
kini jessa dan yang lain sudah duduk manis di mansion milik sikembar. "jes gue laper lo punya cemilan nggak?"tanya louwis.
"ada ambil aja di dapur."jawab jessa sembari memainkan handphone nya.
mereka berempat sibuk dengan urusannya sendiri seperti kini varo dan alga yang bertengkar di karenakan mereka tengah berebut remot tv.
"gue duluan yang ambil remotnya ga."kesal varo saat alga merebut remot tv yang baru ia pegang.
"masak sih?"jawab alga.
"ck.siniin remot nya. ato lo gue baku hantam."ancam varo.
"siapa takut."sahut alga yang membuat varo semakin kesal.
"tapi sorry kuku gue baru selesai perawatan nanti kalo buat mukul tampang lo yang pas-pasan jadi jelek lagi nih kuku."
"bangsat!! lo bilang tampang gue pas-pasan?"sentak alga yang tengah naik pitam.
"iya kenapa? lo nggak trima."ujar varo yang semakin mengobarkan api dalam jiwa alga.
alga yang tengah menahan emosi melempar bantal yang ada di sebelahnya kemuka tampan varo"muka lo tuh kayak babi."
"anjing sakit bego!! "bentak varo yang juga melempar bantal kearah muka alga.
"siniin remotnya."lanjut varo dengan mencoba meraih remot yang kini dibawa alga.
"nggak!! gue akan kasih ntu remot kalo lo bilang alga ganteng dan varo jelek."tawar alga dengan tersenyum miring.
"ogah!!."jawab sinis varo.ia pun menarik kaki alga yang membuat sang empu terjatuh dari sofa yang ia duduki.
tanpa menyia-nyiakan kesempatan varo dengan gesit merebut remot yang jatuh tepat di sebelah alga.
"anjing!!sakit banget pantat gue."gerutu alga.
"ahahaha mampus lo."ejek varo dengan memelekkan lidahnya.
alga yang tidak terima mencoba menyerang varo tapi sudah terlebih dahulu di hadang jessa.
"jangan kasar sama varo alga. kasihan bayi gede gue kalo nangis."tegur jessa.
"tapi dia dulu yang jatuhin gue dari sofa."kesal alga dengan menghentak-hentakkan kaki layaknya seorang anak kecil.
"udah pokoknya lo jangan bikin bayi gede gue nangis!" ujar jessa yang sudah tidak bisa di ganggu gugat lagi.
varo pun tersenyum kemenangan di balik penderitaan seorang Devano alga cullen.
tak lama kemudian louwis datang membawa banyak makanan ringan ia berjalan dengan bersenandung kecil.karna ia terlalu banyak membawa makanan ia tak menyadari ada karpet tebal di hadapannya alhasil ia tersandung alhasil ia terjatuh bersama makanannya yang berhamburan.
"buahahaha."tawa alga dan varo bersamaan.
"siapa sih yang naro karpetnya disini."kesal louwis seraya menendang-nendang karpet.
"eh jangan di tendang kasihan karpet nya."ujar jessa yang membuat louwis melongo.
"jadi lo nggak kasihan sama gue?"tanya louwis dengan memanyunkan bibirnya.
"no! gue kasihan ama karpet kesayangan gue."jawab jessa polos yang malah membuat alga dan varo tertawa terpingkal-pingkal.
"gue ngambek ama lo princes!"gerutu louwis dengan memunguti makanan ringannya yang tercecer.
canda tawa mereka lakukan hingga membuat hati jessa merasa hangat sekaligus bersyukur saat mempunyai sahabat yang sangat sayang kepadanya. jessa tersenyum haru melihat alga varo dan louwis yang selalu membuatnya bisa melupakan masalahnya.
"woy lo kok malah ngelamun sih. "teriak alga dengan menggoyangkan tangan jessa.
"hah!! gue cuman bersyukur aja karna gue bisa mempunyai sahabat seperti kalian yang tidak pernah ngebiarin gue untuk sedih terlalu lama."ujar jessa lirih.
"huaa gue terharu."teriak varo dengan berpura-pura seolah-olah ia sedang menangis.
"gue jugaa!"lanjut louwis yang mengikuti gaya varo.
"kok jadi mellow sih."ujar jessa dengan mata berkaca-kaca.
"huaa saatnya berpelukan."teriak alga dengan merentangkan kedua tangannya yang di ikuti yang lain.
mereka bertiga merangkak mendekati jessa yang berakhir mereka berpelukan seperti teletubbies. jessa menangis haru di pelukan sahabat-sahabatnya pelukan mereka tak berlangsung lama karna di ganggu jastin yang baru datang dengan membawa tas mereka semua.
"anjir kalian malah enak-enakan pelukan sedangkan gue lo suruh bawa tas lo semua." semprot jastin yang meratapi sembari melempar tas mereka semua.
dengan pasrah mereka melepaskan pelukan nya yang baru saja mereka mulai. jastin mendekat karna curiga saat melihat adiknya menundukkan kepala seraya mengusap wajahnya.
jastin mengangkat dagu jessa dengan jari telunjuknya agar ia bisa melihat jelas wajah adik tercintanya itu. jastin terkejut saat mendapati mata adik sekaligus jembatannya itu sembab.
"loh dek, lo habis nangis ya? "tanya jastin khawatir yang di jawab gelengan.
"kalian bertiga yang buat adek gue nangis?"tanya jastin dingin dengan aura yang menguar pekat keluar dari tubuhnya.
"bu-bukan. "jawab mereka gugup.
jastin menatap mereka bertiga dengan menaikkan satu alisnya.
"bang."panggil jessa,jastin pun menoleh melihat sang adik dengan tatapan teduh.
"bukan mereka yang bikin jessa nangis bang, gue nangis hanya karena terhalu liat mereka yang berusaha bikin gue ketawa lagi."tutur jessa yang membuat jastin bernafas lega.
"kevin mana bang?,"tanya jessa penasaran.
"e-em tadi katanya dia mau pulang dulu karna nyokap bokap nya pulang."jawab jastin.
"gue tau bang lo bohong.karna saat lo bohong lo pasti nggak berani natap mata gue."batin jessa.
"oh gitu,yaudah gue mau kekamar dulu abis bangus jadi ngantuk."pamit jessa seraya terkekeh garing.
setelah kepergian jessa ruangan mendadak hening.
jessa melangkah pelan memasuki kamarnya tak lupa ia mengunci pintu kamar agar tidak di ganggu dengan orang lain. lalu ia melangkah kan kaki menuju kasur king sizenya,ia duduk sembari menekuk kakinya untuk di peluk.
"princes. "panggil xavier alter ego jessa.jessa yang mendapatkan panggilan cavier langsung memejamkan matanya.
"kenapa bersedih hm?"
"aku hanya kecewa dengan kevin."jawab lirih jessa.
"*kau kecewa dengan bocah ingusan itu?"
"huh!! kevin dia memang orang yang baik, tapi karna kehadiran nya gea itu yang akan membuat hubungan mu dan kevin hancur*."
"apa yang kau maksud xavier."
"aku tak bisa mengatakannya lily,tapi ingat lah satu hal!! bahwa gea adalah musuh mu yang sebenarnya."
jessa yang mendengar itu terjekut bukan main.
"lily dulu kau pernah bilang kepadaku kalau kau akan membalas dendamkan kematian ku. tapi sekarang bagiku itu tidak penting lily.jangan kau teruskan misi itu tapi fokus lah dengan apa yang akan di lakukan gea kepadamu,kepada kevin dan yang lain."
"tapi aku harus tetap membalas kan dendam atas kematian mu xavier."
"lily,aku mohon dengar kan perintah ku untuk kali ini."
dengan menghela nafas berat akhirnya jessa mengangguk.
"lily.dan satu hal lagi yang ingin ku katakan padamu bahwa sebenarnya aku mempunyai adik."
"adik?"beo jessa.
"hm,sudah sangat lama aku tidak melihat nya, bahkan terakhir kali bertemu dengannya aku bertengkar hebat sampai dia meninggalkan rumah."
"aku mohon cari dia untukku lily,aku hanya ingin meminta maaf dengannya."
"xavier tenanglah, aku akan mencari nya, tapi. siapa namanya?"
"Leonard artur cristiano. "
"cristiano? bukannya margamu bajewala ya?" beo jessa.
xavier pun terkekeh mendengar pertanyaan jessa."kau bisa menanyakannya kepada leonard saat kalian sudah bertemu.tenang saja, dia tinggal di jakarta."
jessa tak menjawab ucapan xavier lalu bergegas keluar untuk bertemu dengan seseorang. jessa berlari melewati ruang keluarga yang membuat jastin dkk kebingungan.
"lo mau kemana dek."tanya jastin dengan berteriak.
"bentar bang ada urusan dadakan."jawab jessa yang juga berteriak.
dengan terburu-buru memasuki mobilnya lalu melaju dengan kecepatan di atas rata-rata. jessa mengambil handphonenya dan memanggil entah siapa itu.
" apa?"tanya orang yang ada di sebrang sana dengan nada dingin.
"dirumah?"tanya jessa to the poin yang tk kalah dingin.
"hm"setelah mendengar jawaban jessa langsung mematikan sambungan telefon nya lalu bergegas menuju rumah orang yang baru saja ia telefon.
satu jam telah jessa habiskan untuk menempuh perjalanan menuju rumah orang yang tadi ia telfon. setelah sampai di rumah yang ia tuju jessa tanpa permisi langsung menerobos masuk kedalam.
"sudah siap misi baru?"tanya to the point jessa saat sudah bertemu dengan orang yang ia telfon tadi.
"hm."jawab sang empu dengan wajah datar.
"Leonard artur cristiano. lo harus bisa cari orang itu tanpa terluka sedikit pun!!!."perintah jessa dengan aura yang sangat mengerikan.
"posisi?"
"jakarta."
"Alright, I think this is very interesting."ucap sang pria dengan tersenyum miring. netranya bertemu dengan netra jessa yang beberapa saat terjadi pandangan yang lumayan lama hingga akhirnya terdengar suara tawa yang di hasilkan dari jessa dan sang pria.
"anjirr!!kenapa kita jadi tegang sih."ujar sang pria yang bernama Devian julian jareda dengan tertawa keras.
"ahahaha lo sih yang mulai."jawab jessa yang juga tertawa.
"uchh gue rindu ama lo, udah lama kita nggak ketemu."ucap devian sembari memeluk erat jessa yang di balas sang empu tak kalah eratnya.
"sorry dev,akhir-akhir ini gue sibuk."ucap jessa dengan mimik sedih.
"abang lo mana? nggak ikut?"
"nggak,gue nggak bilang kalo mau kesini."
"ck.kebiasaan."
"lo mau nginep disini? lagian hari juga udah mulai sore"
"nggak usah dev ntar bang jastin ngomel-ngomel." tolak jessa halus.
"dasar dari dulu nggk pernah berubah. btw gimana kabar lo ama orangtua lo?"
"nyokap bokap gue udah meninggal karena kecelakaan pesawat."jawab jessa lirih.
"sorry jes gue nggak tau."maaf devian dengan raut muka yang merasa bersalah.
"nggak usah maaf lo nggak salah."ucap jessa dengan tersenyum lebar.