
...Happy Reading...
Seorang pria gagah dan tinggi tengah menatap pintu berwarna putih abu-abu. Tangannya bersedekap dada. Jarinya tak tinggal diam.
BRAK!!!
"Pergi....Pergi"
"Aku tidak mau melihatmu"
"Aku membencimu"
Selena terus berteriak. Barang yang ada di ruangan sudah terlempar mengenai para dokter dan perawat yang menangani.
Jhors sudah tak tahan. Akhirnya ia membuka pintu dan betapa terkejutnya ruangan yang sangat mewah berubah menjadi seperti......kapal pecah
Para dokter dan perawat bingung harus berbuat apa. Mereka dituntut untuk menjalankan tugasnya dengan benar. Di sisi lain mereka juga takut untuk menjalankan tugasnya. Karena mereka juga dibekali dengan pesan bahwa tidak boleh membuat nona yang ada di depan mereka terluka. Apalagi nonanya memegang pecah kaca yang siap untuk melukainya kapanpun.
Terkadang hidup membingungkan deh!
Saat Jhors akan melangkah, "STOP" Selena terus berteriak. Dia semakin kacau. Bahkan kakinya mengeluarkan darah karena pecahan pecahan yang ia injak.
"Selena" Jhors melangkah maju, "Stop it"
Selena melangkah mundur, "Do not approach"
Jhors tak menghiraukan perkataannya, ia bergerak mencekal tangan Selena, "Don't touch me" "Don't touch me"
Selena terus memberontak.
Jhors semakin menguatkan cekalannya.
....Dan Selena jatuh dalam dekapan sang papa tercinta. Selena terus memberontak tetapi Jhors terus memberikan usapan pada punggung. Ia mencoba menyalurkan tenaga, semangat, cinta, and kekuatan.
Selena terus menangis di dalam dekapan. Ia mencoba mencurahkan segala ia hatinya yang telah lama ia pendam. Detik itupun tembok kokoh yang ia bangun hancur sehancur hancurnya.
Jhors mengusap punggung Selena sampai dengkuran halus muncul. Jhors melirik mendapati Selena yang tertidur pulas. Ia membopong putinya itu ke kasur agar segera mendapatkan penanganan serius.
Tak lupa ia mencium kening putrinya. Ia terus dan terus menanamkan pandangannya ke arah depan.
Para dokter datang dan menjalankan tugasnya dengan hati yang gundah. Dengan tatapan mengerikan yang diberi oleh Jhors menjadikan mereka sangat takut.
"Nona Selena sudah kami obati tuan." Para dokter dan perawat membungkuk.
"Hmm" Jawab singkat Jhors.
Kemudian mereka segera membereskan ruangan dan pergi dengan cepat. Mereka tidak tahan dengan suasana yang ada. Itu sangat menakutkan.
"Sweet dreams my little fairy"
"Papa akan selalu ada untukmu, oh jangan lupakan mama. Baby" Jhors ikut terlelap dalam tidur di samping Selena.
...~Pagi hari~...
Jhors dengan telaten menyuapi Selena. Pagi hari yang biasanya dipenuhi dengan senyum putrinya kini berubah menjadi pagi suram. Tatapan kosong yang Selena berikan menjadi sayatan tajam bagi hatinya.
"Setelah makan, minum obatnya!" Perintah Jhors dengan nada lembut
Selena hanya mengangguk dan meminum obat yang di sediakan.
Setelah selesai Jhors pergi. Itu bertujuan agar Selena bisa mencoba menenangkan pikiran serta jiwanya yang telah terluka. Ia hanya ingin memberi waktu sendiri agar ia kembali menemukan jati diri yang telah hilang karena bedebah sialan itu.
Ia telah berjanji dengan dirinya sendiri jika ia bertemu dengan laki-laki sialan itu ia akan menyiksanya tanpa ampun. Sampai ia tahu perjuangan Putrinya.
"Papa" Jhors berbalik mendengar suara yang ia rindukan.
"Putri papa yang cantik, don't cry baby" Jhors menghapus air mata yang keluar dari mata Selena.
"Maafkan ku karena mengecewakan papa. Maaaf telah memalukan papa. Maaf karena Selena tidak bisa jadi orang yang mama mau. Maaf karena Selena papa jadi seperti ini" Selena mengungkapkan isi pikirannya dengan menahan tangis.
Jhors menggenggam tangan Selena, "Kamu tidak salah. Kita tidak tau jalan hidup seseorang. Ini semua adalah takdir dan kita hanya perlu menjalankan takdir ini."
"Kalau menurutmu kamu salah, kamu adalah orang hebat. Kamu hebat karena tahu kesalahanmu. Kamu hebat karena kamu bisa meminta maaf. Kamu sangat hebat di mata papa."
"Jadi kamu harus bisa menerima takdirmu sendiri. Jangan terus menyalakan dirimu sendiri, kamu akan terus tersiksa jika seperti ini. Kamu akan terus melukai dirimu sendiri. Jadi cobalah untuk berjalan beriringan dengan takdir. Jika kamu tidak kuat berjalan papa yang akan menuntun mu, jika kamu tetap tidak bisa kamu boleh merangkak. Tapi ingat jangan biarkan hidupmu berhenti. Kamu boleh istirahat tapi jangan biarkan hidupmu berakhir."
Selena langsung memeluk Hero dalam hidupnya ia sangat beruntung memiliki seorang Hero yang bisa ia banggakan dan pamerkan kepada dunia.
"Cobalah untuk memaafkan meski itu tidak dapat memperindah masa lalu tapi itu bisa memperindah masa depan. Percayalah pada dirimu sendiri."
"Panggil kakakmu sekarang" Perintah Anderson-Papa Davide dengan nada tegas yang terdengar garang.
Gretha menuruti perintah sang papa. Ia menaiki lift dan berhenti di lantai 3 masionnya.
Btw, masion itu terdiri dari 5 lantai dengan dilengkapi berbagai fasilitas yang mendukung. Dan lantai 3 hanya digunakan untuk Davide. Bisa dibilang semua ruangan dan fasilitas yang ada di lantai itu semua atas nama Davide. Jadi tidak akan ada yang berani melangkah ke lantai 3 kecuali atas izin Davide. Kecuali adik dan orang tuanya yang setiap kali mengganggu Davide yang tengah tertidur.
"KAKAK BANGUN" Teriak Gretha menggelegar.
"Ni orang kemana sih. Udah lapar, disuruh bangunin kuda nil lagi. Punya kakak satu aja nyusahin" gerutu Gretha. Ia ingin rasanya meneriaki kakaknya yang kebo itu.
"KAKAK, kalau hitungan ke tiga nggak keluar. Aku dobrak pintu sialan ini"
"Satu"
"Dua"
Ia sudah ancang ancang dengan menaikkan satu kakinya yang akan ia gunakan untuk menendang pintu yang ada di depannya.
"Tii....AAAAAA" Gretha tersungkur tepat di depan kakaknya.
Davide hanya melihat tanpa ekspresi. Ia sudah muak dengan tingkah laku adiknya itu. Sebenarnya ia sayang hanya saja tingkah laku adiknya itu tidak normal.
"Aduh" Rintihan sakit dari Gretha dengan mengelus dahinya yang kejedot lantai.
"Apa yang kau lakukan anak kecil?" Davide sama sekali tidak menunjukkan tanda untuk membantu adiknya berdiri.
"Kakak tidak liat ha...Coba bantu ademnya dulu kek, baru tanya"
"Mangkanya nggak ada yang mau sama kakak" Cibir Gretha menusuk hati.
Davide hanya diam.
Gretha yang menyadari mulai mengalihkan topik, "ekm tadi papa nyuruh buat bangunin kuda nil."
Davide menggerakkan tangan untuk menjewer telinga adiknya, "Siapa yang kau sebut kuda nil ha"
Gretha merintis kesakitan. Kakaknya itu selalu menjewer telinganya saat disebut kuda nil. Dan jewerannya benar benar sakit.
"Ampun...ampun kakak....aku meminta dengan setulus hati dengan penuh keyakinan bahwa aku meminta maaf " Davide melepaskan.
"Tapi aku bohong. Ha..ha..ha..ha" Gretha langsung melarikannya diri.
~Ruang makan~
Davide berjalan menuju meja makan. Dan di sana telah terlihat papa, mama, serta adiknya yang sedang makan.
Anderson yang melihat itu hanya diam. Berbanding terbalik dengan Danita yang sedang tersenyum melihat putranya. Dan jangan ditanya Gretha tidak peduli dan tetap makan.
Davide langsung duduk tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Davide, bisakah k...." Anderson mengeluarkan suara yang cukup lantang. Dengan tatapan memburu dan aura yang mencekam mengincar Davide.
Tapi sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, ia ditahan terlebih dahulu oleh istri tercintanya. Istrinya itu memberikan sinyal dari mata 'Biarkan, ini akan baik baik saja'. Anderson tidak berani melawan Danita.
Tidak ada sepatah katapun yang keluar setelah itu. Davide mencoba tidak perduli.
Anderson menyelesaikan makanya dengan cepat,"Temui papa di ruangan kerja. Aku tunggu" setelah itu ia pergi diikuti dengan Danita. Danita menepuk pundak Davide mengisyaratkan bahwa ini akan baik baik saja .
Davide menghela nafas. Ia sudah tidak nafsu dnegan makanannya. Ia kemudian berdiri dan pergi ke ruangan papanya.
Gretha melihat itu hanya acuh. "Mari nantikan chapter terbaru dari kisah kakak".
...❀❀❀❀❀...
Hai guys. Terimakasih atas waktnya
Oh ya jika ada kesalahan kata tolong ingatkan ya....
Jangan lupa jalankan roda hidup dengan penuh senyum dan semangat .
@monaramoon (ig)
See you next chapter
see you guys 'star'
salam hangat author 'moon'