
Di apartemen Raka.
"Aku pengen jalan-jalan sebentar saja. Aku bosan di apartemen terus. Hanya ke minimarket dekat sini saja. Nggak apa-apa ya?" pinta Adelia yang memang sudah jenuh berasa di dalam apartemen terus menerus. Ia ingin menghirup udara kebebasan dengan berjalan-jalan di dekat apartemen Raka.
Raka menatap wajah Adelia yang memelas. Ia juga tidak tega sebenarnya mengurung istrinya itu di apartemen terus. Ia sebenarnya memiliki mansion yang akan ia tempati nantinya dengan adelia. Masalahnya mansion itu masih dalam proses renovasi. Mungkin sebentar lagi akan selesai.
Raka menghela napasnya panjang sebelum menjawab permintaan Adelia.
"Baiklah, tetapi jangan jauh-jauh dari pantauan mereka ya," pesan Raka yang langsung diangguki kepala dengan cepat oleh Adelia.
Ya, yang dimaksud mereka adalah para bodyguard yang selalu menjaga kemanapun dan dimanapun Adelia berada. Raka memang masih takut ada sesuatu yang tidak diinginkan menimpa sang istri kalau ia sedang tidak berada di dekatnya.
"Siap, aku pasti menurut kok, makasih ya suamiku, cup."
Sebuah kecupan singkat mendarat di pipi Raka membuat lelaki muda dan tampan tersebut seketika membeku karena tidak percaya istrinya akan melakukan hal itu kepadanya.
Grep.
Eh...
Kini Adelia yang justru kaget karena Raka langsung menarik lengannya dan membawa tubuh itu ke dalam pangkuannya.
"Raka, hmmmpp...."
Adelia tidak bisa berkata-kata lagi ketika dengan cepat Raka mencium bibir manis sang istri dengan lembut. Ia tidak aka menyia-nyiakannya pagi yang romantis ini begitu saja. Karena Adelia yang sudah memulainya maka tanggung sekali untuk dihentikan bukan. Raka akan melanjutkan apa yang sudah dimulai oleh sang istri. Sebagai penyemangat dipagi hari tentunya.
"Bernapas sayang..." bisik Raka lembut saat melihat sang istri tampak terengah-engah setelah ia melepaskan ciuman panjangnya itu. Dengan senyum kecil ia mengelus pipi chubby sang istri yang tampak memerah karena merasa malu atau merasa kesulitan bernapas akibat ulahnya barusan.
"Ka...mu....Bu..at...aku...su...sah...na...pas..." ucap Adelia masih dengan napas yang terputus-putus. Ia tidak menyangka suaminya akan berbuat hal yan senekat itu hanya karena ia yang memancingnya dengan ciuman di pipi. Rasanya Adelia musti hati-hati dalam bertindak karena Raka bisa saja menerkam dirinya sewaktu-waktu 🤭
"Kenapa jadi kamu sepanik itu sih sayang. Namanya ciuman ya bernapas. Ini malah nahan napas. Ya sesaklah jadinya. Hmmmmm....kayaknya kamu butuh diajarin cara berciuman yang benar deh biar kejadian kayak gini nggak terjadi lagi," ucap Raka sambil menahan tawanya karena melihat ekspresi Adelia yang membulatkan kedua matanya menatap horor sang suami.
"Jangan membuat aku takut dan ngeri sendiri deh," ucap Adelia menatap horor sang suami.
"Lho emangnya kenapa. Kita kan sudah menikah jadi mau berbuat apapun sah-sah saja. Nggak ada yang berani melarang dan juga mengganggu. Apapun yang kita lakuin itu sah di mata hukum negara dan agama sayang," bisik mesra Raka di telinga adelia membuat gelitik-gelitik aneh mulai terasa di debaran jantungnya.
Rasanya mendengar suara Raka saja sudah membuat debaran yang berbeda di jantung adelia.
"Jangan me-sum ih pagi-pagi begini."
"Pagi-pagi itu enak loh sayang, nanti kita coba ya," ucap raka yang seketika membuat Adelia langsung memerah mendengarnya.
Mencoba apaan maksud Raka? mereka memang sudah menikah, sudah sah menjadi suami istri. Tingg bersama, berdua di apartemen yang sama. Tetapi selama ini keduanya tidur terpisah. Raka belum pernah menyentuhnya dan meminta haknya. Terus maksudnya Raka berkata seperti itu tadi apa? Apakah ia sudah ingin meminta apa yang memang menjadi haknya?
❤️❤️❤️
TBC