Daniella, The Brave Girl

Daniella, The Brave Girl
Chapter 6



Di sebuah taman, pada malam itu Albert dan juga Daniela duduk di sana.


Dua orang yang masih asing itu nampak sama-sama canggung.


"Ada hal apa yang membuat kamu ingin bertemu denganku di sini?" tanya Daniella kepada Albert yang saat itu duduk di sampingnya. Di sebuah bangku panjang. Dan mereka duduk saling berjauhan.


"Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin mengobrol saja dengan mu. Aku tidak punya banyak teman. Aku kesepian, aku hidup sendiri di sebuah tempat kost yang kecil. Aku masih kuliah, dan aku bekerja sebagai sopir untuk membiayai hidup ku." Albert mulai bercerita tentang dirinya. Padahal Albert hanya mengarang cerita soal dirinya yang masih kuliah dan bekerja sebagai sopir.


"Sopir. Aku masih belum percaya jika kau adalah seorang sopir." sanggah Daniella.


"Kenapa kau tidak percaya. Bukankah aku sudah mengatakannya berkali-kali, jika aku ini adalah seorang sopir."


"Tidak ada sopir seperti diri mu. Apa yang kamu kenakan juga semua dari barang yang mewah. Outfit mu semua barang mahal. Meskipun aku orang miskin, tapi aku tidak terlalu bodoh untuk bisa membedakan outfit mahal dan outfit yang biasa." celetuk Daniella.


Dan, dalam hati Alber pun berguman. Jika wanita yang ada di sampingnya ini ternyata adalah penilaian yang sangat pintar. Karena ia benar-benar mengamati dirinya. Dan sepertinya jika Albert ingin mendekati Daniella. Dia harus merubah penampilannya.


"Oh, apa yang aku pakai saat ini semua adalah pemberian bos ku. Semua itu hadiah dari bos ku. Mereka sempat pergi ke luar negeri dan dia membelikan aku barang-barang itu." jelas Albert memberikan alasan.


"Terserahlah. Sebenarnya apa yang kamu inginkan dengan obrolan kita saat ini. Tidak mungkin kamu ingin bertemu denganku tanpa ada tujuan." Daniella mulai penasaran dengan Albert.


"Aku hanya ingin berteman denganmu Dani. Apa kau mau menjadi teman ku mulai sekarang. Aku janji akan jadi teman yang baik."


Dan anehnya, Albert menginginkan mereka berteman. Sedangkan bagi Daniela yang belum tahu siapa Albert sebenarnya sedikit ragu untuk menganggap Albert atau mengangkat Albert menjadi temannya. Karena Daniella sudah terbiasa dengan sikap penuh kehati-hatian untuk mencari seorang teman. Karena terus terang saja Daniella nyaman dengan dirinya.


Dan ia sangat nyaman karena tidak memiliki banyak teman. Bahkan dia pun tidak punya teman dekat Karena yang ada dalam pikiran Daniella hanyalah bekerja, pulang ke rumah, dan fokus untuk karirnya dan juga memikirkan sang adik.


"Daniella, Kenapa kamu diam saja. Apa yang kamu pikirkan." ucap Albert, membuyarkan lamunan Daniella.


"Aku sebetulnya adalah pribadi yang sampai sekarang pun tidak memiliki teman yang akrab. Yang ku punya hanyalah teman kerja. Aku hanya punya teman di tempat aku bekerja dan berteman dengan tetangga sebelah rumahku. Jujur aku sangat tidak ingin hidupku dipersulit dengan pertemanan yang terkadang membuat hidupku malah banyak konflik. Karena aku sendiri fokus untuk memikirkan kehidupan aku sendiri. Dan sejujurnya saat ini aku sedang ingin mencari-cari beasiswa agar aku bisa lanjut kuliah lagi tapi."


"Jadi kamu ingin kuliah?" ucap Albert memotong pembicaraan.


"Ya Aku ingin berkuliah. Tapi tidak sekarang, karena kondisi keuanganku tidak memungkinkan untuk aku bisa kuliah. Dan aku sedang mencari-cari beasiswa agar aku bisa kuliah lagi. Tapi kembali lagi, aku masih santai dan aku fokus untuk bekerja dulu."


"Aku rekomendasi kan kamu beasiswa. Besok aku akan membawakannya untukmu. Jika kau berminat kau bisa mempelajarinya. Itu adalah program beasiswa untuk umum. Jika kau bisa memenuhi syarat mungkin kau bisa mendaftar."


"Maksudmu beasiswa dari program apa?"


"Besok kita bertemu lagi di taman ini. Atau bagaimana jika kita sekarang tukar menukar nomor telepon. Jadi aku bisa lebih gampang untuk menghubungimu."