
Yogyakarta, 5 Desember 2017
“Key, aku udah sampai di depan kosmu.” Kata Ariz.
“Hih gak bilang. Oke bentar ya.”
Aku kemudian keluar dan ternyata Ariz memakai hoodie merah. Gak nyangka sih, karena kebetulan aku juga pakai jaket warna merah. Hiih dasar Cuma gitu aja aku baper.
“Ihhh samaan warnanya.” Kataku sambil menghampiri Ariz.
“Ya namanya juga jodoh.” Kata Ariz dengan nada bercanda.
“Kok kebetulan banget ya?” Kataku.
“Kebetulan yang sering kalau kita mah. Pas kan buat foto bareng biar kayak couple. Haha.”
“Haha. Iya. Yaudah yuuk berangkat keburu kemaleman nanti pulangnya.”
Kami kemudian berangkan ke salah satu mall yang ada di Yogyakarta. Jujur, baru kali ini aku foto snapshot bareng cowok. Rasanya aku senang bisa deket sama Ariz seperti ini dan kita berdua emang semakin deket. Ya gak nyangka juga sih bisa sejauh ini. Aku piker kita deket suma saat SMA aja. Tapi ternyata kuliah pun tetap bisa sedekat ini bahkan lebih dekat dari yang sebelumnya. Selesai foto bareng, aku dan Ariz makan malam bareng dan langsung punlang karena sudah malam.
~o~
Yogyakarta, 12 Januari 2018
“Aku otw rumahmu, Jeng.” Kataku pada Ajeng dalam bentuk pesan suara.
“Oke hati-hati.” Jawab Ajeng.
Rumah Ajeng dekat dengan SMA kami. Jaraknya jika ditempuh dari rumahku sekitar lima belas menit.
“Loh, Jeng. Awan sama Lutfi belum ke sini?” Tanyaku.
“Belum tuh. Masih tidur kalik.”
“Hem dasar ya mereka.”
“Yaudah samperin rumahnya aja.”
“Bentar-bentar ditelfon dulu aja deh.” Kataku sambil menelfon Lutfi.
“Hallo” Kata Lutfi.
“Heh, Belut. Cepetan ke rumah Ajeng sini.”
“Duh bentar aku lagi sama cewekku nih sarapan bareng.” Kata Lutfi dengan nada bercanda.
“Dasar halu.”
“Eh, beneran aku lagi sarapan bereng cewek ini. Udah kamu samperin Awan dulu aja terus ke rumahku ya. Gak ada motor soalnya.”
“Ya.” Jawabku singkat sambil menutup telfon.
“Gimana?” Tanya Ajeng.
“Dah kita langsung ke rumah Awan sekarang. Aku yakin dia masih tidur. Dari tadi pesan sama telfonku gak diangkat sama dia.”
“Lah tadi tuh kamu telfon Lutfi apa Awan?” Tanya Ajeng bingung.
“Tadi tuh si Lutfi. Terus dia bilang lagi sarapan bereng sama ceweknya dan kita disuruh nyamperin Awan dulu baru ke rumahnya Lutfi karena lagi gak ada motor di rumahnya.”
“Dasar Lutfi. Eh, emang dia udah punya pacar?”
“Entahlah. Cie cemburu ya?” Godaku.
“Apaan sih. Lutfi emang gitu suka gonta-ganti cewek seenaknya. Untung udah putus.” Kata Ajeng dengan nada jengkel.
“Halah bilang aja cemburu. Susah amat.”
“Ah udahlah ayok berangkat. Keburu siang nih.”
“Iya tuan putri.”
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumssalam. Temennya Awan ya, Nak?” Sapa Mamanya Awan.
“Iya benar, Bu.” Jawabku dan Ajeng dengan malu-malu.
“Mari masuk dulu. Awan baru saja bangun.”
“Kami nunggu di sini saja, Bu.” Jawabku.
“Iya, Bu. Di sini saja.” Tambah Ajeng.
Suasana canggung menghantui aku dan Ajeng. Tak lama kemudian Awan pun datang menghampiri aku dan Ajeng. Kami pun berpamitan dengan Mamanya Awan.
“Ma, aku berangkat dulu.” Kata Awan pada mamanya.
“Pamit dulu ya, Bu.” Kataku dan Ajeng.
“Iya. Hati-hati ya, Nak.” Jawab mamanya Awan sambil menerima jabat tangan dari Awan, Ajeng, dan aku.
Kami kemudian langsung meluncur ke rumahnya Lutfi. Benar saja dia sedang bersama seorang cewek. Hem dasar Lutfi. Jelas-jelas udah janjian sama aku dan Ajeng eh malah sama cewek lain. Kan jadi gak enak beneran kalau dia emang ceweknya si Lutfi. Ah tapi bodo amatlah. Lagi pula kami semua HANYA TEMAN.
“Ma, aku pamit ya. Dah dijemput cewekku tuh.” Kata Lutfi sambil mencium tangan mamanya.
“Dasar gonta ganti cewek.” Kata mamanya ikutan jengkel dengan anaknya sendiri.
“Pamit dulu ya, Bu.” Kataku, Awan, dan Ajeng sambil menjabat tangan mamanya Lutfi.
“Aku boncengan sama Keyra lho, Wan.” Kata Lutfi sambil meminta kunci motor padaku.
“Eh, ga bisa gitu. Aku yang sama Keyra dong. Kan siapa tau habis ini kamu bisa balikan sama Ajeng.” Goda Awan.
“Hih apaan sih kamu, Wan.” Kata Ajeng dengan muka cemberut.
“Udah deh gitu aja bikin rebut sih. Ayo keburu siang. Nanti kalian kan Jumatan juga.” Kataku.
“Dah pokoknya aku sama Keyra. Yuuk, Key.” Kata Lutfi sambil naik ke motorku.
“Hem dasar.” Kata Awan dengan muka sebel.
Akhirnya kami pun berangkat ke Pantai Wohkudu yang ada di kabupaten Gunung Kidul. Butuh waktu sekitar satu setengah jam untuk sampai sana dan ternyata harus jalan kaki untuk benar-benar sampai ke pantainya. Biasanya pantai ini digunakan untuk camping. Sampai sana kami pun bermain ombak. Di sela-sela kami bermain, Ajeng pun bertanya pada Lutfi.
“Eh, apa gak kasian sama cewekmu tadi. Dia malah kamu tinggalin gitu aja.” Tanya Ajeng penasaran.
“Nah ini nih ketauan kalau cemburu. Dia Cuma tetanggaku dan kita sarapan bareng.Emang kamu percaya kalau dia cewekku?” Goda Lutfi.
“Yaampun Bapak dan Ibu kalau urusan rumah tangga jangan di bawa pas saat liburan ya. Haram hukumnya. Yuuk, Wan. Kita pergi ke sebelah sana aja biarin mereka di sini.” Kataku.
“Yuuk, Key.” Kata Awan sambil memegang tanganku. Sebenarnya aku kaget tapi aku anggap biasa aja sih dan tak lama kemudian aku lepas.
“Eh, Wan. Fotoin aku di sini dong.” Kataku sambil melepaskan tangannya Awan dan memberikan ponselku padanya.
“Oke. Satu…duaa…tiga…”
Setelah puas berfoto-foto ria kami pun pulang karena sudah waktunya untuk Awan dan Lutfi Sholat Jumat. Setelah Sholat Jumat kami sempat beli es kelapa muda dan aku mengantar Ajeng pulang. Sesampainya di rumah ada pesan dari Ariz. Dia mengomtari story yang aku buat.
“Hemm ke pantai gak ngajak-ngajak.” Kata Ariz.
“Yah aku juga Cuma diajak mereka. Hehe” Kataku mengelak.
“Kalau ke pantai lagi mau gak, Key?” Tanya Ariz.
“Mau dong mumpung aku masih liburan nih.”
“Oke sama temen-temenku ya.”
“Oke.”
Kok aku jadi canggung ya nanti kalau sama temennya Ariz. Hih bodoh banget sih aku malah mau. Tapi yaudahlah gapapa. Semoga aku bisa langsung beradaptasi sama temen-temennya Ariz.