
Namaku Keyra Nindira. Saat ini aku kelas 12 di salah satu SMA Negeri di Yogyakarta. Sebenarnya aku ingin sekali segera lulus SMA. Meninggalkan kepahitan dan membayar semua kegagalan saat SMP karena aku tidak sekolah di SMA yang aku inginkan. Jujur, waktu awal SMA dulu aku pernah terluka. Ya benar, ini masalah bucin. Lagi-lagi dia adalah salah satu temanku saat SMP. Ceritanya panjang, tapi singkatnya adalah dia yang membuatku malas untuk pacaran lagi.
Ada sih, salah satu temen cowok yang satu sekolah denganku yang aku kagumi. Tepatnya sangat aku kagumi. Dia manis sekali. Lesung pipinya bikin meleleh. Dia juga pintar Matematika dan dia adalah murid kesayangannya ibuku. Oiya satu hal, Ibuku adalah Guru Matematika di SMA ku ini. Aku pernah diajar ibuku sendiri waktu kelas X. Aku hanya mengaguminya, tapi entahlah jika perasaan ini berubah menjadi cinta. Tapi yang jelas, aku tidak ingin berpacaran dengan siapapun. Luka dari mantan terakhir masih membekas di hati.
Oiya, aku punya beberapa sahabat cowok yaitu Dinu, Rifky, dan Ariz. Selain itu aku juga punya banyak sahabat cewek. Kalau sahabat cewek sepertinya tidak cukup aku sebutkan di sini. Butuh berlembar-lembar soalnya. Aku orangnya suka bergaul dan tidak suka pilih-pilih teman. Dari ketiga sahabat cowok tersebut Ariz yang paling dekat denganku. Meskipun dia berbeda sekolah denganku tetapi entah mengapa aku lebih dekat dengannya. Dinu dan Rifky adalah teman satu sekolah denganku tetapi kami semua berbeda kelas.
Kedekatanku dengan Ariz selalu menjadi bahan ledekan temen-temen. Baik temen satu sekolah denganku maupun temen les. Kerena Ariz adalah temen satu les denganku. Kami tak pernah bertemu diluar jam les. Tapi herannya kami dikira berpacaran. Mungkin karena saking dekatnya.
Yogyakarta, 2015
Suasana kelas masih ramai meskipun tentor kelas sudah hadir sekitar lima menit yang lalu. Satu per satu siswa yang terlambat memasuki rungan termasuk Ariz. Pimpinan staf memasuki kelas dan akan memberikan pengumuman.
“Oke, Izin sebentar ya Mbak Annisa.”
“Baik silahkan, Pak.”
“Baik adek-adek sekaian, Assalamualaikum wr.wb.”
“Waalaikumsalam wr.wb”
“Sebelumnya apakah ada yang belum mengenal saya? Perkenalan dulu ya. Nama saya Rizal, Pimpinan Staf Lembaga Bimbingan Belajar disini. Nah, saya ingin memberika pengumuman. Sebelumnya saya mewakili lembaga mengucapkan terimakasih atas kepercayaan adek-adek sekalian karena memilih lembaga kami. Langsung saja pengumumannya. Jadi besok kelian akan dibagi menjadi beberapa kelas termasuk yang berbeda kurikulum. Di sini pasti ada yang kurikulum 2006 dan kurikulum 2013 kan?”
“Yaaa” jawab siswa-siswi di ruangan tersebut dengan serentak.
“Oke, habis pelajaran pertama dengan Mbak Annisa nanti kalian dimohon untuk mengisi data diri di front office guna pembagian kelas tersebut. Kalau begitu terimakasih Mbak Annisa atas waktunya. Wassalamualaikum wr.wb.”
“Baik, Adek -adek sekalian. Apa di sini ada yang belum mengenal saya?”
“Sudah mbak sudah” Jawab salah satu siswi. Aku kenal dia karena dia adalah teman satu SMP ku. Tapi aku hanya sekedar kenal dan tidak dekat dengannya.
“Oke, mungkin ada yang sudah ada yang belum kenal ya. Nama saya Annisa tentor Fisika di sini. Jadi buat adek-adek yang mungkin kesulitan tentang Fisika bisa langsung hubungi saya lewat nomor 085-xxx-xxx-xxx ya. Langsung saja kita mulai pelajaran sore hari ini ya.”
Teeet….teeet…teeet
“Hemmm, akhirnya ya, Ras. Sudah selesai lesnya”
“Iya, Key. Mana besok ulangan Fisika lagi. Pas sih hari ini les Fisika.”
“Iya Ras.”
Laras adalah satu-satunya teman SMA ku yang satu tempat les denganku.
“Oiya, Key. Kita kan harus ke FO dulu untuk mengisi data diri.”
“Oiya sampai lupa.”
“Kamu Keyra Kan?” Tanya Pak Rizal padaku.
“Hehe iya Pak.” Jawabku dan sambil mencium tangan Pak Rizal sebagai tanda hormat, diikuti dengan Laras.
“Wah, akhirnya kamu les di sini lagi setelah vakum satu tahun. Oiya ini temanmu siapa namanya?”
“Saya Laras, Pak.” Jawab Laras.
“Hehe iya, Pak. Ini teman satu sekolah saya dan kami juga satu kelas. Semester satu kelas X ikut tonti jadi ga bisa ikut les dan sekarang semester dua baru ikut les lagi.”
“Yasudah tidak apa-apa. Oiya kalian KTSP kan kurikulumnya?”
“Iya benar, Pak”
“Kalau begitu sini ikut kumpul sama temen-temen KTSP sekaligus kalian kenalan karena kalian akan satu kelas mulai pertemuan yang akan datang.”
“Halo, nama kamu siapa? Aku Ariz.” Sambil mengulurkan tangannya ke arahku.
“Keyra.”
“Kalau kamu siapa?” Tanya Ariz kepada Laras.
“Aku, Laras.”
“Kenalin aku Novi.” Sambil mengulurkan tangannya ke arahku.
“Aku Keyra.”
“Aku Laras.”
“Apa kita cuma berempat yang kelas KTSP?” tanyaku.
“Jangan-jangan iya” jawab Novi.
“Sudah-sudah isi data dirinya dulu. Siapa tau ada temen yang nyusul kita.” Kata Ariz
Nah, di sinilah pertama kali aku bertemu dangan Ariz. Sahabat cowok yang perduli sama aku. Meskipun kita jarang bertemu tapi kami sering berkomunikasi lewat media sosial. Kedekatan kami sampai menjadi bahan ledekan temen-temenku. Sehingga kami pun dikira ada hubungan spesial layaknya pasangan yang berpecaran.
~o~
Hari demi hari berlalu. Kedekatan Aku, Laras, Novi, dan Ariz pun semakin erat. Kami sering pulang bareng meskipun dengan motor sendiri\-sendiri. Seiring berjalannya waktu. Kami berempat bosan karena satu kelas hanya berempat. Terlebih lagi, kami pasti bergiliran tidak masuk. Rasanya seperti les privat. Satu masuk, tiga lainnya tidak berangkat. Begitu secara bergiliran. Sampai semester baru pun dimulai.
“Riz, kamu berangkat kan?” Pesan Whatsapp-ku kepada Ariz.
“Hehe aku libur dulu, Key.”
“Loh kenapa?”
“Iya aku lagi ga ada uang wkwk jadi mungkin besok kalau sudah kelas XII aja sekalian pas udah banyak temen.”
“Oalah gitu. Yaudah.”
Entah mengapa sebenarnya aku kecewa dan seperti kehilangan sesuatu. Wajar sih seperti kehilangan teman. Hari pertama les di semester baru kelas XI rasanya sepi. Biasanya aku bercandaan dengan Ariz. Bercerita banyak hal. Termasuk cewek yang Ariz suka dan termasuk cowok yang aku kagumi di sekolah. Aku masih punya Laras dan Novi tapi entah rasanya ada yang kurang.
Semester dua kelas XI pun dimulai. Rasanya baru kemarin aku masuk di SMA ku ini. Tapi syukurlah kalau waktunya cepat berlalu karena aku ingin segera lulus dari sini. Oiya, aku di kelas XI ini satu kelas dengan Indra. Orang yang aku kagumi diam-diam. Senangnya bisa satu kelas dengan murid kesayangannya Ibuku itu. Tapi apapun itu. Aku tetap berpegang prinsip bahwa aku sudah tidak mau lagi berpacaran sampai tiba waktunya aku benar-benar ingin serius.
~o~
Suatu hari, Ariz bercerita denganku tentang Putri. Dia adalah adek kelasnya Ariz waktu SMP. Mereka pernah dekat hingga akhirnya Putri menjauh dan menghilang tanpa kabar. Ya, begitulah Ariz. Banyak cewek yang dekat dengannya, termasuk aku. Kali ini Ariz bimbang karena cewek yang dekat dengannya itu disukai oleh temen deketnya. Tapi sepertinya Putri lebih nyaman dengan Ariz.
“Say no to pacaran :p” Prsan whatsapp-nya Ariz kepadaku setelah dia curhat panjag kali lebar.
“Halah kamu dulu kan pernah -_-” Jawabku.
“Sudah insyaf aku :p”
Serunya berkomunikasi dengannya. Hpku sudah tidak sepi lagi. Sebenarnya ada yang mengganjal entah itu apa. Tapi kok rasanya aku tidak rela jika kali ini Ariz benar-benar akan taken.
“Santai aja. Aku gak bakalan taken sebelum kamu taken duluan, Key.” Prsan whatsapp-nya Ariz kepadaku.
“Yaampun lama amat mabk -.- ”
“Nahkan, halah pasti besok kamu taken duluan deh, Oiya, Riz. Sudah mau kelas XII nih. Jadi kapan kamu mau masuk les lagi?”
“Wah, kamu sudah merindukanku ya?”
“Iya kangen bercandaan sama kamu ”
“Emang pernah bercandaan po? Sabar bentar lagi aku daftar les. :p”
“Hahaha oke aku sabar menanti kok. :p”
~o~
Juni, 2016
Ketika aku membuka Instagram. Aku melihat postingan Ariz foto cewek dari belakang yang memegang tiket nonton film horror. Entah perasaanku kok menjadi kacau seperti ini. Ini pasti Putri. Siapa lagi kalau bukan dia? Sudahlah Keyra, bukankah kebahagiaannya Ariz itu adalah kebahagiaanmu juga? Lagipula kalian cuma sahabatan kan? Jangan sampai kamu punya perasaan lebih, Key. Bisa bahaya. Rusak nanti persahabatanmu dengannya. Kau tidak mau itu terjadi kan? Pikirku dalam hati.
“Wih yang habis nge-date nih.” Pesan whatsapp-ku kepada Ariz.
“Iya, sekali-kali lah. Hehe” Jawabnya.
“Sudahlah, Riz. Tembak aja. Aku yakin kalian sama-sama saling suka kok.” Desakku walaupun dalam hati entah mengapa rasanya juga sesak.
“Aku gak mau kalau Awan marah padaku. Kau tau kan? Temenku yang namanya Awan itu menyukai Putri.”
“Iya tau. Tapi sebagai seorang cewek ya, kalau dia ada rasa sama cowok tuh gak bakalan nolak kalau diajak jalan. Ya kayak kamu dan Putri tadi.”
“Ah sudahlah, Key. Biar waktu yang menjawab. Oiya, gimana perkembangan kisahmu sama Indra?”
“Ya gitu-gitu mulu sih. Masih belum berkembang. Kan kamu tau kalau aku diam-diam suka sama Indra tanpa sepengetahuan dia. Ya walaupun aku sekelas sih dengannya.”
“Kenapa kamu gak bilang aja sih sama dia? Ngaku kalau yang ngasih kado waktu dia ultah itu kamu.”
“Gak ah. Malu tau. Masak cewek yang ngomong duluan. Terus kesannya kayak aku yang ngejar Indra.”
“Hemm dasar ya cewek. Ribet.”
“Heh, cowok juga ribet. Contohnya kamu tuh yang jelas-jelas pernah suka sama Putri dan sekarang deket sama dia. Eh, malah gak ditembak. Kurang apa lagi sih, Riz?”
“Kurang kalau gak sama kamu.”
“Ihhh. Apaan sih. Ga jelas -_-”
“Hehe. Sudahlah, Key. Bobok sana, Udah malem.”
“Okey. Aku bobok dulu ya, Riz. Besok aku juga harus bangun pagi karena remidi Matematika. Night, Riz ”
“Semangat ngerjainnya yah ;) Night too ”
~o~
Saat yang aku tunggu-tunggu akhirnya tiba. Semester baru pun telah datag lagi. Kini aku sudah kelas XII dan tentunya Ariz kembali lagi les di tempat yang sama denganku.
“Akhirnya berangkat juga.”
“Iya, soalnya ada yang ngangenin sih.”
“Ihhh siapa emang yang ngangenin?”
“Gak tau ya, pokoknya yang nanyain aku mulu.”
“Hish dasar.”
“Jadi mau foto gak? Katanya pengen foto bareng kalau aku udah masuk les lagi?.” Tanya Ariz padaku
“Ihhh, siapa coba yang mau foto bareng sama kamu?” Jawabku.
“Udahlah ayo buruan. Eh Nov, fotoin aku sama Keyra dong.”
“Hemm dasar kalian. Aku jadi kayak obat nyamuk deh.” Kata Novi.
Akhirnya aku dan Ariz foto bersama. Aku, Novi, dan Ariz pun sempat berfoto bersama. Sayangnya, Laras tidak berangkat les hari ini karena dia ada acara keluarga.
“Riz. Boleh aku upload di Instagram kan fotonya?” Tanyaku kepada Ariz.
“Boleh. Gak ada yang ngelarang kok.” Jawabnya.
“Oke deh kalu gitu aku pulang dulu ya.”
“Eh, aku juga mau pulang kok.”
“Iya aku juga mau pulang.” Tambah Novi.
Sesampainya di rumah aku langsung mengunggah fotoku bersama Ariz di Instagram dengan caption:
‘Anak futsal, pinter main gitar, lagi belajar finger style, pinter main alat musiklah pokoknya, anak band juga, dia moodbooster-ku, kadang juga moodbroker, kadang suka bohong biar orang lain khawatir, kadang gaje gituh, sering bkin baper dan GR, temen les, temen sekelas, temen chat, temen mention, temen curhat, temen galau, temen dari segala temen, orang pertama yang aku hubungin kalu lagi ada masalah. Dia sahabatku.’
Pagi harinya aku mendapat notofikasi permintaan izin mengikuti di akun instagramku. Loh ini bukannya Putri? Tanyaku dalam hati. Langsung aku mengkonfirmasi kepada Ariz.
“Riz, ini Putri yang pernah kamu ceritain ke aku bukan sih?” Tanyaku kepada Ariz lewat pesan whatsapp.
“Iya. Udah terima aja permintaan izin mengikuti darinya.” Jawab Ariz.
“Ihhh. Kok aku takut ya?”
“Takut kenapa?”
“Lah dia tiba-tiba follow aku -.-”
“Sudahlah. Mungkin dia ingin menambah followers dan penasaran karena ada fotoku di feed-mu ”
“Ya Allah. Jadi karena itu? Aku jadi merasa bersalah deh. Tapi kan kita cuma sahabatan, Riz. Gak lebih. Apa aku hapus aja ya fotonya?”
“Hih, siapa yang suruh hapus foto? Udahlah gak usah terlalu khawatir.”
“Hemm. Baiklah.”
Sebenarnya aku gak enak hati untuk mengizinkan Putri mengikuti akun instagramku. Ada yang mengganjal entah apa itu.
~o~