Daniella, The Brave Girl

Daniella, The Brave Girl
Chapter 36



"Dad, tolong hentikan aksi mata-mata yang Daddy suruh untuk memata-matai Danilla. Sekarang Dani sudah tahu semuanya. Aku sudah berterus terang kepada Daniela tentang siapa diriku. Dan sekarang aku minta sama Daddy untuk menghentikan memata-matai Danilla. Karena Danilla sudah merasa tidak nyaman dengan segala aktivitas yang ia lakukan." ucap Albert ada Erick Daddy-nya.


"Oh jadi gadis itu sudah curhat denganmu. Daddy memang menyuruh orang Daddy untuk memata-matai Danilla beberapa hari ini. Dan Daddy sengaja melakukan itu. Untuk memata-matai wanita itu."


"Please Dad, ini tidak untuk bercanda. Aku dengan sangat serius mengatakan ini. Stop memata-matai Daniela. Da hanyalah gadis biasa yang tidak tahu apa-apa tentang pertentangan kita."


"Lalu, bagaimana tanggapan Danilla, ketika dia sudah tahu tentang siapa dirimu. Apakah dia mundur?" tantang Erick.


"Hentikan omong kosong ini Daddy. Sudah berapa kali aku bilang kepada Daddy. Antara aku dan Daniel tidak ada hubungan apapun. Kami hanya berteman. Anggapan Daddy jika aku menjalin hubungan dengannya itu hanyalah sebuah terkaan kosong. Karena sejatinya yang teropsesi kepada Daniella adalah aku. Bukan dia."


"Jadi kamu bilang sebenarnya kau sudah tergila-gila dengannya. Kau mau membela dia. Kau mau bilang kan yang tergila-gila itu kamu."


"Inti dari semua ini adalah karena diriku Daddy. Bukan karena dia. Dan tidak salah apa-apa bahkan sampai sejauh ini. Dan sampai detik ini kami hanya berteman. Kami tidak punya hubungan apa-apa. Ini semuanya adalah keinginan. Jika dia terluka sedikitpun. Maka aku akan bertindak dan aku tidak main-main Daddy."


"Lihatlah dirimu, kamu yang bukan siapa-siapa sudah berani mendebat Daddy. Dan kau sudah berani menentang Daddy. Berarti dia itu sangat mempengaruhi mu. Dan sia sudah membuatkan mu." ucap Erick.


"Bukan dia berpengaruh terhadap diriku. Tapi aku yang sangat terobsesi dengan dirinya. Dan sejauh ini semuanya sudah aku atur. Tapi Daddy ternyata mencampuri urusanku. Aku harus bilang dan menjelaskan sama Daddy seperti apa lagi. Jika dia tidak tahu apa-apa tentang semua ini."


"Permintaan Daddy sangat sederhana. Jangan lagi temuin dia. Putuskan hubunganmu dengan dia. Maka semuanya akan Daddy atur. Dia akan bisa lulus sampai dia kuliah. Dan Daddy akan tetapi memberikan ia beasiswa itu. Sampai di mana kelulusan itu tiba. Tapi, jika kamu tidak mengindahkan ultimatum ini. Bersiaplah dia akan Daddy drop off dari universitas. Dan semuanya sekarang ada dipilih di dirimu. Tinggalkan dia, lupakan dia. Jangan lagi berhubungan dengannya. Maka semua akan lancar dan semuanya akan bisa seperti apa yang kamu inginkan."


"Jadi sekarang Daddy mengancam ku."


Albert kini menatap tajam ke arah Daddy-nya. Karena begitu kuat keinginan Daddy nya untuk tidak membiarkan dirinya berhubungan dengan Danilla.


"Seperti inikah cara Daddy menyayangiku. Dengan memaksaku untuk tidak melakukan sesuatu yang tidak aku sukai. Daddy sama saja sudah merampok kebebasanku."


"Daddy tidak merampok kebebasan mu Albert. Tapi Daddy menyelamatkanmu dari sebuah kesalahan jatuh cinta. Itu sangat mudah Daddy tau. Dan dengan wanita itu. Kamu sudah buta, kamu tidak tahu dunia mana yang terbaik untuk mu. Dia itu siapa, padahal kamu ini juga siapa. Daddy tidak ingin kamu menyesal di kemudian hari."


"Menyesal atau tidak, Dady tidak berhak menentukan kehidupanku seperti apa. Karena aku yang menjalani kehidupan ini."


"Beri aku waktu satu kali 24 jam untuk memikirkan ini. Setelah itu aku akan memberitahu Daddy tentang keputusanku." Kemudian Albert segera pergi meninggalkan ruangan sang Daddy.