Daniella, The Brave Girl

Daniella, The Brave Girl
Chapter 13



"Ayo kita berangkat bersama ke tempat kuliah." ujar Albert, sambil tersenyum manis kepada Daniella.


"Kau bener-bener bandel ya. Sudah aku bilang berapa kali aku tidak ingin merepotkan mu. Aku tidak ingin berhutang budi."


"Kamu selalu saja keras kepala. Aku tinggal dekat rumahmu. Dan restoran mu ini juga tidak jauh. Jadi apa salahnya sih jika kita berangkat bersama-sama. Kita kan teman, seorang teman bukankah harus membantu temannya. Sudah, jangan banyak bicara. Ayo kita berangkat, nanti kita telat." ucap Albert dan mau tidak mau. Daniella pun akhirnya ikut dengan Albert. Untuk pergi bersama-sama ke tempat kuliah


Di sepanjang perjalanan menaiki motor. Albert saat itu sengaja mengendarai motornya dengan kecepatan sedang.


Pada saat itu, padahal Albert ingin sekali Daniella berpegangan pada dirinya. Tapi sepertinya Daniella tidak melakukan itu.


"Apa kamu tidak takut jatuh?" tanya Albert, pada Daniella.


"Kenapa tidak berpegangan?"


"Aku tidak akan terjatuh. Tenang saja, aku bisa mengendalikan diriku. Asalkan kau menyetirnya dengan kecepatan sedang. Jangan ugal-ugalan." ujarnya Daniella.


"Tidak masalah kok, jika kau ingin berpegangan denganku. Justru itu akan membuatmu lebih aman daripada nanti terjatuh." jawab Albert.


"Kenapa kamu jadi memaksaku untuk memegang dirimu, aneh." Daniella kemudian berkata dengan nada suara sinis.


Kau bener-bener beda Daniela. Banyak orang yang mengenalku ingin sekali dekat denganku. Bahkan mereka mencari-cari alasan untuk bisa dekat. Tapi dirimu justru tidak.


Akulah yang mendekati mu. Itu saja kamu masih jual mahal padahal. Bukannya sombong, aku cukuplah tampan dan pastilah banyak wanita yang sangat terkesan denganku.


Tapi sepertinya dirimu tidak berkesan sama sekali terhadap diriku. Sungguh membuat aku semakin penasaran denganmu. Guman Albert dalam hati.


"Aku mengambil jurusan bisnis. Entahlah, aku tertarik saja dengan fakultas itu. Karena menurutku, aku akan bertemu dengan banyak orang jika aku bekerja di sebuah perusahaan yang besar. Dengan begitu aku bisa belajar. Siapa tahu aku bisa berkerja dan bagian dari pengusaha itu. itu impian ku."


"Jurusan yang sangat bagus. Aku sangat mendukungmu. Dan aku yakin, suatu saat kau akan sukses di masa depan. Makanya sekarang kau harus giat berkuliah dan kalau bisa raih predikat tertinggi dan terbaik. Dengan begitu akan banyak perusahaan yang akan memilihmu. Dan mereka akan mempekerjakan mu dengan berikan sebuah jabatan yang bagus untuk mu."


"Tidak usah kau beritahu aku sudah tahu akan hal itu."


Dan, tidak lama kemudian. Mereka kini telah sampai di lingkungan kampus.


Albert kemudian memarkirkan motornya di tempat parkiran kampus.


Kemudian mereka pun berjalan bersama-sama menuju gedung kampus.


Saat Albert dan Daniella berjalan menuju gedung. Ada beberapa pasang mata sepertinya sedang memperhatikan Albert dan juga Daniela.


"Al, sepertinya beberapa orang di kiri kanan kita sedang memperhatikan kita." ujar Daniella yang saat itu berjalan dengan santai di samping Albert.


"Biarkan saja mereka melihat kita. Apa urusan kita. Kita tidak punya urusan dengan mereka."


*Iya aku tahu. Aku juga paling malas untuk berurusan dengan orang-orang yang tidak penting. Tapi aku takut jika mereka akan menggosipkan kita kalau kita pacaran. Sebaiknya besok-besok tidak usah lah kita jalan bersama seperti ini. Jujur saja aku paling males dan paling tidak suka menjadi pusat perhatian. Karena menjadi pusat perhatian bukanlah hal yang sangat menyenangkan. Tapi bagiku justru sangat mengekang aktivitasku."


"Kamu ini aneh Daniella. Di saat sama orang pengen tenar di kampus, kamu malah tidak ingin tenar."


"Aku hanya ingin berkuliah dengan benar. Aku tidak ingin mencari sensasi." jawab Daniella singkat.