
Yogyakarta, 15 September 2017
Sseminggu pun berlalu sejak kejadian aku dan Ariz lost contact. .Aku terbangun dari mimpiku. Aku bermimpi ada notifikasi pesan dari Ariz. Seperti ini
“Key…”
Aku kemudian mengecek ponselku dan tidak ada notifikasi sama sekali. Sedih . Rasanya seperti ada yang hilang. Kebiasaan mengabari setiap waktu bahkan setiap saat kini hilang. Hebat ya, satu tahun dikalahkan dengan satu hari.
Siang hari setelah Jumatan aku masih berada di rumah saudaraku, tiba-tiba ada notifikasi pesan masuk. Aku pun terkejut. Ya, benar. Itu pesan dari Ariz. Rasanya aku sudah terbang ke awan. Kau tahu? Pesan yang dikirimkan Ariz sama persis seperti yang ada dimimpiku tadi malam. Ariz teryata juga merasa kehilangan. Ya kami sama-sama merasa ada sesuatu yang hilang jika tidak berkomunikasi. Apakah ini pertanda bahwa dia juga mempunyai perasaan yang sama denganku?
~o~
Yogyakarta, 1 November 2017
Hari ini aku janjian mau nonton Film Hujan di Bulan Juni bersama Awan, temen SMA yang cuek banget sama cewek. Tapi herannya kalau sama aku engga. Entahlah aku tidak mau ke-GR-an.
“Key, hari ini jadi kan?” Tanya Awan padaku lewat pesan whatsapp.
“Jadi dong. Kamu pulang jam berapa?”
“Agak sorean sih. Sekitar jam 16.00”
“Oke kalau gitu aku beliin tiket dulu aja ya. Takutnya habis nanti.”
“Oke.” Jawab Awan cuek.
Aku kemudian meminta tolong Ica, temen sekelasku untuk menemaniku beli tiket nonton buat nanti malem. Ya bisa di bilang kencan sama Awan. Hehe. Jomblo mah bebas kan ya? Wkwk. Cuma temen kok aku sama Awan. Lagi pula, menurutku Awan terlalu kaku kalau sama cewek. Ya walaupun kalau sama aku agak beda sih. Sungguh aku tidak menyangka sih kalau sampai si Awan ngajakin aku nonton film berdua gini. Soalnya dia terkenal cuek banget sama cewek.
~o~
Selesai beli tiket aku langsung balik ke kampus karena sebentar lagi ada kelas. Tiba-tiba ada pesan whatsapp dari Ariz. Dia bilang kalau datang ke fakultasku.
“Aku lagi di kampusmu nih.”
“Weh ngapain?”
“Mampir aja sih.”
“Dimana e? Maksudku di kampusku sebelah mananya?”
“Nih di fakultasmu.” Kata Ariz sambil mengirimkan foto.
“Yaudah aku ke sana.”
Aku lalu menemui Ariz bersama Ica. Karena aku malu kalau sendirian.
“Hey, Riz.” Sapaku.
“Eh, Keyra. Kok beda sih?” Kata Ariz sambil terkejut melihatku.
“Hah beda apanya?” Kataku kaget.
“Engga deng.”
“Hiih dasar. Eh kamu sama siapa e, Riz?”
“Sendiri.”
“Lah ini?” Tanyaku sambil menunjuk seorang cewek di dekatnya Ariz yang memakai baju adat jawa.
“Oh ini, Ana. Temenku SMP yang kuliah di sini juga.”
“Ana.” Kata cewek itu sambil mengulurkan tangannya padaku.
“Keyra.” Kataku pada cewek itu.
“Oh iya, Riz. Ini temenku namanya Ica.”
“Ica.” Kata Ica sambil mengulurkan tangannya pada Ariz dan Ana.
Sehabis perkenalan dan berbasa-basi ria. Kami pun hening sejenak. Di fakultasku kebetulan ada Festival Budaya setiap awal bulan November. Biasanya yang menjadi partisipan adalah anak-anak yang mengambil prodi Bahasa Jawa.
“Eh kamu tuh sebenernya ngapain ke sini e, Riz?” Tanyaku penasaran.
“Emang gak boleh po?”
“Ihhh tanya beneran.”
“Sekalian mampir aja sih.”
“Emang kamu habis dari mana?”
“Dari kampus sebelah habis ikut seminar di sana.”
“Oalah gitu. Eh, aku masuk dulu ya soalnya udah hampir jam 13.00 nih.”
“Oke. Semangat kuliahnya ya.”
“Oke siap.”
~o~
Kenapa sih Ariz datengnya telat, kalau dari kemarin-kemarin pasti yang nanti kencan sama aku si Ariz bukan Awan. Rasanya ingin membatalkan kencanku sama Awan dan ngasih tiket nonton ke Ariz. Tapi kasian Awan dan aku pun udah bilang kalau mau main sama Awan. Ya sudahlah nanti dikiranya aku plin-plan.
“Wooy, Key!” Kata Ica mengagetkanku.
“Astaga, Ica. Nanti kalau aku jantungan gimana?”
“Ya kamu sih. Ngelamun. Hayooo, ngelamunin Ariz ya? Cie yang habis diapelin.” Kata Ica menggodaku.
“Ihhh apaan sih.”
“Kencanya sama Awan tapi yang ngapelin Ariz. Dasar menang banyak kamu, Key.”
“Yaampun cuma temen semua.”
“Halah. Sini kasih aku satu sini, kalau kamu kebanyakan.”
“Apaan sih, Ca.”
“Bercanda yaampun.”
“Haha iya aku tau. Eh, Ca. Kok rasanya aku pengen ngasih tiket ke Ariz dan membatalkan kencan sama Awan ya?”
“Ya gapapa sih. Tapi kasian Awan. Udahlah ga usah plin-plan jadi cewek tuh. Lagi pula aku yakin, masih ada banyak kesempatan kalau mau kencan sama Ariz tuh. Buktinya kemarin kalian habis marahan terus sekarang diapelin. Uwu cie cie.” Kata Ica sambil menyenggolku.
“Ya emang bener kan?”
“Iya iya. Udah fokus kuliah dulu. Dah masuk tuh dosennya.”
“Iya, Key.”
Setelah kelas selesai aku langsung pulang ke kos bareng Ica. Aku janjian sama Awan sehabis Magrib. Dia mau menjemputku dan sehabis nonton nanti rencananya kita mau dinner bareng. Yaampun kayak orang pacaran aja-.- Tiba-tiba ada pesan masuk dari Ariz.
“Untung tadi kamu nemuin aku.”
“Lah emang kenapa?”
“Engga sih. Akhirnya aku tau acara untuk bisa menemuimu setelah sekian lama.”
“Untung aku kuliah.”
“Ya kan emang sengaja aku ke sana pas kamu kuliah.”
“Ihhh dasar ya.”
~o~
“Wan, kalau OTW bilang ya.” Kataku pada Awan.
“OTW” Jawab dia cuek.
Tiga puluh menit pun berlalu. Awan pun datang ke kosku. Penampilannya yang bisa dibilang lumayan keren sih menurutku. Dia ganteng, putih, tinggi. Awan itu temenku waktu kita lomba debat Bahasa Inggris waktu SMA. Kami semakin deket karena waktu kelas XII les di bimbel yang sama. Sebenernya Awan dan Ariz pun saling kenal. Awan tau sih kedekatanku sama Ariz seperti apa. Tapi Ariz ga tau tentang kedekatanku sama Awan. Ihh mikir apa sih aku. Aku sama Awan CUMA TEMEN.
“Mau makan dimana, Key?” Tanya Awan padakku seusai nonton film.
“Ngikut kamu aja deh.” Jawabku malas menentukan pilihan.
“Yaudah, searah jalan pulang aja ya.”
“Oke.” Jawabku singkat.
Di perjalanan pulang, Awan dan aku masih saja membahas film yang habis ditonton tadi.
“Ah ga seru filmnya nggantung ending-nya.” Kataku
“Ya justru itu, kita sebagai penonton menyelesaikan ceritanya sendiri. Gimana sih kamu anak sastra gitu aja gak tau.”
“Hih aku tau. Tapi aku gak suka ending¬-nya.”
“Kalau kamu gak suka, besok bikin film sendiri.”
“Oke, kamu jadi pemerannya ya.”
“Aku mau jadi pemerannya asal kamu jadi pacar aku. Pemeran yang pura-pura jadi pacar kamu maksudnya.” Kata Awan dengan nada bercanda.
“Ihhh gak mau. Masak pacaran pura-pura.”
“Ya pura-pura sampai kamu lupa kalau kita sedang pura-pura.”
“Ihh apaan sih bercandanya gak lucu, Wan.”
“Hemm iya deh iya. Dah sampe nih. Cepetan turun.”
“Hih iya bawel.”
Seusai dinner Awan lalu mengantarku pulang ke kos dan tanpa basa-basi dia pun pamit pulang. Tiba-tiba ada pesan dari Lutfi, temen TK yang tanggal ulang tahunnya sama persis denganku. Dia sahabat dekrtnya Awan dan mantanya Ajeng, temen sekelasku waktu SMA.
“Lagi ngapain, Key. Kapan-kapan main bareng yuuk, Key. Bosen nih.” Kata Lutfi.
“Ini aku habis nonton bareng sama Awan.” Kataku.
“Hih kok gak bilang-bilang sih. Wah si Awan curi start nih.”
“Apaan sih kamu.”
“Ayo cus agendakan main bareng.” Ajak Lutfi.
“Oke berempat ya.”
“Kok berempat? Siapa aja emang?”
“Lah masa bertiga dan aku cewek sendiri. Ya sama Ajeng lah.”
“Ah gak mau kalau sama dia.”
“Yaudah gak jadi kalau gak mau sama Ajeng.”
“Yaelah. Oke deh sama Ajeng. Tapi aku boncengannya sama kamu dan biar si Awan boncengan sama Ajeng.”
“Kalau Awan maunya sama aku gimana? wkwk”
“Bodo amat.”
“Hemm iya de hiya. Yaudah aku bikin grup buat kita main bareng.”
Aku kemudian membuat grup yang isinya Awan, Ajeng, Lutfi, dan aku. Aku suka kebebasan ini dalam arti jomblo kan bebas mau main sama siapa aja. Tapi entah mengapa aku malah kepikiran sama Ariz. Setelah berdiskusi yang cukup membuang-buang waktu akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke pantai besok Jumat minggu ke dua awal Januari.
Keesokan harinya aku mendapat pesan dari Ariz. Dia mengajakku jalan bareng.
“Key, ada waktu luang gak?”
“Emang kenapa, Riz?”
“Main yuuk. Oiya btw kamu punya kartu Timezone gak?”
“Kartu Timezone? Mau ngajak aku foto bareng po? Wkwk.”
“Hehe tau aja.”
“Aku gak punya sih, temenku yang punya. Tapi kalau emang kamu mau ngajak aku foto snapshot bareng besok aku yang bikin kartunya.”
“Oke siap. Jadi mau hari apa nih?”
“Rabu aja gimana?”
“Oke, fix Rabu.”