
Yogyakarta, 10 Agustus 2018
Seminggu setelah hari jadian dengan Ariz itu, ada suatu kejadian yang menguras hati. Berawal dari aku yang sibuk mengurus dua display UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa), sedangkan apa yang Ariz lakukan? Dia pun juga sibuk main sama cewek lain.
“Kamu lagi ngapain e bosku?” Tanya Ariz padaku.
“Ini aku lagi ngurus display UKMP (Unit Kegiatan Mahasiswa Penelitian) terus nanti rapat UKM RESTEK (Unit Kegiatan Mahasiswa Rekayasa Teknologi). Kalau kamu lagi ngapain?”
“Ini lagi di 0 km. Nonton band-band perform.”
“Sama siapa?” Tanyaku penasaran.
“Emm. Nanti aja ya kalau kamu udah selesai aku jelasin.”
Begitu membaca pesan dari Ariz, aku langsung menyimpulkan kalau dia lagi sama cewek. Kebetulan hp-ku lowbat jadi aku langsung mematikannya. Rasa batinku campur aduk. Untuk ke dua kalinya aku menjaga perasaan orang yang sama tetapi dia tidak menjaga perasaannya untukku.
Kemarin belum lama ini aku menyetujui bahwa aku dan Ariz merubah status itu rasanya percuma sekali. Rasanya lebih baik sahabatan daripada jadian. Aku merasa sedikit menyesalinya. Aku tak mampu beradu dengan cemburu. Rasanya tak kuasa, tak sanggup, dan enggan sekali merasakan rasa yang sangat menyiksa batin ini.
Mungkin memang lebih baik aku sudahi saja dan kembali seperti semula, yaitu sahabatan dengan Ariz. Ya walaupun aku dan Ariz seakan-akan menyembunyikan perasaan di balik topeng persahabatan. Tapi mungkin itulah jalan yang terbaik. Aku ingin menenangkan diri dulu dan tidak mau bermain sosial media selama dua hari kedepan.
~o~
Yogyakarta, 13 Agustus 2018
Hari ini aku mau tidak mau harus kembali on social media karena besok Selasa, 14 Agustus 2018 ada gladi bersih display UKM dan Rabu, 15 Agustus 2018 itu adalah acara pentingnya. Aku yakin pasti banyak yang mengubungiku karena aku off selama dua hari kemarin.
Begitu aku membuka whatsapp banyak pesan grup yang membahas tentang display UKM. Terus ada pesan dari Ariz yang belum sempat aku buka selama dua hari kemarin.
10/08/2018
“Sibuk banget ya?”
11/08/2018
“Key, kok gak on?”
“Betah banget”
12/08/2018
“Heh ada apa sih? ”
“Kenapa sih?”
“Selamat malam ya ”
13/08/2018
“Pagi”
Melihat spam chat dari Ariz aku masih sebel sama dia. Tapi aku sedikit lega karena dia agak sadar kalau aku diemin. Ariz juga sempat bertanya sama kakak sepupuku mengenaiku.
“Key, kamu marahan po sama Ariz?” Tanya kakak sepupuku yang kebetulan kenal dengan Ariz.
“Engga mbak. Lagi males aja.”
“Heh gak boleh gitu. Kasian tuh dia sampe nanyain kamu ke aku.” Kata Mbak Tya, kakak sepupuku.
“Bilang aja mbak aku on lagi besok Senin.”
“Yaudah kalau gitu. Nanti aku sampaikan.”
Hal yang gak habis pikir adalah pesannya yang bertanya “Heh ada apa sih? ”, “Kenapa sih?”. Bisa-bisanya dia masih menanyakan hal seperti itu yang jelas-jelas dia melakukan kesalahan fatal. Sebel banget rasanya. Aku kemudian membalas pesan Ariz. Karena walau bagaimanapun aku juga gak tega melihatnya. Di sisi lain aku juga udah capek nangis terus selama dua hari kemarin. Aku sudah siapin mental buat mutusin Ariz. Aku gak kuat seperti ini, karena aku pikir sahabatan lebih baik.
“Jelasin langsung.” Kataku sambil mengutip pesannya Ariz yang dia bilang kalau mau jelasin ke aku.
“Iya langsung.” Kata Ariz.
“Kapan?” Tanyaku singkat.
“Ngikut kamu aja. Selalu ada waktu untukmu.”
“Yaudah hari ini. Tapi ntar sore, aku mau latihan display dulu.”
“Iya bosku. Aku otw sekarang ya.”
“Nanti aja aku masih lama.”
“Gapapa bosku aku tungguin di Indomaret Point ya. Nanti kalau kamu udah selese bilang dan aku jemput.”
“Yaudah terserah.” Jawabku cuek.
Tiba-tiba ada pesan dari Nova yang intinya dia memintaku untuk menemaninya mengambil stiker mobil buat kompetisi di Jepang bulan September nanti.
“Key, temenin aku ambil stiker mumpung aku bawa mobil.” Kata Nova memaksa.
“Males ah. Terus apa hubungannya kalau kamu pas bawa mobil? Aku mau ke GOR buat liat persiapan temen-temen.”
“Ih bentar doang. Ayo to. Katanya saling membantu. Kemarin aku juga bantuin kamu ngurus visa temen-temen.”
“Yampun diungkit-ungkit deh. Yaudah ketemu di beskem.”
“Ok.” Jawab Nova singkat.
Nova adalah temen deketku di beskem. Temen-temen suka jodohin aku sama Nova. Bahkan mereka mengira bahwa aku ada apa-apa sama Nova. Padahal kami temen biasa. Aku sering dianter jemput Nova selama kompetisi ke Korea bulan Mei lalu. Tapi aku biasa aja sama dia. Rasaku hanya untuk Ariz. Lagi pula Nova punya cewek banyak, dalam artian dia memang jomblo tapi deket sama banyak cewek. Ya, aku juga salah satunya sih. Hehe. Tapi beneran, aku gak ada perasaan apapun sama dia.
“Cepetan keluar, aku udah di depan beskem. Nanti kalau ketahuan sama satpam bisa dimarahin aku kalau berhenti atau parkir di sini.” Kata Nova lewat telefon.
“Iya otw keluar.” Kataku
“Eh, mau kemana Key?” Kata Nuri.
“Keluar bentar.” Kataku sambil berlalu meninggalkannya.
“Oalah dijemput doi. Siapa lagi nih?” Kata Nuri menggodaku.
“Apaan sih.” Kataku sambil buru-buru masuk mobil.
Aku lagsung masuk mobil karena jika Nuri tahu yang di dalam adalah Nova, pasti rumor tentang aku dan Nova itu semakin menjadi\-jadi. Sebenernya aku capek seperti ini, aku juga sering mengelak dan aku membawa nama Ariz untuk menjadi tamengku. Ya, mengakui Ariz sebagai pacar didepan temen\-temenku adalah pilihan paling tepat menurutku. Supaya terhindar dari bully\-an.
“Lama amat sih. Untung gak ketauan Nuri kalau yang di dalam mobil tuh aku.” Kata Nova.
Aku tidak menjawab sambil memandang Nova dengn tatapan enggan dan memasang sabuk pengaman.
“Kamu kenapa sih, Key?” Tanya Nova.
“Gapapa. Lagi males aja.” Jawabku jutek.
“Nah ini nih. Pasti lagi ada masalah sama pacar kamu kan? Siapa itu namanya? Lupa aku.”
“Iya aku lagi ada masalah. Udah aku males bahas dia.”
“Iya habis latihan display nanti aku mau putusin dia.”
“Nah, bagus. Enakan jomblo bebas main sama siapa aja. Oiya aku mau cerita kemarin tuh aku sama cewekku …”
“Cewekmu yang mana nih. Kamu tuh kebanyakan cewek jadi aku bingung yang mana.”
“Iya bentar to makannya jangan dipotong kalau aku lagi ngomong tuh.”
“Yudah terus, lanjutkan.”
“Cewekku yang dari universitas sebelah tuh bla bla bla”
Seketika buyar semua, aku tidak mendengarkan omongannya Nova. Pikiranku menuju ke Ariz. Aku bertanya\-tanya dalam hati. Apakah putus dengan Ariz itu adalah pilihan yang paling tepat? Apakah Ariz juga setuju kalau putus denganku? Tapi dulu kata temenku SMP, ‘cowok tuh bakalan nurutin kemauan cewek yang dissayanginya sekalipun itu memutuskan hubungan. Jadi kalau masih sayang jangan putus.’ Tapi aku udah gak kuat kalau seperti ini. Baru awal hubungan aja sudah seperti ini apa lagi kedepannya.
“Heeey, Key.” Kata Nova yang membuyarkan lamunanku.
“Eh. Hiih kamu ngagetin deh.”
“Kamu dengerin aku curhat gak sih?” Kata Nova dengan nada sebel.
“Iya iya aku dengerin kok.”
“Apaan bohong. Kamu kenapa sih? Galau karena mau putus? Sebenernya aku bisa bantuin kamu sih dengan cara nganterin kamu pake mobil ini saat kamu nanti ketemu sama Ariz. Tapi aku cuma nganterin aja, pulangnya kamu sendiri atau sama Ariz.” Kata Nova dengan nada bercanda.
“Ah, itu mah bukan menyelesaikan masalah tapi malah nambah masalah.” Kataku dengan nada jengkel.
“Iya, bercanda. Yaudah gak usah cemberut gitu. Udah kamu pengen apa tak beliin deh mumpung aku lagi baik hati. Cepetan pengen apa sebelum aku berubah pikiran.”
“Aku pengen mawar biru ” Kataku sambil memasang muka melas di depan Nova.
“Hah? Emang ada?” Tanya Nova kaget.
“Ya ada dong. Beliin… beliin… beliiin…” Kataku dengan nada khusus sambil mendorong-dorong lengannya Nova.
“Iya bawel. Heh ini di jalan. Jangan gitu bahaya, key.”
“Iya deh maaf.”
“Dah sampai nih. Ini notanya, kamu masuk sana aku tungguin di mobil.” Kata Nova sambil menyerahkan nota stiker yang ada di dompetnya.
“Yaelah jadi kamu manfaatin aku buat kayak gini?”
“Udah to, katanya mau mawar. Nanti gak jadi tak beliin lho kalau kamu gak mau.”
“Iya deh iya.”
Aku kemudian masuk ke percetakan untuk mengambil stiker mobil buat kompetisi di Jepang bulan depan.
“Udah nih.” Kataku sambil naruh stiker di kursi belakang mobilnya Nova.
“Yudah sekarang kita ke GOR buat liat persiapannya temen-temen. Terus habis itu beli bunga tujuh rupa buat siraman nenek lampir bawel.”
“Yeee apaan sih.”
“Nah gitu dong senyum, kan manis.”
“Hah apa, Nov?” Kataku pura-pura tidak dengar.
“Gak. Untung aja gak denger.”
“Apaan emang?”
“Kepo.”
“Dasar ya. Sukanya gitu.”
Setelah dirasa cukup melihat persiapan temen-temen untuk display. Nova mengajakku untuk segera pulang.
“Jam berapa tokonya tutup?” Tanya Nova padaku.
“Emm, gak tau sih. Tapi mungkin habis magrib.” Jawabku.
“Yaudah sekarang aja yuuk. Terus aku antar kamu pulang.”
“Oke.”
Di perjalanan selama menuju ke toko bunga rasanya senang sekali. Hemm tapi tetap saja pikiranku tertuju pada Ariz.
“Key, jangan ngelamun gitu. Eh, lewat mana nih.” Kata Nova membuyarkan lamunanku.
“Belokan situ lurus terus.” Kataku sambil menunjukkan belokan yang akan kami lewati.
“Nah dah sampai nih, stop… Nova stop...” Kataku sambil mendorong-dorong pundaknya Nova karena agak panik.
“Hih, iya iya santai loh. Gak usah dorong-dorong aku gitu bahaya tau.” Kata Nova agak marah sambil menghentikan mobilnya lalu keluar.
“Iya iya maaf.” Kataku sambil ikutan keluar dari mobil.
“Dah sana, jangan pilih yang mahal-mahal lho ya.”
“Iya iya. Paling Cuma 15.000 kok.”
“Mau cari apa mbak” Tanya mas-mas penjual bunga.
“Ini mas mawar biru.” Jawabku sambil memilih mawar biru yang disediakan.
“Ya mbak silahkan dipilih bunganya. Ini yang masih segar-segar.” Kata masnya sambil menunjukkan bunga yang masih segar.
“Udah mas ini aja. Tambah bunga hiasnya sedikit ya.”
“Oke mbak. Mau warna apa background-nya.”
“Biru ya mas. Pitanya juga biru.”
“Oke siap mbak.” Kata mas penjual bunga sambil merankai Bungan yang aku pilih.
“Berapa mas?” Kata Nova menanyakan harga bunga tersebut.
“15.000 mas.”
Nova lalu mengeluarkan uang yang ada di dompetnya dan memberikannya kepada mas\-mas penjual bunga.
“Oke terimakasih.” Kata mas penjual bunga.
“Key, kamu ada receh gak? Buat bayar parkir.” Tanya Nova padaku.
“Ada nih.” Kataku sambil memberikan uang kepada tukang parkir.
Aku dan Nova lalu masuk mobil dan kami pun kembali ke beskem.