
Yogyakarta, April 2017
Kedekatanku dengan Ariz di akhir putih abu-abu semakin lama semakin erat. Namun kini ada seseorang yang hadir dalam hidupku. Fian, temen satu sekolahku yang dulunya dekat dengan sahabatku. Aku tau seluk beluk Fian dari Rahma, teman sebangkuku. Awalnya Fian mem-follow akun Instagramku. Lalu dia meminta nomor hp ku. Ya, aku kira mau ngomongin soal Rahma. Tapi ternyata tidak. Aku jadi curiga. Apa Fian mau PDKT denganku? Ah, tapi rasanya tidak mungkin.
Fian terkenal akan play boy dan aku rasa dia bangga akan hal itu. Kegelisahan dan kecurigaanku semakin menjadi-jadi ketika Fian meminta fotoku. Aku kira dia hanya iseng meminta fotoku tapi ternyata dia menjadikan fotoku itu jadi foto profil BBM-nya.
“Fian, kenapa kamu ngelakuin itu?”
“Ah, nanti kamu juga tau sendiri alasannya.”
“Tapi aku gak mau dan aku gak suka kamu kayak gitu.”
“Lha kenapa? Takut ada yang marah po?”
“Enggak ada yang marah. Cuman aku heran aja sama kamu, Habis Fira, Lina, Rahma, masak aku? Aku bukannya ke-GR-an. TApi seakan-akan kamu mengarah ke hal itu.”
“Lha emang kenapa kalau habis aku suka sama mereka aku suka sama kamu?”
“Ya heran aja, mereka kan cantik. Sedangkan aku?”
“Emang aku mandang fisik?”
“Iya mungkin.”
“Emang ya, orang-orang tuh selalu memandangku sebelah mata. Aku kira kamu beda, Key. Ternyata sama aja.”
“Hey, aku ga maksud gitu, Fian.”
“Udahlah, Key. Aku capek.”
“Heee… tapi ganti dulu foto profilnya.”
“Iya iya”
Apa maksud Fian dengan semua ini? Aku kemudian menceritakan hal ini kepada Rahma.
“Wkwkwk. Pantesan dia udah jarang gangguin aku lagi. Ternyata udah sama kamu sekarang, Key.”
“Hih kok kamu gitu sih malah ketawa. Aku ga maksud buat ngerebut dia darimu kok, Ma.”
“Hih, ngerebut apaan sih. Aku kan sama Ade.”
“Emang udah jadian sama Ade?”
“Ya belum sih ”
“Hemm dasar ngaku-ngaku. Heh, gimana ini nasipku?”
“Udah diemin aja. Ntar palingan dia bosen kalau kamu cuekin terus.”
“Oh, gitu ya.”
Gosip kedekatanku dengan Fian semakin meluas. Bahkan sampai ke telinga Ibuku sendiri. Sampai suatu saat aku ditanya oleh ibuku.
“Keyra, kamu deket sama Fian?”
“Enggak kok, Bu. Tapi, Fian ngajakin aku main. Ini tadi ngajakin aku nonton, Bu. Terus aku tolak dengan cara aku bilang kalau mau ngajakin aku nonton harus izin langsung ke rumah sama Ibu. Fian nganggupin sih.”
“Mana mungkin Fian mau datang beneran. Sudah sana bersih-bersih dulu lalu menyapu ruang tamu.”
“Ya, Bu. Oiya, Bu. Apa benar ayahnya Fian itu temennya Ayah?”
“Iya temen dinasnya ayah.”
Aku kemudian bersih-bersih dan menyapu ruang tamu. Kakak sepupuku sedang bermalin bola di depan rumah kami. Tiba-tiba ada suara motor KLX datang.
“ Maaf mau tanya. Rumahnya Bu Rosa di mana ya?”
Aku kaget mendengar suara motor dan suara cowok. Aku langsung reflek memasangkan jari telunjukku di depan mukaku seperti mengatakan ‘ssttt’ ke arah kakak sepupuku, yang kebetulan dia sedang menatapku. Namun, dia malah berkata.
“Mau cari rumahnya Bu Rosa apa Dek Keyra?”
“Hehe”
“Tuh.” Sambil menunjuk ke arah ku.
Aku spontan kaget dan memanggil ibuku. Fian lalu memarkir motornya di samping teras rumahku.
“Eh, Fian. Mau belajar Matematika po?” Kata Ibuku sambil tersenyum kepada Fian.
“Tidak, Bu. Mau ngapelin Keyra.”
“Oalah ya sudah sini masuk. Keyra, sana ambilin minum, Nak.”
“Baik, Bu.”
Jujur baru kali ini ada cowok yang datang sendirian ngapelin aku. Ya beruntung sih Fian karena dia adalah anak dari temennya ayahku. Selama ini aku takut mengenalkan cowok ke Ibu atau Ayahku sekalipun itu hanya teman. Setelah selesai membuat minum aku lalu memberikannya kepada Fian. Lalu kami berdua ngobrol di ruang tamu.
“Nekat amat sih sampe berani datang ke sini.”
“Lha emang kenapa? Kan kamu yang minta.”
“Gapapa, yang penting aku bisa ketemu kamu itu udah cukup.”
“Gombal deh.”
“Siapa yang gombal sih. Itu nyata tau.”
“Terserah deh. Nih di minum dulu, ntar keburu dingin.”
“Wah tehnya kok gak manis sih.?”
“Eh masak sih? Kurang manis po? Padahal aku ngasih gula banyak kok.”
“Iya soalnya manisnya pindah ke kamu sih.”
“Ihhh apaan sih dasar ya.”
Aku senang bisa bercaandaan dengan Fian dan tertawa lepas seperti ini. Tapi entah mengapa pikiranku dari tadi hanyalah Ariz. Aku rindu dengannya. Karena aku dan Ariz sudah tidak bertemu lagi setelah UN SMA karena aku sudah tidak mengikuti program les setelah UN. Aku dan Ariz hanya bisa bertemu lewat room chat. Tiba-tiba ada pesan whatsapp dari Ariz.
“Jangan sampai membiarkan hati salah pilih tempat dia pulang.”
Apa maksud dari pesan Ariz itu? Pikirku dalam hati. Tapi belum sempat aku membukanya, Fian menamnggilku.
“Key, sini. Diapelin kok malah main hp mulu sih.”
“Hiiih bentar. Cuma mau ngecas hp ini loh.”
“Hehe iya iya. Btw selfie dulu yuuuk.”
“Hemmm, boleh tapi awas ya kalau dijadiin foto profil.”
“Emang kenapa sih? Takut gebetanmu pada marah po? Terus mereka ngilang?”
“Heh, apaan. Gebetanmu tuh. Aku kan gak punya gebetan.”
“Halah bohong.”
“Ih beneran.”
“Terus siapa yang kamu ucapin GWS tadi malem?”
“Oh, itu Ariz. Sahabatku.”
“Oh jadi namanya Ariz.”
“Emang kenapa sih?”
“Enggak. Cemburu aja sih.”
“Apaan. Kita kan gak ada hubungan apa-apa. Ngapain kamu cemburu sama aku?”
“Emang gak boleh po aku cemburu sama kamu?”
“Gak.”
“Bodoamatlah, yang penting kita selfie aja yuuk.”
“Yudah ayok.”
Tiba-tiba ada suara motor datang dan ternata itu adalah ayahku yang pulang kerja.
“Tuh ayahku datang. Kamu takut gak?”
“Ngapain takut? Sama-sama makan nasi kan?”
“Ih dasar kamu ya.”
Ibuku tiba-tiba datang menghampiriku dan Fian kemudian berkata.
“Nak Fian. Nanti begitu azan magrib pulang ya. Bukannya apa-apa tapi Ibu ga enak sama tetangga.”
“Baik siap laksanakan, Bu.”
Begitu azan magrib berkumandang Fian lalu pulang.
“Oiya, Ayahnya Keyra mana, Bu? Mau izin pulang.”
“Ayahnya Keyra baru mandi. Nanti Ibu sampaikan saja.”
“Baik kalau begitu saya pamit duluan, Bu. Pulang dulu ya, Key.”
“Iya, hati-hati ya.”
“Hati-hati ya, Nak Fian. Salam buat Ayah Ibumu”
“Baik siap, Bu.”
~o~