
Sesampainya di rumah devian jessa berlari memasuki rumah dan saat melihat devian yang baru saja menuruti tangga jessa langsung berhambur memeluk tubuh tinggi teggap devian. Jessa menangis sejadi-jadinya di dada bidang devian sedangkan devian yang kebingungan hanya mengusap lembut rambut jessa guna untuk menenangkan gadis yang ada di dekapannya.Setelah merasa lega jessa menarik tubuhnya dengan kepala yang menunduk.
"jes lo kenapa hm? Sini duduk dulu."tanya devian dengan menarik lembut tangan jessa menuju sofa yang tidak terlalu jauh dari tangga tang baru saja devian turuni.
"coba crita."lanjutnya.jessa pun menceritakan semua kejadian yang ia alami tadi dan itu mampu membuat devian menggeram menahan amarah karna bagaimana pun devian sangat menyayangi jessa layaknha adik kandung nya sendiri.
"gue harus balas perbuatan gea."kesal devian yang ingin berdiri akan tetapi di tahan tangan mungil jessa.
"belom saatnya,btw gue mau ketemu sama orang itu."jessa menatap devian sendu.
"dia kini ada di hotel audrei kamar nomor 257,lo mau ketemu dia kapan?"jawab ketus devian karna kini ia berusaha mati-matian untuk mengendalikan egonya.
"nanti malam,gue mau istirahat dulu."setelah mengucapkan itu jessa berlalu menuju kamar yang sering ia pakai saat ia sedang ada di rumah devian. Ia menghempaskan tubuhnya ke kasur king size lalu dengan perlahan ia memejamkan netranya.
Tak terasa kini jam sudah menunjuk kan 9 malam jessa dan devian sudah rapi dengan baju yang serba hitam tak lupa dengan topi hitam yang membuat wajah mereka tidak begitu ketara. Mereka bergegas menuju hotel audrei untuk menemui leonard adik xavier. Tak memakan waktu lama untuk sampai di hotel tersebut karna mereka hanya membutuhkan waktu 25 menit untuk tiba di hotel audrei.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju kamar 257 akan tetapi langkahnya terhenti saat sang resepsionis memanggilnya.
"siapa kalian?"tanya sang resepsionis karna curiga saat melihat dua orang di depannya dengan pakaian yang serba hitam.
Devian mengambil kartu kecil dari balik sakunha yang menandakan bahwa ia mata-mata sekaligus pembunuh bayaran lalu menunjukkan kepada sang resepsionis, sedangkan sang resepsionis yang melihat itu menggigil ketakutan dan mempersilahkan dua orang itu masuk kedalam.
Setelah sampai di depan pintu yang berangka 257 jessa dengan segera menekan bel hingga beberapa kali.tak selang lama pria bertubuh tinggi kekar berkulit putih serta memiliki paras yang sangat tampan keluar membuka pintu dengan sorot mata yang sangat tajam. Tanpa ba bi bu jessadan devian menerobos masuk lalu mengunci pintu hingga membuat pemilik kamar menggeram menaham marah.
"siapa kalian?"tanya pria itu dengan raut wajah dingin seraya mengepal kan erat tangannya.
Jessa dengan pelan membuka topinya hingga membuat rambutnya terurai indah sedetik kemudian pria itu terkejut karna mengetahui jika salah satu orang itu adalah perempuan.
" Leonard artur cristiano adik dari xavier bramata bajewala." ujar jessa yang membuat leonard semakin terkejut tapi dengan segera ia mengembalikan ekspresi wajah nya menjadi datar.
"siapa lo?"tanya leonard dengan nada yang naik satu oktaf.
"Jessalyn Queendara saya kesini bukan akan cari masalah denganmu tapi saya hanya mau menyampaikan kalau kakak mu xavier ingin meminta maaf." ucap jessa formal dengan raut muka dingin.
"xavier udah nggak ada!! Lo jangan mengada-ngada dan lebih baik lo pergi dari sini sebelum gue kehabisan kesabaran."sentak leonard.
"bisakah anda berbicara sopan?"ucap devian dingin yang di balas tatapan mauy oleh leonard.
"tenang lah dev. "ujar jessa.
"kau pergi dari rumah dan sebelum kau pergi dari rumah kau sempat bertengkar hebat dengan xavier bramata bajewala."
Setelah itu Jessa memejamkan matanya untuk berkomunikasi dengan xavier."apa kau mau bicara dengan leonard, xavier?"
"belum saatnya lily." jessa yang mendengar itu langsung membuka matanya.
"baiklah kurasa ini sudah cukup, devian mari kita pergi.selamat malam tuan cristiano." ucap jessa dengan keluar dari kanar leonard.
Leonard pov
Setelah dua orang itu pergi gue berpikir keras apa maksud gadis itu, bagaimana dia bisa tau masalah yang terjadi antara gue dan xavier dan bagaimana bisa dia mengetahui bahwa aku adik xavier. Apakah dia dulu dekat dengan xavier? Gue rasa tidak karna setahu gue xavier tidak pernah memiliki teman perempuan satu pun.
"bagaimana dia tau?siapa dia yang sebenarnya dan apa hubungannya dengan xavier."gumamku dengan membanting handphone yang sedari tadi gue genggam hingga layar handphone gue retak parah.
"gue nggak mau tau pokoknya gue harus tau siapa dia."lanjut ucap gue dengan seringai andalan gue.
...***...
"gue nginep di rumah lo dev dan besok gue akan langsung berangkat ke sekolahan."
"angkat wajah lo!! Jessa yang gue kenal nggak selemah ini." tegas devian dan dengan segera jessa mengangkat kepalanya dan menatap devian yang fokus menyetir.
"dev, makasih ya lo udah selalu ada di saat gue terpuruk bahkan saat gue bahagia." jessa berucap dengan menatap lekat devian.
Devian terkekeh."mau mampir makan dulu?"
"boleh kebetulan gue laper bangat."jawab jessa dengan menyengir memperlihatkan gigi putih nya.
"gitu dong ketawa."ucap devian sembari mengacak-ngajak rambut panjang jessa.
Mobil devian berhenti di samping penjual bakso kaki lima, devian menatap jessa yang menurutnya tengah kebingungan karna ia menghentikan mobilnya dadakan.
"lo mau makan di sini kan jes? Kalo lo nggak mau gue akan cari restoran atau caffe."
Jessa tersenyum "mau lah dev bukan karna gue orang kaya gue harus makan makanan yang mahal."setelah itu jessa berjalan keluar menuju penjual bakso tersebut.
"mang bakso 2 porsi ya mang sama minumnya teh manis."ucap jessa.
"baik non." ujar mamang penjual bakso.
Jessa menoleh saat devian duduk di sampingnya "lo udah pesen? "
"udah dong."jawab jessa bangga.
Tak selang lama pesanan mereka sudah tersaji di depannya. Jessa mulai meracik mulai dari menambahkan kecap manis saus sama cukak tak lupa memberikan sambal yang banyak.
"jes besok gue ada tugas dilondon selama satu minggu." ucap devian tiba-tiba.
"hah? Tugas apa? Kok gue nggk di kasih tau?"
"cari tau dalang yang menggelapkan uang kantor bokap lo. Gue sebenarnya udah lama nggak ikut tugas tapi saat kemaren gue dapet via email dari salah satu kepercayaan bokap lo gue baru ambil ntu tugas untuk gue selidiki." devian menjawab panjang kali lebar dengan sesekali menggigit bakso yang ia pesan tadi.
"kenapa gue nggak di kasih tau?"jessa bertanya dengan raut wajah yang menggeras.
"dia baru ingin mengumpulkan bukti setelah itu buktinya akan di kirim ke lo ama abang lo."
"huft baiklah. Gue udah kenyang ayok pulang." ujar jessa yang di angguki devian.
"mang."panggil devian dan si mamang penjual bakso berjalan mendekati devian dan jessa.
"berapa mang?"tanga devian.
"30 ribu den." devian mengambil lembar bewarna merah lalu memberikannya kepenjual bakso.
"kembaliannya ambil aja mang."
"aduh haturnuwun den."ucap mamang bakso senang.
10 menit berlalu jessa kini duduk di balkon kamar yang ada di rumah devian. Ia menatap langit lekat menghitung bintang yang hanya membuang waktunya sia-sia. Jessa membalikkan bandannya dan mendekati ranjang lalu merebahkan pelan tubuhnya.
"semoga masalah ini cepat berlalu."jessa bergumam sebelum ia memasuki alam bawah sadar nya.