
"pagi jes."sapa gea dengan senyum lebar dan itu hanyalah sandiwara.
"tenang jes gue udah maafin lo kok."lanjut gea seraya tersenyum lembut.
"gue nggak butuh maaf dari lo."ujar dingin jessa yang membungkam mulut gea.
"jes, niat dia baik kenapa lo malah kayak gini?"tanya kevin dengan menahan amarah.
"baik? Hahaha iya dia baik bahkan sangat baik hingga membuat lo bodoh karna lebih mempercayai si ratu ular." bentak jessa dengan menunjuk kevin dan gea bergantian.
"lo apa-apan sih jes!! Sopan santun lo mana!" sentak jastin yang bahkan tidak menyebut jessa dengan panggilan 'dek'
"apa lo juga percaya sama ratu ular ini bang?" tanya jessa menatap kembarannya lirih lalu pergi meninggalkan kelas. Dan saat ia keluar tepat berpapasan dengan alga dan varo yang baru datang ,mereka menatap jessa dengan pandangan yang sulit di artikan.
Jessa berlari memaikki tangga menuju roftoop lalj menangis sejadi-jadinya melepaskan semua kekesalan, kekecewaan, penderitaan yang ia alami.
"ck.ck.ck.seorang pahlawan akhirnya terkalahkan." jessa mengepalkan tangannya saat mengenali suara sinis yang berasal dari belakang nya.
"mau lo apa yang sebenarnya?"
"gue mau rebut kevin bahkan semua orang yang sayang sama lo bahkan kakak lo dan yang lain sudah tunduk du genggaman gue. And yang paling penting gue mau lihat lo menderita." ujar gea sinis.
"lo nggak akan bisa bikin hidup gue menderita."
"ah masak sih?"kekeh gea lalu mendorong kencang hingga membuat tubuh jessa terjengkal dan hampir saja ia jatuh dari lantai 5 kalau ia tidak menggenggam erat pembatas rooftop.
Semua murid yang ada di bawah berteriak histeris saat melihat ada orang yang akan jatuh, jastin dkk yang penasaran bergegas keluar untuk memeriksa dan betapa terkejutnya saat melihat jessa sedang menahan diri agar tidak jatuh dari lantai 5.
Jastin dan yang lain berlari kencang menaiki tangga,nafas mereka terengah-engah saat sudah tiba di rooftop.mereka semua terkejut saat melihat gea mengerang kesakitan dengan darah yang mengalir di dahinya, jastin yang tidak memperdulikan itu langsung berlari menolong kembarannya.
"bang. "ucap jessa lirih. Tanpa banyak omong jastin dengan segera menarik tubuh jessa.
Jessa memeluk jastin erat di sertai tangisan berharap ketakutan nya bisa hilang."ma-makasih bang." ujar jessa terbata-bata.
"ge, lo kenapa?"tanya kevin khawatir.jessa yang mendengar itu melepaskan pelukannya lalu menatap gea.
"gu-gue tadi mau di dorong je-jessa tapi saat gue melawan kepala gu-gue di bentur kan ke ujung kursi, dan saat jessa mau mendekat gue tanpa sengaja mendorong jessa hingga ia hampir terjatuh."ucap terbata gea dengan menangis sesenggukan di pelukan kevin.
"ge, lo kok bohong sih!? Vin dengerin gue itu semua nggak bener vin."ujar jessa dengan nada yang hampir membentak.
"dia tadi yang dorong gue dan dia tapi bilang ingin rebut lo dari gue dan bikin gue menderita, kalian semua tolong percaya sama gue." lanjut jessa dengan sesekali mengusap air mata yang keluar.
"CUKUP JES." bentak kevin yang membuat jessa seketika menatap kevin nanar.
Kevin melepas pelukan gea lalu berjalan mendekati jessa, ia menarik kasar jessa hingga membuat pergelangan tangannya memerah. Kevin dengan tiba-tiba menampar keras jessa, sedangkan jastin dan yang lain mengepalkan tangannya erat akan tetapi mereka tidak melakukan sesuatu untuk membela jessa.
Jessa memegang bekas tamparan jessa lalu tertawa keras bagaikan orang gila."hahahahaha lo nampar gue demi cewek bajingan kayak gitu vin."tanya jessa dengan mata yang memerah menahan lelehan air yang akan keluar.
"vin kenapa lo nampar jessa, gue udah maafin jessa kok."ujar gea lirih dengan berjalan mendekati jessa lalu memegang pundak jessa, akan tetapi jessa langsung menghempas kasar gea hingga ia terjatuh.
"JANGAN SENTUH GUE!!LO TERLALU KOTOR BUAT NYENTUH GUE!!! GUE KECEWA SAMA LO GEE!! LO TU BERMUKA DUA!!!LO NGGAK PUNYA HATI!! LO HANYA MEMIKIRKAN DIRI LO SENDIRI TANPA MEMPERDULIKAN ORANG DI SEKITAR LO!! lo tu nggak pantas di sebut sahabat!! Bahkan kata teman pun buat lo itu juga gak pantas!! Lo tu orang nggak tau terima kasih gee!! Lo bangsat!!."bentak jessa meluapkan amarahnya.
"JESSA CUKUP!! Gue muak sama sifat kekanakan lo. Lebih baik kita putus." bentak kevin yang mampu membuat air mata jessa yang ia tahan lolos.
Jessa terkekeh."lo mutusin gue hanya karna dia vin!! BODOH LO VIN!! lo lebih percaya sama orang BAJINGAN INI dari pada pacar lo sendiri!! Ups sorry maksut gue mantan."
"jes--"ucap gea terpotong.
"APA!! Kurang baik apa gue sama lo ge?? Bahkan gue rela mempertaruhkan nyawa gue demi lo saar lo di culik musuh !!! Tapi balasan lo ke gue? Ahahaha,semua keluh kesah yang gue hadapi gue selalu cerita sama lo gue kasih kepercayaan yang besar buat lo ge!! " jessa terkekeh saat mengingat kenangan-kenangan saat bersama gea.
"dan lo vin lo akan menyesal."jessa mengusap air matanya kasar lalu berjalan meninggalkan mereka semua.
Sebelum turun tangga jessa menghentikan langkahnya. "ingat satu hal vin!! Gue nggak akan ambil sesuatu yang udah gue buang, karna prinsip gue sesuatu yang gue buang itu tandanya sudah tidak layak untuk di pakai. Selamat menikmati hidup yang sebentar lagi akan penuh dengan penyesalan Kevin arga alexander."ujar jessa dingin lalu melanjutkan jalannya.
...***...
Jessa melangkahkan kali menyusuri jalanan yang saat itu sangat sepi tanpa pengemudi satu pun,ia menangis saat mengingat kevin membentaknya, menamparnya dan dia lebih percaya dengan orang lain dari pada pacarnya.
Jessa menjatuhkan tubuhnya di jalan." KENAPA !!!!! KENAPA HARUS GUE TUHAN!!! GUE LELAH GUE MUAK DENGAN SEMUA INI,gue mau semua ini berakhir,gue ingin bahagia!!!"teriak jessa dengan air mata yang mengalir akan tetapi air matanya tersamarkan dengan air hujan yang mengguyurnya.
"gue memiliki semuanya, harta, tahta ,derajat yang tinggi bahkan kekuasaan. tapi itu semua tidak bisa membuat gue bahagia!! " lanjut teriak jessa dengan memegangi dadanya yang terasa sangat sesak.
Kilat bergemuruh sekan tau apa yang hati jessa rasakan, dengan tekad jessa bangkit lalu berlari menyusuri jalan setapak hingga langkahnya berhenti di jembatan dengan arus air yang sangat deras.
dengan tekad yang matang dengan pelan jessa menaiki pembatas jembatan lalu ia merentangkan kedua tangannya." selamat tinggal dunia yang keji ini,mommy daddy jessa datang."jessa tersenyum lalu menerjunkan tubuhnya dari atas jembatan yanv memiliki arus air yang sangat deras.
Kulit mulus nan putih milik jessa bersentuhan dengan air yang sangat dingin hingga rasanya seakan-akan di tusuk dengan ribuan es yang sangat tajam, tubuh mungil jessa terseret terbawa arus dan banyak pula air yang sudah memasuki paru-parunya. Dengan pelan jessa memejamkan matanya di selingi senyuman yang sangat tulus.
Sebelum tubuh jessa lebih jauh lagi terseret arus tiba-tiba seseorang berbadan kekar menarik tubuh jessa hingga kedalam dekapannya dan berusaha sebisa mungkin untuk sampai ketepi sungai.
...***...
Leonard mengendarai mobilnya pelan karna ia malas untuk mengendarai saat keadaan hujan deras. Ia sesekali berdecak kecil saat memikirkan gadis yang kemarin malam datang ke kamar hotelnya yang mengatakan xavier,kakaknya ingin meminta maaf kepadanya.
"gue harus cari diakemana!! Kenapa informasi tentang nya sangat sulit di dapatkan seakan-akan identitasnya itu sangat di rahasiakan dan di jaga ketat." gumam leonard dengan memukul stir kemudi.
Tiba-tiba ia menghentikan mobilnya mendadak saat melihat gadis yang terlihat sangat kacau berlari menuju jembatan yang ada di sebelah jalan. Tanpa basabasi leonard membuka pintu mobil lalu ikut menyusul perempuan yang ia lihat tadi,akan tetapi nafas leonard tercekat saat melihat perempuan itu terjun dari atas jembatan.
Leonard dengan segera melepas spatunya lalu ikut menjatuhkan diri dari atas jembatan guna untuk menyelamatkan sang gadis. Tangan kekarnya berusaha menggapai tangan mungil sang gadis hingga akhirnya ia bisa menggenggam erat pergelangan tangan gadis lalu menariknya hingga sampai kedalam dekapnnya.
Ia berusaha membawa gadis itu ke tepi sungai walau sangat kesulitan di karenakan arus sungai yang sangat deras. Setelah berhasil sampai di tepi sungai leonard membaringkan tubuh sang gadis pelan dan lagi-lagi ia terkejut saat mengetahui gadis itu yang kemarin malam datang ke kamar hotelnya.
"jessalyn."gumam leonard lalu menekan-nekan dada jessa agar air yang tak sengaja ia telan dapat keluar.
Jessa terbatuk-batuk setelah air yang ia telan berhasil mengeluarkan."uhuk uhuk."
"lo nggak papa."tanya leonard yang di jawab gelengan oleh jessa.
Dengan sekuat tenaga jessa duduk." kenapa lo nyelametin gue!! Biarkan gue mati agar bisa lepas dari semua penderitaan inii!!" bentak jessa yang menangis sesenggukan dengan memukul-mukul dada bidang leonard.
Leonard yang bisa merasakan penderitaan gadis di depannya ia mendekap erat agar membuat sang gadis merasa lebih tenang.
"gue lelah, kenapa lo malah nolongin gue biarkan saja gue mati, gue udah muak dengan semua ini" rancau jessa yang ada di dekapan leonard sembari menangis sesenggukan yang di samarkan dengan air hujan yang deras.
Tanpa sepatah kata leonard membopong tubuh jessa menuju mobil yang ia tinggalkan tadi,ia mendudukkan jessa di samping kursi kemudi dengan perlahan lalu berlari memutari mobil dan duduk di sebelah jessa. Leonard mengambil hoodienya yang ada di kursi penumpang lalu memakaikannya ke jessa agas ia tidak kedinginan.
leonard membawa jessa ke apartemennya, karna lebih dekat dari posisinya sekarang ini. Beberapa menit leonard sudah sampai di apartemen nya lalu dengan segera ia membopong tubuh lemah jessa masuk,Dengan pelam ia membaringkan tubuh jessa.
"lo,, ganti baju dulu gih.gue keluar dulu kalo udah panggil gue. Oh ya, pakek baju gue aja soalnya gue nggak punya baju cewek. " ucap leonard yang di angguk i jessa.
Lima menit berlalu leonard kembali memasuki kamar karna tadi jessa sudah memanggilnya.
"kenapa lo nyelametin gue?"
Leonard terdiam mendengar pertanyaan jessa. "kenapa lo mau bunuh diri?" tanya balik leonard.
Jessa membuka mulut nya kala leonard menyuapkan bubur untuknya. " kenapa lo balik tanya? "
"because I want."
"udah," ujar jessa saat leonard mau menyuapi nya lagi.
"gue lelah.hidup gue rumit!!" lanjut jessa dengan melihat leonard sendu.
"boleh gue tau masalah lo? " leonard bertanya.
"kalo lo belom siap nggak usah di paksakan." Lanjut nya saat melihat jessa menunduk.
Jessa mengambil nafas banyak-banyak kemudian ia menceritakan semua lara yang ia rasakan. Ia kembali menitikkan air mata kala ia mengingat bagaimana kevin membentaknya bahkan menamparnya. Seketika pula rahang leonard mengeras karna ia tidak akan terima jika ia melihat perempuan di sakiti.
Leonard mendekatkan tubuhnya ke tubuh jessa lalu mendekapnya erat mencoba menyalurkan energinya. Tak lupa tangan kirinya mengusap punggung jessa agar sang empu menjadi lebih tenang dan tangan kanannya memegang erat tangan jessa yang gemetar di karenakan menangis.
"only stupid men dump girls,tidurlah." ucap leonard pelan bahkan seperti berbisik.