
"Daniella, aku yang bicara denganmu." ucap Albert ketika mereka bertemu di kampus.
"Ya Albert ada apa?' tanya balik Daniela.
"Apa belakangan ini kamu sibuk. Kamu selalu mengabaikan panggilanku. Dan kamu selalu melekatkan menjawab chat ku. Jika kau membalas pun kamu membalas dengan sangat singkat chat ku. Ada apa?" Tanya Albert.
"Tidak, aku tidak sibuk. Hanya saja aku banyak urusan."
"Daniel, aku benar-benar ingin bicara serius denganmu. Jika kau ada waktu."
Saat mendengar ucapan Albert yang penuh dengan penekanan. Membuat Daniella menghentikan langkahnya.
Dan kemudian ia fokus menatap ke arah ke arah Albert.
Padahal, Daniela menghindari Albert tak lain karena ia curiga dan juga ia sudah sedikit mengetahui banyak hal dari Albert.
Daniela sesungguhnya sudah tau sedikit tentang Albert. Hanya saja dari mulut Albert dia belum mendengar dengan jelas kejujuran nya.
"Baiklah, sepertinya ada sesuatu yang ingin aku bicarakan juga denganmu. Karena kamu sudah berkata seperti itu. Maka aku pun juga ingin berkata jujur terhadap dirimu. Dan akan menanyakan beberapa hal. Aku harap kamu jujur. Tapi sebelumnya aku minta maaf. Sekarang ini sudah jam kuliahku. Kita bicara nanti setelah jam kuliah oke."
"Oke." jawab Albert.
Akhirnya Daniela memberikan sebuah tenggang waktu kepada Albert untuk bisa berbicara serius.
Albert yang mendengar itu pun langsung terkesiap. Dan ia menjadi penasaran dan juga khawatir jangan-jangan Daniela sudah mengetahui siapa dirinya.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan menunggumu. Nanti aku akan menelpon mu. Di mana tempat kita bisa nyaman untuk bisa berbicara." jawab Albert.
"Oke tidak masalah. Aku akan menunggumu."
Dan akhirnya, selepas mata kuliah selesai. Daniella dan juga Albert bertemu di sebuah resto tak jauh dari kampus.
Tidak seperti biasanya yang selalu bersahaja di antara keduanya baik apa dan juga Daniela sepertinya sama-sama menunggu untuk mereka saling bicara duluan.
Karena baik Albert dan juga Daniela sama-sama penasaran. Dengan kejujuran di antara keduanya masing-masing.
Karena tak ada yang bersuara, akhirnya Daniela membuka percakapan.
"Sebelumnya aku sangat berterima kasih kepadamu Albert. Untuk beberapa hal yang sudah kamu lakukan untuk ku. Beberapa hal yang sudah pernah kamu lakukan terhadap diriku.
"Kenapa kamu berterima kasih seperti itu. Aku jadi takut Daniella. Katakan saja sejujurnya. Sebenarnya apa yang kamu rasakan. Dan apa yang sudah kamu ketahui." tebak Albert.
Dengan menghela nafas panjang, Daniela kemudian berbicara kepada Albert.
"Jujur saja Albert. Dari awal sebenarnya aku sudah mencurigai sesuatu. Tapi kecurigaan ku ini tak bersifat negatif. Hanya saja aku merasa heran dengan beasiswa yang aku terima. Aku merasa saat mendapatkan beasiswa itu semuanya berjalan sangat mudah. Dan hal itu menimbulkan kecemburuan terhadap siswa-siswa lain. Karena mahasiswa-mahasiswa yang ada di universitas adalah orang-orang yang bermartabat dan mereka dari kalangan atas. Sedangkan aku hanya dari kalangan bawah. Dan banyak dari mereka sudah mengetahui jika aku adalah seorang pramusaji di sebuah restoran." ucap Daniela.
"Lalu, ada dengan itu?"
"Dan sebenarnya kecurigaan ku ini adalah bersifat pertanyaan. Tiba-tiba saja aku mengenalmu dan lalu kamu menawarkan aku beasiswa. Dan aku mendapatkan beasiswa itu rasa-rasanya itu sangat mustahil. Jika aku mendapatkan beasiswa itu tanpa bantuan dari orang dalam. Dan aku berpikir kamu melakukan itu." jawab Daniela berterus terang.
Albert yang mengetahui hal itu pun menghalangi nafas panjang karena mungkin saja dan itu memang sudah mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya dan kini api tengah berpikir apakah dia akan berterus terang terhadap wanita tentang jati dirinya sebenarnya.