Broken

Broken
Putri



Suatu hari, aku melihat postingan Putri bersama Ariz. Hal ini berkali-kali terjadi. Ariz juga memposting foto bersama Putri. Rasanya aku ingin off dari semua media sosial. Aku muak dengan postingan mereka berdua. Alasan fokus UN adalah alasan yang paling tepat untuk menghindari hal itu. Sampai suatu saat Ariz mengirim pesan kepadaku lewat whatsapp.


“Seperti orang jauh rasanya.” Kata Ariz.


“Santai saja, Riz. Aku gak bakalan menjauh kok darimu. Jika rasanya jauh itu hanya perasaanmu saja.” Jawabku dan aku kembali off karena aku muak dengan sahabatku yang satu itu.


Hari ini ada jadwal les. Sebenarnya aku malas untuk berangkat karena akan ketemu Ariz. Entahlah apa yang aku rasakan. Mengapa rasanya seperti ini Ya Allah.


“Hey, Key.” Sapa Ariz padaku.


“Hey.”


“Oiya, sepulang les nanti akum au curhat nih.”


“Oke nanti ya.”


Aku sudah muak, Riz. Tapi mau gimana lagi? Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga. Mau tidak mau aku harus menelan kepahitan ini sendirian. Pikirku dalam hati. Setelah selesai les, Ariz curhat panjang kali lebar tentang Putri. Di situ juga ada Novi yang mendengarkan.


“Apa? Jadi kamu belum jadian sama Putri, Riz?” Tanyaku.


“Iya. Kan aku sudah bilang kalau hanya main.” Jawab Ariz.


“Ihhh jahat banget nih, Nov temenmu. Masak udah berkali-kali jalan bareng gak jadian sih? Ya jelas lah Putri minta kejelasan hubungan. Iya kan, Nov?”


“Iya bener. Ya jelas lah cewek minta kejelasan kalau udah jalan bareng gak Cuma sekali dua kali doing. Kamu udah berkali-kali jalan sama Putri, Riz. Sumah ya jahat kamu, Riz.”


“Kok kalian malah jadi nyalahin aku sih? Aku kan niatnya curhat nyari solusi bukan buat minta disalahin gini.”


“Ya habisnya kamu gitu sih. Kita sebagai kaum cewek ga terima ya kan, Nov?”


“Iyak betul itu.”


“Terus aku harus gimana dong sekarang?” Tanya Ariz padaku dan Novi


“Ya ampun masih nanya? Ya tembaklah Putri.” Jawab Novi.


“Aaarghhh… aku tuh males eh. Mau fokus UN dulu.” Jawab Ariz.


“Hadeh. Mau fokus UN tapi kerjaannya main mulu.” Tambahku.


“Ya sudah yuk pulang ntar keburu malem.” Kata Novi.


“Yuuuk.” Aku dan Ariz kompak menjawab.


Di perjalanan pulang aku kepikiran tentang Ariz dan Putri. Mengapa mereka tidak jadian jika saling mencintai? Apa yang sebenarnya membuat Ariz ragu untuk menembak Putri? Ah, sudahlah. Buat apa aku pusing-pusing memikirkan hal yang bukan porsiku. Kataku dalam hati.


~o~


Seperti biasa, hari ini ada jadwal les. Males dan mager adalah musuh utama. Apalagi bertemu dengan Ariz, huh. Maafin aku ya, Riz. Aku sedikit munafik.


“Key.”


“Hey, Riz.”


“Eh, nanti aku mau ngomong bentar.”


“Ngomong apa? Kenapa gak sekarang aja?”


“Gak mau lah. Fokus les dulu.”


“Hemm. Yaudah deh.”


Kira-kira Ariz mau ngomong apa ya? Apa dia ingin mengutarakan perasaannya padaku? Dia ragu menembak Putri karena punya perasaan denganku? Ah, mana mungkin? Atau dia mau memberitau bahwa dia sudah resmi jadian dengan Putri? Aduh, hal ini sangat mengganggu pikiranku. Jadi gak fokus les. Bel tanda les selesai pun berbunyi. Aku dan Ariz menuju ke gazebo taman les. Kebetulan Laras dan Novi tidak masuk hari ini.


“Aku minta maaf, Key.”


“Hah? Maaf buat apa?”


Apa Ariz mau menembakku? Sungguh? Apa benar seperti apa yang aku pikirkan selama ini? Perhatiannya dan semua gombalan-gombalannya padaku? Pikirku dalam hati.


“Aku menghianati prinsipku. Aku sudah jadian sama Putri beberapa minggu yang lalu setelah aku curhat sama kamu dan Novi.”


“Ya bagus dong kalau gitu. Tapi kenapa kamu minta maaf padaku? Itu kan prinsipmu. Kamu seharusnya minta maaf pada diri kamu sendiri karena tidak menepatinya.”


“Entah, tapi aku ingin minta maaf padamu.”


Huh aku tidak tahu apa yang sebenarnya Ariz pikirkan dan mengapa dia minta maaf padaku? Semakin rumit saja.


~o~


Rasanya aku ingin memberi Ariz sebuah ucapan emm lebih tepatnya pesan kali ya. Isi pesan tersebut adalah:


‘Hey Riz. Tetep jaga prinsip kita ya. Sahabat Selalu Selamanya’


Aku tulis pesan tersebut di sticky note-ku dan aku berikan kepada Ariz saat les. Hari demi hari berlalu kini curhatan Ariz tidak lagi tentang hal-hal yang bahagia. Namun, kegalauan yang membuatnya mengakhiri hubungan dengan Putri.


“Ya, kamu coba pahami Putri lagi dong, Riz.”


“Aku kurang memahami dia seperti apa lagi sih, Key?”


“Ya aku gak tau. Kan kamu yang ngejalaninnya. Pokoknya pesanku adalah pertahanin selagi mampu. Karena takutnya kamu nyesel setelah melepasnya.”


“Ya sudahlah. Akan ku coba.”


“Oke. Semangat ya.”


“Iya.”


Malam itu seusai les. Aku langsung tidur. Anehnya aku bermimpi Ariz curhat padaku dan mengatakan bahwa dia putus dengan Putri. Aku terbangun. Oh, ternyata aku hanya mimpi. Aku kira beneran. Udah terlanjur seneng eh ternyata cuma mimpi. Batinku dalam hati. Aku lalu melanjutkan tidurku karena masih dini hari.


Dua minggu berlalu. Aku mendapat pesan whatsapp dari Ariz.


“Key, sepertinya saranmu sudah tidak diperlukan lagi.”


“Hah? Apa maksudmu, Riz?”


“Aku putus sama Putri.”


Hah sungguh? Kenapa mimpiku jadi kenyataan gini? Pikirku dalam hati.


“Hah? Sejak kapan?”


“Barusan tadi sore.”


“Siapa yang mutusin?”


“Dia tanpa alasan yang jelas.”


“Terus kamu mau diputusin? Bukannya kamu masih saying sama Putri?”


“Enggak kok. Siapa bilang? Aku udah males sebenernya. Aku udah tanya kok alasannya apa tapi belum dibales sampai sekarang. Yaudah. Mingkin ini jalan supaya aku fokus UN.”


“Hilih. Paling bentar lagi taken.”


“Sama siapa? Sama kamu?”


“Heh, mana ada? Kan aku uadah bilang aku taken-nya 2025.”


“Iya sama aku kan?”


“Gak ah bahaya kalau sama kamu”


“Bahaya soalnya dibikin bahagia terus kan?”


“Hih apaan sih. Bercanda mulu deh.”


Entah mengapa kok aku seneng ya denger berita kalu Ariz sama Purti putus. Hehe. Jahat banget ya aku


~o~