Can'T Stop Loving You

Can'T Stop Loving You
Chapter 12



...Happy Reading...


Davide memasuki ruangan kerja sang papa. Di sana ia bisa melihat foto yang sangat besar terpampang di dinding belakang kursi sang papa. Anderson, Danita, Davide, Gretha merupakan personil dari foto tersebut bisa dibilang itu merupakan foto keluarganya.


"Apakah ada yang ingin papa bicarakan denganku?" Davide berdiri menghadap Anderson.


Anderson membalikkan kursi yang tadinya menghadap foto menjadi menatap sang anak.


Alih-alih berbicara ia malah melemparkan potret seorang perempuan yang terkesan candid tek menghilangkan pesonanya.


Davide terkejut bukan main, "Anda sudah melewati batas". Davide geram dan sengaja menggunakan embel embel Anda dari pada kata papah.


"Hahaha.... seharusnya saya yang marah dengan kelakuanmu Davide." Anderson menjawab dengan sangat tenang disertai gelak tawa.


Davide langsung mengambil semua foto yang berserakan di meja maupun di lantai. "Anda hanya orang bejat yang sok berkuasa."


Suasana di ruangan tersebut kembali memanas. Keduanya terus menggeluarkan tatapan yang menyeramkan.


"Saya tidak pernah mengajarimu seperti itu Davide." Ucap lantang Anderson.


Davide menjawab dengan santai. "Asal anda tau tuan Anderson. Anda sama sekali tidak pernah mengajari saya apapun. Ingat itu.." Davide sudah muak dengan semuanya.


Ia sudah cukup diam dengan kenyataan. Tapi setelah seorang perempuan datang ke kehidupannya dan pergi setelah menanamkan cinta, emosinya kembali tidak stabil. Meski hanya pertemuan singkat dan bisa dibilang 'One Night Stand' tetapi takdir membawa mereka dengan pertemuan yang sangat tidak terduga.


Prang....


Anderson geram dan membanting cangkir kopi yang ada di mejanya.


"PAPAH, KAKAK"


"PAPAH, DAVIDE"


Setelah mendengar pecahan dari ruangan kerja Anderson. Danita dan Gretha yang sedari tadi menguping di depan pintu langsung menerobos masuk.


Mereka khawatir akan terjadi adu jotos seperti sediakala. Memang hubungan antara papa dan anak itu sedikit tidak akur. Anderson sangat emosional bertemu dengan Davide yang keras kepala menjadi perpaduan yang menyenangkan.


Anderson menghela nafas. Kemudian menghampirinya istri tercintanya, "Sayang"


Anderson bergelayut manja di lengan sang istri. "Kenapa mamah kesini?hmmm.." Anderson masih setia dengan posisinya tanpa mempedulikan anak anak mereka yang melihat.


Anderson terkenal dengan sikap emosinya. Tetapi dia tidak akan melakukan apapun tanpa memikirkan akibat yang ditimbulkan. Meski emosional tetapi dia masih memiliki akal sehat.


Di dalam lingkungan keluarga pun ia tak jauh berbeda tetapi yang membedakan karena terdapat 'Danita'. Bisa dibilang Danita adalah pawang dari seorang Tuan Anderson.


Danita datang bagai sebuah matahari di kehidupan Anderson. Danita lahir dari keluarga konglomerat di Jerman. Dia dibesarkan dari seorang singel parents. Ibunya meninggal dua hari setelah ia berada di dunia. Ibunya sempat kehilangan banyak darah dan dinyatakan koma. Tetapi tuhan berkehendak lain ia meninggal setelah berjuang untuk menjadi figur ibu sesungguhnya.


Namun begitu, ia sangat mencintai seseorang yang telah mempertahankan nyawanya untuknya. Ia dibesarkan oleh ayahnya dengan penuh kasih sayang. Ayahnya tidak ada niatan untuk menikah kembali karena cinta yang begitu besar kepada mendiang ibu Danita.


Gretha berjalan ke arah kakaknya, "Apakah kamu terluka?"


Davide menaikkan salah satu alisnya dan menepuk pundak Gretha.


Alih-alih menjawab Davide berniat pergi. Sebelum pergi tak lupa mendaratkan kecupan singkat kepada sang adik. Gretha tak kalah cepat untuk menghapus bekas kecupan itu. Dan ia juga memberikan kecupan kepada mamahnya yang amat ia sayangi.


'Cup' Satu kecupan pipi di daratkan kepada Danita. Segeralah sang pelaku melarikan diri.


"DAVIDE" Teriak Anderson saat melihat putranya mendaratkan ciuman untuk sang istri. Ya memang Anderson sangat posesif meski dengan putranya sekalipun. Dan Davide dengan keras kepalanya menyiksa Anderson.


Davide keluar dari ruangan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Suara menggelegar terdengar dari pintu yang terbanting oleh sang pelaku.


"KEMBALI KAU DAVIDE. AKU AKAN MEMBLACKLIST AGAR KAU TIDAK BISA MASUK KE MASION INI LAGI........INGAT ITU DAVIDEEEEE"


•••••


Di sebuah kamar terdapat seorang gadis yang mengoleskan make up. Terlihat raut antusias yang dipancarkan dengan senyum mengembang.



"Hai baby, apa yang kamu lakukan di sana hmmm..." Selena mengusa perutnya yang membesar.


Waktu tak terasa sudah berjalan semestinya. Sudah 1 bulan lamanya sejak ia kejadian terakhir yang ia alami.


Dan kini kandungannya berusia 8 Minggu. Dengan berjalannya waktu ia mulai menerima kehadiran bayi kecil itu. Dan sekarang ia sangat mencintai bayi yang ada di kandungnya. Tak lupa dukungan dan cinta yang diberikan oleh orang-orang terdekat kepadanya menjadikan ia lebih berharga.


"Bayi mungil, kita akan pergi ke studio foto. Let's go" Selena membereskan barang yang akan ia bawa. Rencana yang ia buat hari ini akan ia gunakan untuk membuat sebuah kenangan yang tercetak indah.


"Pagi nona" Sapa salah satu maid saat melihat Selena menuruni tangga dengan senandung kecil.


Selena tersenyum, "Pagi, dimana susuku?"


"Oh, saya sudah membuatkannya."


"Terima kasih" Selena lantas menghabiskan susu coklat khusus ibu hamil itu. Ya rutinitas paginya meminum susu dan memakan sereal. Karena sejak hamil ia jarang memakan nasi saat pagi. Entahlah....


Ia mengemudi mobil sendiri dengan kecepatan rendah. Ia terus terusan berbicara dengan bayi mungil. Ya memang itu menjadi kebiasaan barunya.


Dan sekarang sampailah ia di studio foto. Kemudian ia melakukan sesi pemotretan.


"Wah, aku tidak menyangka kamu hebat dalam sesi ini" Ocehan seorang fotografer perempuan yang notabene adalah teman kuliahnya.


"Yah, aku hebat dalam segalanya" tanggapan Selena yang disertai candaan.


"Baiklah nona muda. Dan lihatlah kamu mendahuluiku. Aku lebih tua darimu tapi lihatlah kamu pregnant lebih dulu"


"Ya mungkin kamu ditakdirkan selalu kalah denganku! Hahahahaaa." Mereka terus bercanda dan memang mereka jarang berkomunikasi karena kesibukan masing-masing.


Setelah selesai dengan pemotretan itu Selena pulang dan langsung beristirahat. Ia harus mengisi tenaga untuk penerbangannya nanti. Ya, hari ini hari terakhir ia berada di negara ini. Ia akan pindah ke tempat dimana jauh dari kebisingan.


Dia akan pindah di suatu pulau yang telah dipatenkan hak milik Jhors. Pulau pribadi ini telah disulap dengan keindahan yang ada akan menyenangkan mata. Di ditu sudah terdapat masion yang tak kalah besar dan juga tempat khusus kesehatan yang telah di desain seperti rumah sakit dengan peralatan yang canggih serta lengkap.


...°°°°°°°...


Selena memandangi negara tempat dimana ia di besarkan. Banyak kisah yang terukir. Kisah yang membentuk tulangnya menjadi lebih kokoh. Terlalu banyak suka dan duka yang tercipta.


' Terima kasih telah menjadi tempat dimana aku bisa melihat keindahan dunia, menjadikan seorang sepertiku dikenal. Hidupku mungkin tidak amat sempurna tetapi terima kasih karena menjadi wadah dimana keluarga kecilku berada. Selamat tinggal U.S.A. See youuu. '


'Aku akan pergi dan meninggalkan mu mama. Tetapi itu tidak akan lama. Aku akan kembali dengan bunga yang kamu sukai'


"Selena, ayo" Teriak Jhors dari pesawat membuyarkan lamunan Selena. Jhors hanya ikut mengantar dan akan kembali lagi. Tetapi ia akan terus menengok putri serta calon cucunya.


...❀❀❀❀❀...


Hai guys terima kasih telah membaca ini. Terima kasih telah mendukungku.


See you,....


Bye guys


@monaramoon


Bye love