Crazy But She'S Mine

Crazy But She'S Mine
51



Malam harinya Raka dan Adelia sudah berada di rumah Bagas Chalandra. Keduanya tampak saling lirik dan memandang bingung ke arah sang ayah yang sedang sibuk menerima telepon entah dari siapa.


Adelia memberikan isyarat mata kepada suaminya. Raka hanya menggelengkan kepalanya karena dia juga tidak tahu apa yang ingin ayah mertuanya itu bicarakan. Adelia menghela napasnya panjang. Sedangkan Raka mengelus lembut punggung tangan sang istri. Sejak tadi keduanya lengket terus. Tampak begitu mesra membuat Bagas Chalandra tampak bahagia melihat keharmonisan antara putri dan juga menantunya tersebut.


Bagaimana nggak mesra kalau keduanya kini sudah bersatu. Tidak ada lagi kecanggungan antara pasangan suami istri tersebut. Adelia sudah seutuhnya menjadi milik Raka. Betapa bahagia dan bangganya seorang Raka mendapatkan ketulusan dari Adelia.


Klik


Tampaknya Bagas Chalandra sudah mengakhiri pembicaraan di teleponnya. Adelia memberi kode kepada suaminya untuk bertanya terlebih dahulu kepada sang ayah.


Ekhem


Raka tampak berdehem sebelum mulai bertanya kepada sang ayah.


"Maaf sebelumnya ayah, sebenarnya ada permasalahan apa sehingga kami diminta datang ke sini," tanya Raka dan diangguki kepala oleh sang istri.


Bagas Chalandra justru menatap keduanya secara intens.


"Justru ayah yang ingin tanya kepada kalian berdua. Bagaimana hubungan kalian berdua sekarang?" ujar Bagas Chalandra sambil tersenyum menggoda.


Astaga!


Adelia terkejut melihat reaksi sang ayah yang ternyata hanya ingin menanyakan kabarnya saja.


"Astaga ayah, aku pikir ada urusan penting apa sehingga aku dan mas Raka disuruh datang kesini buru-buru. Ayah suka bener sih bikin kita berdua cemas," gemas Adelia dengan sikap ayahnya sendiri. Karena pikiran dia sudah berkelana kemana-mana.


"Lagian kalian berdua ini aneh juga. Wajar dong kalau ayah merindukan kalian dan ingin kalian datang kemari. Ini juga rumah kalian meskipun rumah Raka sekarang lebih nyaman buat kamu nak, daripada tinggal di mansion ayah," ujar Bagas dengan nada memelas.


Adelia menjadi merasa bersalah dengan sang ayah. Sikapnya yang menunjukkan ketidaksukaan ketika main ke rumah ayahnya. Sepertinya sudah membuat lelaki tua itu merasa kesepian. Adelia menoleh ke arah suaminya. Raka pun mengerti dan melepaskan pegangan tangannya di pinggang ramping sang istri. Adelia bergegas mendekati ayahnya dan memeluk pria yang menjadi cinta pertamanya tersebut.


"Aku suka kok datang kemari. Dan aku juga sangat merindukan ayah. Jangan merasa ayah sendirian dan juga kesepian. Karena ada aku dan mas Raka yang akan selalu menemani ayah," ujar Adelia sambil tersenyum manis.


Bagas Chalandra begitu bahagia melihat rona kebahagiaan tampak jelas terpancar dari wajah sang putri. Ia benar-benar telah mengambil keputusan yang tepat dengan menikahkan raka dengan Adelia. Terbukti bahwa putrinya tampak begitu bahagia bersama dengan laki-laki tersebut.


"Semoga kalian segera memberikan cucu yang banyak buat ayah. Biar rumah ini jadi ramai setiap kali kalian datang. Jadinya ayah nggak kesepian lagi," kata Bagas Chalandra sambil membelai lembut rambut panjang putri kesayangannya.


Yang sudah banyak menderita karena ulahnya sendiri. Dengan membawa dua ular berbisa yang hampir membuat nyawa putrinya sendiri melayang. Bagas jika mengingat apa yang dikatakan oleh Bella tadi pagi. Ia menjadi sangat bersalah kepada Adelia. Bagaimanapun juga ini adalah kesalahannya. Karena salah membawa orang masuk ke dalam kehidupan sang putri. Seandainya saja waktu bisa diputar kembali. Tetapi kini Bagas sudah mulai belajar untuk hanya fokus kepada kebahagiaan putrinya. Dia sudah tua dan tidak butuh kebahagiaan dari orang lain. Ia hanya ingin hidup bahagia dengan putri, menantu dan cucu-cucunya kelak.


......................


"Jadi ini kamar kamu ya?" tanya Raka yang baru masuk ke dalam kamar pribadi adelia. Lebih tepatnya kamar Adelia di rumah ayah Bagas Chalandra.


Raka menatap keseluruhan kamar sang istri. Ini adalah pertama kalinya dia masuk dan akan menginap di kamar yang selama ini ditempati oleh Adelia.


"Nuansanya nggak cewek banget ya?" ujar Raka yang merasa bahwa kamar Adelia tidak seperti kebanyakan cewek yang lain suka warna pink tetapi ini kamarnya justru berwarna abu muda dan biru.


"Aku kan emang nggak begitu cewek banget mas. Ada tomboi nya gitu," ujar Adelia terkikik geli jika mengingat dirinya yang suka berdandan simpel ngga ribet seperti cewek kebanyakan. Nggak suka dandan berlebihan sampai dikira tomboi oleh teman-temannya.


"Pantesan," kata Raka tersenyum tipis. Kini tatapan matanya tertuju kepada sebuah pigura yang terpajang di meja rias sang istri.


"Astaga!" Adelia yang mengetahui arah pandang sang suami seketika menoleh dan mendapati bahwa di sana masih ada foto berdua dirinya dengan Gilang. Ia lupa jika ada foto Gilang di kamarnya. Kenapa juga ia tidak segera singkirkan foto itu ketika masuk tadi.


"Aku akan membuangnya mas," ujar Adelia seketika mengambil foto tersebut dan menyobeknya di depan Raka. Ia tidak mau suaminya itu salah sangka dengan apa yang ia lihat barusan.


Memang setelah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Adelia langsung tinggal di apartemen raka. Jadinya ia tidak sempat membereskan barang-barang yang ada hubungannya dengan Gilang, mantan kekasihnya tersebut.


Grep.


"Mas ...."


Raka memeluk pinggang Adelia dan menyelipkan anak rambut dibalik telinga sang istri.


"Mas nggak marah kan karena ada foto Gilang tadi di sana?" tanya Adelia dengan takut-takut. Ia tidak mau membuat suaminya marah dengan keteledoran dirinya yang tidak membereskan kamarnya dengan segera.


Raka menghela napasnya panjang.


"Sebenarnya aku cemburu karena bukan fotoku yang ada di sana. Jadinya aku mau kamu membuatku senang malam ini," kata Raka sambil memicingkan kedua matanya.


Hal ini membuat Adelia bertanya-tanya. Ia mulai merasa ada yang berbeda dengan sikap sang suami.


"Membuat senang? apa?" tanya Adelia yang berharap bukan itu yang dimaksud oleh suaminya. Akan tetapi sepertinya dugaan Adelia benar adanya.


"Ya memang itu sayang. Seperti permintaan ayah tadi. Kamu mau kan," bisik raka tepat di telinga adelia membuat gadis itu tersipu malu.


Bagaimana tidak jika suaminya sekarang dikit-dikit selalu meminta jatah kepadanya. Apalagi Raka sekarang sudah tidak malu-malu lagi.


Raka tidak banyak bicara lagi begitu melihat wajah sang istri tersipu di depannya. Ia langsung menggendong Adelia dan membawanya ke atas ranjang. Keduanya akan membuat Adelia dan Raka junior di kamar sang istri yang belum pernah Raka masuki selama ini. Kini kamar itu akan menjadi saksi bersatunya keduanya di sana. Mereka akan membuat kenangan indah di kamar itu berdua dengan nada-nada penuh cinta. Raka sudah tidak sabar rasanya ingin segera meminta jatahnya kepada sang istri. Malam yang selalu dinantikan oleh Raka.


❤️❤️❤️


TBC