
"Gilang, tunggu dulu!" teriak Jennifer yang sudah kelelahan mengejar langkah panjang Gilang yang meninggalkan kediaman keluarga Chalandra.
"Gilang!" pekik Jennifer sambil memegang lengan Gilang yang berhasil ia tarik.
"Jangan ganggu aku lagi, Jen. Hubungan kita sudah berakhir. Aku tidak mau lagi berhubungan denganmu," ucap Gilang menolak kehadiran Jennifer dalam kehidupannya. Menurutnya, Jennifer adalah seorang gadis yang mudah sekali dibuai dan dia lebih suka dengan Adelia yang dapat menjaga dirinya daripada Jennifer.
"Tapi, aku hamil anakmu, Lang!" pekik Jennifer karena dia sudah berbadan dua akibat hubungannya dengan Gilang selama ini.
Gilang hanya diam mendengar ucapan Jennifer. Entah kenapa, dia tidak yakin bahwa anak yang dikandung oleh Jennifer adalah anaknya.
"Kamu bisa saja tidur dengan pria lain setelah tidur denganku."
Plak!
Jennifer yang sudah geram dengan ucapan Gilang tidak bisa menahan dirinya lagi. Tangannya sudah terasa gatal ingin menghajar Gilang yang tidak mau bertanggung jawab atas apa yang sudah dia lakukan. Benar-benar pria yang tidak punya sikap gentleness. Jennifer merasa kecewa dengan perlakuan dan sikap Gilang terhadapnya. Dia juga kecewa kepada dirinya sendiri karena sudah bodoh masuk ke dalam perangkap lelaki brengsek seperti Gilang.
......................
Raka mengajak Adelia ke apartemennya. Ayah mertua mereka, Pak Bagas Chalandra, melarang Adelia untuk sementara waktu membawa putrinya ke kediaman Chalandra karena kondisi keluarga yang masih belum kondusif. Mereka berharap Adelia akan lebih tenang karena masih dalam pemulihan pasca koma.
Ceklek!
"Silakan masuk," ucap Raka yang masih merasa canggung dengan kehadiran Adelia.
Adelia tampak mengamati apartemen Raka dengan seksama. Dia meneliti satu persatu barang-barang dan juga penataan ruangan di apartemen Raka. Adelia tersentak dan duduk di sofa dengan mengelus bantal sofa yang ada di sana.
Raka mengamati istrinya yang sedang duduk di sofa dan memegang bantal sofa tersebut. Raka merasakan ada sesuatu yang aneh dengan tindakan Adelia. Apakah Adelia mengingat sesuatu tentang kejadian saat koma? Karena sejak bangun dari komanya, Adelia tidak pernah membicarakan apa yang terjadi.
"Kamu kenapa, Del?" tanya Raka sambil duduk di samping Adelia.
Adelia tersentak kaget karena Raka sudah duduk di sampingnya.
"Apakah kamu mengingat sesuatu tentang tempat ini?" tanya Raka lagi, dan Adelia berpikir sejenak sebelum menggelengkan kepalanya.
Raka sekali lagi tersenyum. Dia tidak akan memaksakan Adelia untuk mengingat hal-hal yang terjadi selama dia koma. Bagi Raka, sudah patut bersyukur kalau Adelia saja mengingat namanya.
Drrtt!
Drrtt!
Raka melihat telepon genggamnya dan ada panggilan masuk dari ayah mertuanya.
"Halo, Pa," Raka menjawab panggilan tersebut sambil menoleh ke arah Adelia.
Tampaknya, Adelia juga ikut penasaran dengan telepon ayah mertuanya. Kenapa Pak Bagas menelpon Raka di malam hari seperti ini?
"Dia sudah tiba di apartemen. Iya, Pa, besok pagi aku dan Adelia akan mampir ke kantor. Ada yang ingin Pa bicarakan?" ujar Raka mengakhiri percakapannya.
Klik!
"Ada apa?" tanya Adelia penasaran.
"Papa ingin bertemu dengan kita besok di perusahaan Chalandra. Ada yang ingin dia bicarakan," kata Raka.
Adelia hanya tersenyum dan mengangguk saja. Memangnya, ada apa dengan ayah mertuanya sampai memintanya bertemu di perusahaan? Bukankah ibu dan saudari tirinya sudah diusir dari rumah?
❤️❤️❤️
TBC