Broken

Broken
Dilema 3



Yogyakarta, 31 Juli 2017


Hari ini adalah hari dimana untuk pertama kalinya aku dan Ariz pergi berkencan. Biasanya kami bertemu hanya saat les.


“Riz, jangan lupa bawa buku motivasiku yang kamu pinjem.”


“Iya, siap. Ketemu dimana nih?”


“Di SPBU Jalimbar ya.”


“Oke. Siap.”


Rasanya tidak menyangka, aku pikir setelah lulus SMA aku tidak akan bertemu dengan Ariz lagi. Tapi ternyata kenyataannya malah hubunganku dengan Ariz semakin dekat.


“Riz. Aku udah sampe nih. Kamu dimana?” Pesan whatsapp dariku untuk Ariz.


“OTW nih.”


“Hmm, dasar cowok.”


Selang sekitar 15 menit Ariz pun datang. Dia pun hanya memakai sandal jepit sama seperti denganku. Hmm, untungnya aku gak muluk-muluk untuk kencan pertama ini. Jadinya kan gak malu:)


“Yaudah yuuuk berangkat.” Kataku.


“Yuuuk. Ke toko buku kan?”


“Lah emang ada tujuan lain?”


“Ya siapa tau mau mampir nonton sekalian.”


“Udahlah ke tujuan utama dulu.”


“Oke siap.”


Aku dan Ariz berangkat bersama tapi dengan dua motor yang berbeda. Ya, kami tidak berboncengan. Akhirnya kami sampai ke toko buku yang aku inginkan. Toko bukunya adalah toko buku bekas yang menjual buku-buku


berbahasa asing dan kebanyakan novel. Berhubung aku sudah diterima di PTN jadi aku di rumah sangat gabut dan pelarianku adalah membaca buku. Kebetulan Ariz mau menemaniku mencari novel. Senangnya.


“Mau cari apa, Mbak?” Sapa Ibu pemilik toko.


“Mau cari novel, Bu.”


“Oh, kalau novel sebelah sini.” Sambil menunjukkan bagian rak buku yang isinya novel barat semua.


“Saya ambil yang ini, Bu.”


“Oh ya, Mbak. Harganya Rp75.000”


“Baik, Bu. Ini ya uangnya.”


“Ya, Mbak. Terimakasih.”


Seusai membeli buku aku dan Ariz menuju perkiran sepeda motor. Lumayan agak jauh dari tempat toko buku tadi karena tempat toko buku tersebut masuk gang sempit dan terpaksa motor kami berdua ditinggal di luar gang.


“Udah nih, kayak gini doag dan langsung pulang?” Tanya Ariz.


“Iya, emang mau ngapain?” Jawabku santai.


“Nonton yuuk.”


“Hah nonton apa?”


“Apa aja deh. Film Actiion.”


“Emm, oke deh. Tapi kembaliin bukuku dulu.”


“Iya iya. Nih.” Kata Ariz sambil memberikan bukuku.


“Oke.”


Sewaktu aku mengecek jadwal film aku liat ada notifikasi BBM masuk dan itu dari Fian. Aku belum sempat membukanya dan segera menutup ponselku karena tidak enak jika ketahuan Ariz. Setelah membayar tukang


parkir kami pun menuju bioskop. Di tengah perjalanan aku baru sadar bahwa sebentar lagi masuk waktu duhur.


“Eh, Riz. Sholat dulu aja ya. Tuh udah azan. Lagi pula jadwal filmnya jam 1 an kok.”


“Oke kalau gitu aku ngikut kamu aja.”


“Masjid sini aja ya.”


“Ya.”


Saat aku berwudu aku berniat untuk membalas BBM dari Fian dan ternyata sudah tidak ada. Awalnya aku heran mengapa bisa tidak ada. Kemudian aku lihat di kontak dan ternyata Fian menghapus kontakku. Aku kemudian


menghubungi temen deketku yang kebetulan dia adalah saudaranya Fian. Namanya Ola.


“Ola. Fian kenapa sih? Tiba-tiba menghapus kontakku? Aku salah apa?” Tanyaku pada Ola.


“Wkwk kok bisa sih, Key? Gimana ceritanya? DM lewat Instagram coba.”


Aku mengikuti saran dari Ola. Ya, bukannya apa-apa. Bukannya aku takut kehilangan gebetanku ya. Tapi aku gak suka kalau aku punya musuh atau orang yang membenciku Cuma gara-gara cintanya tidak terbalas. Ternyata Fian bukan hanya menghapus kontak BBM tetapi juga men-unfollow Instagramku. Bahkan dia nge-block akunku. Jahat banget sih. Kayak anak kecil lebih telatnya. Sebel deh. Aku rasanya ga mood buat non ton film hari ini. Tapi mau gimanapun aku harus tetap ceria seolah-olah ga ada apa-apa di depan Ariz. Aku kemudian curhat sama Ola,


sahabatku yang kebetulan saudaranya Fian.


“Olaaa. Yaampun kelakuan adek sepupumu kayak anak kecil deh. Hih sebel.”


“Apa sih, Key? Kenapa lagi?”


“Dia tiba-tiba tadi ngirim BBM ke aku terus belum sempet aku bales eh kontak BBM-ku dihapus sama dia dan


Instagramku di-unfollow bahkan di-block.”


“Kok bisa sih? Yudah tunggu ya, mungkin bentar lagi dia curhat sama aku. Ntar tak kasih tau deh.”


“Emm, oke makasih Ola. Tapi aku sebenarnya tidak terlalu kepo. Aku hanya takut kalau adek spupumu itu


membenciku dan memusuhiku. Aku takut punya musuh hanya karena masalah sepele


ini.”


“Iya iya, Key. Aku paham kok.”


Seusai sholat aku dan Ariz menuju ke bioskop. Film yang kami tonton adalah film action. Rasanya tidak fokus, pikiranku buyar. Aku kepikiran tentang Fian. Akhirnya, film pun selesai. Aku dan Ariz langusng pulang. Setibanya di rumah, aku melihat story Instagram-nya Ariz dan ternyata itu adalah fotoku dari belakang saat aku mengendarai motor. Aku jadi ingin update juga. Aku kemudian update foto tiket nonton ke story Instagram. Story-ku tersebut dibalas oleh Exza, temen deketnya Fian.


“Cieee, udah berani nonton berdua nih sekarang.”


“Apaan sih, Za. Tuh tanyain temenmu kenapa dia hapus kontak BBM-ku sama unfollow+block Instagram-ku.”


“Loh, kalian marahan po? Habis jalan bareng kok hapus kontak sama block akun segala? Atau ini kamu jalan bukan sama Fian?”


“Tanya aja tuh sama Fian.”


Beberapa menit kemudian Fian menghubungiku lewat DM Instagram. Kali ini dia sudah tidak block akunku.


“Ngomong apa aja kamu sama Exza? Mau mempermalukan aku gitu?”


“Kamu itu ngomong apa sih?”


“Sudahlah, Key. Aku kecewa sama kamu. Makasih buat semuanya.”


Belum sempat aku balas dia udah nge-block akunku lagi. Nih anak bener-bener kayak anak kecil banget deh, hih sebel.