Can'T Stop Loving You

Can'T Stop Loving You
Chapter 2



Sienna dan Caramel pun pergi dengan menggunakan mobil Sienna. Jalanan tidak terlalu padat membuat mereka tidak terjebak macet dan sampai dengan cepat.


Sienna pun memarkirkan mobil nya di parkiran. Mereka takjub dengan gedung di depannya. Gedung berwarna abu-abu yang di dominasi kaca di sekelilingnya. Ya walaupun mereka sering melewati nya tetap saja kalau dilihat dari dekat tampak lebih besar dan mewah.


"Achilles Group? Kok gue gak asing ya sama namanya? Mell! Lo pernah dengar gak tuh nama?" Tanya Sienna melihat nama gedung perusahaan tersebut.


Karena tak ada jawaban dari nya, Sienna melihat ke samping dan tidak menemukan Caramel. Dia melihat sekelilingnya dan ternyata cewek itu sudah masuk kedalam tanpa mengajaknya. Segitu penasarannya kah dia sama gedung itu sampai meninggalkan sahabatnya.


"Astaga gue ditinggalin. Emang kampret lo Mell! Caramell! Tungguin gue. Yaelahh!" Sienna berlari mengejar Caramel yang sudah berada di ambang pintu.


"Lo kok ninggalin gue sih. Gue kayak orang gila tau nyariin lo. Jahat banget sih. Kalau gue diculik gimana? Apalagi sama om-om?" Tanya Sienna dengan memukul bahu Amber.


Amber meringis karena pukulan Sienna yang cukup terbilang kuat. "Apa sih! Lo tadi ngelamun makanya gue tinggal. Lagian mana ada yang mau culik lo. Secara lo kan gak waras."


"Terserah lo mau bilang apa. Gue cantik gue waras. Maaf ya polos! Gue tau lo iri sama gue." Sienna sengaja mengibaskan rambutnya agar terlihat mempesona.


Caramel pun mendatarkan wajah nya. Ingin berkata kasar pada Sienna yang punya tingkat PD selangit. Sahabatnya yang satu itu memang belum berubah. Faktor kegilaannya masih melekat.


"Hayuk ah masuk. Gue juga pengen lihat tau gedungnya. Besar amat yah." Sienna mengapit lengan Caramel dan masuk ke gedung tersebut.


Mereka pun sangat terpesona dengan design dalam nya. Seperti di film-film. Orang-orang berlalu lalang dengan setumpuk kertas seperti berkas. Ada juga yang sedang menelpon masih dengan setumpuk kertasnya di tangan.


Mereka berjalan menuju resepsionist. Ingin bertanya dimana ruangan yang ingin dituju. Mereka memang sudah mengetahui dimana ruangan yang ingin mereka tuju. Tetangganya Caramel sudah memberitahunya dengan menelpon pada saat mereka masih di dalam perjalanan.


"Permisi mbak." Sapa Caramel tersenyum.


"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang wanita. Mungkin dia pegawai yang bekerja sebagai resepsionist.


"Saya mau keruangannya pak Azka Aldrich."


"Oh. Apa sudah buat janji dengan beliau?"


Caramel menganguk. "Sudah. Saya Caramel Annora."


Pegawai wanita itu pun seperti melihat sebuat kertas yang berada di disampingnya dan kembali tersenyum. "Pak Aldrich sudah memberi tahu saya. Mbak silahkan naik ke lantai 10 dan ruangan berada di paling pojok kanan.


"Terimakasih mbak." Bukan Caramel yang menjawab melainkan Sienna.


Sienna dan Caramel menaikin lift yang sudah disediakan. Tidak mungkinkan mereka menaiki tangga. Lantai 10 itu sangat jauh. Bisa-bisa kaki mereka patah menaiki tangga.


Tiba dilantai 10, Mereka menuju ruangan yang telah di beritahu pegawai wanita tadi. Ruangan yang berada di pojok kanan.


"Azka Aldrich Pradipto." Baca Sienna melihat bacaan di depan pintu ruangan tersebut.


"Gue baru tau lho nama panjangnya. Keren juga yak." Aku Caramel kepada Sienna.


"Masuknya gimana nih? Ketuk dulu atau masuk aja nih? Tapi gue pengennya nyelonong aja sih. Ribet kalau di ketuk dulu."


Caramel menghela napas. "Gue juga bingung nih. Mau nanya tapi malu. Dikira kampungan banget kita."


DRTT...DRTTT...DRTTT


Terdengar suara deringan dari ponsel Caramel. Dia pun langsung mengambilnya dan mengecek isi pesan masuk.


-------------------------------------------------


✉️ ( 2 new messages From Azka)


Kara! Kamu kalau udah sampai masuk aja keruangannya. Aku masih ada urusan bentar. Aku nanti nyusul kesana ya. Masuk aja. Gak apa kok.


Sebentar lagi aku pasti kesana kok. Wait for a minute.


-------------------------------------------------


"Tau aja sih lo Az! Ahhh baper deh." Ujar Caramel sambil mendekap ponselnya dan tersenyum geli.


"Lo suka kan sama si Azka itu?" Pertanyaan Sienna membuat Caramel merona. Sepertinya dia memang suka kepada Azka. Terlihat dari wajahnya yang memerah.


"Apaan sih! Udah ah hayuk. Kata emak gue anak perempuan kagak boleh berdiri di depan pintu. Pamali. Ntar kagak dapet jodoh."


"Gue gak berdiri di depan pintu aja belum dapet jodoh. Gimana tuh?"


"Aishh kita kan mau masuk. Udahh ah hayukk lah." Lanjut Carame sambill menarik tangan Sienna yang terlihat murung.


"Huwaaa! Kayak gini ya ruangan pegawai kantoran. Selama ini gue cuman lihat di TV. Kalau gak sih cuman bayangin cerita novel." Takjub Caramel melihat sekeliling ruangan Azka tersebut.


Tak seperti Sienna yang telihat biasa-biasa aja. Sepertinya dia tidak kagum dengan ruangan milik tetangganya Caramel.


"Sienna! Lo masa belum pernah lihat kantor kayak gini sih. Bokap lo kan..." Ucapan Caramel terhenti melihat Sienna yang memalingkan wajahnya. Tak ingin menatap Caramel.


Cewek itu pun langsung menyentuh tangan Sienna dan mengelusnya pelan. Menenangkan Sienna yang terlihat ingin menangis. "Sorry Na. Bukan maksud gue buat lo sedih. Gue cuman gak sadar. Maaf kalau perkataan gue buat lo sedih."


Sienna melepaskan tangan Caramel yang berada di lengannya. Dia pun menarik napasnya agar tidak menangis. "Gue gak apa kok. Gue gak sedih. Cuman ingat masa lalu aja."


"Beneran? Lo gak apa-apa kan?"


Sienna tersenyum dan mengangguk. "Gue gak apa. Oh iya gue mau ke kamar mandi nih. Kebelet. Lo tunggu sini aja ya. Tunggu gue."


Melihat Sienna terburu-buru pergi ke kamar mandi, Caramel tau Sienna hanya ingin menangis sendirian tanpa ada orang yang tau. Salah satu kebiasaan nya di SMA. Sienna yang belum terbuka. Sienna yang memendam perasaan terluka. Dia hanya tidak ingin orang melihatnya terpuruk.


"Lo masih sama Na. Belum bisa terbuka. Gue tau lo kok. Di depan lo emang terlihat seperti orang yang paling bahagia. Tapi di dalam lo terlihat rapuh. Lo hanya nutupin dengan tingkah konyol lo. Gue iri sama lo Na!" Lirih Caramel sedih.


"Caramel!" Lamunan Caramel buyar ketika seorang memanggilnya. Tampak seorang cowok memakai jas putih sedang tersenyum. Dia Azka Aldrich. Tetangga Caramel.


"Eh hai Azka." Sapa Caramel kikuk. Dia memang sudah tidak terlihat sedih lagi tapi tergantikan dengan gugup saat melihat Azka tersenyum padanya.


"Ahh gila! Ganteng banget sih nih orang. Gue kan baper. Haduhhh senyum nya itu lhoo. Yaampun." Batin Caramel dalam hati.


Azka mendekat ke arah Caramel. "Udah lama nunggunya?" Melihat Caramel menggeleng, Azka bernapas lega. Ia kira Caramel sudah menunggu lama. "Maaf ya tadi lama. Aku ada urusan sebentar. Oh iya teman kamu mana? Kamu gak jadi datang bareng teman kamu itu?"


"Aku bawa teman kok. Dia tadi emang lagi pergi ke kamar mandi. Udah agak lama sih. Palingan ntar lagi juga datang." Jelas Caramel.


Azka mengangguk-anggukkan kepalanya. "Aku juga tadi bawa temen. Tapi keluar gara-gara mau angkat telepon gitu. Ehh kok gak duduk? Duduk dong Mel."


"Ehh iya. Makasih." Ujar Caramel kikuk. Masih grogi dengan Azka.


-------


Di toilet, Sienna melihat matanya bengkak akibat menangis. Dia memang berbohong kepada Caramel dengan alasan kebelet. Padahal dia hanya ingin menenangkan perasaannya saat ini.


"Miris banget ya kehidupan gue. Hidup gue gak berwarna. Hitam. Ga ada cahaya. Gelap. Hitam dan gelap adalah warna kehidupan gue."


"Astaga gue lupa! Caramel pasti nungguin. Ehh tapi kan kalau gue tinggal. Dia bisa berduaan sama gebetannya. Ahh iya gue tinggal aja dah. Males juga kesana. Hehe maaf ya Mel."


Sienna keluar dari toilet dengan menunduk. Dia menutupi wajah nya yang terlihat bengkak setelah menangis. Orang-orang disekitarnya pun melihat Sienna dengan tatapan aneh.


Cewek itu berjalan setengah berlari. Tapi masih menunduk. Tak ingin memperlihatkan wajah bengkaknya . Karena tak melihat jalan, Sienna tersandung dan akhirnya terjatuh.


Bruk!


"Aduhh kaki gue. Ah sial! Pakai jatuh segala. Gue kan malu. Kaki gue juga sakit banget." Sienna ingin berdiri tapi sepertinya pergelangan kakinya keseleo.


Tiba-tiba sebuah tangan mengulur kepadanya. Sepertinya seorang cowok yang menolong nya. Terlihat dari telapak tangannya dan sepatunya yang berwarna hitam.


"Kek nya dia mau nolong gue nih. Makasih ya allah. Akhirnya ada yang mau nolong gue." Batin Sienna.


Sienna meraih uluran tangan yang diyakini nya seorang cowok. Setelah dia bisa berdiri, Sienna menepuk-nepuk celana nya yang sedikit kotor.


Sienna yang kepo dengan siapa penolongnya ini pun mendongakkan kepalanya. "Ahh terima ka...


...sih." Ucapan Sienna terpotong saat melihat wajah cowok di hadapannya ini. Wajah yang sangat ia rindukan. Juga wajah yang membuat nya terlarut dalam perasaan sedih.


"Ken-kennetth." Yaa penolongnya adalah cowok yang membuat hatinya terluka. Cowok yang membuat perjuangan sia-sia. Siapa lagi kalau bukan Kenneth Raefal Achilles. Orang yang dicintai nya sekaligus orang yang dibencinya.


Bersambung...


Gimana nih guys kisah kelanjutannya. Sienna jumpa sama Kenneth lho. Kira-kira apa yang di lakukan Sienna saat ketemu sama cowok yang di cintainya selama ini yaa?


Ini cerita pertama aku. Jadi maklum kalau masih banyak kesalahan. Masih banyak typo bertebaran.


Thank You:v