggung jawab kepada adiknya.


Di rumah mungil itu Albert merasa nyaman. Ketika dirinya diterima di sana sebagai seorang teman dan Albert juga menjalin pertemanan dengan adik Daniella yaitu Aron.


"Sejak kapan orang tuamu meninggal?" tanya Albert pada Daniela ketika mereka saat itu sedang berada di tepi danau di dekat rumah Daniella.


"Orang tuaku meninggal di saat aku berumur 16. Mereka meninggal dalam kecelakaan dan setelah itu aku menggantikan kedua orang tuaku untuk menjadi orang tua bagi adikku." tutur Daniella.


"Aku sangat takjub melihat kehidupanmu. Dan sebagai seorang remaja seusia mu yang harus menanggung kehidupan dan menanggung kebutuhan sendiri tidak semua wanita seumuran kamu bisa melakukan itu Daniella. Bahkan kau tetap menyuruh adik mu untuk tetap bersekolah dan kau yang membiayainya."


"Kan sudah kukatakan. Aku adalah pengganti kedua orang tuaku. Aku harus bisa membuat adikku lulus sampai dia nanti mendaftar ke universitas. Adik ku harus kuliah juga. Apalagi dia adalah laki laki. Dia butuh pendidikan. Agar pendidikan yang ia dapat bisa ia gunakan untuk mencari pekerjaan yang bagus."


"Ngomong-ngomong soal kuliah. Bagaimana, apakah kau sudah mendaftar ke program beasiswa yang dulu sempat aku tawarkan padamu."


"Aku sudah mendaftar melalui email. Tapi belum ada panggilan untuk interview dari pihak universitas. Aku sudah mengajukan pengajuan beasiswa itu dengan mencantumkan ijazah terakhirku. Tapi sepertinya aku belum dapat panggilan." kini Daniella sedikit patah semangat.


Mendengar itu, Albert ingin menolong Daniella. Dan dia mungkin akan menggunakan sedikit kekuasaannya untuk bisa meloloskan Daniella. Untuk bisa mendapatkan beasiswa tersebut.


"Kenapa kau tanyakan itu? Apa kau juga ingin berkuliah di sana?" tanya Daniella kepada Albert.


Begitu di tanya seperti oleh Daniella. Sebuah ide muncul di benak Albert.


Ia juga ingin berkuliah di universitas yang sama dengan universitas yang di pilih oleh Daniel.


"Ya, aku juga mendaftar. Tapi aku belum mendapatkan panggilan. Semoga saja kita bisa mendapatkan beasiswa itu. Jadi kita bisa berkuliah satu universitas." ucap Albert pada Daniela.