
Yogyakarta, 23 Januari 2018
“Key, gimana? Mau aku jemput aja po di rumahmu?” Tanya Ariz.
“Eh jangan. Aku gak boleh dijemput cowok. Bisa-bisa dimarahin ayahku nanti. Gini aja ketemu di tempat biasanya aja.”
“Oke siap. Aku otw nih.”
“Ya hati-hati. Nanti kalau udah hampir sampai bilang ya.”
Ariz tidak membalas pesanku. Tak lama kemudian dia pun mengirimi aku pesan.
“Key, aku udah sampai nih.” Kata Ariz.
“Loh kok dah sampai. Kan aku udah bilang kalau kasih tau aku hampir sampai.”
“Aku terlalu fokus di jalan tadi. Udah cepetan ke sini.”
“Iya iya otw nih.”
Aku kemudian berangkat menuju tempat biasanya aku dan Ariz bertemu. Kata ayah aku gak boleh dijemput sama cowok. Tidak enak kalau dilihat tetangga. Kalau sudah di luar pedesaanku sih terserah. Kata ayah boleh boncengan sama cowok tapi ya itu tadi gak boleh kalau masih di sekitaran desaku, kalau sudah beda daerah sih boleh. Terus ayah juga nyaranon kalau motornya dititipin aja. Jadi aku gak salah dong kalau aku boncengan sama Ariz di luar desaku. Hehe.
Aku merasa deg-degan. Kira-kira siapa sih temennya Ariz itu. Semakin dekat ke tempat janjianku sama Ariz semakin aku merasa deg-degan. Tapi yasudahlah hadapi saja, toh ini juga resikoku. Setelah aku menitipkan motor di tempat biasanya, aku kemudian menghampiri Ariz.
“Sorry ya, Riz. Kelamaan nunggunya.” Kataku.
“Iya gapapa kok. Itung-itung bayar yang waktu itu, kamu nungguin aku. Pas kita kencan pertama.” Kata Ariz.
“Ihh apaan kencan pertama.” Kataku mengelak.
“Loh ya bener kan?”
“Emm, engga juga. Eh mana nih temenmu.” Kataku mengalihkan pembicaraan.
“Tunggu bentar. Dia lagi jemput ceweknya.”
“Emang siapa sih temenmu yang kamu ajak tuh?”
“Huzaen sama Tyas.”
“Hah Huzaen? Itu yang pernah kamu bikin story?” Tanyaku kaget.
“Iya, yang katamu dia temen lesmu waktu SD dan SMP.”
“Yaampun.”
“Emang kenapa sih? Tuh mereka dateng.”
“Gapapa sih. Untung aku kenal. Jadi gak terlalu canggung gitu.”
“Ya emang aku sengaja dan emang kebetulan mereka ngajak aku ke pantai.” Kata Ariz menjelaskan.
Aku sangat lega karena aku kenal sama salah satu temennya Ariz yang pergi ke pantai bersamaku hari ini. Walaupun aku dan Huzaen tidak dekat tapi setidaknya aku mengenalnya. Oiya, aku tidak menyangka karena kali ini aku sama Ariz samaan lagi jaketnya. Mungkin Ariz lagi suka pakai hoodie merah dan aku juga lagi suka pakai jaket warna merah. Hal sekecil ini pun membuatku merasa senang.
“Cie cie Ariz. Samaan warna jaketnya.” Kata Tyas menggoda Ariz.
“Weh iya eh. Janjan po kalian tuh?” Tanya Huzaen.
Aku dan Ariz pun hanya diam dan berlalu melewati mereka, karena kami semua posisinya sedang di jalan raya mengendarai motor masing-masing. Ternyata butuh waktu dua jam untuk sampai ke pantai yang kami tuju.
“Oalah yang kamu ajak tuh si Keyra to, Riz? Aku udah nebak-nebak duluan sih.” Kata Huzaen.
Ariz hanya menganggukkan kepala dan aku hanya diam sambil melepas helm dan jaketku.
“Loh kamu kenal po, En?” Tanya Tyas.
“Ya kenal lah.” Jawab Huzaen ketus.
“Ihh biasa aja ngomongnya. Eh, namanya siapa tadi?” Tanya Tyas.
“Kenalan makannya.” Jawab Huzaen.
“Iya pada kenalan makannya.” Tambah Ariz.
“Keyra.” Kataku sambil tersenyum dan mengulurkan tanganku ke Tyas.
“Tyas.” Kata Tyas sambil melakukan hal yang sama sepertiku.
Kami berempat kemudian memasuki pantai. Suara desiran ombak seakan menyapaku, seakan dia tahu bahwa hatiku sedang bahagia hari ini. Terik matahari juga tidak mau kalah untuk menyapaku. Langit biru yang cerah pun juga memberikan senyuman paling manis padaku. Entah, rasanya aku senang sekali. Tiba-tiba Huzaen membuyarkan lamunanku dengan pertanyaan yang dilontarkannya pada Ariz, bahkan Tyas pun juga ikut-ikutan bertanya pada Ariz.
“Keyra tuh sebenernya siapamu e, Riz?” Tanya Huzaen penasaran.
“Iya siapa e, Riz?” Kata Tyas ikut-ikutan bertanya.
“Partner.” Jawab Ariz singkat sambil tersenyum padaku.
Aku pun hanya diam sambil tersenyum mendengar jawabannya Ariz. Kami berempat pun berlari-larian dan berfoto-foto bersama. Setelah puas berfoto-foto kami pun segera pulang karena aku tidak boleh terlalu sore untuk pulang.
~o~
Yogyakarta, 25 Januari 2018
Faisal tiba-tiba mengomentari story yang aku buat. Aku membuat story fotoku bersama Ariz di pantai kemarin hari Selasa.
“Itu siapa, Key?” Tanya Faisal penasaran.
“Temen kok fotonya berdua gitu? Kayak pasangan aja.”
“Loh emang gak boleh ya? Suka-suka aku dong, kan aku sama dia sama-sama jomblo. Jadi gak akan bakal ada yang marah.”
“Aku yang marah.”
“Weh, kamu tuh kenapa e, Sal? wkwk” Kataku untuk mencairkan suasana.
“Aku serius, Key. Aku ada perasaan sama kamu. Kamu peka gak sih? Aku serius sama omonganku yang waktu itu.”
“Aku juga serius sama omonganku yang waktu itu, Sal. Dan dial ah orang yang aku maksud.”
“Jadi dia yang kamu jaga perasaannya?”
“Iya.” Jawabku singkat.
“Kamu tuh ya, mau-maunya gak dikasih kepastian sama cowok gak jelas. Aku yakin kamu bakalan nyesel, Key.”
“Gini ya, Sal. Aku kenal dia udah lama. Dan hatiku udah terlanjur percaya sama dia. Aku gak butuh status ataupun pengakuan. Aku rela kok dia deket sama cewek lain. Aku tau aku bodoh banget. Tapi entah kenapa aku ingin bertahan sama dia. Lagi pula aku sama dia punya prinsip ‘Sahabat Selalu Selamanya’. Itu prinsipku sama dia sejak SMA kelas XI.” Jelasku.
“Itu sama aja kamu menghianati prinsipmu sendiri, Key. Kamu punya perasaan sama dia dan mengatasnamakan persahabatan untuk tetap deket sama dia.”
“Aku gak perduli, Sal. Asal aku tetep deket sama dia, itu sudah cukup bagiku.”
“Tapi aku beneran sayang sama kamu, Key.”
“Maaf aku beneran gak bisa, Sal.”
“Yaudah lah, Key. Selamat bertahan dengan kebodohanmu.”
Jujur, kata-katanya Faisal sangat menusuk hatiku. Tapi, Faisal ada benarnya juga. Aku bodoh sekali. Mau-maunya menjaga perasaan untuk seseorang yang tidak menjaga perasaannya untukku. Rasanya ingin sekali bertanya dan meminta kepastian sama Ariz. Kebetulan sekali, Ariz mengirim pesan padaku.
“Key.” Kata Ariz.
“Iya?” Jawabku singkat.
“Lagi apa?” Tanya Ariz.
“Lagi galau.”
“Galau kenapa e? Sini-sini coba cerita sama aku. Siapa tau aku bisa ngasih solusi ke kamu.”
“Aku habis ditembak cowok.”
“Waw, terus kamu terima?” Tanya Ariz penasaran.
“Aku bingung sama perasaanku sendiri.”
“Loh kenapa harus bingung?”
“Aku bodoh sekali. Mau-maunya menjaga perasaan untuk seseorang yang tidak menjaga perasaannya untukku. Aku mau nanya sesuatu sama kamu deh, Riz.”
“Ya tanya aja.”
“Kamu kenapa datang ke fakultasku tanpa alasan? Kenapa kamu ngajakin akku foto snap shoot? Kenapa kamu ngajak aku ke pantai dan seakan-akan itu kayak ngenalin aku ke temen-temen kamu? Aku piker setelah lulus SMA kita udah enggak ketemu lagi. Ya kalau masalah chatingan tiap hari mah gak masalah. Tapi kenapa kamu ngajak aku jalan terus?”
“Sebelum aku jawab, aku mau tanya dulu sama kamu. Kamu ngerasa aku perlakukan beda gak?”
“Emm, iya mungkin. Tapi seakan-akan kamu tuh gak mau kehilangan tapi gak mau memiliki. Udah, sekarang jawab dulu pertanyaanku tadi.”
“Ya berhubung kamu ngerasa kalau aku memperlakukanmu beda dan ya itu jawaban dari semua pertanyaan-pertanyaanmu tadi.”
“Emang kamu anggap aku ini apa?”
“Orang yang spesial.”
“Sespesial apa sih aku di mata kamu tuh?”
“Ya perlakuanku ke kamu kan beda dari cewek-cewek lain yang deket sama akuk dan gak bisa di jelasin pake kata-kata.”
“Aku mau tanya lagi deh sama kamu. Cewek yang waktu itu makan bareng sama kamu itu siapa?”
“Yang kamu dikasih tau sama Sari itu po?”
“Iya.”
“Kamu tau kok orangnya. Temen SMP-ku. Temen dari aku kecil dan kita berdua emang gak ada apa-apa. Ayahku sama ayahnya dia temenan. Itu juga yang membuat aku sama dia deket.”
“Oalah si Yuni.”
“Iya. Sekarang aku balik nanya sama kamu. Kalau kamu udah tau yang sebenernya gini kamu mau gimana?”
“Ya aku tetep menjaga prinsip kita, Riz. Aku gak mau kalau kita nanti jadian terus putus dan kita malah musuhan. Sama aja kita menghianati prinsip kita kan?”
“Iya juga sih. Lagi pula status tidak merubah perasaan kan?”
“Iya.”
Rasanya aku lega sekali, dan ternyata cintaku tidak bertepuk sebelah tangan lagi. Keputusan untuk bertahan ada rasa sama Ariz adalah pilihan paling tepat. Walaupun aku harus menunggu Ariz sebelumnya. Karena dia lebih memilih Putri dan menghianati prinsipnya sendiri. Tapi aku senang sekali sekarang.
~o~