
"Daddy tidak merampok kebebasan mu Albert. Tapi Daddy menyelamatkanmu dari sebuah kesalahan jatuh cinta. Itu sangat mudah Daddy tau. Dan dengan wanita itu. Kamu sudah buta, kamu tidak tahu dunia mana yang terbaik untuk mu. Dia itu siapa, padahal kamu ini juga siapa. Daddy tidak ingin kamu menyesal di kemudian hari."
"Menyesal atau tidak, Dady tidak berhak menentukan kehidupanku seperti apa. Karena aku yang menjalani kehidupan ini."
"Beri aku waktu satu kali 24 jam untuk memikirkan ini. Setelah itu aku akan memberitahu Daddy tentang keputusanku." Kemudian Albert segera pergi meninggalkan ruangan sang Daddy.
Di sepanjang perjalanan meninggalkan ruang kerja sang Daddy-nya.
Pikiran Albert kini semakin kacau dan semakin mengkhawatirkan tentang pendidikan Danilah di universitas tempat ia menerima beasiswa.
Karena Albert paham, ancaman Daddy-nya tidak main-main.
Jika Daddy nya sangat serius ingin mengambil kembali beasiswa yang sudah dan terima Daniela. Itu sangat bahaya.
Karena hanya tinggal beberapa bulan lagi Daniela telah menyelesaikan kuliahnya.
Jika beasiswa itu dicabut. Maka Daniella akan menjadi sangat kecewa karena perjuangannya selama berkuliah di universitas itu menjadi sia-sia. Dan impiannya pun akan hancur begitu saja.
Padahal Albert sangat tahu bisa kuliah di universitas itu dan mendapatkan beasiswa secara cuma-cuma adalah suatu hal yang membuat Daniela bahagia.
Tidak hanya membuat Danilla bahagia. Tapi banyak hal yang Daniella harapkan dari kelulusannya dari universitas tersebut.
"Aku mau perjuangan yang aku lakukan untuk Daniela seketika terancam dengan ancaman Daddy yang akan mencabut beasiswanya."
"Bagaimana ini. Apa yang harus aku lakukan. Sepertinya tidak ada lain. Cara satu-satunya agar aku tidak membuat Daniel tidak mendapatkan masalah. Dari pada apa yang sudah ia perjuangkan selama ini sia sia."
"Aku harus punya kendali yang aman untuk mengamankan situasi ini. Aku tidak mungkin membuat Citra diriku buruk di mata Daniel."
"Tidak apa-apa lah saat ini aku tiba-tiba lost kontak dengan Daniela. Daripada nanti dia tidak bisa lulus kuliah. Itu hanya akan semakin membuat Daniella kecewa. Terlebih dia akan membenciku."
"Maafkanlah aku Daniela. Jika aku melakukan ini. Tapi percayalah ini semua aku lakukan untukmu. Aku akan mencari cara apapun agar kita bisa berteman dan bisa lebih dekat lagi. Prioritas ku saat ini adalah menyelamatkan kuliahmu."
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Dua minggu kemudian
Sudah dua minggu lamanya sesuatu terjadi di antara pertemanan Albert dan juga Danilla.
Ancaman yang ditujukan Erik kepada Danilla ternyata membuat Albert harus memutuskan. Untuk sementara ia harus memutuskan hubungan dengan Daniella.
Sontak saja hal itu membuat Daniella merasa heran. Karena tiba-tiba saja apa seperti ditelan bumi Albert hilang. Tidak ada pesan dan nomor ponselnya pun juga tidak bisa dihubungi.
Bahkan Alber juga sudah tidak nampak di area universitas dalam 2 minggu terakhir.
"Sebenarnya kamu itu di mana Al. Kenapa tiba-tiba kamu menghilang seperti ini. Tidak ada kabar dan tidak ada berita. Dan tidak ada pesan apapun."
"Sungguh mengherankan di saat kau sudah jujur dengan tentang siapa dirimu. Tapi kini tiba-tiba kau malah menghilang begitu saja. Padahal aku tidak akan pernah merubah sikapku untuk tetap menjadikanmu teman. Tapi kamu malah yang berubah. Kamu malah menjauhiku. Menghilang bahkan lost kontak denganku."
"Meskipun begitu aku tetap terhadap kamu baik-baik saja Albert. Karena bagaimanapun aku mencemaskan mu. Aku mengkhawatirkan mu. Dan aku tidak ingin terjadi sesuatu denganmu. Kamu adalah orang baik. Tanpa dirimu aku tidak akan bisa berkuliah di universitas ini. Kabari aku segera Al. Agar aku tenang." Ucap Daniella dalam hati ketika ia masih berada di ruang kuliahnya pada malam itu.