
"Len, perasaan gue jarang liat cowok lo tuh hari ini tepatnya" Alenna mengerutkan alisnya karna tidak mengerti maksud dari ucapan Amel.
"Cowok? Cowok gue? Siapa?" Tanya Alenna polos. Amel hanya memutar bola matanya malas.
Yaelah, pakek pura pura **** lagi.
Ketus Amel dalam hati.
"Ituloh, si Kenzo. Kemana dia?" Kini Alenna sudah tau siapa orang yang di maksud Amel.
"Owh, mana gue tau. Masa bodo juga gue sama orang itu" Acuh Alenna malas. Jujur Alenna juga baru menyadari hal itu.
Karna biasanya Kenzo mengantar Sarah kesekolah bahkan menunggu di sekolah sampai siswa siswi pulang. Tau sekrang malah tidak terlihat batang hidungnya.
"Masa sih? Lu kan ceweknya"
Sembarangan aja nih bocah kalo ngomong!.
Geram Alenna dalam hati.
"Sembarangan!. Siapa juga yang jadi ceweknya dia. Lagian nih ya, dia bukan siapa-siapa gue, jadi otomatis gue gak tau dia dimana sekarang. Kalau masih gak percaya, tanya aja sama ortunya!" Jelas Alenna panjang sepanjang rel kereta api.
"Owh yaudah, kirain" Keadaan menjadi hening kembali. Alenna melihat ke sekeliling kantin, kini sudah tidak ramai lagi. Sampai saatnya, pandangan Alenna bertabrakan dengan pandangan Steven yang tengah berjalan menuju parkiran bersama teman temannya.
Entah Alenna salah lihat atau memang bener dia merasa Steven sedang...
Senyum kearah gue?.
Tanpa sadar, Alenna membalas senyuman itu dengan senyum tipis yang manis.
Amel yang kini memperhatikan kemana arah pandangan Alenna terarah, mengikuti pandangan itu sampai ia melihat Steven yang tengah memandang Alenna juga dengan senyum tipis begitu juga dengan Alenna. Senyum jahil pun muncul di wajah Amel.
Kayak sinetron aja pandang-pandangan jarak jauh, mana sama-sama senyum lagi.
Jahil Amel dalam hati.
"Ekhem" Alenna langsung mengalihkan pandangannya kearah Amel yang kini masih tersenyum jahil.
"Kenapa lo?" Tanya Alenna yang heran dengan senyum jahil Amel yang menurutnya ada satu maksud dibaliknya.
"Tatap-tatapan, senyum-senyuman. Aduh romantis sekali, ngalahin film India" Ledek Amel yang sudah membuat Alenna malu sekaligus tersindir secara halus.
"Ngomong apa sih lo?" Karna tidak sanggup menanggung malu, Alenna memilih pergi meninggalkan Amel begitu saja.
"Woy! Tungguin!". Amel pergi menyusul Alenna dengan sedikit berlari.
"Eh mangkoknya di balikin atuh" Seketika langkah Amel terhenti mendengar suara mbak Wati yang menyuruhnya untuk mengembalikan mangkuk.
"Eh iya, lupa" Amel segera mengambil mangkuk bakso yang kosong melompong itu dan memberikan kepada mbak Wati. Setelah itu ia kembali pergi menyusul Alenna.
πππ
Alenna segera mengambil tasnya dan beranjak pergi meninggalkan pekarangan sekolah. Hari ini ia memilih naik angkot untuk kendaraan pulang pergi.
Ia berjalan menuju halte untuk menunggu angkot. Sambil menunggu ia memilih bermain HP supaya tidak bosan. sampai saatnya segerombolan laki-laki yang Alenna yakini dari sekolah lain mendekat dan bergabung menunggu di halte tersebut.
Mereka sangat berisik dan tertawa yang membuat Alenna merasa risih.
Tapi Alenna berpura-pura tuli dan menganggap ia tidak mendengar apapun.
"Cuy, cewek tuh" Ucap salah satu cowok yang menyadari kehadiran Alenna.
"Eh iya tuh. Bening amat ya" Sahut temannya yang ikut memperhatikan Alenna dengan tertawa tawa.
"Itu bukannya seragam anak Cakrawala kan?" Tanya salah satu mereka yang kini sadar bahwa Alenna merupakan siswi dari SMA cakrawala.
"Iya bener" Jawab temannya yang menyetujui.
"Eh cantik, sendirian aja" Genit salah satu cowok mendekati Alenna dengan kedua tangan di masukkan kedalam saku celana.
Alenna masih terdiam memainkan HP dan tidak berniat menatap cowok di sampingnya ini.
"Mau abang temenin gak?" Tanya cowok genit itu sekali lagi membuat Alenna semakin risih. Sedangkan teman temannya hanya cekikikan.
"Idih jutek amat" Ujar cowok itu menyentuh bahu Alenna dan segera di tepis oleh Alenna.
"Apaan sih megang-megang!" Ketus Alenna yang sangat tidak suka perilaku cowok satu ini.
"Jangan galak galak dong. Tar cantiknya ilang lagi" Gombal cowok itu yang membuat Alenna memutar bola mata.
"Seterah gue dong. Bawel aja" Balas Alenna ketus yang membuat pria itu semakin tertarik.
"Lo anak cakrawala kan?" Tanya cowok itu.
Nih cowok banyak bacot banget sih! Emang kalau gue anak cakrawala, nih bocah mau ngapain?.
Batin Alenna.
"Hmm"
"Mending pulang sama gue aja. Gue bawa mobil" Tawar cowok itu yang langsung di jawab oleh Alenna.
"Gak perlu. Gue naik angkot aja" Tolak Alenna yang terdengar sangat jelas.
"Udah ayok, gapapa gue anter. Tapi sebelum itu, lo ikut gue dulu" Ujar pria itu memaksa Alenna dengan menarik tangannya membawa Alenna ikut. Namun Alenna dengan kasar melepaskan cekatan tersebut dengan sangat tidak suka.
"Alah sok jual mahal lo. Dasar ***** cakrawala!"
******* nih cowok!.
Plakkk!
Seketika itu juga Alenna menampar pria di hadapannya karna kesabarannya telah habis.
"Dasar banci! Beraninya sama cewek. Gue harap, gak ada satupun cewek yang mau sama lo!" Ketus Alenna yang sudah tak terkendali dengan penuh amarah.
Mereka semua terdiam, termasuk pria itu dan teman-temannya. Saat itu juga angkot datang, Alenna langsung menaiki angkot itu tanpa mengucapkan sepatah katapun dan meninggalkan para gerombolan pria ******* itu di halte.
Mereka pikir, gue ****** apa?. Sembarangan aja narik narik tangan orang. Cih dasar *** anjing!.
Emosi Alenna dengan terus menetralkan emosinya dan napasnya yang memburu.
Disisi lain, dari kejauhan halte. Seorang pria tengah menatap tajam segerombolan laki-laki tadi di balik kaca jendela mobil.
Pria itu terlihat sangat menakutkan dengan rahang yang mengeras dan juga sorot mata dingin yang dapat membunuh siapa saja di depannya.
Pria itu nampak ingin menelpon seseorang lewat HP yang berada di tangannya.
"Hallo tuan, ada apa?" Tanya seseorang dari sebrang sana.
"Kau cari tahu segerombolan laki-laki yang berada di halte itu dan setelah itu, bawa dia kehadapan ku" Titahnya tajam.
"Maaf tuan, segerombolan laki-laki yang di halte?. Bukankah sangat banyak halte di Indonesia ini?. Bisakah anda mengirimkan foto mereka kepadaku, tuan?"
"Baiklah, aku akan kirimkan fotonya dan segera bawa dia kehadapan ku"
"Baik tuan"
Tanpa basa basi, pria itu menutup sambungan telpon dan beralih menuju kamera handphone untuk memfoto segerombolan laki-laki tersebut dan setelahnya mengirimkan foto itu kepada seseorang yang ia telpon tadi.
Berani kurang ajar kepada Alenna, sama saja seperti menghantarkan nyawa kepadaku.
Batin pria itu sangat mengerikan dengan senyum miring yang menghiasi wajah tampan pria itu.
πππ
Hari telah menjelang malam. Namun pria itu masih berdiam diri sambil menatap keluar jendela dengan tatapan dingin dan tanpa ekpresi.
Ia menunggu kabar dari anak buahnya mengenai kejadian tadi.
Drtttt!.
Tak lama HPnya bergetar, segera ia mengambil benda pipih tersebut dari saku celana dan menggeser tombol answer di layar slide.
"Udah dapet?" Tanya pria itu dengan tenang.
"Sudah tuan, saya akan membawa mereka ke tempat anda sekarang dan mengenai informasi, mereka siswa yang bukan dari SMA nona Alenna"
Jelas lawan bicaranya dari sebrang sana.
"Baiklah, cepat bawa mereka kemari" Titah pria itu dan langsung menutup sambungan telepon.
Skip~
Dengan tenang, pria itu duduk di sofa dengan satu kaki yang berada di atas paha. Sedangkan tatapannya, terarah kepada beberapa laki-laki yang tengah terduduk di lantai dengan kepala menunduk ketakutan.
Pria itu bangkit dari duduknya, dan menghampiri mereka dengan langkah pasti dan tatapan tajam tentunya.
Pria itu berjongkok di hadapan segerombolan laki-laki yang tengah duduk bersejajar.
"Siapa nama mu?" Tanya pria itu kepada salah satu dari merekaa yang berada persis di hadapannya.
"Na-nama saya, Dit-Dito" Gugup pria itu dengan keringat dingin yang mengucur di sekujur tubuhnya.
"Dito?. Apa kau tahu siapa gadis ini?" Pria itu menyodorkan sebuah foto seorang gadis kepada orang yang di ketahui namanya adalah, Dito.
"Sa-saya tahu, dia gadis ****** yang menggoda saya di halte tadi sore" Mendengar pernyataan itu, pria yang berhadapan dengan Dito pun mengepalkan tangan kuat sampai urat tangannya terlihat jelas.
"******? Menggoda?" Tanya pria itu dengan nada rendah karna meredam kemarahan.
Buk!
Satu tonjokan melayang kepada Dito sukses membuat salah satu sudut bibirnya berdarah. sontak membuat yang lain ketakutan.
"Ma-maaf kan saya" Ucap Dito dengan sangat ketakutan. Tanpa mengucapakan sepatah kata, pria itu bangkit dan berjalan menuju pintu keluar. Namun saat berada tepat di ambang pintu, pria itu berhenti dan setengah menoleh kearah para laki-laki itu.
"Jika kau berani beraninya mengusik, menggoda, dan kurang ajar kepada gadis itu lagi. Jangan salahkan aku jika nantinya, kepala mu terlepas dari tubuhmu" Ancam pria itu dan langsung pergi meninggalkan ruang gelap tersebut.
"Kembalikan mereka ke keluarganya, sebarkan rumor atas tindakannya di setiap sekolah dan jangan sampai namaku kotor sedikitpun!" Titah pria itu yang sangat tidak bisa di bantah kepada salah satu anak buahnya yang setia menunggu di balik pintu.
πππ
Reader's, maaf banget karna dikit banget dan upload nya lama...
So, semoga kalian suka...
Jangan lupa support dan comment ceritanya!!!. Sampai ketemu di chapter selanjutnya!!!