Daniella, The Brave Girl

Daniella, The Brave Girl
Chapter 12



Setelah sampai di restoran. Mereka pun kemudian sama-sama turun.


Albert sengaja mendatangi restoran tersebut untuk memesan makanan.


Sedangkan Daniella sendiri seperti biasa ia harus segera melakukan aktivitasnya. Karena saat itu adalah jadwalnya masuk kerja.


"Dani, jangan lupa nanti malam aku akan menjemputmu, setelah kamu pulang dari bekerja kamu akan langsung ke tempat kuliah kan." ucap Albert yang tahu jadwal kuliah Daniella.


"Tidak perlulah kita berangkat sama-sama. Aku bisa berangkat sendiri ke kampus." Jawab Daniella, ia merasa tidak enak jika Albert kini menjadi tukang antar jemput baginya.


"Kamu selalu seperti itu. Jangan merasa terbebani. Aku senang jika kita bisa berangkat bersama. Lagi pula jadwal kuliah kita sama. Pokoknya nanti malam aku akan jemput mu setelah kamu pulang bekerja." Ucap Albert yang kemudian ia meninggalkan Daniella begitu saja setelah ia selesai mendapatkan makanan yang ingin ia beli.


Daniella pun tidak bisa berkata-kata.


Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya karena Albert selalu saja memaksakan keinginannya.


Dan di sisi lain, Daniella juga merasa tidak enak jika menolak niat baik Albert.


Karena bantuan Albert lah ia bisa mendapatkan beasiswa di universitas tempat ia berkuliah saat ini.


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Kalian pacaran. Kau pacaran ya dengannya?" Sebuah suara terdengar di belakang Daniella. Dan seketika membuat Daniella terlonjak.


Saat Daniella menoleh ke belakang, ternyata itu adalah rekan kerjanya yang bernama Ray.


"Tidak, dia bukan pacarku. Dia hanya teman." jawab Daniella kepada Rey.


Hanya saja, dia tidak berani mengutarakan isi hatinya. Kalau ia suka dengan Daniella.


"Tapi kok kalian terlihat akrab. Sikap kalian terlihat sangat akur. Seperti menandakan jika kalian itu punya kedekatan." tutur Ray lagi merasa penasaran.


"Ray, kamu seperti tidak mengenalku saja. Kita sudah kenal bertahun-tahun. Saat ini fokus ku hanya bekerja dan kuliah. Tidak ada hal lain. Masa depanku masih panjang dan pr ku masih banyak. Kamu tahu kan aku punya tanggung jawab untuk membesarkan Aron. Aku tidak ingin pusing memikirkan tentang pacaran. Aku ingin menjadi orang yang bebas." ucap Daniella, kemudian ia melenggang pergi dari hadapan Ray.


"Maaf ya Ray, aku sibuk. Sudah waktunya aku berdiri di stand tempat aku bekerja."


Ray pun hanya bisa menghela nafas panjang. Karena sejauh ini dia juga belum berani untuk mengutarakan perasaannya. Karena ia tahu Daniella tidak menginginkan pacaran.


"Sepertinya aku harus hati-hati dengan pria itu. Dan sepertinya pria itu suka dengan Daniella. Jangan sampai aku kalah dengannya. Aku harus memperhatikan Daniella. Agar Dani tidak diambil orang itu." ucap Ray dalam hati, yang merasa tidak rela jika Daniella berpacaran dengan orang lain.


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Selesai bekerja, Daniella yang pada saat itu ada jadwal kuliah. Langsung bersiap meninggalkan restoran tempat ia bekerja.


Saat itu Daniella baru saja keluar dari restoran. Dan benar saja, Albert sudah duduk di atas motornya dengan sudah mengenakan jaket, tas, helm dan ia tersenyum ke arah Daniella.


"Ayo kita berangkat bersama ke tempat kuliah." ujar Albert sambil tersenyum manis kepada Daniella.


"Kau bener-bener bandel ya. Sudah aku bilang berapa kali aku tidak ingin merepotkan mu. Aku tidak ingin berhutang budi."


"Kamu selalu saja keras kepala. Aku tinggal dekat rumahmu. Dan restoran mu ini juga tidak jauh. Jadi apa salahnya sih jika kita berangkat bersama-sama. Kita kan teman, seorang teman bukankah harus membantu temannya. Sudah, jangan banyak bicara. Ayo kita berangkat, nanti kita telat." ucap Albert dan mau tidak mau. Daniella pun akhirnya ikut dengan Albert. Untuk pergi bersama-sama ke tempat kuliah