
Kini jessa terus berlari menuju petugas yang ada di bandara, ia tidak peduli dengan orang yang tidak sengaja ia takbrak bahkan ia juga mengabaikan rasa sakit yang ada di kakinya di karenakan jatuh karna tergesa-gesa.
"excuse me sis. Apakah benar bahwa pesawat yang LA mengalami kecelakaan."tanga jessa dengan gemetar.
"iya nona,kini tim sar sedang melakukan pencarian korban yang ada di pesawat tersebut." mendengar itu kaki jessa lemas bagaikan jelly hingga tak bisa menahan tubuhnya,jessa jatuh terduduk dengan kepala menunduk,jastin dan yang lain yang baru sampai melihat keadaan jessa yang menangis dalam diam langsung bisa menyampaikan bahwa kabar itu memang benar.
Jastin berjalan mendekati jessa lalu berjongkok di depannya.
"bang."panggil jessa lirih dengan mengangkat kepalanya.
"mommy,daddy bang. "ujar jessa dengan air mata yang mengalir.
"syutt. do not cry baby, there is me who will always take care of you."
"no. Jessa mau mommy daddy bang!!mommy bohong sama jessa, ka-kata mommy akan segera pulang tapi mom and dad---" jessa tidak sanggup melanjutkan ucapannya,karna baginya itu akan membuat hatinya semakin sakit.dan satu hal yang bisa ia lalukan kini hanya menangis dalam dekapan kembaran sekaligus kakaknya.
"please dek jangan nangis."lirih jastin dengan menahan air mata,jika ia mengedipkan matanya sekali maka sudah di pastikan air mata yang ia tahan aka terjatuh.
"lily"panggil kevin yang ikut berjongkok di samping si kembar.
Jessa pun perlahan melepaskan pelukannya dan beralih menatap nanar kevin.
"vinn,ini semua nggak benerkan? Ini semua cuman bohong kan vinn, gue nggak mau kehilangan orang tua lagii!! Ba-baru kemarin gue bisa merasakan pelukan hangat dari orang tua gue vinn.gue nggk mau kehilangan mereka."teriak jessa dengan memukuli dada bidang kevin. Kevin pun berusaha memeluk nya guna untuk menenangkannya.
"tenang lily lo harus ikhlas biar orang tua lo tenang di sana."
Jessa yang dalam dekapan kevin terus memberontak." kenapa tuhan nggak adil sama gue, gue hanya ingin mendapatkan kasih sayang dari orang tua gue aja vinn, gue dan abang gue dari kecil sama sekali tidak pernah merasakan pelukan hangat dari orang tua. Dan baru saja kemarin kita merasakan itu dan sekarang kita harus kehilangan untuk selamanya."
Jastin dan yang lain menangis pilu mendengar rancauan jessa, bahkan orang-orang yang sedang ada di bandara juga ikut menangis kala melihat rapuhnya seorang gadis yang baru saja di tinggal orang tuanya untuk selamanya.
"jess kita pulang dulu yuk,tenangin diri lo dulu. " ajak gea.
"gue nggk mau ge!! Gue mau tetep di sini nunggu mommy dan daddy pulang!!!"
"dek lo nggak boleh kayak gini !! Lo pikir di sini cuman lo doang yang sedih?, gue juga sedih kayak lo, gue bahkan ngerasain rasa sakit ini dua kali lipat dari lo. Karna saat gue lihat lo nangis maka di situlah titik terlemah gue. "
"gue nggk mau kehilangan mommy daddy bang, gue nggam mau!!!," teriak jessa dengan tangisan pilu.
Setelah lama jessa menangis kini kesadaran nya mulai melemah hingga kegelapan menjemput nya. Kevin pun yang sadar akan itu langsung membopong tubuh rapuh kekasihnya itu menuju mobil yang mereka pakai tadi.
...***...
seorang gadis cantik duduk termenung di balkon kamarnya dengan menatap bintang yang ada di langit.walaupun arah pandang nya melihat suatu objek, tapi jika ada orang yang melihat dengan teliti itu hanyalah tatapan kosong dan tubuhnya itu ada tapi bagaikan tanpa adanya kehidupan di dalamnya.
Ya! Gadis itu adalah Jessalyn Queendara fermilion dan sudah seminggu pula ia di tinggal kan oleh kedua orang tuanya untuk selamanya.
"makan nya pelan-pelan princess.jangan buru-buru kayak ini masakan terakhir mommy aja. "
"jangan bilang gitu mom."
"iya-iya ntar mommy masakin rendang yang banyak buat anak-anak kesayangan mommy. "
"mom."
"ya princes?,"
"aku mau kita tidur bareng udah lama kita tidak tidur bareng."
"manja lo. "
"sakit bang!! Dadd lihat bang jastin jahat sama jessa."
"prince nggak boleh gitu sama adeknya!!,"
"hati-hati mom dad jessa akan merindukan kalian. "
"kami akan segera kembali sayang."jawab nando.
"itu pasti mom."
Keping-keping memori saat bersama kedua orang tuanya terus berputar bagaikan kaset yang macet. Jessa menelungkupkan kepalanya di kedua kakinya di iringi tangis nya yang tak dapat terbendung lagi.
Jessa pun tersentak saat mendapat usapan lembut di kepalanya,ia pun dengan perlahan mendongakkan kepalanya dan dapat di lihat orang yang mengusap kepalanya tadi adalah kekasih nya kevin.
"ngapain nggk tidur hm?, "tanya lembut kevin.
Kevin pun mendudukkan diri di sebelah jessa. "masih sore vin. " kevin yang mendengar jawaban itu langsung menyentil pelan kening jessa.
"jam satu malam lo bilang sore hm?, "
"hah! Gue nggk tau kalo udah larut malam."jawabnya dengan cengiran kecil.
"princes dengerin gue. Sudah seminggu lo ngurung diri di kamar mulu,iklasin kedua orang tua lo baby. jangan terus membebani kedua orang tua lo dengan sikap lo yang kayak gini. Mereka pasti sedih saat lihat putrinya rapuh."
" dan apa lo nggak kasihan sama abang lo??bahkan lo suruh dia keluar dari kamar lo saat ia mau membujuk lo makan?? Dan asal lo tau,Dia selalu nunggu lo di depan pintu berharap lo bukain pintu untuknya. bahkan tadi saat gue kesini lihat dia ketiduran di depan pintu kamar lo princes."
"jastin nggak salah sama lo dan kenapa lo malah menjauhinya dengan alasan ingin menyendiri?? Bukan lo doang yang sedih, jastin juga sedih atas kepergian nyokap bokap lo. "
"princes gue mohon sama lo,jangan kayak gini ada gue,ada jastin dan ada teman-teman kita yang sayang sama lo. " tutur kevin panjang kali lebar dan itu berhasil membuat jessa sadar. Ia menangis dalam dekapan kevin,ia merasa bersalah karna telah mengacuhkan kakaknha itu.
"lo... Kapan ada di sini?, "tanya jessa dengan mengusap air matanya.
"gue bahkan dari satu minggu yang lalu nginep di rumah lo honey."
Jessa pun tersenyum lirih karna menyadari kebodohannya karna tidak mengadari kekasihnya itu ada di rumahnya.
"gue mau ketemu sama abang gue. " ijin jessa yang di balas dengan anggukan.
Jessa berjalan menuju kamar jastin yang ada di sebelah kamarnya,dengan perlahan ia membuka pintu kamar jastin dengan tangan gemetar.
Gelap.itu yang ia lihat saat pertama kali saat membuka pintu kamar kembarannya itu. Jessa berjalan pelan menuju ranjang jastin, dan ya!! Jastin kini tengan duduk bersandar di kasur king size nya.
Jessa menatap miris kamar jastin, banyak gelas pecah bahkan kaca di kamarnya juga pecah.
"bang."panggil jessa pelan.
Jastin pun mendongak dan terkejut saat melihat adik kecilnya berdiri di samping ranjangnya.
"dek... "
"maaf, maaf, maaf, maaf bang. Maafin gue,gue salah gue bodoh karna bikin lo kayak gini."tangis jessa dengan memeluk erat kakak laki-lakinya itu.
"syutt.. Lo nggak salah dek, ini udah di takdir kan tuhan. "
"maafin gue bang.hiks..gue sayang banget sama lo."
"gue juga sayang banget sama adek kecil gue."
"udah sekarang tidur gih udah malem.besok lo mau sekolah atau istirahat dulu?,"lanjut tanga jastin.
"mau tidur sama abang aja, oh iya besok gue mau sekolah bang.udah lama nggak sekolah ntar fens-fens gue pada nyaring."gurau jessa.
"mana ada coba?, "
"ihh ada!!"
"masak sih?? Itu fens-fens gue dek.bukan fens lo."
"abang mah gituu!!" rajuk jessa. Jastin pun yang gemas langsung mencium pipi jessa.
"udah tidur baby."