
Yogyakarta, 3 Agustus 2018
Senjak hari pengakuan itu, kedekatanku dengan Ariz semakin erat. Meskipun ada beberapa hal yang masih perlu kami bicarakan. Teman-temanku justru meminta aku dan Ariz untuk mengesahkan hubungan kami berdua. Bukan nikah, tapi maksudnya adalah statusnya yang dirubah jika emang saling mencintai. Sebenarnya aku dan Ariz tidak masalah akan hal itu.
“Emm, aku mau cerita sesuatu.” Kataku membuka pembicaraan.
“Ya, cerita aja. Aku kan pendengar setiamu dari dulu.” Kata Ariz sambil tersenyum manis padaku.
Aku kemudian menceritakan semuanya tentang perkataan teman-temanku. Bukan aku yang ingin merubah statusku dengan Ariz tapi justru teman-temanku yang mungkin gemes sama hubunganku dan Ariz.
“Sebenernya aku gak masalah sih. Lagi pula seperti yang pernah aku bilang sebelumnya kalau status gak merubah perasaan to?” Kata Ariz.
“Iya sih.” Jawabku singkat.
“Lagi pula kita kan yang menjalin hubungan, bukan mereka.” Tambah Ariz.
“Heeey… Pada ngomongin apa sih? Serius amat? Yuuk berangkat. Mila sama Edi udah datang tuh.” Kata Rinku, temen satu kosku, membuyarkan lamunanku.
Hari ini kami berenam (Aku, Ariz, Rinku, Aldy, Mila dan Edi) mau ke Festival Kesenian Yogyakarta (FKY). Fistival tahunan gitu. Sebenarnya ada tambahan dua orang lagi sih, yaitu Huzaen dan Tyas. Tapi berhubung rumah Huzaen deket dari lokasi FKY jadi kami tidak berangkat bareng.
Sampai di sana kami pun berpencar, pada asik sendiri, baik itu Rinku sama Aldy, Mila dan Edi, Aku dan Ariz pun mencari Huzaen dan Tyas.
“Katanya sih mereka di sekitaran sini.” Kata Ariz padaku.
“Mana? Gak ada kok.”
“Weey, Riz.” Kata Huzaen mengagetkanku dan Ariz.
“Kalian baru sampai po?” Tanya Tyas.
“Iya nih. Tadi lama karena nunggu temenku.” Jawabku.
“Yaudah, beli makan aja yuuk. Laper nih dari tadi.” Kata Tyas.
Kami berempat pun mencari makanan dan minuman. Sampai kami bertemu lagi dengan Rinku, Aldy, Mila dan Edi.
“Mil, titip tempat ya. Aku sama Ariz mau cari makanan dan minuman dulu.” Kataku.
“Oke.” Jawab Mila sambil mengacungkan jempol.
Selesai membeli makanan dan minuman, aku, Ariz, Huzaen, dan Tyas pun ke meja tepat Rinku, Aldy, Mila dan Edi.
“Eh, mbak, mbak… Itu ada yang makai.” Kata Mila pada Tyas.
“Yah, kita gak dapet tempat dong, Sayang.” Kata Tyas pada Huzaen.
“Yaudah cari tempat lain aja.” Kata Huzaen.
“Eh mau ke mana?” Tanyaku.
“Lah ini gak ada tempat kok.” Kata Huzaen padaku.
“Gak papa ini tuh temen-temen aku semua. Tyas sama aku pakai kusi ini, terus kamu dan Ariz cari kursi lagi sana.” Kataku pada Huuzaen.
“Oalah ini temenmu yang katanya janjian di sini itu to, Key?” Tanya Mila memastikan.
“Sini-sini ikut gabung aja.” Kata Rinku dengan ramah.
Kami berdelapan pun saling bercandaan satu sama lain. Senang sekali ranyanya bisa dikenalkan dengan temen deketnya Ariz dan Ariz pun sudah aku kenalkan dengan temen deketku. Setelah jam menunjukkan angka sebilan kami pun segera pulang.
“Key, aku mau ngomong sama kamu.” Kata Ariz memecahkan keheningan malam.
“Ya ngomong aja. Eh, bentar deh. Kenapa lewat sini? Bukannya malah lebih jauh kalau lewat sini?” Tanyaku pada Ariz, karena kami melewati jalan yang salah.
“Ya emang sengaja sih lewat sini.” Jawab Ariz.
“Loh kenapa?” Tanyaku penasaran.
“Biar bisa lama-lama sama kamu.”
“Ihhh… apaan sih, Riz.”
“Key, mau gak jadi pasanganku?”
“Emang aku harus jawab? Bukannya kamu udah tau jawabannya?”
“Ya buat memastikan aja sih.”
“Emmm… Maaf, Riz. Aku gak bisa…”
“Yaudah gapapa.”
“Ihhh… Belum selese tau.”
“Lha aku udah tau kelanjutannya.”
“Emang kelanjutannya apa?
“Gak bisa nolak aku kan? Haha”
“Mainstream banget ya?”
“Iya. Jawabanmu tuh kayak…”
“Kayak siapa? Siapa yang pernah jawab gitu pas kamu tembak?” Tanyaku dengan nada agak tinggi karena sebel.
“Ya santai to. Gak usah cemburu gitu.”
“Siapa? Cepetan bilang!”
“Iya iya. Mantanku yang pertama. Tapi dulu nembaknya lewat SMS. Dia balasnya juga lewat SMS. Eh, tapi itu pas balikan po ya? Ah tau ah udah lupa. Ngapain dingat-ingat.”
“Ya kamu kok yang ngingat-ngingat”
“Iya deh maaf. Udah gak usah marah-marah. Eh, Udah sampai nih.”
Akhirnya aku dan Ariz sudah sampai di kosku. Karena sudah hampir larut malam Ariz pun berpamitan.