
...Happy Reading...
2 bulan kemudian
Sudah 2 bulan berlalu, Selena perlahan-lahan sudah bisa menerima keadaannya. Dengan dukungan papah, keluarganya, Bian, dan sahabatnya.
Setiap harinya sebelum berangkat bekerja Selena menyempatkan hadir ke peristirahatan terakhir dari sang Mama. Dia berdoa dengan setulus hati menceritakan apa yang ia rasakan apa yang ia lakukan bahkan apa yang tengah ia pendam.
Terkadang kita butuh tempat bercerita. Kita tidak butuh nasihat yang akan semakin memperkeruh hati.
Bahkan terkadang nasihat yang tepat berasal dari hati yang tenang serta pikiran yang terkendali. Seperti apa yang dirasakan Selena sekarang.
Waktu menunjukkan pukul 12.00 PM. Ya dipukul itu semua karyawan tak terkecuali bos mereka juga pergi untuk makan siang.
Tapi lain hal dengan hari ini Selena merasa mual. Ia bolak-balik ke wastafel untuk memuntahkan isi perutnya. Tetapi yang keluar hanya cairan berwarna kuning.
Ia membilas mulut kemudian menyenderkan tubuhnya di dinding kamar mandi. 'akh kepala ku sangat pusing'. Selena menegang kepalanya pandangan mulai kabur. Dan....Dia pingsan.
...°°°°°...
Ruangan yang dominan dengan warna putih di hiasi dengan corak emas. Seorang perempuan tengah terbaring dengan mata tertutup. Infus yang mengalir ke segala penjuru tubuh mengandung kekuatan yang diperlukan.
Perlahan kelopak mata mengeluarkan kekuatan dan tertarik ke atas. Terbuklah mata yang sedari tadi tertutup. Sayup sayup ruangan yang di sinari lampu kuning terdengar di telinganya.
"Peri papa" Jhors memeluk Putri semata wayangnya. "Apakah ada yang sakit?" "Apa perlu papa panggilkan dokter" Jhors berbalik dan saat ia akan melangkah..
Selena mencekal tangan Jhors "No, I don't need that. I need you my father"
Jhors diam sejenak kemudian ia mendaratkan ciuman ke kening Selena. Ia merasa bahwa yang saat ini ia butuhkan hanya kekuatan kasih sayang. Waktu yang telah ia siakan kini tekat membanjiri dirinya untuk menjadi figur ayah yang sesungguhnya.
Why?! Because waktu tidak akan pernah bisa ditukar, diganti, atau bahkan dibeli. Waktu akan terus mengalir seiring dengan takdir yang telah digariskan.
I don't know. But i really believe in destiny
"Apakah kamu kesakitan?" Jhors menampilkan wajah yang khawatir.
Selena menggeleng "No", dia mencoba meyakinkan papanya agar tidak terlalu mencemaskan keadaannya.
Sudah 2 hari lamanya ia berada di ruangan itu. Sejak ia ditemukan tak sadarkan diri di kamar mandi, ia langsung dibawa ke rumah sakit.
Selena diperlakukan bak seorang putri di negeri dongeng. Ia tidak diperbolehkan untuk turun dari ranjang rumah sakit. Ia diharuskan memakan makanan yang dibuat khusus dengan kandungan gizi yang sangat sempurna. Dan... Satu lagi pengaman selalu mengelilinginya.
Saat ini Selena tengah mencari keberadaan papanya. Tadi papanya izin untuk keluar sebentar. Entah mengapa kapi kali ini Selena menginginkan mangga.
Membayangkan saja sudah membuat air liur menetes. Perut terus mengeluarkan dentuman dentuman yang mengusik telinga piliknya.
Akhirnya ia memutuskan mencari papanya itu. Dia juga sudah memberi pengertian kepada para bodyguard untuk tidak mengikutinya. Para bodyguard hanya mengangguk mengingat nonanya itu ingin bertemu tuannya.
Pandangan yang menyejukkan mata. Senyuman dari berbagai insan menghiasi langkah demi langkah yang ia ambil. Sampai sudut pandang menangkap sesosok yang ia cari.
Ia menghampiri papanya, tangannya terangkat dengan lima jari terbuka. Papanya sedang mengobrol dengan salah seorang yang pastinya seorang dokter. Ia kemudian mendekat dan ...
Prang!!!
Selena membeku tangannya membekap mulutnya sendiri. Pikirannya kacau pertahanan yang ia jaga runtuh seketika. Tak sadar kakinya melangkah mundur setelah mendengar perkataan yang mengejutkan keluar dari mulut sang dokter. Sampai ia tak sengaja menyenggol vas.
"Selena!"
"Nona!"
Teriak sang papa dan dokter secara bersamaan.
Prang!!!
Davide memegangi dadanya yang entah mengapa terasa sesak. Sam yang melihat sahabat sekaligus bosnya itu langsung membantu Davide berdiri.
Sam mendudukkan Davide di sofa, "Are you okay?"
Davide masih bergelut dengan pikirannya sendiri. Entah kenapa belakangan ini ia merasa sangat aneh. Seperti ada ikatan antara orang lain. Hatinya sangat tidak menentu. Dan sekarang ia merasa sangat sesak.
Davide menghembuskan nafas pelan, "I don't know!" Dan tiba tiba terlintas bayangan seorang perempuan yang sangat ia rindukan. Seseorang yang selalu mengganggu saat pagi siang sore malam menjelang pagi lagi.
Sam khawatir dengan kondisi Davide. Dan menyarankan agar istirahat. Ia akan mengurus semua urusan kantor sampai bosnya itu pulih.
Kemudian ia menyarankan agar pulang ke masion keluarga. Davide hanya mengangguk. Mereka bergegas menuju parkiran. Dengan Sam yang menyetir.
Sam menoleh, "Serius, apa yang kau rasakan?"
"Aku juga tidak tau. Akhir akhir ini aku merasa bukan diriku. Entahlah aku begitu penat" ia tak munafik dengan segala yang ia rasakan.
"Saranku urus hatimu dulu!" Sam melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Davide yang mendengar apa kata Sam hanya bisa diam. Dia terus melihat cendela mobil.
Sampailah mereka di masion keluarga Davide. Mereka disambut beberapa pelayan dan bodyguard. Memang masion tersebut penjagaan yang dimiliki sangat ketat.
"Davide Sam ada apa dengan kalian?" Tanya Danita-Ibunda dari Davide saat melihat putra dan sahabat/sekertaris dari sang putra memasuki ruangan utama.
Davide yang menunjukkan raut wajah yang tidak bersahabat membuat Danita bertambah kekhawatirannya. Tidak biasanya Davide akan pulang di jam jam kantor seperti ini. Ia sangat dikenal dengan kegilaannya dalam bekerja. Tapi hari ini.......very rare moment.
Davide tidak menjawab pertanyaan mamanya. Ia mengecup singkat dahi sang Mama kemudian pergi ke kamarnya.
Sang adik yang berpapasan dengan kakaknya pun bingung. Tak biasanya kakaknya seperti itu. Kakaknya hanya melewatinya tanpa ada sapaan.
'Wah... itu bukan seperti kakakkuu'
"Sam jelaskan!" Ucap tegas Anderson-Papa Davide yang tiba tiba muncul dari arah taman.
Sam menghembuskan nafas berat. Dan kemudian ia menceritakan secara umum apa yang dialami Davide. Dia merasa tidak pantas menceritakan apa yang dialami sahabatnya. Seharusnya sahabatnya lah yang memiliki hak untuk menceritakan kerumitan kisah ini.
Terkadang kita terjebak dalam situasi yang membingungkan.
...❀❀❀❀❀...
Hai guys bagaimana dengan chapter ini?
Terimakasih telah mendukungku. Ah aku ada sesuatu yang ingin ku katakan_bacalah!!
...Pandangan kita terhadap dunia sering berubah tergantung umur yang kita miliki. Jika kalian terkadang merasa sangat lelah istirahat dan buat hidupmu bahagia dengan apa yang kalian inginkan. Aku tidak bertemu dengan kalian tetapi aku percaya kalian seseorang yang kuat, baik, dan pantang menyerah. Semangat kaliaan!!!...
aku sangat percaya dengan kalian. Jadi kalian jangan merasa sendiri oke.
Jangan lupa nantikan chapter terbaru ya.
@monaramoon (ig)
[jangan lupa mampir di blog pribadi author ya]
See you next chapter
See you love (star)