
Daniella POV
Albert. Entahlah, nama itu kini menjadi spesial bagiku.
Dia datang di hidupku berawal dari sebuah insiden. Saat aku menumpahkan minuman di pangkuannya. Ataukah itu memang sudah direncanakan oleh Tuhan.
Yang jelas aku tetap menganggap Albert adalah seseorang yang sangat misterius yang hadir dalam hidupku.
Tiba-tiba saja dia datang dan menawarkan semua kebaikan.
Semua yang menjadi impianku tentang beasiswa itu juga adalah dari Albert.
Dia memberikan informasi beasiswa yang akhirnya aku bisa mendapatkannya.
Sampai saat ini aku masih tidak percaya. Jika aku telah berkuliah di universitas impian ku.
Semua merasa ajaib. Karena aku bisa begitu mudahnya bisa masuk ke universitas. Seperti semuanya berjalan dengan mudah.
Padahal aku tahu untuk mendapatkan beasiswa di universitas itu tidaklah mudah.
Perlu seleksi yang ketat dan juga peninjauan khusus.
Tapi aku cukup beruntung. Karena aku telah mendapatkan beasiswa di universitas favorit tersebut.
Dan semuanya tidak terlepas dari bantuan Albert.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
"Kak, ini sudah malam. Aku sudah menyiapkan makan malam di meja makan. Apa kau tidak ingin makan malam?" tanya Aron, ketika ia mendatangi kamar Daniella malam itu.
Setelah memperingatkan sang kakak untuk makan malam. Aron pun kemudian kembali ke meja makan.
Tak lama kemudian Daniella datang ke meja makan. Dan dua saudara itu pun kemudian menikmati makan malam bersama.
"Bagaimana kuliahnya. Apa semua berjalan lancar?" tanya Aron kepada Daniela, menanyakan kuliah yang di jalanin sang kakak.
"Aku senang berkuliah di sana. Aku mendapatkan banyak teman. Aku harus membiasakan diri untuk bisa menyesuaikan diri. Aku sekarang masih dalam penyesuaian waktu, membagi waktu untuk bekerja dan kuliah."
"Semoga Kakak bisa menyesuaikan diri. Kakak sangat beruntung mendapatkan beasiswa itu. Dan jujur saja aku iri dengan apa yang Kak Daniela sekarang bisa raih. Jika aku sudah lulus SMA nanti. Aku juga ingin mendapatkan beasiswa seperti kakak. Dan berkuliah di universitas tempat kakak kuliah. Kalau mendapatkan beasiswa kan tidak akan memberatkan kakak untuk membiayai kuliah ku."
"Cita-cita yang bagus. Kakak selalu berpesan kepadamu belajarlah yang pintar. Dan semangatlah untuk sekolah. Karena saat-saat ini adalah perjuangan bagi kakak untuk bisa menuntaskan pendidikan mu. Dengan begitu kau bisa menggunakan pendidikan mu sebagai modal untukmu ke depannya. Karena bagaimanapun suatu saat kita akan mempunyai kehidupan masing-masing. Aku dengan hidupku dan kau dengan hidupmu." ujar Daniella pada sang Adik Aron.
"Aku akan selalu ingat dengan pesan kakak. Dan aku sangat berterima kasih kepada kakak karena kak Daniella adalah pengganti kedua orang tua kita. Aku berhutang budi terhadap kak Dani."
"Tidak ada hutang budi di antara persaudaraan. Apa yang aku lakukan ini adalah tanggung jawabku. Bukankah kita sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Kalau bukan aku, kalau bukan kamu, siapa lagi yang paling peduli." ujar Daniella.
Kemudian ia menyuapkan satu suapan pasta mulutnya.
"Hemmmm, ini pasta yang enak."
"Aku mencoba untuk bereksperimen tentang masakan lain kak. Pasti kakak bosen makan nasi goreng terus."
"Apapun yang kau masak. Kakak pasti akan makan. Terima kasih untuk menjadi koki di rumah. Terkadang tidak sempat memasak."
"Jangan khawatir soal itu. Aku bisa mengatasinya. Jika aku bisa membantu dalam urusan rumah. Kenapa tidak, sekarang soal masak kecil bagiku. Dan aku sudah terbiasa." ujar Aron, merasa bangga pada dirinya sendiri